
Rico terus menuruti truk tersebut. Mereka menuruti kemana dia akan berhenti. Sampai lah mereka di sebuah danau. Supir dari truk tersebut pun turun. Ternyata itu adakah Vinod, dia hanya sendiri. Dia duduk di sebuah kursi , dan sedang melakukan panggilan pada seseorang. Ternyata dia sudah ada janji akan berjumpa disini.
Ketika Rico ingin keluar, tangan Sebastian langsung menahannya "Jangan sekarang, tunggu dulu. Dengan siapa dia akan berjumpa. "
Rico pun mengurungkan niat nya.
Menunggu hampir satu jam, datang la mobil sedna berwarna putih. Keluar lah seorang lelaki dengan setelan jas dan sepatu mengkilap. Dia dampingi oleh seorang anak buah sebagai bodyguard. Sebastian hanya menunggu orang-orang itu pergi. Sebastian merasa pernah mengenal orang itu. Dia berfikir keras untuk mengingat nya.
Laki-laki itu memberikan sebuah amplop coklat kepada Vinod. Setelah berbicara sebentar, laki-laki tersebut kembali masuk kedalam mobil dan segera pergi.
"Apa kita ikuti laki-laki itu tuan? " Tanya Rico.
" Tidak, biar kan saja mereka.Target kita saat ini adalah dia, "Sebastian menunjuk kedepan.
Tidak ingin mengulur waktu lagi, Sebastian dan Rico keluar dari mobil. Mereka mendekat ke arah Vinod, ketika iya lagi menghadap danau.
Rico langsung membekap Vinod. Sehingga dia terkejut dan ingin melepaskan diri. Tapi terlanjur Rick sudah mengunci nya. Sehingga tubuh Vinod menyentuh tanah.
" Kamu ingat saya? " Tanya Sebastian berjongkon didepan Vinod.
" Saya tidak kenal anda. Kenapa anda membuat saya seperti ini? " Tanya Vinod dengan meronta ingin lepas.
"Kalau kamu tidak mengenal saya, kenapa waktu itu kamu berusaha ingin menabrak saya? " Sebastian mengepalkan tangannya.
"Itu bukan saya. Itu orang lain. " Vinod mengelak.
" Kalau kamu tidak menjawab jujur. Maka nyawa mu berakhir disini, " Sebastian mengancam.
Tapi Vinod tetap bersikeras mengelak "Ketika saya mengatakan selesai, maka nyawa mu akan habis ditangan asisten ku, " tambah Sebastian.
Ancaman itu tidak membuat Vinod takut. Dia tetap membela diri. Bahwa bukan dia yang melakukannya.
Dengan emosi yang sudah mencapai puncak. Sebastian melayangkan sebuah pukulan kepada Vinod. Ini yang terakhir, kalau kamu tidak mengaku maka.....! " Sebastian tidak meneruskan kata-katanya.
__ADS_1
Vinod tetap tak ingin menjawab. Sebastian berjalan menuju mobil " Selesaikan, " Ucapan terakhir Sebastian dan masuk kedalam mobil.
Rico menarik tubuh Vinod ketepi danau.Vinod terlihat takut. Ketika tubuhnya sudah berada ditepi."Kamu tetap tidak akan menjawab? " Tanya Rico.
" Kalau saya jawab, apa kalian akan melepaskan aku? " Tanya Vinod.
" Tergantung pada jawaban mu. Kalau bisa dipercaya maka kamu aku bebaskan, " Ucap Rico meyakinkan.
"Saya di suruh oleh Tiger, " Jawab Vinod.
"Kenapa mereka menyuruh mu membunuh tuan Sebastian? " Tanya Rico.
" Dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya memberi saya foto dan uang, "Jawab Rico semakin ketakutan.
" Dimana tempat tinggal nya? " Tanya Rico lagi.
" Saya tidak tahu tuan, mereka hanya mengajak jumpa di tengah jalan." Jelas Vinod.
"Ternyata informasi dari mu tidak memberi petunjuk. Tapi walau bagaimana pun kami tetap berterima kasih, " Itu adalah kata-katanya terakhir Rico . Setelah itu dia melepaskan tembakan ke tubuh Vinod dan menjatuhkan nya kedanau. Rico kembali melihat kebawa, untuk memastikan bahwa tubuh lelaki itu tercebur ke air.
"Dia orang yang dibayar oleh Tiger. Dia tidak tahu dimana mereka tinggal, " Jelas Rico.
"Tiger....? " Sebastian langsung tahu siapa itu tiger.
"Kita perusahaan saja, " Pinta Sebastian.
Rico menghidupkan mesin dan melaju menuju perusahaan. Sebastian masuk ke ruangannya dengan hati yang belum tenang. Dia ingat dengan nama Tiger. Dia merasa tidak pernah bersinggungan dengan kelompok itu. Tiger adalah salah satu geng mafia. Mereka geng yang ditakuti dan tak segan-segan untuk membunuh.
Yang jadi pertanyaan untuk Sebastian adalah. Geng sebesar Tiger membayar orang bodoh untuk membunuh Sebastian.
" Kalau memang mereka ingin membunuh ku, harusnya dia tinggal kerahkan anak buahnya ," Fikir Sebastian.
" Apa tindakan kita kedepan nya tuan?" tanya Rico.
__ADS_1
"Kita masih kurang bukti. Apakah betul kelompok itu yang membayar nya. Geng sebesar Tiger menyuruh orang bodoh untuk membunuh ku, " jelas Sebastian.
Rico mengerti dengan maksud tuan nya. Ada sesuatu yang perlu diselidiki lagi. " Saya keluar dulu tuan. Ada beberapa pekerjaan yang akan saya lakukan." Rico pamit.
Dia pun keluar dari ruangan Sebastian. Diana yang melihat kepergian Rico merasa curiga. Karena baju Rico bagian belakang terlihat berkeringat " Apa yang dia lakukan? " Fikir Diana.
"Deerrttt.... d deerrttt... deeerrtt....! " Getaran ponsel Sebastian.
Dia mengangkat ponselnya dan itu adalah panggilan dari Oma. Dia usap ponsel nya " Hallo Oma. "
" Kami dimana. Kenapa pagi-pagi sekali sudah pergi? " Tanya oma dengan nada sedikit marah.
"Maaf Oma, tidak memberitahu. Tian ada pekerjaan yang belum selesai dan harus segera dikerjakan, " Jawabnya.
" Baik lah, " Oma pun menutup telepon nya.
Sebastian merasa perutnya kosong . Dia menghubungi Rico " Kamu kesini, "suruh Sebastian.
" Baik tuan , "jawab Rico.
Tak sampai tiga menit, Rico sudah berada di ruangan Sebastian " Ada apa tuan? " Tanya Rico
" Saya belum makan pagi. Ayo kita pergi, " Ajak Sebastian.
Mereka pun berjalan keluar kantor. Diana bisa menatap kepergian dia orang lelaki itu. Tapi di hatinya ada sesuatu rasa yang tak bisa di mengerti. Ketika dia melihat Rico, maka dia seperti orang grogi. Sementara Rico tidak sedikit pun menoleh kepadanya " Apa ini namanya cinta bertepuk sebelah tangan, "Fikir Diana.
Rico membawa Sebastian kesebuah restoran yang terbilang mewah. Makanan yang mereka sajikan adalah masakan Western,Eropa dan juga makanan dari belahan negara Asia. Mereka memesan beberapa menu. Sebastian ingin mencoba menu baru, yang sebelumnya tidak pernah dia makan yaitu makanan pedas. Dia memesan menu laut yang bercita rasa pedas.
Semua pesanan mereka sudah ada dimeja "Ayo kita makan, kamu harus habiskan." Ancam Sebastian.
Rico hanya bisa menarik nafas dalam. Dia bukan lah penyuka makanan pedas. Sebastian sengaja meminta makanan pedas, karena tidak menyukainya. Karena ini adalah permintaan dari tuan nya, maka dia harus menurutinya.
Mereka memesan udang dengan ukuran besar dimasak kuah. Dengan warna yang membuat orang takut " Rico yang ini, " Tunjuk sebastian kesebuah mangkuk.
__ADS_1
Rico membulatkan matanya. Tidak yakin dengan apa yang dia lihat. Dia merasa saat ini Sebastian memang sengaja mempermainkan nya. Dia mangambil udang besar tadi, dan meletakkannya ke atas piring. Sebastian mengelupas kulit udang sedikit demi sedikit. Sebastian melirik dengan senyuman "Apa kamu yakin bisa menghabiskan nya? " tanya Sebastian.
Rico tak menjawab , karena dia sendiri pun tidak yakin dengan itu. Tapi dia tetap mencoba memakan udang yang terasa pedas tersebut.