
Setelah beberapa jam,Rosse akhirnya terbangun juga. Pandangannya berkunang-kunang,dan tubuhnya terasa lemah. Dengan sisa tenaga,Rosse berusaha bangkit.Tapi tidak berdaya sama sekali. Sebastian yang baru masuk,segera menghampiri Rosse "Kamu jangan banyak bergerak.Tubuhmu masih lemah."
"Apa yang terjadi,kenapa aku bisa sampai disini?"
Sebastian mengusap lembut rambut Rosse "Tadi kamu pingsan.Saya buru-buru membawa kamu kerumah sakit." jelas Sebastian.
Rosse memegang kepalanya yang terasa berat "Kamu istirahatlah dulu." ucap Sebastian.
Rosse masih memandangi wajah Sebastian yang berada di samping nya "Apa yang terjadi padaku?" tanya Rosse.
"Bukan hal yang serius," jawab Sebastian.
Rosse merasa dipermainkan oleh Sebastian. Dia meneteskan air mata dan membuang wajahnya. Sebastian tersenyum "Kenapa kamu menangis?" tanya Sebastian.
Rosse terdiam,hanya air mata yang mengalir. Sebastian mengusap air mata dipipi nya dan mengecup lembut puncak kepala Rosse "Kamu tidak kenapa-kenapa. Apa kamu sengaja menyembunyikan sesuatu dariku?"ujar Sebastian.
Rosse kebingungan,dia merasa tidak pernah menyembunyikan apa pun " Maksudnya?" tanyanya.
"Kamu sedang mengandung anak kita!" jelas Sebastian.
Mendengar perkataan Sebastian barusan,tangisannya semakin menjadi. Sebastian memeluk erat tubuh Rosse.
Setelah menenangkannya,suara Rosse berangsur mengecil "Apa kamu tidak menyukai nya?" tanya Sebastian.
__ADS_1
"Bukan..bukan itu masalah nya..!" jawab Rosse.
"Jadi,apa yang membuatmu bersedih?" tanya Sebastian.
"Saya merasa sangat terharu dan bahagia." jawab Rosse.
Sebastian kembali memeluk Rosse "Kata dokter Johan,kamu tidak boleh terlalu banyak fikiran. Dan juga kandungan mu masih lemah. Ku harap kedepannya kamu jangan sampai tidak makan..!"
Rosse merasa nyaman dipeluk tubuh kekar suaminya tersebut.
"Tok...tok...tok....!" terdengar suara ketukan dipintu.
"Masuklah.." balas Sebastian.
"Untuk beberapa hari ini,kamu yang menangani masalah di kantor..!" perintah Sebastian pada Rico.
"Baik tuan,"setelah itu Rico pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Sebastian membawa tas pemberian Rico tadi dan menggantinya dikamar mandi.
Seorang perawat mengantarkan makanan untuk Rosse.Itu sebuah bubur yang dikhususkan untuk nya. Sebastian mendekatkan mangkuk bubur tersebut dan menyuapkannya kepada Rosse.
"Sudah cukup..." ucap Rosse.
__ADS_1
"Tapi ini masih banyak,kamu baru makan sedikit.!" bujuk Sebastian.
"Saya tidak ada selera..!" jawab Rosse.
"Tapi kamu harus bertenaga untuk calon bayi itu.! jelas Sebastian dan tetap menyodorkan sendok berisi bubur tersebut. Tidak bisa menolak nya,Rosse tetap harus makan. Karena sekarang ini bukan hanya dirinya saja. Ada jiwa lain didalam perutnya yang membutuhkan asupan makanan.
Setelah memberi makan Rosse,Sebastian merasa kelelahan. Dia berbaring di sofa yang cukup nyaman dan akhirnya tertidur.
Didalam tidurnya,Sebastian bermimpi. Dia melihat Rosse berjalan dengan dua orang anak laki dan perempuan. Sebastian memanggil- manggil nama Rosse. Tapi tidak sedikit pun Rosse menoleh kehadapan nya.
Sebastian mendekati mereka dan menarik tubuh Rosse yang berjalan perlahan. Tatapan mata Rosse terlihat kosong. Dia seperti tidak mengenali orang yang berada didepannya. Rosse kembali berjalan meninggalkan Sebastian.
Sebastian terus mengikuti mereka,semakin dia berjalan semakin jauh jarak Rosse dan kedua anak itu hingga tak terlihat. Sebastian terus memanggil tapi sia-sia.
Rosse yang terbaring di tempat tidur,mendengar dengan jelas Sebastian menyebut namanya dalam tidur.Sebastian pun tersentak ,setelah mendengar suaranya sendiri. Dia duduk dan mengusap wajahnya yang basah karena keringat.
"Tuan...!" panggil Rosse.
Sebastian menoleh "Ada apa?" tanyanya.
"Kenapa tuan menyebut nama saya..?" tanya Rosse.
Sebastian terdiam "Saya hanya bermimpi..!" jawab Sebastian.
__ADS_1
Rosse pun tidak bertanya lagi. Sebastian bangkit dan mencuci wajahnya . Di kamar mandi dia melihat kecermin dan bertanya-tanya sendiri mimpi nya tadi.