
Rosse bergegas mandi, Oma sudah menunggu untuk sarapan pagi. Setelah selesai berpakaian dan merapikan rambutnya, Rosse keluar dari kamar dan berjalan menuju mekan.
"Kamu cukup tidur kan tadi malam? " Tanya Oma.
" Ah.. iya Oma. Saya cukup tidur, " Jawab Rosse.
Rosse tidak menyadari, Oma memperhatikan wajah nya yang terlihat kusut. Walau dia menutupi dengan bedak tipis. Lelah wajah nya tetap terlihat.
" Selepas makan, kalau kamu merasa kurang istirahat tidur lah, "Ucap Oma.
" Saya baik-baik saja Oma, saya cukup tidur tadi malam, "Jawab nya menenangkan.
" Kalau seperti itu baiklah, mari kita makan. "
Mereka berdua pun makan hanya berdua saja , sementara Sebastian masih harus terbaring di kamar.
Pagi itu Rico sudah terlihat tiba didepan rumah. Dia belum mengetahui kabar Sebastian. "Deerrttt... deerrttt.. ddeerttt, " Ponsel nya bergetar. Itu adalah panggilan dari Sebastian. Dia usal layar ponsel nya "Hallo tuan, " Jawab Rico.
"Hari ini saya tidak kekantor,kamu gantikan urusan saya di kantor, " Ucap Sebastian.
" Tuan dimana? " Tanya Rico.
" Saya berada di dalam kamar." ucap Sebastian.
"Tuan baik-baik saja?" tanya Rico.
"Saya kurang enak badan, saya masih lemas, " Jelas Sebastian
Rico berjalan ke lantai atas sambil menutup teleponnya. "Tok... tok... tok..! " Suara ketukan pintu.
" Masuk lah, " Suara Sebastian.
Rico membuka pintu, dia melihat Sebastian terbaring diatas tempat tidur dengan wajah yang sedikit pucat.
"Apa yang terjadi pada tuan? " Tanya Rico bingung.
" Saya tidak apa-apa, hanya lelah saja, " jawab nya tanpa penjelasan.
" Baiklah tuan, saya akan berangkat sekarang , " Ucap Rico dan pergi meninggalkan Sebastian yang terbaring.
Ketik dibawah , Oma melihat kelibat Rico. Dengan cepat oma memanggilnya. "Nak Rico, kemari sebentar."
Rico mendekat ke arah Oma " Ada apa dengan tuan Nyonya? "
" Kemarin selepas pulang dari kantor. Dia bersama Oma dan juga Rosse duduk di halaman depan. Tiba-tiba perutnya sakit dan masuk kamar. Ditunggu dia belum turun juga. Saat Rosse memanggil nya. Sebastian sudah tergeletak di lantai." jelas Oma.
__ADS_1
Rico menyunggingkan sedikit senyuman " Ternyata tuan merasakan apa yang saya rasa," lirih nya.
" Baiklah Oma, saya akan berangkat ke kantor sekarang. "Rico pun pergi.
Pak Reno memberikan mangkuk berisi bubur, itu adalah makanan untuk Sebastian. " Nona Rosse, berikan ini untuk tuan. Perintah dokter harus makan bubur, " Ucap Pak Seno.
" Baik Pak, saya akan memberikan nya."
Pak Seno meletakkan mangkok tersebut di atas meja, kemudian pergi.
"Baiklah Oma, saya akan membawa sarapan untuk tuan, " Ucap Rosse.
" Pergi lah. "
Rosse mengambil mangkuk tersebut dan berjalan ke kamar Sebastian. " Tuan, ini sarapan untuk tuan, " panggil Rosse.
"Masuk lah, " suara dari dalam kamar.
Rosse membuka pintu yang tak dikunci. Sebastian duduk menyandar di ranjang. " Tuan harus makan dulu, untuk pencernaan lebih baik, "Ucap Rosse.
Rosse membawa mangkuk itu ketempat tidur. Sebastian mendekat agar memudahkan Rosse dalam menyiapkan nya " Tuan, apa tuan bisa makan sendiri, "Tanya Rosse.
" Maaf, saya masih lemas. Dan tangan saya gemetaran, " alasan Sebastian.
" Baiklah, saya yang akan suapkan."
Suap demi suap,dan makanannya pun habis " Terima kasih atas perhatian mu, " Ucap Sebastian.
"Sama-sama tuan, " Dan memberikan minum pada Sebastian.
" Apa tuan ada keperluan lain? " Tanya Rosse.
"Tidak ada, " Jawab Sebastian.
"Saya keluar sekarang. "
Rosse pun melangkah meninggalkan Sebastian sendiri.
Siang menjelang sore, Sebastian merasa kebosanan hanya terbaring di tempat tidur. Merasa tenaga nya mulai terisi, dia bersiap-siap mandi dan turun kebawah. Mencari keberadaan Oma. " Pak Seno, Oma dimana? " Tanya Sebastian.
"Nyonya dan Nona Rosse berada di kolam ikan, " Jawab pak Seno. " Apa tuan sudah merasa baikan?" Tanya pak Seno.
" Saya sudah merasa baikan, bosan lama-lama di kamar terus. "
" Ohhhh, Baiklah tuan, saya akan kembali ke belakang. "
__ADS_1
Sebastian berjalan menuju kolam ikan, berhampiran dengan rumah kaca. Dia melihat Oma dan Rosse berbincang dan sambil tertawa. Sebastian datang menghampiri " Hai Oma," Sapa Sebastian.
Oma menoleh ke kiri "Ooohhh, cucu Oma sudah terlihat baikan. "
"Sudah Oma, " Jawab Sebastian . "Ini semua karena Rosse menjaga aku dengan sangat baik. "
Wajah Rosse tersipu malu " Rasanya biasa saja. Tidak ada yang istimewa. " jawab nya.
Sebastian duduk di antara Oma dan juga Rosse. Ketika berbincang-bincang, Sebastian akan mencuri-curi pandang kepada Rosse. Oma memperhatikan gelagat Sebastian yang tak biasa.
Tiba-tiba "Aduh...Kaki oma terasa sakit, " teriak Oma.
Sebastian memegang Oma " Kaki mana yang sakit Oma? " Tanya nya.
Oma menyentuh lutut nya, Sebastian mengurut bagian lutut Oma "Panggil Susan kesini, " Minta Oma. Pelayanan pun pergi memanggil asistennya. Tak lama, asisten Oma telah datang. Dia memapah Oma berjalan.
Di kolam hanya tinggal mereka berdua , Sebastian dan Rosse. Suasana menjadi canggung, setelah Oma pergi.
"Apa tuan sudah merasa baikan sekarang? " tanya Rosse.
"Saya sudah merasa sehat sekarang, " jawab Sebastian. "Terima kasih, kamu sudah menjaga ku. "
"Itu hal yang biasa. Tidak usah dibicarakan."
"Rosse, apa yang kamu rasakan setelah tinggal di rumah ini? " pertanyaan Sebastian yang tiba-tiba.
"Maksud Tuan bagaimana? "
"Apakah kamu tinggal di sini tidak merasa keberatan? "
" Saya tidak merasa keberatan, karena tuan baik terhadap saya. "
" Bagaimana tanggapanmu tentang saran Oma tempo hari. "
" Kenapa tuan menanyakan itu kepada saya? "
" Apakah kamu bersedia? "
" Saya tidak bisa menjawab iya, Karena semua itu masalah kehidupan kedepannya.Rumah tangga bukan sebuah permainan. "
Sebastian terdiam, dia merasa tertegun dengan jawaban Rosse. Setelah pembicaraan yang tak berujung, Rosse dan Sebastian lebih banyak diam. karena mereka tidak tahu ingin membicarakan apa.
Terlalu lama duduk membuat Sebastian sedikit pusing."Saya masuk kamar dulu, kepala ku terasa pusing, " Ucap Sebastian.
" Baiklah tuan, pergilah istirahat, " Jawab Rosse.
__ADS_1
Sebastian meninggalkan Rosse sendiri dan menuju ke lantai atas kamarnya.
Rosse yang tinggal sendiri kembali terfikir tentang pertanyaan Oma waktu itu. Ingin secepatnya menjawab iya, tapi dia masih memiliki rasa ragu. Rosse berfikir, apa iya orang seperti Sebastian. Mapan dan seorang yang kaya , mau dengan wanita seperti nya. Tapi di hati Rosse, ada rasa ingin mewujudkan permintaan Oma. Walau dia tidak tahu seperti apa rupa Sebastian, tapi rasa suka itu mulai tumbuh. Dia sendiri tidak menyadari itu. Ketika Sebastian memegang tangan nya pagi itu. Jantung Rosse berdegup dua kali lipat. Dia tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam masalah perasaan.Dia menyadari atas kekurangan yang dia miliki.