Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Drama yang Belum Berakhir


__ADS_3

Nimas mendapatkan telepon dari orang suruhannya bahwa ibunya mengalami kecelakaan namun Nimas sama sekali tidak terkejut dengan hal tersebut karena ia sudah merencanakan hal tersebut sebelumnya. Setelah


berperang dengan dirinya sendiri maka Nimas memutuskan bahwa sebelum Darsih benar-benar melaporkannya pada polisi maka ia harus bertindak akan sesuatu hal dan jalan yang ia pilih adalah melakukan hal tersebut walaupun berat.


“Maafkan aku Bu, akan tetapi aku tak memiliki pilihan lain.”


Nimas kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat di mana Kusuma dirawat, tatapan Nimas begitu tajam menatap Nadiba yang tengah berbincang dengan Felix di halaman rumah sakit, andai saja tidak ada


Felix di sana maka sudah pasti ia akan menabrakan mobil ini pada Nadiba.


“Kamu beruntung kali ini Nadiba karena ada pria itu namun lain kali akan aku pastikan kamu akan benar-benar menghilang dari dunia ini.”


Nadiba merasa bahwa ada sebuah mobil yang tidak asing ketika ia tak sengaja mengalihkan pandangannya, Nadiba yakin bahwa mobil tersebut adalah mobil milik Nimas dan ia rupanya Felix yang memerhatikan itu bertanya pada Nadiba mengenai apa yang terjadi.


“Tidak apa Tuan, hanya saja sepertinya tadi saya melihat mobil Nimas.”


“Benarkah?”


“Iya, tapi sepertinya saya hanya salah lihat saja.”


Namun Felix tidak percaya begitu saja dengan yang Nadiba katakan, kalau Nimas ada di sekitar sini maka wanita itu pasti tengah merencanakan sesuatu hal yang jahat pada Nadiba dan keluarganya.


“Aku harus pergi dulu karena ada urusan yang harus aku selesaikan, kamu segera hubungi aku kalau ada sesuatu hal yang terjadi.”


“Iya Tuan.”


Felix kemudian pergi meninggalkan Nadiba dan masuk ke dalam mobilnya, Nadiba kemudian berbalik badan untuk pergi menuju ruangan inap ibunya namun saat ia hendak menuju ruangan ibunya itu dirinya ditabrak oleh


seseorang secara tak sengaja hingga Nadiba terjatuh.


“Maaf, saya tidak sengaja.”


“Oh tidak apa-apa.”


Nadiba pun segera bangkit dan melanjutkan perjalanan menuju ruangan inap Kusuma, ia khawatir kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Kusuma.


****


Ketika Nadiba tiba di ruangan inap Kusuma nampak ibunya itu seperti kesulitan bernapas, tentu saja Nadiba panik dan segera memanggil perawat untuk memeriksa keadaan ibunya. Nadiba nampak tak bisa tenang


melihat ibunya seperti kesulitan bernapas hingga akhirnya Kusuma pun dilarikan ke ruangan IGD untuk mendapatkan pertolongan dengan segera. Nadiba hanya dapat berdoa dan berharap semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi pada Kusuma saat ini.


“Nadiba, apa yang terjadi?” tanya Noah yang tiba di rumah sakit dan menemukan Nadiba di depan ruang IGD.

__ADS_1


“Anu Pak Noah, ibu saya tadi mengalami sesak napas.”


“Ya Tuhan, lalu bagaimana kondisinya saat ini?”


“Sekarang dokter tengah menanganinya.”


“Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi padanya.”


“Amiin, saya juga berdoa begitu.”


Ketika itu Nadiba dibuat terkejut dengan telepon dari Faruq yang mengatakan Darsih mengalami kecelakaan dan kini Darsih berada di rumah sakit yang berbeda dengan yang merawat Kusuma.


“Ada apa Nadiba?” tanya Noah yang sepertinya penasaran dengan raut wajah Nadiba yang berubah setelah mendapat telepon dari Faruq tersebut.


“Tante Darsih mengalami kecelakaan, Pak Noah.”


“Apa katamu? Lalu di mana beliau dirawat sekarang?”


“Kata mas Faruq di rumah sakit dekat sini.”


“Tapi kamu kan tidak bisa pergi ke sana karena harus menunggui ibumu kan?”


****


“Anda keluarga bu Darsih?”


“Iya saya anggota keluarganya, di mana tante saya dirawat, suster?”


“Ibu Darsih nyawanya sudah tak tertolong dan kini jenazahnya menunggu untuk diambil oleh pihak keluarga.”


Nadiba tentu saja terkejut dengan penjelasan perawat barusan, ia nampak menggelengkan kepalanya tak percaya dengan yang dikatakan oleh perawat hingga akhirnya perawat pun mengantarkan Nadiba untuk melihat jenazah


Darsih. Tangis Nadiba pecah saat melihat Darsih sudah tak bernyawa, ia benar-benar tak menyangka kalau tantenya akan pergi secepat ini.


“Tante, hiks.”


Noah yang mengantar Nadiba ke rumah sakit ini berusaha untuk menangkan Nadiba sekaligus ia mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk membawa pulang Darsih dari rumah sakit ini. Jenazah Darsih langsung


dikebumikan setelah dipulangkan dari rumah sakit, Nadiba masih nampak tak percaya dengan kepergian Darsih yang begitu cepat hingga akhirnya Faruq tiba di pemakaman setelah ia sudah diizinkan pulang oleh dokter.


“Nadiba.”


Nadiba menoleh ke arah Faruq dan kemudian ia tak kuasa membendung air matanya karena ia masih tak percaya kalau Darsih sudah pergi untuk selama-lamanya.

__ADS_1


****


Faruq merasa heran kenapa Nimas sama sekali tidak dapat untuk ia hubungi padahal saat ini Darsih meninggal dunia dan Nimas harus mengetahui hal tersebut, kedua kakak Nimas juga tak mengetahui keberadaan Nimas


dan ketika mereka mencoba menelpon Nimas, ponsel wanita itu tidak aktif.


“Sebenarnya ke mana dia?”


Nadiba masih di pemakaman hingga akhirnya ia ingat bahwa harus segera kembali ke rumah sakit karena takut kalau ibunya sudah siuman.


“Mas Faruq, aku pamit dulu untuk kembali ke rumah sakit.”


“Iya Nadiba, terima kasih sudah mau mengantarkan tante Darsih ke sini.”


“Tidak masalah, aku akan datang lagi nanti, tolong sampaikan pada yang lainnya.”


“Iya tentu saja.”


Nadiba kemudian segera pergi dari pemakaman tersebut dan belum sampai ia masuk ke dalam mobil Noah, ponsel Nadiba berdering dan menandakan ada nomor asing yang tertera di sana.


“Siapa yang menelpon Nadiba?”


“Saya tidak tahu Pak Noah, ini nomor asing.”


“Kalau begitu biar saya saja yang menjawabnya.”


Maka Noah pun segera menjawab telepon tersebut dan ia terkejut karena rupanya orang yang ada di telepon itu mengatakan bahwa Rama dalam bahaya saat ini.


“Ada apa Pak Noah?”


****


Rama diculik sepulang sekolah oleh orang tak dikenal dan kini ia dibawa menuju ke bibir jurang yang mana di bawah sana terdapat sebuah sungai yang deras mengalir dengan bebatuan besar disepanjang alirannya.


“TOLONG!”


“Percuma saja kamu meminta tolong, saat ini tidak akan ada yang menolongmu anak kecil!”


“Lepaskan aku!”


Rama berusaha memberontak dan melepaskan diri namun orang itu mengikat tangan dan kaki Rama supaya Rama tak bisa melarikan diri, tidak lama kemudian seseorang datang menggunakan mobil dan orang tersebut turun dari


kendaraan tersebut. Rama mengenali siapa orang tersebut dan orang itu tidak lain adalah Nimas yang menyeringai padanya.

__ADS_1


“Bagaimana rasanya berada di antara hidup dan mati Rama?”


__ADS_2