
Beberapa jam berlalu. Hari sudah menjelang petang. Aktifitas di perusahaan mulai berangsur terhenti.
"Deerrtttt... deeerrtttt... deerrttt, " Terdengar getaran ponsel di meja Sebastian. Dia melihat sebuah panggilan dari teman waktu sekolah dulu. Dia usap layar ponselnya "Hallo, " Sebastian menjawab telepon tersebut.
" Sebastian, apa kabar mu? " Seorang lelaki bertanya diseberang telepon.
"Ada apa menghubungi ku. Kalau tidak ada kepentingan, saya akan tutup," ucap Sebastian ketus.
"Tunggu... tunggu. Maksud saya menghubungi mu, hanya ingin memberi tahu. Malam ini teman-teman sekolah akan berkumpul di restoran X. Kamu diharuskan datang, momen ini jarang-jarang terjadi," Ajak temannya dengan nada merayu.
"Kalau hanya itu yang ingin kamu bicarakan, saya akan tutup telepon nya sekarang juga," Sebastian mengakhiri percakapan mereka.
Melirik jam di tangannya. Sebastian pun bangkit dari duduknya. Dia berkemas ingin pulang. Terlintas di benaknya " Apa salahnya malam ini berjumpa dengan mereka? " fikir nya.
Sebastian berjalan meninggalkan ruang kerjanya. Diana yang masih berada disana,berdiri melihat bos nya keluar dari pintu " Selamat sore Pak, " Sapa Diana dengan sedikit menundukkan pandangan nya.
Sebastian hanya menoleh tanpa bicara dan berlalu pergi.
Melihat bos nya sudah melangkah keluar, Diana pun bersiap-siap untuk pulang kerumah.
Sebastian mengemudikan mobil sendiri. Dua sudah menyuruh Rico untuk pulang lebih awal sebelumnya.
Sampai
dirumah, Sebastian langsung menuju tangga naik ke tingkat atas. Kamarnya berada di lantai atas.
Setelah berada di dalam kamar, dia meletakkan tas dan melepas jas nya . Tak lupa melepas dasi yang masih melingkar di leher kemejanya. Dia duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur nya . Menarik nafas panjang bersandar pada sofa.Dia merasa lelah setelah bekerja.
__ADS_1
Dia membuka pakaian dan hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Menuju kamar mandi.
Selesai bebersih diri dan memakai pakaian,dia duduk di teras kamarnya dengan secangkir teh yang sebelum nya dia pesan. Sambil menyeruput "Ada baik nya malam berjumpa dengan teman- teman lama, " Terlintas di fikiran nya tentang ajakan temannya.
Malam pun tiba. Sebastian mengenakan pakaian formal.Kemeja putih dan celana berwarna mocca. Tak lupa jam tangan sebagai ekspresi individu.Dan gaya rambut front puff mempertegas ketampanannya.
Dia segera menuju garasi memilih mobil sport Ford Mustang berwarna merah.
Sebastian meluncur ke restoran X. Setelah tiba, beberapa temannya terlihat baru sampai, bersamaan dengan nya.
Seorang lelaki menghampiri " Sudah lama tidak bertemu, " Sapa Louis temannya.
Sebastian hanya menoleh tanpa membalas sapaan temannya itu. Dia terus berjalan kedalam restoran. Louis yang berjalan di belakang, hanya menurut dari belakang. Mereka masuk ke sebuah ruangan yang terlihat privasi. Sebastian masuk dengan sikap tenang.Beberapa temannya sudah ada disana. Dan mereka membawa beberapa orang wanita.Para wanita itu bukan lah teman sekolah dan juga bukan pacar mereka. Mereka adalah para wanita panggilan yang dibayar untuk sekedar menemani atau hal lainnya.
Sebastian duduk di kursi agak jauh dari jangkauan wanita-wanita itu. Dia menyilangkan kaki kanan kekaki kiri nya. Para temannya membuka sebotol minuman Champagne termahal, yang hanya bisa di nikmati oleh orang-orang kalangan atas. Louis menuangkan minuman tersebut ke gelas yang ada di depan Sebastian "Sebagai tanda berjumpa nya kita kembali, terimalah persembahan dari saya, " Louis sangat bersemangat.
Louis juga menuangkan minuman itu ke gelas nya yang masih kosong. " Sebagai tanda pertemanan kita, mari kita bersulang, "Ucap Louis.
Sebastian yang merasa acara ini seperti kekanak-kanakan memilih hanya diam.
Setelah meminum beberapa tegukan, dia merasa ingin ke kamar mandi. Sebastian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Selagi dia kekamar mandi, Louis dan teman-teman nya membicarakan tentang Sebastian yang berhati dingin dan tidak memiliki pacar "Apa mungkin dia penyuka sesama jenis? " Ucap teman yang lain. "Hahahahahahahaha," Mereka tertawa mendengar ucapan teman tersebut.
Setelah beberapa menit, Sebastian kembali duduk. Seorang wanita yang dibawa oleh temannya, berdiri berjalan menghampiri Sebastian. Melihat gelagat wanita tersebut, dia menjadi sedikit risih. Wanita itu duduk di samping nya. Sebastian berdiri dari duduk nya, meminum gelas yang terakhir.Dia beranjak pergi "Ayolah teman, acara belum selesai. Malam masih panjang, " Teman-teman nya merayu.
Sebastian tetap melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan mereka yang masih bersenang-senang. Antara separuh sadar dan mabuk, dia mengemudi kan mobil menuju kediaman yang pernah menyelamatkan nya " Kenapa saya bisa sampai disini? " Fikirnya. Tapi dia tetap menjalankan mobil nya.
__ADS_1
Sampai lah di sebuah tanah tinggi.Dia keluar dari mobil berjalan menuruni jalan yang sedikit menurun. Terlihat sebuah rumah yang tak asing baginya, Sebastian menghampiri rumah itu. Dia masih ragu dengan maksud kedatangannya. Ketika sudah berada didepan pintu. Dia berbalik arah ingin pergi, tapi hatinya ingin sekali masuk kedalam.
Dengan mengumpul kan sedikit keberanian, dia mengetuk pintu " Tok.. tok.. tok.."
Rose yang berada didalam kamar merasa bingung "Siapa yang datang malam-malam begini? " Tanya nya sambil meraba tongkatnya.
Dia berjalan dengan hati-hati,dan tiba didepan pintu.
"Siapa diluar? tanya Rosse sambil mendekatkan telinganya ke pintu. Tapi tidak terdengar jawaban sama sekali. Rosse menjadi takut dan mundur beberapa langkah kebelakang.
" Ini saya, " Suara laki-laki seperti saya kenal. Rosse kembali mendekat ke pintu.
"Siapa?" tanya nya lebih jelas.
"Sebastian," Jawab nya.
Jantung Rosse berdegup kencang mendengar nama Sebastian. Dia membuka pintu sedikit.
"Saya sebastian , " Ucap Sebastian.
Setelah mendengar lebih dekat, Rosse yakin itu memang suara laki-laki yang pernah iya selamatkan. Dia kemudian membuka pintu " Masuk lah, " Rosse mempersilahkan dia masuk. Ketika Sebastian masuk, Rosse mencium bau alkohol yang kuat " Ada apa dengan orang ini?" Fikirnya.
Sebastian duduk di sofa tempat dia waktu itu. Dia memijit kepalanya yang sedikit pusing. Rosse hanya berdiri "Ada apa tuan kemari malam - malam begini? " Tanya Rosse.
Sebastian tak menjawab sama sekali. Dia masih merasa sakit di kepala dan juga mual. Seketika dia berlari kekamar mandi dan mengeluarkan semua apa yang telah dia minum tadi.
Rosse yang berada balik pintu hanya mendengarkan saja. Dia berjalan menuju dapur mengambil air hangat yang dicampur perasan air jeruk. Sebastian pun keluar dari kamar mandi sambil memegang perutnya yang terasa tegang.
__ADS_1
"Tuan, silahkan minum untuk mengurangi rasa mabuknya," Rosse menyerahkan gelas berisi air.
Sebastian memandang wajah Rosse yang terlihat polos itu dan menerima gelas yang dia berikan. Dia meminum air itu dan merasakan asam " Walau terasa asam, air itu mampu mengurangi gejala mualnya, " Ucap Rosse dan duduk di sofa samping Sebastian.