BERIKAN AKU SEBERKAS CAHAYA

BERIKAN AKU SEBERKAS CAHAYA
episode 21.


__ADS_3

Rosse merasa gembira mendengar kata-kata Sonya.Sebastian akan membuat kan satu ruangan pribadi untuk nya .


Masih dikantor,Sebastian menghubungi bagian arsitek. Dia ingin membuat sebuah rumah kecil yang terbuat dari kaca. Dan rencana itu akan dimulai besok.


Tujuan rumah itu dia buat. Agar Rosse bisa menyibukkan diri ,dan tidak terlalu merasa kesepian.


Sementara dirumah besar Sebastian. Rosse terlihay semakin akrab dengan Sonya. Beberapa pekerja lain, mencibir kedekatan mereka. Pak Seno mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain. Sehingga ada waktu untuk bergosip? " Pak Seno menegur.


Seketika para penggosip terkejut dan pergi meninggal kan pak Seno sendiri. Dia pun kembali berjalan melihat-lihat sekeliling rumah. Sonya yang bertugas membersihkan setiap jendela dan pintu tengah berada dikamar Rosse. Dia tidak hanya bekerja, tapi lagi asik berbincang-bincang bersama Rosse.


" Kira-kira kapan tuan akan membuat rumah kecil untukmu? " Tanya Sonya.


Rosse tertawa mendengar pertanyaan Sonya " Dia baru berbicara. Tuan masih banyak kerja yang harus dikerjakan. Dengan tinggalnya aku disini, sudah menjadi suatu keberuntungan buat ku, " ucap Rosse.


Sonya hanya mamanyunkan bibir nya, karena dia pun tak pasti. Seseorang sekelas Sebastian perduli pada orang kecil seperti mereka . Benang rajutan Rosse sudah hampir habis " Sonya," Panggil Rosse .


" Ya nona, " Saut nya.


" Jangan panggil saya nona. Panggil saja Rosse, terasa lebih akrab, " Gerutu Rosse .


"Hehehe," Sonya tertawa.


"Bila kamu keluar, bisakah saya titip benang untuk merajut? " tanya Rosse.


" Hari ini saya tidak pergi kemana pun. Minggu ini saya berencana ingin keluar," jelas Sonya.


" Kapan saja kamu ada waktu," ucap Rosse.


" Baiklah," balas Sonya.

__ADS_1


Rosse terus mengait benang satu sama lain.Sedangkan Sonya sudah selesai membersihkan kaca jendela. Dia pun segera berjalan keluar dari kamar Rosse.


Siang itu sebuah mobil berhenti didepan pagar rumah Sebastian , dia membunyikan klakson. Seorang penjaga datang menghampiri " Ada perlu apa pak? " tanya penjaga.


" Maaf Pak, saya datang kesini untuk melihat lokasi. Saya diperintah oleh tuan Sebastian, " Jawab laki-laki muda dari dalam mobil.


Penjaga tidak serta merta mempersilahkan nya masuk "Mohon tunggu sebentar," Pintar Penjaga. Dan menghubungi tuan nya.


" Hallo tuan, ada orang ingin masuk kedalam, katanya dari pihak arsitek, " Ucap Penjaga.


" Biarkan dia masuk," perintah Sebastian dan menutup teleponnya.


"Baik tuan, " Jawab penjaga.


Penjaga membuka pintu pagar "Silahkan tuan,tapi maaf mobil nya diletak disini saja," Pinta penjaga.


Mobil pun di parkir di pinggir jalan depan rumah Sebastian. Setelah terparkir mereka pun masuk kedalam. Berjalan menuju halaman belakang. Penjaga bagian dalam menghampiri lelaki tersebut. " Mari saya tunjukkan tempat nya, " Membawa mereka berjalan kebelakang. Penjaga dalam sebelumnya sudah diberitahu, bahwa ada orang yang akan datang.


Mereka pun melihat titik tempat untuk merancang bangunan nya. Mereka mengukur kelebaran tanah penyesuaian pintu masuk nanti nya.


Setelah selesai, mereka pun bergegas berjalan kembali menuju pagar. Penjaga yang melihat membuka pintu pagar. Mereka pun segera keluar dan pergi.


Mereka pun menghubungi Sebastian "Tuan semua sudah kami lakukan. Menunggu besok mulai pengerjaannya, " Lapor arsitek.


"Baik lah, lakukan yang terbaik, " Pinta Sebastian dan telepon berakhir.


Masih dirumah Sebastian, para pelayan melihat kedatangan dua orang lelaki tadi. Mereka bertanya-tanya, apa yang mereka lakukan disana.


Sonya tidak menyadari kehadiran dua orang tadi. Ketika Sonya berjalan melewati para pelayan lain. Dia turut penasaran dan ikut berkumpul "Ada apa? " tanya nya heran.


Salah seorang menoleh ke arah Sonya "Tadi ada dua orang yang datang melihat ke arah belakang. Sepertinya seorang arsitek, " ucap temannya.

__ADS_1


Wajah Sonya seketika serius " Apa tuan sungguh-sungguh dengan omongannya? " Tanya nya dalam hati. Dia pun pergi berjalan dengan santai. Setelah teman-teman nya tidak terlihat. Sonya berlari menuju kamar Rosse.


"Nona.. nona.." panggil Sonya sembari menunggu mengetuk pintu.


Mendengar suara Sonya yang tiba-tiba, membuat Rosse panik. Dan membuka pintu tergesa-gesa, sampai melupakan tongkatnya " Ada apa Sonya? " Tanya Rosse.


" Tadi... tadi ada dua orang pria menuju halaman belakang. Kata yang lain mereka mengukur tanah tersebut. Berarti tuan betul-betul akan membuat rumah kecil untuk nona." Ucap Sonya dengan wajah senang.


" Apa iya, saya kan hanya orang lain. Apa tuan sebaik itu? "Tanya Rosse pada Sonya .


" Mungkin saja, " Jawab nya.


Rosse merasa senang, tapi dia tidak mau memperlihatkan perasaannya .


Hari sudah sore, terdengar terdengar suara mobil berhenti didepan halaman. Dan suara mobil itu terdengar kembali keluar dari halaman. Itu adalah Rico yang mengantarkan Sebastian. Dia melangkah kedalam rumah. Pak Seno menyambut kedatangan tuan rumah dan mengambil tas yang dia bawa.


Sebastian berjalan melawati kamar Rosse. Dia melirik ke pintu Rosse yang terkunci. Tidak terdengar suara apa pun. Dia pun menaiki tangga dan masuk kekamar nya. Sebastian membuka jas dan kancing lengan nya. Satu persatu kancing baju nya pun ikut dibuka. Dia sudah gerah dengan baju yang dipakai selama hampir satu harian.


Tidak seperti biasanya. Sebastian selalu menyediakan beberapa baju ganti di kantor nya. Ternyata itu adalah kelalaian Rico yang tak memeriksa sebelumnya. Sebastian pun memilih untuk berendam di air hangat.


Sementara Rico, yang masih berada di jalan sedikit kesal. Sudah pasti Sebastian memarahi dia , karena ketidak becusannya dalam bekerja.. Dia bukan kesal para bosnya tersebut. Tapi pada diri sendiri yang tak ingat halal penting seperti tadi.


Dia terus melaju menuju apartemennya. Sesampainya di sana. Dia bergegas naik menuju apartemennya. Dia membuka baju dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Dia merasa hilang semangat. Setelah tenaganya cukup terisi, kembali dia bangkit dan menuju kamar mandi. Dia menghidupkan shower dan membasahi tubuhnya. Dia membiarkan aliran air mengalir mendinginkan kepalanya. Beberapa menit berlalu, setengah jam berlalu. Rico pun menyudahi acara basah-basahannya. Dia mengambil handuk dan mengeringkan tubuh dan rambutnya.


Bergegas ke lemari dan mengganti pakaian. Sekarang dia terlihat berbeda dari Rico yang setiap pagi nya dengan setelan jas dan rambut yang rapi mengkilap. Saat ini Rico tidak mengenakan minyak rambut. Dia mengenakan baju kaus dan celana pendek.


Saat ini dia merasakan perut nya ada yang berbunyi. Ternyata lapar melanda, dia pun keluar dari apartemennya. Ingin mencari makanan pengisi perut. Berjalan menuju lift dengan posisi tangan di letak dalam saku celana.


Didalam lift ada dua orang wanita, mereka memperhatikan penampilan Rico yang santai tapi masih memancarkan aura ketampanannya. Seorang dari wanita itu memberanikan diri maju selangkah. Sehingga bahu mereka seiringan. Rico yang tak memperhatikan, membuat wanita itu keki. Dia pura-pura seperti orang lagi mengalami sakit kaki. Tidak sedikit pun memancing perhatian Rico. Dan sampai lah lift dibawah. Tanpa menoleh atau senyum. Dia berlalu meninggal kan wanita itu. Mereka hanya bisa melihat kepergiannya.


"Wanita sinting, " ucap Rico setelah berjalan jauh dari dua wanita tadi.

__ADS_1


__ADS_2