
Hari sudah pagi, Sebastian sudah bangun dan sedang bersiap-siap untuk turun.
Di meja makan semua orang sudah duduk dan menunggu kehadiran Sebastian. Ketika dia tiba, Oma terlihat senyum pada mereka berdua.
Sebastian mengerutkan dahi nya. Merasa aneh dengan pandangan oma nya tersebut.
" Seperti nya Oma terlihat bahagia...! " Ucap Sebastiab.
" Tidak ada apa-apa, Oma hanya merasa hari ini cucu oma terlihat spesial, " Jawab Oma.
Sebastian tidak melanjutkan lagi pembicaraan nya. Dia menaruh sepotong roti kedalam piring nya dan mengambil selain kacang, serta mengoleskan ke roti yang ada dipiringnya.
Rosse sudah lebih dulu memakan sarapan nya tanpa suara. Dia hanya mendengarkan saja apa yang Oma dan cucu nya bicarakan.
"Rosee ,bagaimana orkestra musik itu, apa kamu suka? " Tanya Oma.
" Ah.. Iya Oma, saya suka." jawab Rosse.
"Syukur kalau kamu menyukai nya. , " Oma tersenyum senang.
Sebastian sudah selesai dengan sarapannya , dia segera bangkit dan berjalan menuju depan. Disana dia tidak melihat sosok asistennya. Dia lirik jam ditangan kanannya " Sudah hampir jam 8,kenapa dia belum sampai? " Sebastian menunggu dengan gelisah.
Hari ini Rico terlambat bangun, dia lupa untuk mengaktifkan jam wekernya. Ketika tersadar, jam sudah hampir jam delapan. Segera dia bangun dan cuci wajah dan berganti pakaian. Tidak sempat untuk mandi, karena akan memakan waktu. Dia terus menerus mengutuk diri nya di dalam mobil.
"Deerrttt.... d deerrttt.... deerrttt....! " Suara ponsel nya. Ketika dia lihat itu adalah panggilan dari Sebastian, dia merasa takut. Tapi dia tetap harus menerima panggilan tersebut " Hallo tuan...! " Jawab Rico.
" Kenapa hari ini kamu terlambat? " Tanya Sebastian.
"Maaf tuan, jalan macet...! " Jawab Rico berbohong .
__ADS_1
"Berapa lama lagi kamu sampai? " tanya Sebastian lagi.
"Sebentar lagi tuan, " Jawab Rico dengan wajah menahan takut.
" Cepat lah, saya hampir terlambat. "
'Baik tuan, " Dan telepon berakhir.
Rico semakin menaikkan kecepatan nya, sehingga menyerupai seorang pembalap. Tak butuh waktu lama, dia pun sudah sampai. Segera keluar dari mobil, da menghampiri tuannya. "Tuan, kita berangkat sekarang? " tanya nya.
"Baik lah, " Jawab Sebastian berdiri dan memeluk Oma nya dan pergi meninggalkan Oma dan Rosse.
Setelah Sebastian pergi, Oma mengajak Rosee untuk duduk di halaman depan. "Bagaimana perjalanan kalian kemarin. Apa Sebastian mengacuhkan mu? " Tanya oma dengan penuh kelembutan.
" Dia begitu baik Oma. Bahkan tuan mengajak saya makan di sebuah restoran." Jawab Rosse dengan senyuman.
Rosse terdiam tanpa kata. Dia tidak pernah berfikir bagaimana kehidupan dia selanjutnya.
...----------------...
Hari terus berlalu, Sebastian semakin menunjukkan perhatian nya pada Rosse.Ketika oma bertanya tentang persetujuan nya untuk menikah dengan Rosse, dia selalu diam tanpa kata.
Hari ini Oma menyusun rencana. Dia akan membuat strategi agar cucu nya itu mau menuruti permintaan Oma.
"Derrrtttt... derrrtttt.... ddeerrttt...!" Getar ponsel Sebastian.Dia melihat itu panggilan dari pak Seno, asisten rumah nya. Dia usap layar ponsel nya "Ya Pak Seno, ada apa? " Tanya Sebastian.
"Nyonya... nyonya Tuan...! " Ucap Pak Seno.
" Ya.. ada apa dengan Oma? " wajah Sebastian terlihat berharap ini bukan kabar buruk.
__ADS_1
" Nyonya mengalami serangan jantung...! " Ucap Pak Sebastian.
Mata Sebastian terlihat merah dan mulai berbinar. Dia segera menutup telepon nya dan menghambur ke luar. Tanpa dia sadari, dia tidak memerlukan Rico. Dia berhentikan taksi yang melintas didepan gedung " Pak cepat ke mansion, " Ucap Sebastian.
Supir taksi pun melajukan mobil nya. Sebastian berfikir, kenapa Oma bisa tiba-tiba terkena serangan jantung. Setelah beberapa bulan pengobatan , dan tidak pernah kambuh sama sekali. Taksi menuju pintu gerbang. Penjaga tidak membuka pintu, dia meminta supir taksi untuk berhenti dan menanyakan keperluan nya.
Sebastian pun membuka kaca pintu. Penjaga pun terkejut bercampur takut. Dia pun membuka pintu, taksi pun masuk ke halaman depan Mansion Sebastian.
Dia memberikan beberapa lembar uang tanpa menghiraukan jumlahnya dan berlari kedalam rumah. Mata supir taksi itu terbelalak, melihat jumlah uang yang begitu banyak diberikan oleh Sebastian.Melihat rumah seperti istana, supir itu yakin bahwa Sebastian tidak asal-asal memberi ongkos. Mungkin duit bagi nya bukan hal yang sulit.
Segera supir itu meninggalkan kediaman Sebastian. Penjaga membuka pintu gerbang dan taksi pun pergi.
Dengan kasar Sebastian membuka pintu kamar oma.. Disana terlihat, dokter Johan, perawat, asisten Oma dan pak Seno.
Dan yang terbaring di tempat tidur adalah Oma. Dia terlihat tak sadarkan diri. Dengan selang oksigen yang menempel di hidung. Dan juga jarum infus ditangan. Sebastian terlihat menitikkan air mata. Dia tidak menyangka, Oma yang tadi pagi terlihat sehat. Dia memandang ke arah Asisten oma dengan tajam " Kenapa Oma bisa sampai seperti ini? " Tanya Sebastian dengan tatapan ingin menerkam.
" Sa... saya tidak tahu tuan.Setelah minum obat, Oma masih baik-baik saja. Oma menyuruh saya mengambil buah kedapur, ketika kembali keadaan Oma sudah seperti ini." Jawab Asistennya dengan nada gemetar dan sekujur tubuhnya terasa dingin.
Sebastian menggenggam tangan Oma yang tidak berdaya " Oma, ku mohon buka lah matamu, " Lirih nya.
Tapi tetap tidak ada jawaban sama sekali. Dia meletakkan kepalanya di samping kepala kiri Oma. Dan mencium kepala nya dengan rasa kasih sayang " Oma bangun lah, Tian akan menurut apa yang Oma mau. Asal Oma bisa sehat seperti semula.
Kata-kata yang diucapkan Sebastian , seperti mantra. Dalam seketika, tangan Oma menunjukkan pergerakan.Sebastian melihat pergerakan itu "Oma... oma sudah sadar? " Tanya Sebastian dengan nada kesedihan dengan menggenggam hangat tangan Oma.
Oma memegang tangan cucu nya " Cucu Oma, kamu jangan sedih. Oma sudah tua, tidak akan lama....! " Omongan Oma terhenti, setelah jari Sebastian mendarat dj bibir nenek nya.
" Jangan bicara begitu Oma. Saya akan membawa Oma berobat kemana pun diseluruh negeri ini. Yang penting Oma bisa sembuh, "ujar nya.
Oma tersenyum mendengar kata-kata cucu nya yang menyentuh tersebut .
__ADS_1