
Sudah satu minggu Rosse dirawat di rumah sakit. Sebastian sudah kembali keperusahaan. Sebelum jam pulang kerja,dia lebih dulu pulang dan menuju rumah sakit. Itu sudah menjadi kebiasaan rutin nya dalam beberapa hari ini.
Dan hari ini,Rosse sudah dibolehkan untuk pulang.
Dirumah sakit,Sonya sudah membereskan barang-barang mereka."Tok...tok...tok...!" suara ketukan pintu. Itu adalah Sebastian yang sudah tiba untuk membawa Rosse kembali kerumah.
Sebastian sudah menyuruh seorang perawat untuk membawa kursi roda untuk istrinya. Saat keluar menuju lobi,Rosse merasa risih dengan perlakuan Sebastian yang terlalu protektif. Dia begitu menjagakan Rosse,sehingga Rosse merasa ruang geraknya dibatasi.
Mobil melaju menuju kediaman Sebastian. Di dalam mobil Rosse merasa malas untuk berbicara sepatah kata pun. Dia masih menyimpan rasa sakit pada Sebastian. Karena kecerobohan nya,mereka kehilangan anak yang ada dalam kandungan Rosse. Sebastian berusaha sebaik mungkin,agar Rosse kembali seperti semula. Untuk saat ini,jarang sekali Sebastian mendengar suara istrinya ketika berbicara dengan nya.
Mereka sudah sampai dirumah,tak mau menunggu. Rosse membuka pintu mobil dan segera keluar. Sebastian berusaha menahan tangan Rosse,bermaksud agar menunggu dia lebih dulu. Rosse melepaskan tangan Sebastian dengan keras. Sonya melihat perlakuan Rosse kepada Sebastian.
Sebastian mengalihkan pandangan nya pada Sonya. Tapi Sonya dengan cepat membuang pandangan ke arah lain.
Perlakukan Rosse tadi,membuat Sebastian merasa di permalukan. Dia pun membuka pintu disampingnya dan keluar dari mobil. Dia berjalan tanpa memperdulikan Rosse yang masih meraba-raba dengan tongkatnya.
__ADS_1
Sonya yang melihat kejadian itu,segera menghampiri Rosse " Kenapa nona berjalan sendiri. Harusnya tunggu saya..!" ucap Sonya.
"Tidak apa-apa Sonya. Saya sudah terbiasa disini. Jadi tidak susah untuk ku." jawab Rosse.
Sonya melepaskan tangan nya,tapi tidak meninggalkan Rosse.
Didalam rumah,Oma hanya melihat Sebastian sendiri "Mana Rosse,bukan kah kamu bersamanya?" tanya Oma.
"Dia diluar bersama Sonya,saya ke kamar dulu Oma. Ingin mandi," ucap Sebastian dan pergi.
Melihat wajah cucu nya sedikit berubah,Oma tahu di antara pasangan suami istri itu adalah masalah.
Rosse tersenyum melihat Oma yang sedikit manyun. Oma memeluk Rosse dengan kerinduan. Pelukan Oma kembali mengingatkan Rosse pada neneknya.Mata Rosse mulai berkaca-kaca ingin menangis,tapi dia tahan. Oma pun melepas kan pelukan nya "Kamu istirahatlah dikamar,kamu harus menjaga kondisi agar cepat pulih," nasehat Oma.
Mengingat dia harus istirahat,Rosse terfikir untuk tidur di kamar tamu "Oma,apa saya boleh meminta sesuatu?" tanya Rosse.
__ADS_1
"Apa yang kamu minta?" tanya Oma.
"Bagaimana kalau saat ini,saya tidur dikamar tamu saja." pinta Rosse.
"Kenapa seperti itu,bukankah kalian memiliki kamar yang cukup besar dan nyaman?" tanya Oma.
"Bukan masalah itu Oma,saya merasa naik turun tangga untuk saat ini begitu berat. Mengingat kondisi saya yang belum pulih..!" jelas Rosse.
Oma menjadi bingung ,karena dia bukanlah orang yang bisa memutuskan. "Kamu harus bicara pada Sebastian." Oma menyarankan.
"Baiklah Oma," jawab Rosse.
Rosse masih bersama Oma. Didalam kamar,Sebastian sengaja menunggu nya. Tapi tak kunjung tiba,Sebastian pun keluar dari kamar. Dibawah dia mendengar suara tertawa,itu adalah suara nenek dan Rosse.
Sebastian menghampiri mereka dan duduk di samping Rosse. "Apa kamu tidak ingin istirahat?" tanya Sebastian.
__ADS_1
"Untuk beberapa hari ini,apa boleh saya tidur dikamar tamu. Saya keberatan kalau harus menaiki tangga setiap hari," jelas Rosse.
Sebastian terdiam sejenak "Baiklah kalau itu mau mu." jawab nya.