BERIKAN AKU SEBERKAS CAHAYA

BERIKAN AKU SEBERKAS CAHAYA
episode 18.


__ADS_3

Makan malam sudah tiba. Para pelayan menyajikan makanan-makanan enak di atas meja. Sebastian keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Ketika dia tiba, beberapa pelayan mulai meninggalkan ruangan itu.


Sebastian duduk di kursi nya. Ketika dia ingin memasukkan makanan kedalam mulut. Dia teringat dengan Rosse.


Pak Seno yang setia menunggu tuannya makan merasa heran " Ada yang salah tuan dengan makanannya? "Tanya Pak Seno dengan hati cemas.


Sebastian mengangkat tangan kanannya. Pak Seno pun mendekat "Ya tuan. "


"Apa tamu saya sudah makan? " Tanya Sebastian.


" Nona Rosse belum makan tuan, dan biasa nya dia makan setelah tuan selesai lebih dulu, "Jawab pak Seno.


" Dia adalah tamu ku, dan kalian memperlakukannya dengan tidak hormat," Sebastian meninggikan suaranya.


Pak Seno takut mendegar suara tuan nya yang sedikit tinggi " Jadi tu.. tuan. Apakah saya harus memanggil nya sekarang? " Tanya pak Seno merasa bersalah.


" Panggil dia turun untuk makan, " Perintah Sebastian.


Pak Seno berjalan menuju belakang "Sonya kesini," panggil pak Seno.


Sonya mendekat menghampiri pak Seno " Ya pak. "


"Kamu pergi ke kamar tamu tuan, panggil kebawah agar makan, " Perintah pak Seno.


Sonya buru-buru menuju kamar tamu " Tok.. tok.. tok."


"Siapa? " tanya Rosse.


"Saya nona, " Jawab Sonya.


Rosse berjalan menuju pintu dan membukanya "Ada apa Sonya? " tanya Rosse.


" Tuan memanggil nona untuk makan. "


"Baik lah, tunggu sebentar, " Rosse masuk kembali kedalam kamar. Dia mengambil tongkat nya. "Ayo , " Ajak Rosse.


Mereka berjalan berbarengan, tak lupa Sonya menuntun Rosse "Sonya tidak usah repot-repot, saya bisa sendiri, " Ucap Rosse halus.


" Saya hanya menjalankan perintah tuan. Kalau tuan melihat saya membiarkan anda, pasti dia akan memarahi saya dan bahkan di pecat, " Ucap Sonya.


Rosse pun mengerti dengan posisi Sonya. Dia membiarkan Sonya memegang pundak nya.


Mereka sampai dj meja makan " Ini nona Rosse tuan," Sambil menarik kursi untuk Rosse.


Sebastian hanya mengayunkan jarinya, Sonya pun faham dengan maksud tuannya. Dia pergi meninggalkan mereka berdua yang menghadap meja.

__ADS_1


Diantara mereka terasa kecanggungan, Sebastian pun tidak tahu apa yang harus dia ucapkan. Sementara Rosse merasa malu untuk semeja dengan Sebastian.


"Silahkan makan," Sebastian mempersilahkan dengan rasa canggung.


"Baik tuan, " Balas Rosse. Tapi Rosse tetap tidak bergeming dari duduknya. Posisi sendok dan garpu tidak diusik nya sama sekali.


Melihat itu Sebastian langsung menyadari, bahwa Rosse tidak bisa memilih makanan yang ada di meja "Maaf, saya tidak peka," ucap nya. Dia pun mengambil nasi untuk Rosse "Kamu mau berapa sendok, " Tanya Sebastian.


"Maksud tuan? " Rosse tak mengerti.


"Maksud nya, kamu mau nasi berapa sendok? " tanya Sebastian menjelaskan.


" Satu saja tuan, "Ucap Rosse.


Sebastian pun meletakkan nasi di piring Rosse " Kamu mau makan apa, ikan atau daging? " tanya Sebastian lagi.


"Ikan saja tuan," Jawab Rosse.


Sebastian pun meletakkan seekor ikan "Ada lagi yang kamu mau,? " tanya Sebastian.


"Sudah cukup tuan, " Jawab Rosse.


Mereka pun makan tanpa suara, dan hanya suara dentingan garpu dan sendok yang terdengar. Pak Seno yang setia berdiri di belakang Sebastian hanya heran melihat perilaku tuan nya tersebut. Tidak seperti biasanya, Sebastian tidak suka ada orang lain satu meja dengan nya ketika makan kecuali nyonya besar.


Saat ini nyonya besar sedang pergi keluar negri untuk berobat rutin. Sebastian tidak bisa menemaninya, karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.


Selama ini Sebastian hanya berdua dengan oma nya. Orang tua dari pihak ibu nya. Andai saja Nyonya besar tahu Sebastian menyingkirkan Roberto, mungkin penyakit jantungnya bisa kambuh kapan saja.


Sebastian sudah selesai dengan makannya. Rosse berjalan meninggalkan meja makan. Ketika dia melewati tuan rumah, Sebastian mencium aroma yang sangat menarik. Aroma itu berasal dari tubuh Rosse "Wangi nya begitu lembut, " batin nya.


Rosse pun berlalu meninggalkan aroma tubuhnya. Sebastian pun segera bangkit setelah menyadari Rosse telah menghilang.Rosse sudah berada didalam kamar. Dia mengeluarkan ponselnya, dan menyibukkan diri bermain game menunggu waktu tidur. Karena saat ini matanya belum mangantuk sama sekali.


Setelah makan, Sebastian menuju ruang kerjanya. Dia memilih-milih beberapa berkas yang penting. Untuk di bawa esok pagi.


"Deerrrtt... deerrttt... deerrttt, " Suara getaran ponsel nya . Sebastian melirik ponsel nya. Ternyata itu panggilan dari nyonya besar yaitu Oma.


Sebastian tersenyum dan mengusap ponsel nya "Hallo oma. "


"Hallo sayang. Bagaimana kabarmu disana? " tanya sang Oma.


"Aku baik-baik saja Oma. Kapan Oma kembali? "


"Oma belum bisa pastikan, karena pengobatan masih berjalan. "


"Jangan terlalu lama disana Oma, disini masih ada cucu mu. " Sebastian sedikit bercanda.

__ADS_1


"Cucu Oma sudah dewasa. Dia tidak membutuhkan Oma lagi. "


"Jangan begitu Oma, sampai kapan pun Oma selalu cucu mu ini butuhkan. "


"Hahahah, " Sang Oma hanya tertawa mendengar rengekan cucu nya yang dingin itu.


"Baik lah Oma. Apakah ada lagi yang ingin Oma tanyakan? "


"Kamu sudah bosan bicara dengan Oma? " tanya Oma dengan nada suara yang agak rendah.


" Bukan seperti itu Oma, Tian masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, " Jawab nya.


Si Oma pun mengerti " Baiklah, Oma tutup telepon nya. "


"Tian minta maaf Oma," Telepon pun berakhir.


Sebastian kembali pada pekerjaan nya. Terduduk selama satu jam. Membuat lehernya terasa tegang. Dia pun menghentikan pekerjaan nya. Berjalan keluar menuju taman. Dia teringat kembali dengan perjumpaan Rosse dengan pelayan tadi sore. Sebastian menghubungi Pak Seno "Ya tuan, ada yang tuan butuhkan? " Tanya Pak Seno.


"Pak, tolong panggilkan Sonya kesini," perintah Sebastian.


"Baik tuan, " Jawab Pak Seno.


Dia pun keluar dari kamar, berjalan ke arah kamar pekerja wanita. "Tok.. tok.. tok, " Pak Seno mengetuk pintu.


Seorang wanita membuka pintu "Ada apa pak? "


"Panggil Sonya kesini," pinta pak Seno.


"Tunggu sebentar pak," Ucap wanita itu.


Pak Seno berdiri didepan pintu sambil menunggu. Sonya pun tiba " Ada pak panggil saya?" Tanya Sonya penasaran.


"Tuan memanggil, dia menunggu didepan, " Ucap Pak Seno.


Seketika jantung Sonya berdegup kencang, dia merasa takut kalau-kalau telah membuat salah "Ada masalah apa ya pak? "


"Saya tidak tahu, saya hanya di suruh memanggilkan saja. Tuan tidak menjelaskan apa pun, " Jawab pak Seno.


Sonya hanya bisa mengikuti permintaan pak Seno.


Pak Seno mendekat "Tuan, ini Sonya. "


Dengan rasa takut Sonya mendekat "Tu.. tuan saya Sonya. "


Sebastian menoleh menatap Sonya , membuatnya merasa seperti penjahat yang akan disidang.

__ADS_1


"Duduk lah, apakah kamu mau saya mendongak ketika berbicara dengan mu? " Tanya Sebastian.


Sonya merasakan dingin mengalir disekujur tubuhnya. Kaki terasa berat hanya untuk sekedar duduk.


__ADS_2