
Sonya duduk dengan posisi berhadapan dengan Sebastian. Dia menyatukan kedua tangannya seperti orang yang lagi kedinginan.
Sebastian meletakkan ponsel nya dan memandang ke arah Sonya. Tatapan Sebastian menambah rasa ketakutan dihatinya "Kamu yang bernama Sonya? " Sebastian mengawali pembicaraan mereka.
"Iya, saya tuan, " Jawab Sonya.
"Kamu kenal dengan tamu saya? " Tanya Sebastian membuat Sonya penasaran.
"Ta... tamu tuan yang mana? " Sonya bertanya balik.
"Rosse...! "
"Saya tidak mengenalnya tuan." Sonya semakin merasa bersalah. "Tamat lah riwayat ku" Kutuk nya dalam hati.
"Berarti kalian kenal semenjak dia berada disini? " Tanya Sebastian terus.
"Iya tuan, " Jawab Sonya.
"Apa sekarang kalian bersahabat? " Pertanyaan Sebastian semakin dalam.
"Ka... kami tidak begitu dekat tuan, " Sonya menelan ludah.
"Kalau kalian tidak dekat, kenapa saat ditaman kalian terlihat saling berpelukan? " Pertanyaan Sebastian seperti jebakan yang menancap di jantung Sonya.
Sonya terkejut dengan pernyataan tuannya "Bagaimana dia tuan bisa tahu? Dia bertanya-tanya dalam hati.
" Pasti kamu bingung kenapa saya bisa tahu? " Sebastian melanjutkan pertanyaannya. "Kamu tidak usah takut . Saya hanya ingin bertanya , apa sebenarnya yang kalian ceritakan sewaktu di taman samping rumah? "
"Waktu itu..... eeeee,kami membicarakan tentang parfum yang dipakai oleh nona Rosse tuan, " Jawab sonya.
"Ceritakan keseluruhannya, " Pinta Sebastian. "Angkat kepalamu. "
Sonya mengangkat kepalanya, dan menceritakan dengan sangat detail tentang perjumpaan nya dengan Rosse. Dari awal sampai akhir. Sebastian mengubah posisi duduknya dengan kaki kiri disilangkan. Mendengar penjelasan Sonya, Sebastian pun tahu. Bahwa aroma harum Rosse berasal dari parfum buatannya sendiri.
"Begitu tuan ceritanya, " Sonya selesai dengan cerita pendek nya namun singkat.
"Kalau dia ingin. Saya akan berikan ruang untuk nya, " Ucap Sebastian.
Sonya yang mendengar kebaikan tuannya agak bersemangat. Tapi tidak berani menunjukkan nya. Sekarang dia merasa lebih baik "Saya sudah tidak sabar ingin menyampaikan berita ini, " Batin Sonya.
__ADS_1
"Apa kamu mau menjadi asisten pribadi untuk Rosse? " Tanya Sebastian.
Rosse tidak bergeming, karena dia belum mengerti maksud perkataan majikan nya.
"Maksudnya tuan? " Tanya nya balik.
"Maksud saya, apa kamu mau membantu Rosse dalam melakukan hal apapun? " Sebastian menegaskan pertanyaannya.
Sonya menunduk senyum " Saya mau tuan, " Jawab Sonya sedikit bahagia. Karena bisa dekat dengan Rosse. Yang paling dia tunggu-tunggu adalah minyak wangi itu.
"Baiklah, kamu bisa pergi sekarang." Ucap Sebastian.
Ketika Sonya bangkit dari duduknya " Jangan lupa, mulai besok kamu yang harus menyediakan semua kebutuhan nya. Dan pastikan ketika waktu makan, dia harus sudah harus berada di meja. " Perintah Sebastian.
" Baik tuan. Saya akan lakukan, " Jawab Sonya. Dia pun berjalan meninggalkan majikan nya sendiri.
Sebastian meraih ponsel nya dan melakukan panggilan dengan seseorang.
Sonya dengan hati senang menuju kamarnya. Disana para teman-teman nya sudah menunggu. Mereka menebak-nebak apa yang terjadi dengan Sonya. Ada yang berfikir Sonya akan di pecat. Yang lain nya beranggapan Sonya telah dikeluarkan saat itu juga.
Sonya sudah tiba didepan pintu kamar dan membukanya. Mendengar suara pintu, teman-teman nya berlari menghampiri " Ada apa sebenarnya, kenapa tuan sampai memanggilmu? " Tanya Para teman-temannya.
Mendengar penjelasan Sonya, mereka kemudian bubar ke tempat tidur masing-masing.
"Kamu tidak keberatan dengan permintaan tuan, " tanya pembantu lainnya.
"Saya tidak keberatan, lagian apa salahnya . Rosse itu orang nya baik." Jawab Sonya .
" Baru bertemu sudah bilang dia baik, " Ledek temannya.
Sonya melemparkan pandangan tak senang dengan temannya yang berada didepannya " Kamu tidak dekat dengan nya. Maka nya kalian tidak mengetahui seperti apa dia. " Kata Sonya.
Semua teman-temannya hanya terdiam disaat Sonya membela Rosse.
Hari sudah larut. Sebastian mulai merasakan kantuk, dia pun masuk kedalam rumah. Dia berjalan menuju kamarnya. Dia pun berbaring dikasur. Melepaskan rasa lelah dan ngantuk. "Deerrttt... deerrttt... d deerrttt." ponsel bergetar. Sebastian menyadari ponsel nya ada panggilan. Tapi dia tidak menghiraukan panggilan tersebut. Sebuah nomor tanpa nama.
Sebastian mengalihkan ponselnya mode pesawat , agar tidak di ganggu saat tidur.Pandangan Sebastian melayang-layang dilangit-langit kamar.Pelan-pelan matanya sudah menutup.
Sementara di kamarnya Rosse, lampu meja masih bersinar. Yang berarti orang didalamnya belum tertidur.
__ADS_1
Rosse membuat sebuah rajutan syal. Dia begitu piawai dalam hal merajut. Dibalik kekurangan masih ada kelebihan yang tak semua orang miliki.
Dia merajut hanya untuk mengisi waktu kosong sebelum tidur. Rajutannya terlihat rapi, dan dia melakukannya dengan sangat pelan-pelan. Setelah beberapa jam melakukan nya. Dia mulai mengantuk dan sesekali menguap. Tidak perlu mengulur waktu,Rosse meraba meja disamping tempat tidur dan mematikan lampu.
Dia pun berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Suasana dirumah itu sudah sepi.Tidak terlihat lagi aktifitas. Hanya ada penjaga yang bertugas malam. Dia berkeliling sekitaran rumah, sekedar memeriksa keamanan. Selain penjaga, rumah itu juga dilengkapi dengan kamera pengawas di mana-mana. Tujuan utamanya adalah, demi keamanan.
,
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menjelang, matahari sudah keluar dari persembunyian nya.Rosse yang sedari pagi lebih dulu bangun hanya duduk diam didalam kamar. Di lubuk hatinya yang paling dalam. Ingin sekali rasanya dia menuju dapur dan membuat minuman yang biasa dia nikmati di pagi hari.
Karena tidak ingin merepotkan orang lain. Rosse membuka sebuah tas kecil, yang didalam nya ada sebuah bungkusan berwarna kuning. Rosse berjalan dengan sangat pelan-pelan menuju dapur. Dia meraba dan mengingat setiap sudut yang dia lewati.
Sampai lah dia di dapur. Dia mencari-cari sebuah panci kecil untuk merebus air. Tapi tidak menemukan apa pun.
Pak Seno yang sudah bangun, menuju dapur. Dia melihat Rosse seperti mencari sesuatu. Dia pun menghampiri " Anda sedang mencari apa nona? x Tanya pak Seno.
Rosse terkejut dengan kehadiran pak Seno yang tiba-tiba. " Maaf Pak, kalau saya lancang masuk kedapur. Saya hanya ingin mencari tempat untuk merebus air, " Ucap Rosse.
" Untuk apa? " Tanya pak Seno.
" Saya ingin membuat teh pak, " jawab Rosse.
"Kalau hanya ingin minum teh, nona bisa minta dengan saya. Sekarang saya akan buatkan, " ucap Pak Seno.
"Bukan seperti maksud saya pak. Saya hanya ingin membuat teh dengan ini, " Rosse menunjukkan bungkusan yang dia bawa.
Pak Seno melihat bungkusan itu" Baiklah, tunggu sebentar saya akan ambil kan. "
Tak butuh waktu lama pak Seno sudah menemukan nya " Ini nona, saya sudah mengisi nya dengan air. "
Rosse menerima nya " Terima kasih banyak pak, " Ucap Rosse.
" Panggil saja saya pak Seno, "
" Baik pak, " Balas Rosse.
__ADS_1
Pak Seno menunjukkan dimana letak kompor dan cara menghidupkan nya. Rosse merasa senang dengan Pak Seno. Walau terlihat tegas, dia memiliki hati yang baik.