BERIKAN AKU SEBERKAS CAHAYA

BERIKAN AKU SEBERKAS CAHAYA
episode 15.


__ADS_3

Sebastian merasakan sedih dengan penjelasan Rosse yang bertahan hidup sebatang kara. Dia teringat dengan nasib nya. Ditinggal kedua orang tua disaat masih muda. Dan saudara tidak menganggap nya ada. Nasib mereka sama, yang membedakannya hanya ekonomi.


"Apakah kamu berkenan ikut bersama saya? " Tanya Sebastian.


Rosse merasakan lonjakan didalam hatinya "Maksud tuan? " Tanyanya.


" Maksud ku, kamu ikut bersama ku dan tinggal di rumah ku, " jelas Sebastian.


Jantung Rosse berdegup kencang, seakan tak yakin dengan yang dia dengar "Maaf tuan, saya tidak ingin membuat tuan repot dengan kehadiran saya, " Sedikit merendah.


"Saya tidak akan repot, dirumah saya ada pelayan dan penjaga. Mereka bekerja untuk saya . Saya tidak melakukan apa-apa, " Sebastian menjelaskan semua.


Rosse berfikir kembali,merasa berat untuk meninggalkan rumah yang telah membesarkan nya . Disana banyak tersimpan kenangan bersama nenek dan juga memori masa kecil sebelum orang tuanya pergi untuk selama-lamanya.


" Tuan dirumah ini banyak kenangan ku bersama nenek. Saya ingin menjaganya, " Ujar Rosse.


Sebastian terdiam , dia mengusap dagu nya seraya berfikir " Bagaimana kalau rumah ini tetap seperti ini. Ketika kamu rindu dengan mereka, kamu bisa datang kesini kembali, " Sebastian memberi saran.


Rosse tersenyum mendengar penjelasan Sebastian


" Kamu tahu..! Beberapa malam yang lalu , saya bermimpi melihat mu, " Sebastian bercerita. " Di mimpi itu kamu menangis, ketika saya bertanya kenapa kamu tidak menjawab sama sekali. "


Rosse menjadi heran , kenapa Sebastian sampai bermimpi tentang dirinya .


" Saya tidak bisa mengartikan mimpi itu. Dua kali saya alami. Ketika saya datang kesini dan mengetahui bahwa nenek telah tiada. Mungkin mimpi itu meng isyaratkan kesedihanmu, " Jelas Sebastian.


Air muka Rosse berubah seketika. Dia terlihat kuat diluar, tapi hatinya selalu merasakan beratnya rasa kehilangan orang satu-satunya yang dia sayang.


Sebastian hanya bisa melihat tanpa bereaksi. Sifat dingin tak bisa mencair saat di suasana seperti ini.


" Kamu ikut bersama saya. Saya akan menjaga mu seperti saudara sendiri," Bujuk Sebastian.


Rosse meletakkan tangan nya kebelakang, dan mengalihkan wajahnya membelakangi Sebastian. Dia berfikir dalam untuk menerima ajakan Sebastian" Kalau aku tetap memilih tinggal disini. aku tidak memiliki pekerjaan untuk menyambung hidup.


Kalau pergi bersama lelaki ini, apakah dia bisa dipercaya? " Fikiran Rosse jadi berkalut.

__ADS_1


Rosse berbalik arah menghadap Sebastian " Beri saya waktu tuan untuk berfikir, " Pintar Rosse.


" Baiklah, kamu bisa berfikir lagi, " Ujar Sebastian.


Rosse pergi menuju kamar nya. Dia duduk di tepi ranjang meraba meja yang berada disamping. Dia mengambil sebuah boneka dan memeluk nya. Boneka itu adalah pemberian neneknya yang sangat berharga baginya. Setelah berfikir lama, akhirnya Rosse berjalan keluar dari kamar. Dia mendekati sofa " Saya akan ikut bersama tuan. Tapi bila suatu saat nanti saya ingin kembali kerumah ini, saya harap tuan berkenan mengantarkan saya, " Pinta Rosse.


Sebastian sedikit tersenyum " Baik lah," jawab Sebastian.


Rosse berjalan kekamar dan mengambil sebuah tas. Dia mengemas baju secukupnya, serta benda-benda lain yang dia butuhkan.


Rosse sudah siap dengan barang bawaannya. Sebastian membawa tas nya dan berjalan menuju mobil. Rosse yang memakai tongkat tertinggal di belakang. Sebastian sudah berada didalam mobil. Rosse pun tiba, Sebastian kembali keluar dari mobil. Dia memegang tangan Rosse dan membimbing nya berjalan menuju mobil. Sebastian membuka pintu mobil dan mendudukkan Rosse di kursi depan. Mereka pun pergi menuju rumah Sebastian.


Setelah sampai disana. Kedatangan mereka disambut oleh pelayan. Sebastian keluar dan memasuki rumah " Tolong bantu Rosse membawa barang-barang nya, " meminta pada pelayan.


Pelayanan heran dengan perkataan majikan nya. Dia berjalan menuju mobil dan membuka pintu. Alangkah terkejutnya, ada seorang wanita cantik yang tersenyum ke arah nya. Ketika di pelayan membalas senyuman nya, pandangan wanita itu seakan melihat kesisi lain. Pelayanan pun heran. Dia bergegas membuka bagasi belakang dan mengambil barang yang dimaksud tuan nya tadi. Rosse yang masih berada didalam hanya meraba pintu. Ketika dia menyadari pintu sudah terbuka. Dia pun keluar dari mobil. Pelayan memperhatikan Rosse dengan lekat.


Sebastian pun datang "Siapkan kamar untuk tamu, " Perintah Sebastian.


Pelayan tersebut hanya mengangguk dan membawa barang milik Rosse ke dalam kamar tamu. Sebastian pun menuntun Rosse menuju kamar nya "Ini kamar mu. Kalau kamu membutuhkan sesuatu kamu hanya perlu memanggil pelayan saja, " Ucap Sebastian.


"Terima kasih tuan atas kebaikan nya, " Ucap Rosse senang.


"Sekarang aku buru-buru berangkat ke kantor." Sebastian pergi menuju kamarnya.


Segera mandi dan bersiap-siap berangkat.


Dia pun pergi dengan membawa mobil sendiri. Rico tidak datang, karena permintaan sebastjan.


Rosse yang berada didalam kamar merasa kebingungan apa yang harus dia lakukan. Dia berjalan menuju pintu dan keluar dengan tongkat.


Pelayan yang melihat menghampiri " Nona mau kemana. Kalau memerlukan apa-apa, bilang saja sama saya,"Ucap pelayan.


" Maaf, saya hanya merasa bosan didalam tiada kegiatan," Ucap Rosse.


" Nona bisa berjalan-jalan ditaman belakang, " Pelayan menyarankan.

__ADS_1


"Apakah disini ada tamannya?" tanya Rosse tersenyum.


" Ada nona, saya bisa mengantarkan nona kesana, " Ucap pelayan.


" Saya mau kesana, agar tidak kebosanan, " pinta Rosse.


" Baik lah, " Pelayan itu pun memegang tangan Rosse menuntun nya menuju taman.


Setelah sampai "Nona duduk disini saja,saya masih ada tugas yang harus di kerjakan, " Pelayan pamit pergi.


Rosse tersenyum " Terima kasih, " Ucap nya.


Dia mendengar suara burung berkicau yang berada di dahan pohon. Dia merasa seperti dikampung halamannya . Dia mulai merasa sedih, karena harus meninggalkan rumah kenangan satu-satunya nya dan anjing kesayangannya yang harus di berikan pada tetangganya.


Seketika sedihnya terhenti, dia mencium semerbak bau harum. Dia tahu itu aroma bunga khas dari bunga Gardenia. Dia mencari sumber bau itu. Berjalan mengikuti indra penciuman nya, akhirnya dia menemukannya bunga itu. Rosse meraba bagian tanaman yang ada didepannya. Dia tersenyum kesenangan "Bunganya banyak sekali, " Ucap nya senang.


Beberapa pelayan dan penjaga yang memperhatikan merasa iba pada kondisi Rosse. "Cantik, tapi sayang dia buta, " Kata-kata itulah yang keluar dari bibir mereka.


Seorang pelayan wanita berumur sebaya Rosse datang menghampiri " Nona, apa anda senang tinggal disini? " Tanya Sonya.


Rosse tersentak " Saya senang tinggal disini, " Balas nya dengan senyuman.


" Saya senang nona suka tinggal disini. Perkenalkan saya Sonya, saya pelayan dirumah ini, " memperkenalkan diri.


" Hai Sonya, panggil saya Rosse, " ucap Rosse.


" Nama yang indah nona, " Ucap Sonya.


" Jangan panggil saya nona, panggil saja Rosse, " Pinta Rosse.


Mereka pun berbincang bebarapa waktu. Sampai akhirnya Sonya di panggil oleh Asisten Rumah Tangga senior " Maaf nona, saya harus kembali bekerja. Senior sudah memanggil," Sonya permisi.


"Baiklah," Jawab Rosse.


Sonya pun berlalu meninggalkan Rosse sendiri duduk di taman.

__ADS_1


__ADS_2