Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Permintaan Pada Ayah


__ADS_3

Ketika waktunya istirahat makan siang, Faruq datang ke ruangan kerja Luna untuk mengajak Rama makan siang bersama, saat ia masuk ke dalam ruangan itu nampak Luna memberikan makan siang pada Rama dan wanita itu


menoleh sambil tersenyum pada Faruq. Ia menarik tangan Faruq untuk duduk di samping Rama dan ia menyiapkan makan siang untuk suaminya itu.


“Luna, apa yang sedang kamu lakukan ini?”


“Tentu saja menyiapkanmu makan siang, apakah kamu tidak bisa melihatnya?”


“Kamu tidak sedang berusaha meracuniku kan?”


“Kamu ini bicara apa, sih? Aku sama sekali tidak ada niatan buruk, kok.”


Faruq melihat Rama yang menyantap makan siang yang diberikan Luna dengan tenang tanpa menaruh curiga sedikit pun dengan yang disajikan oleh wanita itu sangat berkebalikan dengannya yang takut kalau Luna menaruh racun atau sejenisnya dalam makanan Rama.


“Rama akan baik-baik saja, percayalah padaku.”


“Iya Ayah, Tante itu benar,” ujar Rama.


“Rama katakan pada Ayah apakah Tante ini menyakitimu selama Ayah bekerja?”


“Tidak, Tante ini bersikap sangat baik padaku sejak tadi.”


Faruq menatap kedua mata anaknya itu dan Rama nampak sama sekali tidak berbohong padanya ketika mengatakan hal tersebut. Namun Faruq masih curiga jangan-jangan Luna sudah mengancam sesuatu pada anaknya.


“Rama, kamu jangan takut untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Ayah, katakan apa saja yang sudah Tante ini lakukan padamu ketika Ayah bekerja tadi.”


“Tante ini bersikap sangat baik padaku, Ayah.”


“Faruq, kenapa sih kamu tidak percaya pada anakmu sendiri? Dia itu mengatakan hal yang sejujurnya, bisa-bisanya kamu tak mempercayai apa yang dikatakan oleh anakmu sendiri.”


Faruq sebenarnya masih tak puas hati dengan pembicaraannya dengan Rama barusan, ia masih curiga kalau Rama ditekan oleh Luna untuk mengatakan kalau ia baik-baik saja walaupun Rama nampak sama sekali


tidak berbohong padanya ketika mengatakan bahwa Luna tidak melakukan sesuatu hal yang buruk padanya.


“Oh iya Ayah, aku mau bicara sesuatu,” ujar Rama akhirnya.


“Ada apa, Nak?” tanya Faruq antusias.


“Bolehkah aku tinggal di sini saja bersama Ayah?”


****


Faruq nampak terkejut dengan permintaan Rama barusan, ia benar-benar tak menyangka kalau Rama akan mengatakan hal tersebut padanya. Ia tentu saja sangat ingin Rama tinggal bersamanya namun hak asuh Rama sudah ada di tangan Nadiba dan mantan istrinya itu tentu saja tidak akan tinggal diam kalau Rama tiba-tiba saja ia ambil dari sisinya walaupun ini kemauan Rama sendiri.


“Rama kenapa tiba-tiba ingin tinggal di sini?”


“Karena aku tidak betah tinggal di desa.”


“Bukankah di desa jauh lebih tenang dan tidak banyak orang seperti di sini?”


“Iya sih, tetapi aku tidak suka, Ayah.”


“Faruq, aku sama sekali tidak keberatan kok kalau Rama tinggal bersama kita.”

__ADS_1


“Apa katamu?”


“Iya, kamu tidak salah dengar, aku tidak keberatan kalau Rama tinggal bersama kita.”


Faruq menarik tangan Luna untuk bicara diluar ruangan istrinya itu karena ia merasa ada sesuatu hal yang mencurigakan di sini.


“Katakan padaku apa yang sudah kamu lakukan pada anakku sampai dia berubah begitu?”


“Kamu ini bicara apa, sih? Aku sama sekali tidak melakukan apa pun pada Rama seperti yang anakmu katakan barusan.”


“Kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan yang kamu katakan ini?!”


****


Padahal baru dua hari Rama pergi meninggalkannya dan ketika libur sekolah berakhir Rama akan kembali namun ia sudah sangat merindukan putranya itu, malam ini setelah ia pulang bekerja ia mencoba menelpon Rama namun anaknya itu tidak menjawab telepon darinya.


“Kenapa dia tidak menjawab teleponku, ya?”


“Ada apa, Nak?” tanya Kusuma yang melihat raut wajah bingung pada putrinya.


“Aku barusan mencoba menelpon Rama namun kok dia tidak menjawab teleponnya, ya?”


“Jangan-jangan sesuatu hal yang buruk terjadi padanya, coba kamu telepon Faruq,” ujar Kusuma.


Akhirnya Nadiba pun mencoba menghubungi nomor telepon mantan suaminya itu dan Faruq segera menjawab telepon dari Nadiba ini.


“Iya Nadiba.”


“Maaf kalau aku mengganggu malam-malam begini akan tetapi bagaimana keadaan Rama di sana? Dia baik-baik saja kan?”


“Tapi kenapa tadi dia tak menjawab teleponku?”


“Dia sudah tidur sepertinya, barusan aku baru dari kamarnya.”


“Begitu, ya?”


“Kamu sangat merindukan Rama sepertinya.”


“Begitulah, aku tidak bisa hidup tanpa dia, tolong jaga dia baik-baik.”


“Kamu tak perlu khawatir mengenai itu karena aku akan menjaganya sebaik mungkin.”


“Terima kasih.”


Nadiba segera mematikan sambungan teleponnya dan Kusuma yang penasaran segera memberondong Nadiba dengan berbagai pertanyaan seputar cucunya itu.


“Bagaimana keadaannya, Nak?”


“Kata mas Faruq dia sudah tidur saat ini maka dari itu dia tidak menjawab teleponku tadi.”


“Ah kalau begitu syukurlah.”


****

__ADS_1


Keesokan paginya ketika mereka sarapan pagi, Luna bersikap sangat baik pada Rama dan membuat Ledi mengerutkan keningnya heran karena seingatnya Luna membenci anak ini kenapa sekarang sikapnya mendadak baik sekali pada Rama?


“Kenapa Mama menatapku begitu?”


“Apakah Mama tidak salah lihat saat ini?”


“Apa maksud Mama?”


“Kamu bersikap baik pada anak ini, bukankah kamu membencinya?”


“Mama ini bicara apa? Siapa yang membenci Rama, sih.”


“Tentu saja kamu, kamu itu kan membenci anak ini kenapa sikapmu jadi berubah?”


“Ma, jangan bicara yang aneh-aneh di depan Rama.”


Ledi nampak tak puas hati dengan pembicaraan di meja makan ini, ia kemudian menarik Luna untuk ikut dengannya ke ruangan perpustakaan yang dekat dengan ruang makan, di sana Ledi mendesak supaya Luna mengatakan hal yang sejujurnya padanya kenapa dia bersikap baik pada anak itu.


“Memangnya salah kalau aku bersikap baik padanya?”


“Sudahlah Luna, di sini hanya ada kita berdua saja, cepat katakan kenapa kamu bersikap baik padanya.”


“Karena aku menginginkan rumah tanggaku selamat tidak seperti rumah tangga Mama yang karam.”


“Apa maksudmu?”


“Aku akan membuat Faruq selamanya menjadi suamiku dan tidak ada seorang pun yang bisa mendekatinya apalagi membuatnya jatuh cinta.”


****


Sementara itu di meja makan Faruq bertanya pada Rama apakah anaknya itu sudah menelpon Nadiba atau belum karena semalam Nadiba katanya sempat menelpon namun Rama sudah keburu tidur.


“Belum Ayah.”


“Kalau begitu nanti coba kamu telepon ibu karena dia sepertinya sangat mengkhawatirkanmu, bilang juga dengan jujur bahwa kamu baik-baik saja di sini.”


“Iya Ayah, aku akan menelpon ibu setelah ini.”


“Anak baik.”


Setelah itu Luna dan Ledi kembali ke meja makan dan melanjutkan sarapan mereka yang tadi sempat tertunda, setelah selesai sarapan Luna sempat menawarkan pada Rama untuk ikut dengannya lagi ke kantor namun


Faruq melarangnya.


“Jangan, aku takut nanti dia akan mengganggumu.”


“Mengganggu apa maksudmu? Dia sama sekali tidak menggangguku, dia anak yang manis dan sopan.”


“Lebih baik Rama di rumah saja.”


“Tapi kalau di rumah sendirian aku kan bosan.”


“Rama dengarkan Ayah.”

__ADS_1


“Tapi Ayah ….”


__ADS_2