Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Cerita Sedih


__ADS_3

Nadiba sebenarnya agak berat membiarkan Rama untuk pergi bersama dengan Faruq karena ia sendiri masih trauma dengan yang sudah pernah Luna lakukan pada Rama namun lagi-lagi mantan suaminya itu berusaha meyakinkan Nadiba bahwa Rama akan aman karena Faruq tidak akan meninggalkan Rama sendiri dan membiarkan anak itu disakiti oleh Luna.


“Lagi pula dia sedang tidak ada di sini, kamu jadi tenang saja.”


“Baiklah kalau begitu, Rama hari ini Ibu berangkat kerja dulu, jangan jadi anak yang nakal dan ikuti apa yang dikatakan oleh ayah.”


“Iya Bu.”


Rama mencium tangan Nadiba sebelum ia pergi dari rumah untuk bekerja di rumah Noah, Nadiba sempat menengok ke belakang untuk memastikan kalau Rama baik-baik saja sebelum akhirnya ia memutuskan untuk terus


berjalan hingga tiba di rumah Noah.


“Selamat pagi Pak Noah.”


“Oh selamat pagi Nadiba,” ujar Noah yang pagi ini ketika Nadiba datang sedang menyiram tanaman di halaman rumah.


“Pak Noah bersantai saja di dalam, biar saya saja yang lanjutkan pekerjaan ini.”


“Ah tidak perlu Nadiba, saya bisa melakukan ini sendiri, kamu tidak perlu merasa sungkan kalau melihat saya mengerjakan sesuatu di rumah ini tanpa meminta bantuanmu, sudah sana kerjakan saja pekerjaanmu di dalam.”


“Baiklah, saya masuk dulu Pak.”


Nadiba segera masuk ke dalam rumah dan memulai pekerjaannya di dalam rumah, mulai dari menyapu lantai dan membersihkan debu kemudian mengepel lantai sebelum akhirnya ia akan ke dapur dan membuat sarapan untuk


Noah dan Felix. Ketika Nadiba tengah mengepel lantai bawah rumah, pintu rumah terbuka dan ia berpikir kalau yang masuk ke dalam adalah Noah namun ternyata yang datang adalah Felix dan pria itu nampak baru saja selesai olahraga karena pakaian yang ia kenakan basah.


“Silakan lewat, Tuan Felix.”


Felix kemudian langsung menuju kamarnya dan Nadiba kembali membersihkan jejak kaki Felix tadi yang membuat lantai kembali kotor, setelah selesai di lantai bawah, kini Nadiba membawa alat pelnya menuju ke lantai atas


dan mulai mengepel lantai, saat ia sudah tiba di depan kamar Felix dan tengah mengepel lantai depan kamar pria itu, pintu kamar Felix terbuka dan menampakan Felix tengah tidak memakai baju seperti hendak keluar kamar, Felix dan Nadiba sama-sama terkejut dengan kejadian barusan.


****


Nadiba masih terkejut dengan apa yang tadi ia secara tidak sengaja lihat ketika Felix sedang tidak mengenakan baju, ia saat ini sudah selesai mengepel lantai dan tengah membuatkan sarapan untuk Noah dan Felix di dapur.


“Nadiba.”


Nadiba segera menoleh ke arah sumber suara dan di sana nampak Felix tengah berdiri menyandarkan bahunya pada dinding yang ada di sebelahnya.


“Ada apa Tuan?”


“Apakah kamu menyukainya?”


“Maaf?”

__ADS_1


“Kamu suka melihat tubuhku yang tadi tidak mengenakan pakaian?”


“Saya benar-benar tidak sengaja tadi Tuan, saya tidak bermaksud apa-apa, saya tadi tengah mengepel lantai dan Tuan membuka pintu kamar, saya benar-benar tidak tahu kalau Tuan hendak keluar kamar tadi, saya minta maaf.”


“Tumben kamu bicara panjang sekali seperti tadi.”


“Apa?”


“Aku juga minta maaf karena tadi tidak tahu kalau di lantai dua ada kamu, aku pikir kamu masih ada di lantai bawah maka dari itu aku santai saja tidak menggunakan bajuku.”


“Iya Tuan.”


Setelah itu Felix kemudian pergi meninggalkan Nadiba dan membuatnya heran dengan sikap Felix yang agak bersahabat jika ia perhatikan belakangan ini.


“Dia itu kenapa, ya?”


****


Rama begitu bahagia bisa menghabiskan waktu dengan ayahnya, Faruq mengajak Rama jalan-jalan di kota dan mereka menginap di hotel tempat Faruq menginap selama di kota ini. Selama jalan-jalan dengan Rama, Faruq


berusaha menggali informasi selama ini apa saja yang terjadi pada mereka berdua.


“Jadi ibu bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah yang ada di desa sebelah?”


“Iya Ayah, ibu kadang bekerja hingga larut malam dan waktu itu ibu juga sempat sakit karena bekerja terlalu keras.”


seharusnya ia mau bertanggung jawab dengan meringankan beban Nadiba karena bagaimanapun juga Rama adalah anak mereka berdua.


“Ayah baik-baik saja?”


“Iya Nak, Ayah baik-baik saja, lalu ada apa lagi?”


“Ibu bilang kami akan segera pindah dari rumah nenek Darsih.”


“Pindah dari rumah itu? Memangnya kenapa? Apakah nenek Darsih memperlakukan kalian dengan buruk?”


“Tidak sama sekali, nenek Darsih sangat baik pada kami hanya saja sepertinya anak-anaknya tidak suka kalau kami tinggal di sana setelah kakek Rahmat meninggal dunia.”


“Apa? Kakek Rahmat meninggal dunia?”


“Memangnya Ayah tidak tahu akan hal itu?”


****


Noah dan Felix sudah berada di meja makan dan bersiap untuk sarapan bersama, Noah seperti biasa mengajak Nadiba untuk ikut sarapan bersama mereka di meja makan akan tetapi Nadiba menolaknya dengan alasan masih

__ADS_1


ada pekerjaan lain yang harus ia kerjakan.


“Saya permisi dulu.”


Setelah Nadiba pergi, Noah bertanya pada Felix apakah ia masih betah bekerja di kantornya saat ini dan Felix mengatakan bahwa ia sangat betah sekali bekerja di kantor itu. Ia malah bertanya pada Noah kenapa sepertinya Noah sangat keberatan kalau ia bekerja di kantor itu.


“Papa tidak keberatan hanya saja kamu kan bisa bekerja di perusahaan yang lain, Papa yakin banyak perusahaan lain yang akan menerimamu bekerja apalagi kamu kan lulusan universitas ternama di Australia, nilai-nilai


akademikmu juga sangat bagus, tidak sulit untukmu untuk mencari perusahaan lain untuk menjadi tempat kamu bekerja.”


“Apakah Papa tidak mau jujur saja padaku? Aku sudah tahu semuanya.”


“Apa maksudmu?”


“Papa tahu kan bahwa pemilik perusahaan itu adalah selingkuhan Papa?”


“Felix, Papa ….”


“Kenapa raut wajah Papa berubah begitu? Papa seharusnya tidak perlu terkejut begitu karena sebenarnya jauh sebelum aku memutuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan itu, aku sudah mencari tahu seluk beluk perusahaan tersebut dan siapa CEO-nya.”


****


Luna merasa kesal sekali karena Faruq tetap pergi keluar kota untuk menemui Nadiba dan Rama, ia sebenarnya ingin sekali untuk menyusul Faruq ke sana namun mengingat ancaman Faruq jika ia berani mengacau


lagi maka pria itu akan menggungat cerai dirinya membuat Luna menjadi tidak berani untuk mengambil risiko.


“Awas saja kalian berdua, akan aku habisi nyawa kalian.”


Luna melihat sang mama seperti sudah rapih dan hendak pergi ke suatu tempat, Luna pun bertanya mamanya ini mau pergi ke mana namun sang mama mengatakan Luna tidak perlu tahu.


“Kenapa saat libur panjang begini kamu tidak pergi keluar saja?”


“Aku tidak tahu mau pergi ke mana.”


“Faruq memangnya ke mana?”


“Dia pergi menemui mantan istri dan anaknya diluar kota.”


“Yasudah, aku pergi dulu.”


Luna benar-benar tidak habis pikir dengan sang mama, sebenarnya apa sih yang sedang mamanya ini tengah sembunyikan darinya.


“Aku yakin sebenarnya ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku, apakah aku harus mengikutinya?”


Ledi masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan itu menuju sebuah apartemen mewah yang ada di pusat kota, ia langsung masuk ke dalam apartemen itu karena sudah memiliki kartu akses untuk masuk ke dalam

__ADS_1


sana. Ia menuju lantai 33 di mana orang yang hendak ia temui itu berada, begitu keluar lift ia langsung menuju pintu unit 3312, ia kemudian menekan bel sebelum akhirnya seseorang membukakan pintu untuknya dan orang itu nampak terkejut dengan kedatangan Ledi.


“Ya Tuhan, kamu… kamu ….”


__ADS_2