
Saat Nadiba dan yang lainnya sedang tidak ada di ruangan rumah sakit tempat di mana Kusuma dirawat kini Nimas diam-diam menyelinap masuk ke dalam ruangan inap Kusuma yang tengah tertidur pulas itu. Nimas nampak mengulas sebuah senyum ketika melihat Kusuma tengah lelap tertidur yang mana artinya rencananya untuk melakukan kejahatan ini bisa berjalan dengan mulus. Saat Nimas hendak mencapai ranjang Kusuma, tiba-tiba saja Kusuma terbangun dan terkejut melihat Nimas berada di ruangan inapnya ini.
“Nimas, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Menurutmu apa yang aku lakukan di sini?”
“Kamu jangan macam-macam padaku atau aku akan memanggil perawat!”
Nimas nampak tertawa mendengar ancaman yang diberikan oleh Kusuma barusan, jelas saja ia tak takut dengan ancaman tersebut justru Nimas mengatakan kalau sebelum perawat menemukan dirinya justru Kusuma sudah terlebih dahulu pergi untuk selama-lamanya.
“Tolong!”
Nimas nampak kesal karena Kusuma justru membuat kegaduhan, ia kemudian mencekik leher Kusuma dengan kencang hingga Kusuma kesulitan untuk bernapas namun Kusuma berusaha melawan dan menyingkirkan tangan Nimas dari lehernya.
“Kamu tidak akan bisa melawanku!”
Kusuma sudah lemas saat ini hingga tak dapat melakukan perlawanan namun sebelum Kusuma benar-benar tak sadarkan diri nampak pintu ruangan inap Kusuma terbuka dan menampakan Darsih di sana.
“Nimas apa yang kamu lakukan?”
Nimas nampak terkejut dengan kedatangan ibunya, ia segera pergi dari ruangan inap Kusuma sementara itu Darsih yang mau mengejar Nimas memutuskan untuk memanggil perawat dan dokter melihat kondisi kakaknya yang
seperti ini. Nimas sendiri sudah sampai di lobi rumah sakit setelah ia berlari tadi melalui tangga darurat, untungnya saja ia tak dikejar oleh ibunya sampai ke sini namun di lobi rumah sakit itu ia bertemu dengan Faruq yang hendak
menjenguk Kusuma.
“Apa yang kamu lakukan di sini Nimas?”
“Aku? Aku menjenguk temanku yang sedang sakit.”
“Benarkah?”
“Sudah dulu, ya.”
Buru-buru Nimas pergi dari rumah sakit itu sebelum Faruq bertanya lebih lanjut padanya, sikap tak biasa Nimas itu membuat Faruq bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Nimas.
****
Begitu tiba di ruangan inap Kusuma dirinya bertemu dengan Darsih yang tengah menunggui Kusuma, Faruq bertanya pada Darsih bagaimana kondisi Kusuma saat ini namun justru hal mengejutkan yang didengar oleh Faruq dari ibu mertuanya ini.
“Tadi ketika diriku tiba nampak kakakku sedang dicekik oleh anakku sendiri.”
__ADS_1
“Apa?!”
“Aku berani bersumpah kalau aku tidak salah lihat, Nimas hendak mencelakai kakakku.”
Mendengar ucapan Darsih barusan membuat Faruq merasa geram dengan Nimas, terjawab sudah kenapa sikap Nimas seperti itu rupanya Nimas baru saja melakukan tindakan kejahatan pada ibunya Nadiba.
“Ada apa ini, Tante?” tanya Nadiba yang baru saja tiba di ruangan ini.
“Nadiba, Tante minta maaf,” jawab Darsih.
“Tante kenapa meminta maaf?”
“Sebab tadi Nimas sudah melakukan hal yang buruk pada ibumu.”
Nadiba nampak terkejut dengan yang dikatakan oleh Darsih barusan, Nadiba meminta Darsih untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan setelah Darsih menjelaskan semuanya pada Nadiba tentu saja Nadiba
terkejut bukan main dan tak menyangka kalau Nimas akan melakukan hal seperti itu pada ibunya.
“Akan tetapi kamu tenang saja karena sekarang kondisi ibumu sudah membaik setelah dokter melakukan pemeriksaan.”
“Syukurlah kalau begitu, Tante.”
****
Nimas sama sekali tak mau mengakui perbuatannya dan mengatakan pada Faruq bahwa Kusuma memang layak untuk meninggal dunia.
“Karena anaknya maka hidupku menjadi seperti ini!”
“Tidak bisakah kamu berhenti untuk menyakiti orang lain, Nimas? Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu?!”
“Aku tak akan pernah berhenti Faruq, aku ingin Nadiba merasakan apa yang aku rasakan setelah ia membunuh ayahku!”
“Sudah ibumu katakan kalau bukan Nadiba yang membunuh ayahmu, kenapa kamu masih saja terus menyalahkan Nadiba?!”
“Kenapa kamu malah membela Nadiba, Faruq?! Aku ini istrimu!”
“Kamu membuatku benar-benar muak Nimas, aku rasa aku tak dapat melanjutkan pernikahan ini denganmu!”
“Apa katamu?!”
“Aku ingin kita segera bercerai!”
__ADS_1
“Tidak, kamu tidak boleh melakukan itu, kamu tak bisa menceraikanku!”
Namun Faruq sama sekali tak bergeming dengan apa yang dikatakan oleh Nimas, Darsih tiba di rumah dan kemudian ikut menyalahkan Nimas atas apa yang telah putrinya lakukan pada Kusuma hingga membuat suasana rumah semakin kacau dan membuat Nimas berteriak.
“Kalian semua tidak tahu apa yang selama ini aku rasakan!”
Nimas kemudian pergi dari rumah tersebut tak tahu pergi ke mana namun Darsih merasa bahwa Nimas akan pergi menemui Nadiba.
“Faruq, lebih baik kamu segera telepon Nadiba.”
****
Nadiba yang baru saja membeli makan di kantin rumah sakit terkejut ketika menemukan Nimas tengah berdiri tepat di depannya, tanpa mengatakan apa pun pada Nadiba, wanita itu langsung menarik Nadiba untuk ikut dengannya namun Nadiba menolak dan melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Nimas.
“Apa yang sudah kamu lakukan pada ibuku tidak dapat aku terima Nimas, itu adalah tindakan kriminal!”
“Iya, akan tetapi kamu yang membuatku melakukan semua itu Nadiba, jadi memang kamu layak mendapatkannya!”
“Aku sudah mengatakan bahwa itu semua bukan salahku Nimas, aku sama sekali tidak membunuh ayahmu.”
“Namun karena kamu dia meninggal dunia! Semua ini karena kamu Nadiba, sampai kapan pun aku tak akan pernah memaafkanmu!” jerit Nimas.
Nimas kemudian menarik Nadiba untuk masuk ke dalam mobilnya namun Nadiba berhasil melarikan diri sebelum dipaksa masuk ke dalam mobil oleh Nimas. Nadiba berlari menuju tangga darurat karena terlalau lama
menunggu lift, ia terus berlari menuju lantai di mana ibunya dirawat namun ketika ia membuka pintu tangga darurat tersebut dirinya dibuat terkejut oleh sosok Nimas yang telah berdiri di sana sambil tersenyum penuh arti padanya.
“Hari ini kamu tidak akan lolos dariku Nadiba!”
****
Nadiba berjalan mundur ketika Nimas berjalan maju mendekatinya, Nadiba terus mundur hingga tak ia kini terjebak karena di belakangnya ada sebuah dinding dan Nimas telah mengurungnya dengan kedua tangannya.
“Semua hal buruk ini terjadi karenamu Nadiba, aku tak akan pernah memafkanmu! Kamu harus mati sekarang juga!”
Nimas hendak menarik dan mendorong Nadiba untuk jatuh ke tangga namun sebelum Nimas melakukan itu seseorang telah terlebih dahulu menahannya untuk tidak melakukan hal tersebut dan orang tersebut adalah Faruq.
“Jangan lakukan hal buruk pada Nadiba!”
Nimas nampak geram dengan tindakan Faruq ini dan kemudian karena ia sudah dikuasai oleh emosi yang besar maka Nimas mendorong Faruq yang kebetulan posisinya dekat dengan tangga, Faruq berguling di tangga
hingga ia tak sadarkan diri, kini Nimas menatap tajam ke arah Nadiba yang ketakutan melihat mantan suaminya sudah tak sadarkan diri akibat tindakan Nimas.
__ADS_1
“Kamu selanjutnya!”