
Hari sudah sore Sebastian sudah sampai didepan rumah. Dia masuk lebih dulu, sementara Rico membawa barang Sebastian kedalam rumah kemudian pergi.
Sebastian tidak melihat sosok istrinya di lantai bawah, dia fikir mungkin berada dirumah kaca yang sudah lama selesai. Hanya Rosse masih merasa takut untuk masuk kesana. Trauma dengan kejadian sebelumnya. Sebastian menaiki tangga dan membuka pintu. Ketika pintu terbuka, tercium bau dari parfum Rosse "Kenapa bau ini sangat terasa? " fikir nya. Sebastian pun masuk, didalam terlihat Rosse baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk yang dililit dari dada tidak sampai menutupi lutut. Sehingga terlihat pa*a mulus istrinya. Rosse sama sekali tidak menyadari kehadiran Sebastian disana. Sebastian memilih untuk diam tanpa suara sedikit pun. Pemandangan didepannya itu membuat degupan jantungnya berkali-kali lipat.
Dia dengan tenang, duduk di tepi tempat tidur dan menyaksikan semua pemandangan indah dari wanita halalnya tersebut. Hanya bisa melihat dan menelan ludah tanpa bisa menyentuhnya.Tanpa dia sadari, ternyata keponakan nya hidup. Sebastian berusaha untuk menahannya, tapi tidak bisa ditahan. Keadaan itu membuatnya merasa kan panas sekujur tubuhnya berharap Rosse segera keluar dari kamar.
Menunggu dan menahan dengan sabar, akhirnya Rosse keluar dari kamar. Sebastian menengok keluar, untuk memastikan bahwa Rosse betul-betul turun.Merasa aman, Sebastian melepas baju dan juga celananya. Menghamburkan kekamar mandi dan merendam kan tubuhnya di air yang dingin sampai ponakannya tidur kembali.
Rosse yang berada di bawah, tidak mendengar suara mobil yang datang. Dia beranggapan saat ini Sebastian masih berada dikantor. Oma mendekati Rosse dan menyentuh bahunya "Apa kamu sedang menunggu seseorang? " tanya Oma membuyarkan lamunan Rosse.
"Ah... Oma. Saya tidak menunggu siapa pun. Merasa rindu saja. " ungkap nya.
"Apa yang membuat mu rindu? " tanya Oma.
"Rindu rumah dikampung....! " Jawab Rosse.
"Hari libur nanti, ada baiknya kamu dan Sebastian pergi kesana bersama..! " Saran Oma.
Rosse tersenyum "Apa tuan..." Rosse menutup mulutnya. "Maksud nya, apa Sebastian mau pergi berkunjung kesana? "
Oma mengelus rambut indah Rosse "Oma yang akan bicara pada nya. "
"Susan, dimana Sebastian? " tanya Oma pada asistennya.
"Tuan ada dikamar nyonya..! " jawab Susan.
Mendengar jawaban dari Susan, Rosse merasa heran "Apa tuan sudah kembali? " tanya Rosse.
__ADS_1
"Sudah nona, sewaktu nona belum turun tadi, " jawab Susan.
Rosse berfikir keras, tadi dia tidak merasakan ada orang didalam. "Kalau iya memang ada didalam kamar, berarti dia melihat semua nya. ! " Fikirnya .
Rosse merasa malu, dan ingin rasanya menyembunyikan wajahnya.
Tapi dia tetep tenang, agar tidak ada pertanyaan.
" Susan, minta pada Pak Seno untuk membawakan minuman kesini, "perintah oma pada Susan .
" Baik Oma," Susan pun berdiri.
"Tunggu," Tahan Rosse dan Susan tidak jadi melangkahkan kakinya .
"Bisa kamu tunggu sebentar, saya ingin mengambil sesuatu, " Pintar Rosse.
Rosse berjalan menuju tangga dan kembali kekamar. Didalam kamar, Rosse berjalan menuju tas kecil yang dia letakkan di laci nakas. Dia ambil bungkusan kecil. Sebelum keluar, hanya ingin memastikan. "Tuan...! " panggil Rosse.
" Ya..! " jawab Sebastian.
Sejenak Rosse terdiam "Berarti memang benar, dia pasti melihat ku selepas mandi tadi, " fikir nya.
"Tidak ada apa-apa tuan, saya tidak ingat ingin bicara apa, " Alasan Rosse.
Sebastian tersenyum mendengar ucapan Rosse. Dia mengetahui apa maksud Rosse memanggil diri nya.
Rosse pun pergi keluar dari kamar. Tak henti-henti Rosse berspekulasi pada bayangannya. " Mungkin tuan baru naik setelah saya berpakaian, " fikir nya meyakinkan diri dan kadang pemikiran itu bertukar lagi.
__ADS_1
Ketika di bawah " Susan, buat kan juga saya teh. Tapi dengan teh yang ini, "Rosse menyerahkan bungkusan kepada Susan.
Oma penasaran " Apa ini nak? "tanya nya.
" Ini teh buatan saya Oma.! " Jawab Rosse.
"Oma juga mau, buatkan untuk Oma juga." Pinta oma pada Susan.
Susan pun pergi meninggalkan ruang keluarga. Menyerahkan teh itu pada Pak Seno dan kembali lagi kedepan.
Pak Seno pun datang dengan nampan dan sebuah teko tidak terlalu besar dan beberapa cangkir .
Susan menuangkan teh tersebut. Oma yang tidak sabar mengambil cangkir bagian nya dan menyeruput pelan-pelan air yang masih terasa hangat itu.
" Sssrrruuuuuuupp. " Suara Seruput Oma.
Setelah merasakan teh tersebut, Oma merasa kan itu lebih nikmat dari teh yang biasa Oma minum.
"Teh ini begitu nikmat, kamu begitu pintar dalam beberapa hal, " ucap Oma memuji.
" Ah Oma, itu hal biasa. Seorang gadis seperti saya. Harus banyak belajar bagi yang hidup di sebuah perkampungan." Ujar nya.
"Siapa yang mengajari mu? " Tanya Oma.
"Nenek, dia lah satu-satu nya orang yang selalu perhatian dan membesarkan ku, " Ujar Rosse dengan wajah yang mulai murung teringat neneknya.
Oma memeluk Rosse yang hampir menjatuhkan air matanya "Sudah.. sudah. Oma juga nenek mu dan Oma juga sayang pada mu. Jangan bersedih, " bujuk Oma.
__ADS_1