
Hari itu semua terungkap,Jasmin masih berusaha mencari memori nya yang hilang. Edrik yang berusaha menghubungi nya tak menerima sebarang jawaban apa pun. Jasmin mendiamkan panggilan dari Edrik. Dia masih belum bisa terima atas semua perlakuan Edrik.
Sementara Sebastian,sudah terlihat sehat. Dia berencana akan mengakhiri semua perjalanan nya yang tak diduga-duga . Tapi dia masih harus menyelesaikan beberapa masalah.
Sebastian menghubungi Jasmin. Tiga kali panggilan nya tak di angkat. Panggilan ke empat hampir berakhir dan "Hallo...!" suara Jasmin yang terdengar berat.
"Apakah kita bisa bertemu..?" tanya Sebastian.
"Baiklah," ucap Jasmin.
"Tapi...!" sambung Sebastian cepat.
Jasmin terdiam.
"Bawa anak-anak mu,aku ingin melihat mereka..! " pinta Sebastian.
Tanpa sepatah kata pun,Jasmin menutup teleponnya. Dia masih berfikir "Apakah hal baik bila membawa anak-anak bersama nya . Apa yang akan aku jelaskan nanti..? " Jasmin bertanya -tanya sendiri.
Selain untuk memastikan perkataan Edrik,Jasmin juga tidak punya cara lain selain membawa anak-anak nya.
__ADS_1
Tiba-tiba Adam datang menghampiri Jasmin yang sedang melamun "Mama kenapa..?" tanya Adam lembut.
Jasmin tersentak dari lamunan nya. Dia pandangi wajah anaknya yang seketika dia baru sadari. Ada kemiripan dengan Sebastian. "Ternyata wajah Adam ada kemiripan dengan tuan itu..!" batin Jasmin.
"Tidak kenapa-napa sayang. Kenapa kamu belum tidur..?" tanya Jasmin.
"Adam tadi merasa haus,melihat mama duduk sendiri..!" jawab Adam.
Jasmin menarik tangan anak nya dan memeluk hangat. Adam merasa bingung dengan perlakuan ibunya. Tapi dia tidak menolak pelukan itu.
"Adam...!" panggil mama nya.
Adam tersentak,dia memegang kedua lengan mama nya yang masih memegangi kedua pipi nya "Maksud mama,Adam masih punya papa..?" tanya tanya Adam.
Jasmin mengangguk "Kenapa sekarang mama baru bicara masalah papa. Selama ini papa dimana..?" tanya Adam seperti orang dewasa.
"Cerita nya panjang sayang. Mama hanya ingin pastikan anak mama tidak keberatan ketika berjumpa papa kandung kalian..!" jelas Jasmin.
"Adam tidak keberatan ma,dan mungkin Adam akan merasa bahagia,akhirnya punya papa seperti teman-teman yang lain..! " jelas Adam.
__ADS_1
Jasmin terharu mendengar jawaban anak lelaki nya itu. Selain bersifat dewasa,Adam sosok anak yang tidak pernah membantah perkataan mama nya. Berbeda dengan Elsa yang selalu mengandalkan mama.
Keesokan harinya,ketika anak-anak Jasmin pulang belajar. Jasmin sudah menunggu diluar,dia berencana akan membawa kedua anaknya untuk bertemu Sebastian dirumah sakit.
Mereka pun akhirnya pergi bersama. Di perjalanan,Adam memilih diam.Sementara Elsa terlihat rewel "Ma,kita mau kemana. Ini kan bukan jalan kerumah..?" tanya Elsa.
"Kita akan menjenguk paman dirumah sakit sayang..!" jawab Jasmin.
"Paman tampan itu ma..?" tanya Elsa seperti senang.
Jasmin hanya tersenyum,mendengar kata-kata anaknya. Mobil terus melaju ditengah jalan yang tidak begitu ramai.
Mereka pun sampai dirumah sakit,ketika akan masuk "Mama,kita datang tidak bawa apa-apa..?" tanya Elsa.
Jasmin berjongkok didepan Elsa "Kita bukan orang lain. Dan sebelumnya kita sudah pernah kesini kan?" jelas Jasmin.
Elsa tersenyum " Ahh..iya. Elsa lupa..!" nyengir.
Jasmin memegang kedua tangan anaknya menuju kamar rawat Sebastian yang dari kemarin sudah gelisah menunggu.
__ADS_1