
Hari telah sore. Sebastian pulang kerumah dengan membawa mobil sendiri. Dia merasa sangat lelah, karena semua kerja yang penting dikerjakan oleh nya. Sementara Rico harus istirahat.
Ketika melewati halaman depan, dia melihat Oma dan Rosse sedang berbincang-bincang di pondok kecil. Sebastian menghampiri mereka " Selamat sore Oma, "Sapa Sebastian.
" Kamu sudah kembali,mana Rico? " Tanya Oma.
"Dia sudah pulang dari siang tadi. Karena tidak enak badan, " ucap Sebastian.
Sebastian menduduki sebuah kursi disamping Oma.Dia melihat ke arah Rosse, yang melemparkan senyuman padanya. Hati Sebastian bergetar ketika melihat senyuman itu. Dia ingat percakapan dengan dokter Johan tadi siang. Untuk membawa Rosse periksa mata.
Sedang berbincang-bincang, Sebastian merasakan lain di perutnya. Dia duduk dengan rasa gelisah, Oma yang melihat gelagat Sebastian merasa curiga.
" Kamu kenapa? " Tanya Oma.
" Tidak tahu Oma, perut rasanya tidak nyaman," Ucap Sebastian.
"Kamu sakit? " Tanya Oma.
“Saya baik-baik saja."
Sebastian merasakan panas dingin, wajah nya mulai memerah." Maaf Oma, Tian mau ke kamar dulu." Sebastian pun pergi.
"Kenapa dengan anak itu? " Oma merasa heran.
Rosse hanya tersenyum mendengar mereka "Mungkin tuan makan sesuatu diluar, yang membuat perutnya tak nyaman, " ucap Rosse.
Oma merasa ada betulnya juga ucapan Rosse. Oma masuk kedalam rumah "Pak Seno, " panggil Oma.
Pak Seno datang menghampiri "Ada apa nyonya? " Tanya Pak Seno.
"Buat kan air jahe hangat untuk tuan," Pinta oma.
Pak Seno melangkah menuju dapur. Dia membuat menimuan untuk tuannya. Tak sampai setengah jam, air jahe nya sudah siap. "Ini airnya nyonya, " Ucap pak Seno meletakkan minuman itu di atas meja.
__ADS_1
"Baik lah. Terima kasih, " balas Oma.
Pak Seno pun pergi meninggalkan Oma dan Rosse. Sudah lama menunggu, tapi Sebastian tak kunjung turun. Air yang dibuatkan oleh Pak Seno sudah sedingin hidung kucing. Merasa tak ada respon. Oma memerintahkan seseorang untuk melihat kedalam kamar Sebastian. Mencari orang terdekat, tapi tidak menemukan siapa pun "Tidak ada siapa pun yang bisa dimintai tolong, " Oma terlihat kesal.
Oma tidak bisa naik tangga lagi,karena kecelakaan. " Baiklah Oma, aku saja yang keatas." Rosse mengajukan diri.
"Apa kamu yakin? " tanya Oma.
" Saya yakin Oma," Jawab Rosse percaya diri.
" Baiklah. Mari teh nya saya bawa ke atas."
" Kamu harus hati-hati.Kamar Tian sebelah kiri paling pertama, tidak jauh dari tangga. " Jelas Oma.
"Baiklah." Rosse pun berjalan menuju tangga. Dia menaiki anak tangga satu demi satu. Agar tidak salah langkah. Sampai lah dia di atas. Meraba di bagian kiri. Akhirnya dia menemukan sebuah pintu "Pasti ini pintu nya" Rosse merasa senang, karena bisa menemukan nya. " Tok... tok... tok, " Rosse mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi, tetap tidak rasa jawaban. Rosse menekan handel pintu, ternyata pintu tak dikunci. " Tuan... tuan Sebastian..! " panggil Rosse.
Tapi Sebastian tak menjawab. Rosse mendengar suara sayup-sayup seperti meringis "Aaahhhh."
"Rosse....! " panggil suara itu.
Rosse mengikuti arah suara itu, dan ketika akan melangkahkan kaki nya. Dia menginjak sesuatu, Rosse berjongkok untuk memastikan apa yang ada di kakinya, dan meletakkan cengkir teh tadi. Ketika dia meraba , dia menyadari itu adalah Sebastian. "Tuan... tuan kenapa bisa ada di lantai? " Tanya Rosse cemas.
Dia berusaha membopong tubuh tinggi Sebastian. Tapi dia tidak bisa, tetap tak putus asa " Tolong... tolong tuan." Teriak Rosse.
Orang-orang yang dirumah menjadi panik, termasuk Oma yang lebih dulu keluar dari kamar. Pak Seno dan beberapa pelayan lainnya datang melihat apa yang terjadi. Mereka pun ikut panik ketika melihat tuan nya tergeletak di lantai. Mereka bersama-sama membantu mengangkat tubuh Sebastian yang sudah lemas. " Apa yang terjadi dengan tuan? " Tanya Oma merasa cemas.
"Tuan pingsan di lantai nyonya..! " Jelas pelayan setelah melihat keadaaan tuan nya.
"Tolong panggil dokter, Pak Seno . ! " Pinta Oma.
Pak Seno dengan cepat menghubungi dokter Johan " Hallo dokter, segera kerumah. Tuan lagi tak sadarkan diri. " Dan menutup telepon nya.
Johan tak mengerti dengan ucapan Pak Seno. Belum sempat menjelaskan, pak Seno sudah menutup telepon nya. Dia kembali mentelaah perkataan pak Seno " Tuan tak sadarkan diri" Johan pun mulai cemas dengan kata-kata pak Seno. Dia bersiap-siap dan mengambil kunci mobil. Tak lupa tas kebesaran nya yang berisi alat medis dan obat-obatan. Segera dia meluncur kerumah Sebastian. Setelah sampai, tanpa bertanya-tanya. Dokter Johan naik menuju kamar Sebastian. Disana terlihat Rosse yang mendampingi dan juga pak Seno. Johan mendekat dan memeriksa bagian dada Sebastian dan mencek suhu tubuh. Ternyata Sebastian demam tinggi "Ada apa dengan nya. Sewaktu di kantor siang tadi. Dia seperti baik-baik saja? " Tanya dokter Johan.
__ADS_1
Tapi semua terdiam, mereka pun tidak tahu apa penyebab nya " Tadi dia mengeluh kan perutnya. Katanya tidak nyaman." Jelas Rosse.
Johan memandang ke aras Rosse. Tanpa dia sadari, hati nya bergetar ketika melihat Rosse . "Apakah ini gadis yang masuk rumah sakit baru-baru ini? " fikir Johan.
Perhatian nya teralihkan oleh kecantikan Rosse. Masih terlihat kepolosan di wajahnya. Tanpa makeup dia terlihat mempesona. Dan harum tubuhnya begitu menarik setiap orang yang mendekatinya.
" Dokter, apa tuan akan baik-baik saja? " Tanya Rosse, membuat lamunan dokter Johan pecah seketika.
"Ah... iya. Dia akan baik-baik saja. Pencernaan nya bermasalah karena makan yang pedas. " Jawab Dokter Johan.
" Dari mana dokter tahu tuan makan yang pedas? " Tanya Rosse.
" Tadi siang saya datang ke kantor. Rico juga mengalami hal yang sama, " Jelas dokter Johan tanpa mengalihkan pandangan nya dari Rosse.
Pak Seno yang melihat tatapan Johan kepada Rosse mengetahui itu.
"Dokter, " Pak Seno membuat lamunan dokter Johan pecah seketika.
" Ya pak. .. ! " Jawab Johan.
" Apa semua sudah selesai? " tanya pak Seno.
"Oh... iya . Saya akan memberikan obat. Minumkan pada nya, " ucap Johan.
"Kalau sudah tidak ada lagi, mari saya antar keluar, " Pak Seno terdengar tak senang.
"Baik lah pak. " Johan memasukkan semua peralatan yang dia keluarkan dan berjalan bersama pak Seno.
Dokter Johan menghampiri Oma yang sedang menunggu dengan gelisah" Bagaimana dengannya?"Tanya Oma gelisah menunggu sedari tadi.
" Saya sudah meresepkan obat. Dan juga sudah menambabkan infus, agar dia tidak terlalu lemah, " Jawab dokter Johan.
"Terima kasih nak Johan." Oma terlihat sedih. Karena bagi nya, Sebastian lah satu-satunya keluarga yang tersisa. Semenjak kepergian anak dan suaminya. Oma tidak bisa menghilang kan rasa sedihnya. Sebelum Sebastian siuman.
__ADS_1