BERIKAN AKU SEBERKAS CAHAYA

BERIKAN AKU SEBERKAS CAHAYA
episode 28.


__ADS_3

Siang itu Sebastian tidak menampakkan batang hidungnya. Oma mencoba menghubungi lewat telepon, tapi tidak dijawab sama sekali. Oma kembali menghubungi Rico, dan ternyata dijawab.


" Kenapa cucu durhaka itu belum pulang juga?" Tanya Oma dengan nada marah.


Rico bingung mau menjawab. Apa lagi bersangkutan dengan Oma. Dia bukan lah orang yang mudah mengalah. Rico tidak bersuara sedikit pun " Kenapa kamu hanya diam . Apa Sebastian yang menyuruh mu untuk diam? "Tanya Oma.


" Iya Oma, saya dengar." Jawab Rico. Dia merasa dianaya oleh cucu dan nenek ini.


Rico sudah memperingatkan Sebastian. Bahwa siang ini Oma telah sampai. Tapi dia sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan nya dan bertepatan dengan adanya pertemuan dengan klaen penting.


" Maaf Oma, tuan saat ini sedang ada pertemuan dengan beberapa klaen. Setelah selesai nanti, saya kan beritahukan pada tuan, "Rico menenangkan Oma.


Oma langsung menutup teleponnya , dia merasa kesal dengan cucu satu-satu nya itu " Lihat saja nanti ketika kamu pulang.! " Oma bicara sendiri.


Asisten yang hanya bisa mendengar repetan dari sang Oma menahan senyum. Bagi dia ini adalah hal biasa. Bagi Oma cucu nya itu tetap lah Tian kecil nya.


Petang pun tiba Sebastian mulai bersiap-siap untuk pulang "Rico, apa yang ingin kau sampaikan? " Tanya Sebastian tanpa menghidupkan pandangannya.


"Itu.. tuan...! Tadi Oma menghubungi ke ponsel ku. Dia sepertinya marah, karena tuan tidak pulang siang tadi, " ucap Rico.


" Karena itu wajah cemberut? " tanya Sebastian.


"Bukan tuan...! Bukan tuan, saya hanya merasa bakalan ada sesuatu yang berlaku kepada tuan. "


" Hahahahahah....! " Sebastian tertawa " Apa yang kau khawatirkan? "


"Tentu tuan, " Jawab Rico.


"Kamu seperti belum terbiasa dengan kelakuan Oma. Dia hanya berani pada ku saja. Tapi tidak pada orang lain.. " Ucap Sebastian.


Rico hanya terdiam mendengar perkataan Sebastian. Selama ini, hanya Sebastian yang akan disalahkan dengan masalah apa pun. Rico hanya selalu menjadi pendengar budiman.


" Kita pulang sekarang tuan? " tanya Rico.


" Baik lah, ayo kita pergi." Ajak Sebastian.

__ADS_1


Mereka bergegas meninggalkan kantor. Ketika Rico keluar, Diana langsung berdiri. Pandangan Rico bertepatan pada Diana yang tersenyum pada nya. Rico membuang muka, takut membuat Diana semakin salah faham.


Melihat Rico membuang wajah, hati Diana sedikit sakit. Tapi dia membuang semua perasaan itu. Sebastian pun menyusul keluar.


Rico melajukan mobil, agar segera sampai dirumah. "Rico, nanti jangan lupa singgah sebentar untuk membeli bunga, " minta Sebastian.


Mereka melihat sebuah toko bunga dan menghentikan mobil. Sebastian keluar dan memilih bunga mana yang akan dia beli. Dia masih bingung dengan banyak nya ragam bunga yang indah.


Rico menghampiri "Tuan, Oma biasa nya lebih menyukai bunga lili, " Rico memberi saran.


"Mbak, bunga lili nya saja, " Minta Sebastian.


Ketika selesai membayar. Rico pun kembali masuk kedalam mobil.


Tapi Sebastian tidak kunjung datang. Rico kembali keluar dari mobil dan melihat kedalam toko, ternyata Sebastian memilih beberapa jenis bunga.


" Ini untuk siapa tuan? " tanyanya .


" Ini untuk Rosse." jawab Sebastian.


Dan beberapa di antara nya adalah pemberian Sebastian.


Mereka pun kembali melakukan perjalanan. Rico semakin tak mengerti dengan sifat tuan nya itu. Dingin tapi masih ada lagi sedikit perasaan untuk berbuat seperti itu.


Beberapa menit perjalanan mereka pun sampai. Pelayan membantu mengeluarkan barang-barang dari mobil. Terkecuali bunga lili yang dia akan berikan pada Oma. Sebastian masuk kedalam dan melihat-lihat sekeliling. Mana tahu ada Oma yang tiba-tiba muncul.


Karena tidak menemukan nya. Sebastian berjalan melangkah kedalam kamar Oma." Tok.. tok.. tok, " Suara ketika pintu. Oma yang tadi nya tertidur sekarang jadi terbangun. Sebastian pelan-pelan membuka pintu kamar. Tiba-tiba " Kenapa kamu mengendap-endap seperti pencuri? " Tanya Oma menyadari kehadiran cucu nya.


Sebastian hampir terkena serangan jantung , dikejutkan oleh suara Oma yang tiba-tiba. " Maaf Oma, Tian berfikir Oma sedang tidur." jawab nya.


Oma memandang lekat pada Sebastian, membuat dia menjadi serba salah " Oma sudah makan obat? " Tanya Sebastian mengalihkan pembicaraan.


" Apa kamu tidak sayang Oma lagi? " tanya Oma.


"Saya masih sayang sama Oma. Jangan bertanya seperti itu. Seakan Tian seperti cucu durhaka, " Ucap Sebastian.

__ADS_1


" Kalau kamu sayang, kenapa tadi kamu tidak pulang melihat nenek. Atau menjeput saat di bandara? " tanya neneknya.


"Maaf Tian Oma, tadi banyak pekerjaan dikantor. dan ada pertemuan yang tiba-tiba. Sehingga tidak mungkin bagi Tian meninggalkan nya.“ Kelas Sebastian.


Sebastian mengeluarkan satu buket bunga lili " Ini untuk Oma, tanda maaf Tian. "


Oma sedikit menyunggingkan senyuman di bibir nya dan menerima bunga lili putih yang dibawakan oleh cucu nya.


" Oma masih ingin bicara panjang dengan mu, " Ucap Oma.


"Tapi Oma, Tian baru pulang belum sempat mandi."


" Baiklah, kamu pergi lah naik ke atas. setelah selesai kamu datang kesini lagi." Minta Oma.


" Baiklah Oma, selepas mandi Tian akan ke sini lagi."


Sebastian pun pergi meninggalkan Oma. sebelum menuju kamarnya, dia mengambil kembali bunga yang dia beli sebelumnya untuk Rosse.


"Tok... tok... tok...! " Terdengar ketikan pintu.


Rose segera bangun , berjalan perlahan dan membuka pintu, " Siapa? " Tanya Rosse.


" Ini saya, "Ucap Sebastian. " Ini untuk kamu. " Sambil memberikan bunga ketangan Rosse.


Rosse memegangnya erat "Apa ini tuan? " Tanya Rosse.


"Untuk mu, " Jawab Sebastian dan pergi berlalu.


Rosse tersenyum dan kembali masuk kedalam kamar. Dia mencium bunga yang diberikan oleh Sebastian tadi.


Sebastian yang sudah berada dalam kamar, memilih untuk mandi. Sebentar lagi adalah waktunya makan malam.


Setelah selesai.Dia Kembali menuju lantai bawah. Di meja makan kan sudah menunggu lagu Oma dan Rosse. Sebastian duduk ditempat dia biasanya. Pak Seno sebagai pelayanan senior melayani para majikan dengan sangat bijaksana. Setiap orang akan memiliki makanannya sendiri yang berada didepannya. Tidak perlu jauh-jauh untuk membungkuk saat berdiri. Dan ini juga memudahkan Rosse dalam mengambil makanan kepiring nya. Setelah piring masing-masing terisi, mereka melakukan doa bersama. Ini adalah kebiasaan dikala Omah sedang berada di rumah.


" Ayo makan sekarang, "Oma memulai.

__ADS_1


Mereka pun mulai menikmati makan malam nya. Rosse begitu berhati-hati dalam makan nya. Dia tidak ingin sampai dentingan sendok dan garpu terdengar keras di antara keheningan itu. Oma sesekali melirik ke arah Rosse. Dia merasa Rosse adalah gadis yang begitu mandiri.


__ADS_2