Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Tawaran Mama Mertua


__ADS_3

Faruq diam-diam ingin menelpon Nadiba, tentu saja ia tidak berada di dalam rumah karena kalau sampai ia berada di dalam rumah maka sama saja ia mencari mati, ia sudah menekan nomor Nadiba dan nada dering pun


sudah terdengar namun sebelum Nadiba sempat menjawab telepon darinya, Luna mendadak muncul dan membuatnya terkejut hingga akhirnya memutuskan untuk tidak jadi menghubungi Nadiba.


“Kenapa kamu ada di sini?”


“Memangnya tidak boleh kalau aku ada di sini?”


“Kamu habis menelpon siapa?”


“Aku tidak menelpon siapa-siapa.”


“Kamu masih sempat-sempatnya berkilah kalau kamu tidak menelpon siapa pun padahal saat ini di tanganmu itu terdapat sebuah ponsel yang barusan kamu gunakan.”


Faruq tidak mau mendebat Luna dan ia lebih memilih untuk menghindar namun Luna menahan tangan suaminya itu supaya dia tidak menghindarinya.


“Apa yang sebenarnya terjadi padamu Faruq? Kenapa sikapmu berubah setelah kita menikah?”


“Aku kan sudah mengatakan padamu bahwa sikapku ini tidak berubah, kamu saja yang tingkahnya semakin aneh setelah kita menikah.”


“Tidak, kamu tidak dapat menyembunyikan itu dariku, kamu pasti baru saja hendak menghubungi Nadiba kan?”


“Itu bukan urusanmu.”


“Jadi benar kamu tadi hendak menghubunginya? Untuk apa kamu coba untuk menghubunginya Faruq?! Apakah kamu masih mencintai wanita itu?!”


“Sudahlah Luna, berhenti bersikap protektif padaku!”


Faruq melepaskan cengkraman tangan Luna dan kemudian pergi meninggalkan wanita itu, Luna tentu saja tidak percaya kalau Faruq sudah benar-benar melupakan Nadiba apalagi sikap suaminya itu belakangan ini berubah


yang membuatnya semakin curiga bahwa sebenarnya Faruq masih mencintai mantan istrinya.


“Nadiba, kamu memang selalu menjadi batu sandungan dalam hidupku, aku akan melenyapkanmu sekarang juga.”


Luna kemudian menelpon seseorang lewat ponselnya, ia meminta supaya orang itu segera mencari di mana keberadaan Nadiba dan ia meminta juga agar informasi mengenai di mana wanita itu berada segera di telinganya.


“Kalian mengerti?”


“Mengerti, Bu.”


TUT


Luna kemudian menutup sambungan teleponnya, sedikit lagi ia akan tahu di mana keberadaan Nadiba dan ia akan pastikan wanita itu akan lenyap dari muka bumi ini untuk selama-lamanya.


“Aku tidak memiliki jalan lain selain melakukan hal ini Nadiba.”


****


Nadiba yang baru saja hendak mengangkat telepon dari Faruq mendadak heran karena Faruq mematikan sambungan teleponnya, Nadiba sendiri jadi ragu apakah Faruq tadi benar-benar ingin menghubunginya atau


jangan-jangan tadi pria itu hanya salah sambung saja.

__ADS_1


“Ah tidak mungkin kalau dia mau menghubungiku kan? Dia saat ini sudah bahagia dengan Luna.”


Nadiba tidak mau berlarut-larut memikirkan itu dan lebih baik ia fokus saja pada pekerjaannya saat ini, setelah selesai menyiapkan hidangan untuk Noah, majikannya itu akhirnya tiba juga di rumah bersama dengan


putranya.


“Selamat datang di rumah Pak Noah.”


“Papa, siapa wanita ini?” tanya putranya.


“Oh ini Nadiba, dia adalah asisten rumah tangga di rumah ini.”


“Begitu rupanya.”


“Nadiba, ini putraku namanya Felix.”


“Senang bertemu dengan anda Tuan Felix.”


Felix nampak tidak bersikap ramah pada Nadiba, pria itu langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya dengan membawa kedua koper besarnya. Ketika Nadiba ingin membantu membawakan barang bawaan Felix, pria itu


menolaknya dan mengatakan bahwa ia bisa melakukannya sendiri.


“Kamu tolong jangan sakit hati dengan ucapan dan sikapnya barusan, ya? Dia memang kelakuannya seperti itu.”


“Tidak masalah Pak Noah, saya sudah menyiapkan makan siang untuk kalian.”


****


“Apakah mereka benar-benar bisa bekerja? Kenapa mencari informasi mengenai di mana wanita itu berada lama sekali. Tidak mungkin Nadiba pergi keluar negeri kan? Dia kan tidak punya cukup uang.”


“Kamu kenapa misuh-misu begitu?” tanya Ledi yang menghampiri putrinya itu di sofa.


Luna tidak mau menceritakan apa pun pada mamanya karena ia masih kesal dengan saran yang diberikan oleh mamanya ini untuk menceraikan Faruq.


“Kamu masih marah pada Mama?”


“Lebih tepatnya jengkel, kenapa Mama bisa-bisanya memintaku bercerai dengan Faruq padahal kami baru saja menikah.”


“Mama menyarankan itu karena begitu menyayangimu, Mama rasa pria itu tidak benar-benar mencintaimu, dia hanya ingin uang keluarga kita.”


“Faruq mencintaiku dia sikapnya berubah karena mantan


istri dan anaknya yang menjengkelkan itu.”


“Mama tidak yakin dengan ucapanmu barusan, Mama yakin


kalau Faruq sama sekali tidak mencintaimu dan ia hanya ingin uang keluarga kita


saja.”


“Sudah aku duga bahwa Mama datang ke sini hanya untuk menjelekan suamiku saja, lebih baik aku pergi saja sekarang.”

__ADS_1


“Ingat perkataan Mama barusan baik-baik Luna, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari dan menyalahkan Mama kalau tidak memperingatkanmu sejak awal.”


****


Noah nampak memuji masakan yang dibuat oleh Nadiba namun Felix nampak tidak melontarkan pujian apa pun pada asisten rumah tangga rumah ini, ia justru curiga kalau sebenarnya papanya ini memiliki hubungan dengan


Nadiba.


“Kamu dan Papa memiliki hubungan, ya?” tanya Felix pada Nadiba yang membuat Nadiba serta Noah terkejut dengan pertanyaan barusan.


“Felix, apa-apaan kamu ini?! Jaga sikapmu,” ujar Noah.


“Kenapa? Aku kan hanya bertanya saja, jangan-jangan apa yang aku katakan tadi benar? Kalian sebenarnya memiliki hubungan khusus selama ini?”


“Tidak Tuan Felix, saya dan Pak Noah sama sekali tidak memiliki hubungan khusus seperti yang Tuan Felix katakan tadi.”


“Benarkah? Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang barusan kamu katakan.”


“Felix, bisakah kamu lebih menjaga sikapmu dan tidak menuduh orang sembarangan seperti ini?”


“Kenapa aku harus melakukannya? Bukankah Papa yang memintaku untuk kembali ke Indonesia? Andai Papa tidak menghentikan uang bulananku maka lebih baik aku tetap tinggal di Sydney saja!”


“Kamu ini benar-benar, ya!” ujar Noah emosi dan hendak memukul Felix namun ia tidak jadi melakukannya.


“Kenapa tidak jadi? Kalau Papa mau pukul aku, maka pukulah aku!” tantang Felix.


****


Ledi melihat menantunya tengah duduk sendirian di halaman belakang rumah, ia berjalan menghampiri menantunya itu dan mengajaknya untuk bicara sebentar.


“Ada apa, Ma?”


“Apakah kamu benar-benar mencintai Luna?”


“Iya, aku benar-benar mencintai Luna, kenapa Mama menanyakan hal itu?”


“Kalau memang kamu benar-benar mencintai Luna, kenapa kamu menyakiti hati anakku?”


“Aku minta maaf.”


“Apakah kamu mendekati putriku untuk uang?”


“Tidak, tentu saja tidak seperti itu.”


“Sudahlah Faruq, aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya sejak pertama kali Luna memperkenalkanmu sebagai calon suaminya, kamu adalah seorang yang ingin menaikan status sosialmu dengan menikahi putriku, kamu sama


sekali tidak mencintainya kamu mencintai uang keluarga kami hingga kamu bisa meninggalkan anak dan istrimu, apakah aku salah?”


Faruq terdiam mendengar ucapan Ledi barusan, wanita itu menyeringai dan kemudian ia membisikan sesuatu pada Faruq.


“Kalau kamu mau motif rahasiamu ini aman dari Luna, maka kamu harus melakukan perintahku.”

__ADS_1


__ADS_2