
Sebastian masuk menuju rumah, ketika akan menaiki tangga. Dia teringat dengan Rosse. Sebastian berjalan menuju ruang depan. Seorang pelayan sedang bersih-bersih. Sebastian menghampiri " Tadi wanita yang di kamar tamu bagaimana? " Tanya Sebastian pelayan tersebut .
" Setelah tuan pergi, dia memilih keluar dan duduk di taman bersama Sonya, " Jawab pelayan tersebut.
Sebastian mengerutkan dahi nya "Sonya... siapa Sonya? "
"Sonya, pembantu yang baru beberapa minggu bekerja di sini tuan, " Jawab pelayan.
" Baik lah," Sebastian pun pergi menuju lantai atas.
Pelayan tersebut pun kembali mengerjakan tugasnya.
Didalam kamar,Rosse terlihat rapi dan tak lupa menggunakan parfum yang dia buat sendiri waktu masih tinggal bersama neneknya. Dia pandai dalam membuat parfum sendiri, juga membuat teh.
Tidak ada kegiatan yang bisa dia buat. Didalam kamar bermain bersama ponsel nya. Dan itu sangat membosankan bagi nya, yang biasa nya melakukan hal-hal kecil.
Rosse keluar dari dalam kamar sambil berjalan menghuyungkan tongkat.Sebastian yang juga keluar dari kamar, melihat ke arah Rosse . Setiap melihat wanita itu, rasa kemanusiaan nya akan terasa.
Ingin rasa nya dia membantu Rosse berjalan, menuju tempat yang dia tujuan. Tapi rasa gengsi membuat mengurungkan niat nya . Dia berjalan melewati Rosse "Apa tadi kamu sudah makan?" Tanya Sebastian sekedar basa basi.
Rosse tersentak " Tuan... maaf tidak mengetahui kehadiran nya, " Ujar Rosse. " Saya tadi makan tuan."
" Apa mereka melayani mu dengan baik? " Tanya Sebastian.
" Ya tuan, " Rosse menjawab singkat.
Sebastian pun berjalan meninggalkan nya. Rosse mendengar langkah kaki pergi menjauh. Dia pun pergi menuju taman, disana dia merasakan suasana dikampung halaman nya. Ada rasa sedih dan rindu. Bila mengingat nenek.
Rosse tak pernah menyesali hidup dalam kekurangan. Hanya dia belum merasa siap untuk di tinggal nenek nya. Dia hidup sebatang kara tanpa orang tua dan saudara. Untuk jodoh, dia tidak memikirkannya. Siapa yang mau dengan wanita miskin dan buta pula.
Bagi nya Sebastian adalah orang yang baik pada nya setelah nenek nya. Walau perjumpaan mereka tak diduga.
Sebastian melakukan semua ini semata-mata karena balas budi. Dan juga merasa kasihan pada seorang wanita buta yang di tinggal sendiri.
Sebastian yang berada di sebuah pondok dihalaman bagian depan, menikmati secangkir teh saat bersantai. Ketika menyeruput teh nya, dia teringat dengan teh yang disajikan Rosse ketika dirumahnya. Sebastian meletakkan tehnya. Dia masih ingat dengan aroma teh itu.
Sebastian bangkit dan berjalan menuju dapur. Para pelayanan yang melihat tuan rumah berada di dapur, jadi bertanya-tanya. Mereka merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
__ADS_1
"Apa rumah ini hanya memiliki semacam teh saja? " Tanya Sebastian.
Pembantu senior mendekati Sebastian "Ada apa dengan teh yang biasanya tuan? " Tanya nya.
" Tidak ada masalah , hanya ingin tahu." Sebastian merasa canggung.
"Kalau tuan mau, saya bisa memesannya. Tuan mau teh yang seperti apa? " Tanya pelayan.
Karena tidak pasti teh apa yang dia inginkan " Pesan saja jenis-jenis teh yang ada dinegeri ini. Kalau bisa sekalian teh dari luar negri. "
Pelayanan jadi bingung dengan permintaan majikan nya "Baik lah tuan, saya akan melakukan yang terbaik, " Jawab pelayan.
Sebastian pun pergi meninggalkan dapur dengan harapan hampa. Pelayan yang masih berdiri hanya memandang satu sama lain. Mereka tidak mengerti dengan sikap Sebastian.
Setelah Sebastian jauh " Sudah , kembali ke pekerjaan kalian masing-masing, "Ucap ART senior. Mereka pun bubar.
Sonya yang sudah menyelesaikan pekerjaan nya, berjalan ke taman samping. Disana dia melihat Rosse yang tengah menikmati udara petang .
Sonya menghampiri " Hai, " Sapa Sonya.
"Sonya, " Panggil Rosse.
Sonya duduk di samping Rosse. Dia mencium sesuatu yang harum. Dan aroma itu terasa asing.
"Kamu harum sekali. Kamu pakai parfum apa? " tanya Sonya.
"Bau nya tidak enak ya? " Tanya Rosse sedikit menggeser duduknya
" Bukan.. bukan. Bukan seperti itu maksud saya," Jelas nya.
Rosse tersenyum " Saya fikir kamu tidak suka. "
"Saya suka, dan kalau kamu tidak keberatan memberitahu namanya. Saya akan beli, " Nada merayu.
"Saya tidak membelinya. "
"Jadi, itu pemberian orang lain? " Tanya Sonya memotong ucapan Rosse.
__ADS_1
"Saya belum habis bicara, " Rosse hampir tertawa dengan ucapan Sonya.
"Baik lah, kamu jelaskan," Suara Sonya sedikit melunak.
"Aku tidak di beri oleh siapa pun. Minyak itu aku buat sendiri, " jelas nya.
Sonya menaikan sebelah alisnya "Bercanda nya keterlaluan. " ucapnya serius.
"Aku tidak bercanda, " jawab Rosse.
"Bagaimana cara mu membuat parfum sendiri? " Tanya Sonya semakin penasaran.
"Aku menggunakan bunga-bunga yang ada dihalaman rumah saja, dan mengolahnya dengan alat sederhana, " Rosse menjelaskan.
Sonya takjub dengan Rosse,kebutaan tidak membuat dia lemah. "Kalau seperti itu, saya menyerah, " Ucap Sonya.
"Kalau kamu memang tertarik, saya bisa membuat yang spesial untuk mu, " Rosse bersedia.
Bibir Sonya tersenyum lebar, hati nya seakan menari-nari kegirangan "Saya masih. " Seketika Sonya kembali terdiam.
Rosse menyentuh pundak Sonya "Kamu kenapa? " tanya Rosse.
"Bagaimana cara kamu mengolah nya? " Tanya Sonya.
Rosse terdiam, dia baru menyadari bahwa ini bukan rumah nya. Semangat yang tadi nya berkobar-kobar surut seketika.
"Saya minta maaf Sonya, mungkin tidak bisa memberikan yang kamu mau. "
Sonya merasa senang dengan sikap Rosse yang lembut dan baik hati "Tidak apa-apa, saya mengerti. Kalau kita tetap membuatnya, saya takut tuan akan marah, " Ucap Sonya.
Sonya memeluk Rosse dengan erat. Rosse hanya bisa terpaku merasakan hangatnya sebuah pelukan dari orang yang menyayangi. Bagi Rosse pelukan adalah cara orang menyampaikan rasa sayangnya . Seperti yang selama ini dilakukan oleh neneknya. Dia selalu di manja dan disayang, tapi tetap memberikan pelajaran-pelajaran yang berharga . Sehingga dia memiliki beberapa kemampuan yang orang normal tidak miliki.
Dari meramu parfum, membuat teh dan memasak. Semua yang di ajarkan oleh neneknya, membuat Rosse menjadi wanita yang kuat, dan tidak merasa canggung walau dia memiliki kekurangan.
Semenjak kedatangan Rosse kerumah ini, tidak ada satu pun orang yang mau berbicara dengan nya. Kecuali Sonya, karena Sonya berasal dari kampung. Dan dia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki teman.
Dari kejauhan Sebastian sudah memperhatikan mereka sedari tadi.Rosse dan Sonya tidak menyadari tatapan dingin itu. Karena Sebastian berada di taman paling depan rumah. Sementara mereka duduk di bagian taman samping yang tembus menuju halaman belakang.
__ADS_1
Melihat kedekatan Sonya dan Rosse, dia merasa itu baik untuk Rosse. Agar tidak merasa bosan karena tidak memiliki sesiapa untuk di ajak bicara.
Sebastian penasaran, apa yang sebenarnya para wanita itu bicarakan. Sampai mereka tertawa dan berpelukan seperti seorang saudara.