
Jam berlalu,Sebastian masih setia duduk disamping istrinya.
Rosse mulai bergerak,merasa ada sesuatu di bahunya. Rosse menarii selimut itu "Siapa yang menaruhnya disini..? " tanya Rosse sendiri.
Tiba-tiba "Saya...!" jawab Sebastian.
Seketika Rosse menarik tubuhnya kebelakang dengan keras,membuat kursi yang dia duduki hilang keseimbangan membuat tubuhnya terdorong. Dengan sigap Sebastian menarik tangan kursi itu sehingga bisa menahan tubuh Rosse agar tidak jatuh.
Sekejap saja membuat Rosse sudah merasa ketakutan. "Apa yang membuat mu seperti menghindari ku..?" tanya Sebastian dengan lembut.
Rosse dalam keadaan terkejut masih memegangi tangan kursi "Tidak -tidak ada. Saya seperti biasa!" tampik Rosse.
Sebastian memperhatikan wajah Rosse yang dia sembunyikan dibalik rambutnya yang terlepas dari ikatan. Pelan-pelan Sebastian sebak rambut hitam Rosse.
Rosse menjadi salah tingkah dengan perlakuan lembut suami nya itu "Ada apa dengan ku,kenapa aku merasa sangat membutuhkannya. Tapi tidak ingin berdekatan dengan nya..!" batin Rosse dan menundukkan wajahnya sehingga tangan Sebastian merenggang.
Rosse berdiri dan ingin berjalan keluar,ketika akan pergi. Sebastian menarik tangannya,Rosse tersentak "Ada apa tuan..?" tanya Rosse menundukkan wajah nya.
"Saya tahu,ada sesuatu yang tak berkenan dihatimu.Dan kanu tidak ingin membicarakannya pada ku..!" ucap Sebastian.
Rosse hanya melepaskan pegangan tangan Sebastian,melangkah sambil meraba-raba sekitar.
"Kamu makan lah dulu. Ini saya bawakan untukmu..!" ujar Sebastian.
Rosse berhenti kembali "Saya tidak lapar tuan. Saya sudah makan tadi sore..!" jawab Rosse.
__ADS_1
Sebastian pun berdiri,melihat ke kotak makanana yang dia bawa.Sudah terasa dingin. Sebastian mengikuti Rosse dari belakang,masih dengan tanda tanya atas perubahan sifat Rosse yang memilih menghindar dari hadapannya.
Ketika didalam rumah,Rosse menuju lantai atas.Dia berbaring di tempat tidur. Dia ingin menyambung tidurnya kembali. Melihat Rosse yang sudah terbaring,Sebastian tidak ingin mengganggu nya lagi. Dia pun memilih untuk tidur disofa.
Keesokan paginya,matahari menembus jendela kaca yang berwarna bening. Sehingga kamar itu terasa terang. Sebastian yang tidur di sofa ,adalah orang pertama yang terkena cahayanya. Dia pun bangun karena silau,perlahan membuka mata menatap ke arah Rosse yang masih setia dengan selimut dan berpelukan bantal.
Sebastian pun bangun menuju kamar mandi. Setelah selesai,dia memakai pakaian dan turun kebawah. Rosse pun bangkit dari tempat tidur kemudian mandi. Memakai pakaian yang bersih dan tidak seperti biasa. Dia tidak memakai parfum.
Rosse tidak turun kebawah,Sebastian dan Oma menunggu kedatangan nya. Tapi Rosse tak kunjung turun. Karena waktu terus berjalan,Sebastian lebih dulu sarapan tanpa menunggu istrinya.
"Ada apa dengan Rosse. Akhir-akhir ini,dia lebih banyak diam?" tanya Oma pada Sebastian.
"Tidak tahu Oma,sama Tian juga sepertinya menghindar..!" jawab Sebastian.
"Apa kalian bertengkar..? tanya Oma lagi.
Oma memandang sinis pada cucunya,dan Sebastian menyadari itu. Mereka tetap menikmati sarapan pagi mereka. "Nanti kalau lapar,Rosse akan turun juga. .." ucap Sebastian.
Selesai sarapan,Sebastian pun pergi. Rico yang menunggu sudah dari tadi membuka pintu mobil untuk tuannya. Sebastian masuk dan mobil pun meninggalkan kediamannya. Di jalan Sebastian mencari-cari alasan penyebab Rosse berubah. "Rico,apa kau mengetahui bagaimana cara membuat seorang wanita agar tidak marah lagi.?" tanya Sebastian.
"Saya tidak tahu tuan,sebab.." tak sempat menghabiskan ucapannya.
"Ah...iya. Kamu tidak pernah memiliki pacar..!" potong Sebastian dengan menopang dagu .
Seketika kepala Rico seperti dihimpit gunung es. Dia sadar,karena selama ini tidak memiliki kekasih apa lagi istri.
__ADS_1
Mobil sampai didepan perusahaan,Rico membuka pintu. Sebastian keluar dan segera masuk. Rico meminta pada penjaga untuk memarkirkan mobil di tempat khusus CEO.
Sebelum memasuki ruangan nya.Sebastian menoleh ke meja sekertarisnya. Dia pun menghentikan langkahnya "Diana,keruangan saya..!" pinta Sebastian.
Diana yang pun mengikuti langkah Sebastian dari belakang. Didalam "Duduk lah..!" pinta Sebastian.
"Ada apa tuan..?" tanya Sebastian.
"Saya ingin bertanya,apa hal yang paling bisa membuat wanita bahagia..?" tanya Sebastian.
"I-itu...saya mau jawab apa ya tuan..?" Diana kebingungan.
"Kamu jawab saja,tidak perlu merasa bersalah..!" ucap Sebastian.
"Biasanya wanita itu suka dengan barang-barang mewah. Makan malam romantis dan bunga." jelas Diana.
Sebastian mengangguk-angguk mendengar penjelasan sekertarisnya itu. Tapi Rosse bukan lah seorang wanita yang suka dengan benda-benda mahal.Sekelibat ,dia teringat dengan perhiasan yang sebelumnya pernah dia pesan. "Baiklah,terima kasih atas saran mu..!" ucap Sebastian.
Diana pun keluar dari ruangan bosnya kembali duduk dikursinya. Menjadi sebuah tanda tanya dengan pernyataan Sebastian tadi. "Apakah tuan Sebastian sudah memiliki kekasih..?" fikir Diana.
Rico berjalan menuju ruangan Sebastian. Rasa penasaran Diana membuat nya hilang akal "Tuan ..!" Diana memanggil Rico.
Rico memalingkan wajahnya ke arah suara . Diana memanggil nya dengan isyarat tangan.Rico yang pun mendekat "Tuan..apa tuan tahu siapa pacar tuan Sebastian..?" tanya Diana dengan suara pelan.
Rico memandang tajam ke arah Diana. Pandangan Rico membuat Diana menggigit jari "Kamu apa masih ingin bekerja disini?" tanya Rico.
__ADS_1
Diana menundukkan wajahnya "Maaf tuan saya lancang.Saya masih ingin bekerja tuan.!" jawab Diana ketakutan.
Rico pun masuk keruangan Sebastian,meninggalkan Diana yang merasa bersalah. Karena bertanya masalah pribadi tentang bosnya.