
Di jalan menuju ke tempat beradanya gudang yang terbengkalai, Aksa mendengus marah merutuki mobilnya yang tiba-tiba mogok tidak jelas di situasi yang sedang buru buru ingin menyelamatkan Bintang dan Gilang yang sebenarnya adalah target utama papanya.
Jalanan di pinggiran kota yang tertuju ke gudang sangat lah sepi tidak ada kendaraan untuk bisa di mintai bantuan. Terpaksa Aksa berlari cepat dengan penyesalan yang di kantongi di benaknya terhadap Bintang yang entah bagaimana ke adaanya sekarang di tangan papanya.
""Jika Bintang lecet seujung kuku pun aku akan membunuh diriku sendiri tepat di depan mata papa ku."" Sumpahnya sendiri seraya berlari mengarungi jalanan yang berlubang rusak.
Tanpa sadar Aksa lagi lagi berucap sumpah. Apa ia tidak menyadari sumpahnya di hadapan Bintang di kala itu ? di kala dirinya dan Bintang berdebat di antara buku buku perpustakaan sebagai saksi bisunya.
Tch, tidak akan, aku tidak akan jatuh cinta kepada gadis seperti mu, Seleraku tidak setinggi pohon toge, dan jika itu terjadi maka tragedi ada di hadapanku.
Mungkin inilah tragedi yang di maksud oleh sumpahnya sendiri, Entah Aksa sudah menyadarinya atau belum, tapi kenyataannya memang begitu, perjalanan cintanya tidak semulus layaknya kisah cinta milik orang lain. dan tanpa sadar pula tragedi itu menyangkut pautkan semua keluarga Bintang dan lebih parahnya mengancam semua nyawa keluarga Bintang.
Aksa terus berlari di bawah ke gelapan malam, tak memperdulikan penampilannya yang sudah kotor akibat cipratan air bekas hujan yang tergenang di kubangan kecil di jalanan itu.
""Sebentar lagi sampai, Semoga aku belum terlambat."" Sesalnya terus menerus merutuki kesalah pahamannya terhadap keluarga Bintang.
Sementara di tempat gudang terbengkalai, Fatur merasa marah dengan keadaan ruangan yang hampir berbanding terbalik, kalah. Fatur murka, tanpa pikir panjang sudah mengaktifkan bom, padahal dirinya pun berada di dalam.
""Kita akan mati bersama."" Fatur sudah seperti orang gila dengan tawa seram menggelegar. ""Hidupku akan tenang jika kita bersama sama ke neraka."" pekiknya semakin menggelegar.
""Bintang...."" Panggil semua keluarganya yang merasa panik, cemas dan takut bercampur aduk.
Semua orang tersentak menyebut nama Bintang.
Namun tidak dengan Dirgan, ia menyadari bahwa bom sudah aktif, tapi.... Alex masih melawan memberontak ingin menyakiti Bintang yang masih terikat kuat. Dengan Geram, Dirgan langsung melayangkan tendangan mautnya hingga pisau yang ingin di tancapkan di punggung Bintang terhempas jauh.
""Sialan, kamu ingin menyakiti Bintang ku, tidak akan kubiarkan kamu melukainya walaupun sedikit saja."" Murka Dirgan menyerang Alex membabi buta hingga tubuh Alex tersungkur tak berdaya lagi berdiri.
Fatur hanya bergeming dengan senyum jahatnya tanpa ingin melerai aksi Dirgan yang hampir membuat Alex patah tulang atau memang sudah patah, Entah lah...Fatur tidak perduli, ia hanya sibuk dengan keluarga Bintang yang jika ada yang bergerak meninggalkan tempat maka dua senjata di tangannya akan melubangi langsung orang yang berani kabur.
__ADS_1
Setelah melumpuhkan Alex, Dirgan langsung menarik penutup mulut Bintang dan melonggarkan lilitan tali, tapi tidak untuk membuat Bintang terlepas dan menarik begitu saja, Jika Bintang bergerak guncang, maka Bom akan terguncang dan meledak tanpa harus menunggu habis waktu yang terhitung mundur.
""Dirgan pergilah, aku mohon, bawa keluarga kita pergi dari sini."" pinta Bintang menginginkan keluarganya selamat dengan mengorbankan dirinya.
Dirgan tak bergeming, ia hanya sibuk mempelajari kabel kabel bom yang kurang lebihnya sama persis kabel kabel otomotif yang selalu di tekuninya.
""Kalian pergilah."" Teriak Bintang ke keluargaanya.
""Jangan ada yang pergi."" Ancam Fatur dengan dua senjata api yang siap meluncur jika ada yang bergerak.
""Dirgan, ayo pergi."" Geram Bintang mengusir.
""Diamlah Gadis bodoh, jika kamu mati maka aku pun ikut mati."" Dirgan tersenyum manis mendongak sekilas ke wajah Bintang dan kembali dalam ketegangannya.
""Hey anak muda."" Nyalang Fatur ke Dirgan. ""Ayo, coba hentikan waktu bom itu jika memang bisa."" Tantang Fatur meremehkan keahlian Dirgan.
""Sialan."" Umpat Dirgan Tanpa menoleh ke arah Fatur mata tajammya hanya jeli membaca kabel kabel kunci dari ke Of-an bom tersebut.
Dirgan berucap tanpa mengalihkan pandangan.
""Tanya apa.?""
Bintang tidak mengerti jalan otak Dirgan, di suasana tegang begini masih saja ingin berbicara santai.
""Aksa kemana? kenapa dia tidak datang menolongmu? dan apa benar kamu benaran ha------"" Dirgan merasa kesal dengan sikap Aksa yang tidak ada rasa pedulinya sama sekali dan rasanya ia tidak rela jika Bintang mengiayakan kalau Bintang memang hamil hingga pertanyaannya kembali tertelan yang aslinya ingin mendengar langsung dari mulut Bintang sendiri. rasanya.....ia tidak percaya jika Bintang sampai melewati batas pacaran.
Dirgan dan semua orang belum ada yang tahu jika Aksa adalah anak dari Fatur. Jadi semua keluarga Bintang bertanya tanya dalam diamnya, Ke mana Aksa sebenarnya ? apa ia tidak menyadari jika calon istrinya sedang dalam masalah.?
""Jangan tanya kan dia kemana ?"" Malas Bintang. "" aku hanya mohon ke padamu Dirgan, tolong pergilah dan.....Gilang."" Bintang baru mengingat adiknya. "" selamatkan Gilang juga, ku mohon pergi Dirgan, bawa mereka semua."" Girlya mata Bintang ke semua keluarganya yang sedang menatapnya juga dengan tatapan cemas. Apa lagi Meca yang sudah menangis terus menerus.
__ADS_1
""Hidup tanpamu sama saja mati rasa di dalam keluarga kita."" Dirgan harap harap cemas mencoba perlahan memutuskan kabel yang sudah di prediksi. Satu kabel terputus dan....Gagal. Waktu masih berjalan mundur.
""Damn."" Umpat Dirgan.
""ayo lah, Dirgan... tidak ada waktu lagi, jika kamu pergi maka aku akan mati dengan ketenangan, ku mohon pergi bawah Gilang juga."" paksa Bintang dengan nada meninggih.
""Jangan berteriak, semua keluarga sangat mengindahkan keselamatan mu, dan Gilang....Gilang sudah aman bersama Biru, tapi keadaannya dalam tidak baik baik saja."" Dirgan jadi kesal sendiri dengan keputusan Bintang yang ingin mengorbankan diri sendiri.
Tangan Dirgan semakin bergetar dan iya akan mencoba sekali lagi untuk memutuskan kabel yang ruwet memekikkan otak ketegangannya.
""Ayo Boy.... jinakkan bomnya."" Lirih Fina yang berdiri dekat Nata.
""Dirgan, Buktikan cintamu Bodoh ! aku akan mendorong mu ke lubang pantat bohay jika dirimu tidak berhasil."" Umpat Nata pelan. Fina yang mendengarnya menatap Nata dengan tatapan susah di artikan oleh Nata.
""Cih.."" Decih Fina merasa Jengah ke Nata, Entah Nata bercanda atau sedang menyemangati anaknya. Namun... dalam hatinya ia bertanya tanya, kok Nata tahu jika Dirgan suka kepada Bintang?
""Dirgan, ayo sayang... selamat kan anak Tante."" Teriak Meca.
""Tidak akan Bisa.."" Yakin Fatur meledek.
""Ayo boy... keselamatan kita semua ada di tangan mu."" Lirih Gion. Vero, Titan dan Kemal berdoa dalam diamnya.
Sementara Fatur sudah menghitung mundur yang hanya beberapa detik lagi dengan gaya tangan merentang, mengacungkan tangannya yang berisi pistol tertuju ke dua sisi arah yang berbeda, antara Satu bidikan ke Arah Bintang dan bidikan lainnya terulur ke arah........Meca yang jauh dari jangkauan Vero. ""Gilang di ruangan itu akan terbakar sendiri tanpa ada yang tahu."" Gumam Fatur merasa bangga, Namun pikirannya salah terhadap keselamatan Gilang.
""Enam...Lima..empat...tiga...dua... satu."" Hitung Fatur
Dan........š
Bersambung...ššš¤
__ADS_1
Vote....like...bunga bunga š