BERIKAN AKU SEBERKAS CAHAYA

BERIKAN AKU SEBERKAS CAHAYA
episode 14.


__ADS_3

Setelah mengeluarkan semua isi perutnya dan meminum air yang diberikan oleh Rosse.


Sebastian merasa sakit kepalanya mulai berkurang. Sekarang hanya ada rasa ngantuk dan ingin tidur. Sesekali terdengar dia menguap, Rosse mengerti bahwa tamu nya itu sudah ingin tidur. Rosse bergegas kedalam kamar, dia mengambil bantal dan membuka lemari untuk mengambil sebuah selimut.


Rosse kembali keluar dan memberikan selimut dan bantal untuk Sebastian. Tanpa rasa canggung Sebastian menerimanya dan segera merebahkan tubuhnya yang sudah lelah .


Rosse pun bergegas masuk kedalam kamar. Ntah kenapa di hati Rosse merasakan kegembiraan tersendiri. Dia begitu senang dengan kedatangan Sebastian. Di awal perjumpaan pertama kali, dia sudah merasakan suka dengan pria tersebut . Walau tidak berbicara banyak, sikapnya yang tak banyak bicara lah yang membuat Rosse merasa tertarik.


Dia pun kembali berbaring di tempat tidur. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Matanya mulai terasa perih ingin tidur. Rosse pun akhirnya tertidur. Sedangkan Sebastian, lebih dulu sampai ke dunia mimpi tanpa pamit.


Matahari mulai terbit, ciutan burung bersahutan menyambut datangnya pagi.


Sebastian tersentak oleh suara itu. Dia membuka matanya dan alangkah terkejutnya. Dia bukan berada didalam kamarnya. Tapi tempat itu tak asing baginya "Apa yang kulakukan? " Menyapu kasar rambutnya.


Sebastian mendengar suara dari arah belakang. Sebastian berdiri dan melihat ke dapur. Hanya ada Rosse yang tengah membuat minuman dan makanan.


Dia kembali duduk di sofa sambil mengingat apa yang dia lakukan malam tadi. Dia hanya mengingat sekilas saja. Dan masih seperti bayang-bayang.


Rosse berjalan menuju sofa, Sebastian yang merasa malu dengan Rosse, memilih diam tanpa suara.


"Tuan... tuan sudah bangun? " panggil Rosse lembut.


"Heemmmmm, " Sebastian berpura-pura seperti orang yang baru saja terbangun.


" Tuan, ini minuman dan juga beberapa makanan untuk mengisi perut tuan yang kosong," Rosse menyerahkan nampan.


Sebastian menerima nampan itu, Rosse pun bergegas pergi menuju dapur.


Sebastian sedikit merasa ada yang berbeda. Dia melihat sekeliling, tapi tidak menemukan sosok nenek yang biasa menemani Rosse.


Dia seruput minuman yang diberikan oleh Rosse sebelumnya. Ntah kenapa, setiap meminum air buatan Rosse ada sesuatu yang berbeda. Tidak seperti teh pada umum nya. Seteguk dan seteguk lagi. Dia menikmati setiap seruputnya .


Rosse berjalan meraba-raba menuju pintu "Eeemmmm.. kamu mau kemana? " Tanya Sebastian pada Rosse mencair kan kecanggungan.


Rosse menghentikan langkahnya "Saya ingin memetik sayuran di taman belakang tuan, " Jawab Rosse dan berjalan kembali.

__ADS_1


Sebastian bangkit dari duduknya. Dia kembali melihat ke arah dapur, tiada sesiapa. Dia berjalan melihat ke sekeliling rumah dan juga kedalam kamar yang pintunya terbuka lebar, hanya di tutupi tirai. Tapi tidak menemukan sosok nenek yang tinggal di rumah tersebut.


Sebastian baru menyadari, ternyata semalaman dia tertidur dengan memakai baju yang dipenuhi aroma alkohol. Dia berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dan kembali keluar.


Dia melihat Rosse dari jendela samping rumah. Walau buta Rosse sangat cekatan dengan kerjanya. Karena sudah terbiasa, tidak masalah baginya .


Sebastian memberanikan diri mendekati Rosse. Dia berjongkok tak jauh dari posisi Rosse.


" Eeeekkhhhh.... eehhemmm, " Sebastian berdehem sejenak.


Rosse mengalihkan perhatian nya pada suara itu "Tuan? " Tanya Rosse karena terkejut.


"Apa disini kamu sendirian? " Sebastian bertanya.


"Iya tuan, " Rosse menjawab sambil memetik paprika yang ada didepannya.


"Eemmm... bukan kah hari itu ada seorang nenek yang tinggal bersama mu ? " Tanya Sebastian lagi.


Tangan Rosse terhenti, raut wajahnya seketika berubah.Matanya mulai menitikan air bening.


Sebastian jadi merasa serba salah " Apakah ada pertanyaan ku yang salah, " Fikir nya .


Sebastian merasa bersalah karena mempertanyakan hal yang membuat Rosse bersedih. Dia pun berdiri "Maaf atas pertanyaan ku barusan, " Ucap Sebastian dan berlalu meninggalkan Rosse.


Sebastian berjalan menuju tepian sungai yang terlihat tenang " Ntah kenapa, disini membuat ku merasa nyaman, " Gumam nya.


Rosse selesai dengan berkebun nya. Dia berjalan menuju sungai dan duduk di antara bebatuan. Rosse mencuci sayuran yang dia ambil dikebun. Sebastian hanya memperhatikan tak jauh dari tempatnya. Ada rasa kasihan dan juga rasa takjub. Seorang gadis dengan kekurangannya, bisa bertahan ditempat ini.


Rosse selesai mencuci semua sayur nya. Dan berjalan menuju rumah sambil memegang tongkatnya. Sebastian berjalan dengan perlahan mendekati Rosse.


Tiba-tiba " Ahhhhhhh, " Rosse tergelincir, dengan sigap Sebastian berlari menangkap tubuhnya.


Karena tubuh Rosse yang jatuh tiba-tiba, Sebastian tak begitu siap, dan akhirnya Sebastian pun ikut terjatuh. Sementara Rosse berada di atas dada Sebastian.


Rosse tidak merasakan sakit, dia segera bangkit. Sebastian yang masih terbaring, pelan-pelan berdiri.

__ADS_1


"Tuan, anda tidak apa-apa? " Tanya Rosse sembari meraba arah Sebastian.


Sebastian berdiri " Saya tidak apa-apa. Kamu tidak apa-apa? " tanya Sebastian kembali.


" Terima kasih atas pertolongan tuan. Saya tidak apa-apa, " Jawab Rosse . " Ayo kita masuk kedalam rumah, obati luka tuan, " Bujuk Rosse.


" Tidak apa-apa, hanya luka ringan, " Sebastian berkomentar.


" Tidak baik membiarkan luka, nanti infeksi, " Ucap Rosse lagi.


"Baiklah, " Sebastian hanya menuruti perkataan nya.


Sebastian memungut sayuran yang berjatuhan tadi "Sayuran itu biarkan saja tuan. Nanti juga masih bisa di bersihkan, " Ucap Rosse.


Sebastian tidak memperdulikan perkataan Rosse. Akhirnya semua sayuran itu sudah berada di keranjang lagi.


Sebastian pun masuk membawa keranjang itu. Dia meletakkannya didapur.


Rosse memberikan obat "Ini, tuan oleskan saja dilukanya. "


"Terima kasih, " Sebastian menerima salep itu dan mengoleskan nya dilengan kanannya yang tergores.


Rosse berjalan kedapur. Dia menimba air dari sumur.Mencuci kembali sayuran yang telah kotor tersebut.


Sebastian selalu memandangi Rosse. Dalam diamnya, ada rasa takjub karena kepiawaiannya. Di hatinya ingin membawa Rosse tinggal dirumahnya. Sebagai tanda terima kasih, karena menolong nya.


Sebastian kembali duduk di sofa . Dia ingin membicarakan tentang membawa Rosse dari rumah itu. Tapi dia takut menyinggung perasaan Rosse.


Sudah berfikir dengan mantap, akhirnya dia memberanikan diri untuk berbicara. Dia berjalan kedapur "Eeekkkhemmm, " Memberi apa-apa.


Rosse kaget " Ada apa tuan? " tanya nya.


Sebastian menarik nafas dalam "Selama kepergian nenek, siapa kah yang menemanimu disini? " Tanya Sebastian.


" Saya tinggal sendiri tuan, " Jawab Rosse.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kebutuhan sehari-hari mu, apakah kamu memiliki pekerjaan atau ada saudara yang membantu? " Tanya Sebastian lagi.


" Saya hanya bertumpu pada diri sendiri tuan dari hasil berkebun. Saya masih memiliki saudara jauh, tapi mereka hanya beberapa kali saja menjenguk sewaktu nenek masih hidup, " Ucap Rosse sayu.


__ADS_2