
Pak Seno berjalan dengan cepat menuju belakang.
" Ada apa Nona..?" tanya Pak Seno.
Rosse buyar dari lamunan nya mendengar suara pak Seno. " Pak,saya mau tanya. Pakaian lama saya kemana ya.?" tanya Rosse.
Pak Seno terdiam setelah mendengar pertanyaan Rosse." Apa yang harus saya jawab,semua pakaian nya sudah di buang." fikir Pak Seno.
"Pakaian itu.....ee...itu. Pakaian itu sudah dibuang Nona." jawab Pak Seno dengan nada takut.
Rosse terdiam,dia tidak menanyakan lagi. Tanpa ekspresi apa pun. Dia berjalan meninggalkan pak Seno yang masih berdiri dan merasa bersalah. Di hati Rosse,ada rasa sakit karena semua pakaian nya yang penuh kenang-kenangan telah dibuang. Dia merasa ,mereka tidak menghargai nya sebagai privasi. Dia berjalan dan tak terasa air matanya menitia menahan amarah yang tak tahu kemana dia tumpahkan.
Rosse kembali ke kamar nya dilantai atas. Berjalan dengan perasaan hampa ,dia berusaha menaiki tangga satu persatu berpegangan erat pada pagarnya..Setelah berada didalam kamar,dia menumpahkan semua kekesalan dengan tangis dan menutup wajahnya pakai bantal.Agar suaranya tidak didengar oleh orang lain. Sudah hampir satu jam lebih dia berada di atas. Dari tadi ada seseorang yang memperhatikannya. Dia adalah Sebastian. Hanya bisa menunggu dan tak ingin mengganggu Rosse dulu.
Setelah menumpahkan semua emosi nya dibalik bantal,Rosse meletakkan bantal itu dan terlihat sudah tenang. Sebastian mendekat ke arahnya dan duduk di depan Rosse.Merasa ada orang didekatnya. Rosse mengusap air matanya yang masih tersisa. "Apa kamu sudah meluahkan emosimu..?" tanya Sebastian.
"Tu-tuan...!" seru Rosse.
"Apa kamu marah pada Pak Seno.?" tanya Sebastian.
__ADS_1
"Tidak tuan,saya hanya teringat akan nenek..!" alasannya.
"Pak Seno tidak salah,saya yang memerintahkan. Agar mengganti pakaian mu dengan yang lebih baik. Saya melihat pakaian mu yang lama sudah terlalu usang,"jelas Sebastian.
Seketika Rosse teringat kembali,pada beberapa tahun lalu. Itu adalah saat dia terakhir kali membeli pakaian baru. " Tidak tuan. Saya tidak menyalahkan siapa pun."
"Kalau kamu mau marah,sama ku saja. Mereka tidak akan berbuat seperti itu kalau buka perintah ku." Jelas Sebastian.
" Tidak tuan,sekarang saya merasa lebih baik," Rosse menyunggingkan sedikit senyuman dibibirnya. "Kenapa tuan masih disini. Apakah tuan tidak kerja hari ini?" Tanya Sebastian.
"Dari tadi saya menunggu reaksimu tentang pakaian itu. Jadi saya memutuskan untuk tidak masuk.!" jelasnya.
Rosse merasa hati nya melonjak senang. Tanpa dia sadari,dia tarik tangan Sebastian " Tuan sungguh-sungguh?" tanya Rosse memperjelas ucapan Sebastian.
" Saya sungguh-sungguh..!" jawab Sebastian sambil memandangi wajah polos didepan nya itu.
"Kapan kita berangkat tuan.?"
" Sekarang," balas Sebastian.
__ADS_1
"Baiklah tuan,saya akan siap-siap."
" Kamu tidak perlu membawa pakaian. Kita bisa membeli beberapa nanti." jelas Sebastian.
" Tidak tuan,saya masih memiliki beberapa pakaian yang tertinggal disana." jawab Rosse.
"Baiklah,terserah kamu. "timpal Sebastian.
Rico yang sedari tadi sudah berangkat ke kantor untuk menggantikan tuannya. Kali ini mereka akan berangkat tanpa Rico. Sebastian membawa beberapa pakaian dan tak juga menyiapkan beberapa pakaian untuk Rosse kalau-kalau dibutuhkan.
Ketika mereka berjalan ke lantai bawah,Oma melihat mereka " Kalian terlihat rapi,mau kemana..?"
"Kami mau pulang kerumah Rosse Oma." Jawab Sebastian.
"Baiklah,hati-hati dijalan," Oma mendekat dan memeluk Rosse. "Semoga kerinduanmu terobati,"ucap Oma.
" Terima kasih Oma" balas Rosse.
"Baiklah Oma,kami pergi dulu. Sampai bertemu lagi Oma," ucap Sebastian.
__ADS_1
Mereka pun pergi menuju mobil yang berada digarasi. Dan memulai perjalanannya.