
Hari telah malam, Sebastian masih terbaring lemah. Hanya infus yang menjadi tenaga untuk nya. Setelah makan malam, Rosse kembali kekamar Sebastian. Dia mengkompres kepala kening Sebastian dengan air hangat memakai handuk. Dia rutin membasahi handuk tersebut agar tidak kering.
Karena sudah malam, Rosse tertidur ditepi ranjang. Ditengah malam saat semua orang terlelap, Sebastian membuka mata. Ketika mengangkat tangannya, terlihat selang infus melingkar ditangan nya. Dia menoleh ke kanan, terlihat Rosse yang tertidur pulas dengan posisi duduk. Sebastian merasakan basah dikening dan menarik handuk tersebut. Dia memandangi wajah polos Rosse yang tertidur. Dia sentuh rambut panjangnya yang ujung nya terlepas dari ikatan. Rambut nya terasa begitu lembut seperti sutra.
Ketika Rosse bergerak, Sebastian melepaskan rambutnya. Dia pura-pura seperti tertidur . Rosse terbangun dan meraba bagian kepala Sebastian. Dia tidak menemukan handuk itu.Dia meraba disekitar kiri dan kanan kepala Sebastian. Merasa Rosse sedang mencari handuk nya . Diam-diam Sebastian meletakkan handuk itu kesamping kanannya, dimana Rosse lagi duduk. Rosse akhirnya mendapatkan handuk itu. Dia kembali menyentuh kepala Sebastian, badan nya sudah tidak panas. Rosse meletakkan handuk itu ke dalam mangkuk.
Sebastian tetap pada posisi nya. Rosse kembali menyentuh kepala Sebastian hanya sekedar memastikan bahwa suhu tubuhnya sudah tubuh. Ketika akan menarik tangan nya, tiba- tiba tangan Sebastian menahan nya. Rosse terperanjat, dan seketika tangan nya terhenti "Tuan... tuan sudah siuman? " Rosse meyakinkan bahwa itu adalah Sebastian.
" Iya," Jawab Sebastian.
Rosse terlihat senyum mendengar suara Sebastian "Syukur lah tuan. Kami semua cemas, karena anda tidak sadarkan diri, " Ucap Rosse.
Merasa tangannya tidak juga terlepas. Rosse berusaha menariknya. Tapi Sebastian tetap memegang nya dengan erat " Tuan, tangan saya mohon lepaskan, " Sebastian baru tersadar, tangan Rosse yang dia pegang.
"Maaf, saya tidak sadar, " Sebastian pun melepaskannya.
" Kalau tuan sudah merasa baikan, saya akan kembali kekamar." Ucap Rosse.
Rosse berdiri dari duduk nya ketika akan pergi, tangan nya ditarik oleh Sebastian. Untuk sesaat mereka tanpa kata. Rosse berusaha untuk melepaskan tangannya, tapi Sebastian mencengkam nya dengan erat "Ada apa tuan,apa ada yang tuan perlukan? " Tanya Rosse merasa canggung.
" Saya tidak membutuhkan apa-apa, hanya saja temankan saya untuk malam ini, "Pintar Sebastian.
__ADS_1
Rosse merasa gelisah mendengar permintaan Sebastian yang tak biasa. Dia kembali duduk di bangku nya. Sebastian memegang lembut jari-jari Rosse yang terasa kecil ditangan nya.
" Tuan tidur lah lagi, saya akan disini menunggu sampai tuan terlelap, "Ucap Rosse.
Sebastian hanya diam tak menjawab. Rosse tidak menolak ketika Sebastian memegang tangan nya. Dia berfikir, mungkin itu hanya sementara tanpa arti. Jam terus berjalan,tiga jam sudah tangan Rosse dengan posisi digenggaman Sebastian. Tidak mendengar suara apa pun, Rosse menarik tangannya dengan perlahan. Merasa tidak ada respon, dia berfikir Sebastian pasti sudah tidur. Ternyata Sebastian sama sekali tidak tertidur. Dia hanya melepaskan tangan Rosse. Dia merasa kasihan terhadap Rosse. Dia juga membutuhkan tidur. Rosse perlahan melangkah meninggalkan kamar Sebastian. Ketika dipintu, sebisa mungkin perlahan membuka handle pintu agar tidak bersuara.
Sebastian yang sedari tadi memperhatikan, hanya terdiam. Dia juga tidak ingin kalau Rosse sampai sakit, hanya karena kurang istirahat.
Rosse sudah berada didalam kamarnya. Dia masih merasakan kantuk. Dia pun membaringkan tubuh nya. Tidak butuh waktu lama, dia pun tertidur kembali.
Sementara di kamar Sebastian, dia merasakan ada sesuatu yang tak biasa padanya . Dia pegang dadanya, degupannya masih terasa seperti biasa . Tadi ketika dia menyentuh tangan Rosse. Entah kenapa , dia merasa kan ada aliran panas yang menjalar di sekujur tubuhnya "Apa kah perasaan ini?" fikir nya.
Sebastian merasa kan kantung ke*ih nya terasa penuh. Dia berusaha untuk duduk, ketika akan berdiri dia merasa kan kepalanya pusing dan hampir terjatuh. Dia berusaha berpegang pada tiang infus. Untuk menghindari dirinya terjatuh. Dia menyeret tiang infus itu kedalam kamar mandi. Merasa kerepotan , Sebastian menarik selang yang menancap di kulitnya . Karena tidak hati-hati, sedikit darah keluar dari bekas infus tersebut. Sebastian tidak memperdulikan nya. Setelah selesai, Sebastian kembali membawa tiang infus itu menuju tempat tidur. Dia berbaring kembali, tapi tenggorokan nya terasa kering. Dia kembali bangun dan mengambil air minum yang berada di meja nakas.
Dia meneguk air itu sepuas-puas nya. Karena cairan tubuhnya berkurang, bibir Sebastian kering dan wajahnya terlihat pucat. Merasa tenggorokan nya segar. Sebastian seperti baterai ponsel yang diisi separuh. Bisa untuk bertahan beberapa saat. Sebastian berusaha kembali untuk tidur. Karena masih ada beberapa jam lagi menunggu waktu pagi.
......................
Pagi menyapa penduduk bumi. Oma dan beberapa orang yang berada disana sudah terbangun. Pak Seno menuju kekamar Sebastian untuk memastikan keadaan tuan nya. Pak Seno pun masuk, melihat tidak ada Rosse disana. Pak Seno beranggapan, mungkin pagi-pagi sekali dia sudah kembali kekamar nya. Pak Seno meraba bagian kepala Sebastian, pak Seno langsung terlihat senyum. Karena tubuh Sebastian sudah tidak panas lagi. Pak Seno mengambil mangkuk yang berisi handuk dan membawa nya keluar.
Dibawah, Oma sudah menunggu "Bagaimana dengan cucu saya? " Tanya Oma.
__ADS_1
"Nyonya tidak usah khawatir. Tuan sekarang baik-baik saja. Saat ini tuan masih tidur, " Jawab Pak Seno.
" Syukur lah dia tidak kenapa-napakenapa-napa. Saya sudah merasa putus asa. Ketika dia belum bangun," Ucap Oma.
" Baik lah nyonya, saya masih banyak pekerjaan dibalakang. Saya tinggal dulu, " Pak Seno permisi.
"Baiklah pak Seno, Terima kasih , "
Pak Seno melemparkan senyuman dan berlalu pergi. Oma duduk disofa depan. Dia belum melihat Rosse sama sekali. Oma berjalan menuju kamar Rosse " Tok... tok... tok.. " Oma mengetuk pintu.
Rosse tersentak mendengar suara ketukan tersebut. Rosse mengusap wajah nya " Aku ketiduran." Rosse panik.
Rosse sudah menyetel jam alarm di ponsel nya. Tapi tidak mendengarnya berbunyi sama sekali. Karena terlalu lelap tertidur.Pintu kembali diketuk "Ya, " Jawab Rosse dari dalam kamar.
" Rosse kamu sudah bangun? " Tanya oma..
" Iya Oma. Sebentar lagi saya akan keluar." Saut Rosse dari dalam.
"Oma tunggu di meja makan, " Ucap Oma.
" Baik Oma, "Jawab Rosse.
__ADS_1