
Malas, Namun harus di paksakan Bintang untuk masuk bekerja hari ini, dan sudah di pastikan Aksa pasti kesal kepadanya perihal ke jadian di Cafe, di tambah smartphonenya sengaja di nonaktifkan agar tidak ada gangguan dari Aksa sampai pagi ini.
Bintang menghembuskan nafas panjang sebelum melangkah keluar dari lift yang sudah berada di lantai di mana ruangannya berada.
Seketika ingin membuka pintu ruangannya, ada seorang OB yang memanggilnya. Bintang pun tidak jadi menarik knop pintu.
""Maaf Nona, saya kemarin membersihkan ruangan anda dan tanpa sengaja saya menemukan ini di depan pintu ini."" Sang OB menjulurkan amplop coklat ke Bintang.
Bintang mengerutkan dahinya, Bingung. ia tidak pernah mempunyai berkas yang berbalut kan amplop berwarna coklat.
""Tapi...aku tidak tahu itu milik siapa.? ini bukan milik ku."" Sahut Bintang.
""Jadi saya harus bagaimana dengan amplop ini, Nona.!"" Tanya sang OB.
Bintang mengedipkan bahu. ""isinya apa ?""/ selidik Bintang.
OB itu menggeleng.
""Saya tidak berani membukanya Nona, takut surat penting, jika rusak kan bahaya bagi kerjaan saya."" Jujur sang OB.
""Ya sudah aku ambil, mungkin ini milik pak si tukang paksa. Nanti saya akan memberikannya ke dia."" Ucap Bintang membuat sang OB merasa bingung, siapa itu bapak si tukang paksa.? Namun sang OB lebih memilih diam dan tidak ingin mempertanyakan yang bukan urusannya.
Bintang pun kembali menarik knop pintu setelah kepergian sang OB dan segera masuk ke dalam ruangannya mendudukkan pantat sintalnya dengan anggun.
""Ini isinya apa yah."" kepo Bintang membolak balikan amplop panjang berwarna coklat.
Ceklek
Amplop yang hampir di buka oleh Bintang seketika terjatuh ke kolong meja saat pintu di buka secara keras membuat dirinya terkesiap.
Bintang mendengus kesal saat tahu siapa tersangka terhadap ke terkejutannya.
""Nah, kan... sudah ke tebak pasti...."" Lirih Bintang yang akan beradu cocot lagi dengan Aksa.
__ADS_1
""Bin, semalam ke mana saja?, kenapa handphonenya di matiin ?"" Todong Aksa cepat. pria itu sudah di hadapan meja Bintang.
""Aku lagi tidur, tidak mau di ganggu."" Bohongnya, bersuara pun sangat malas malasan
"" pagi pagi begini sudah di interogasi seperti penjahat."" malas Bintang. "" Jangan bicarakan hal pribadi di dalam kantor. harus menjaga keformalitas."" Sindir telak Bintang.
Aksa mendengus, mendengar jawaban kebohongan Bintang. ia pun mengeluarkan handphonenya dan mengirim gambar ke handphone Bintang. Bodo amat yang namanya formalitas, toh.. perusahaan ini adalah miliknya.
""Aktifkan handphone mu sekarang."" Suara Aksa terdengar menahan kesal.
Bintang hanya mendelik malas, membuang nafas beratnya, sesuai permintaan...ralat..perintah lebih tepatnya, ia pun mengaktifkan smartphonenya yang sedari semalam sengaja di matikan.
Ting.. dong...Ting..dong.. Ting..dong.
Begitu banyak Notifikasi yang masuk dari nama kontak 'pria pemaksa' dari chat online sampai chat offline setelah Smartphone-nya di aktifkan.
Seketika mata Bintang membulat saat melihat salah satu chat dari Aksa, foto kebersamaan dirinya dan Dirgan yang......
""Apa apaan ini? kamu ternyata penguntit, aku tidak suka cara mu Aksa.! "" Kesal Bintang. Ternyata Aksa tahu, bahwa dirinya dan Dirgan sedang bermain di festival malam. sampai foto yang posisi Bintang dan Dirgan begitu romantis pun terekam kamera Aksa.
""cih."" Bintang berdecih kesal. ""Sama saja."" ketusnya.
Aksa melangkah cepat ke hadapan Bintang yang masih duduk di kursi sekretaris dengan Seringainya.
Posisi Bintang tersudut yang terduduk di kursi dengan tangan Aksa menahan kursi serta tubuh kekar Aksa yang menunduk di hadapan duduknya. wajah Aksa sangat dekat dengan wajahnya.
Bintang membuang muka ke samping, Aksa selalu berhasil membuat ingatannya terngiang dengan kelakuan kurang ajar Justien maupun kelakuan kurang ajar Aksa sendiri terhadapnya.
""Menyingkir lah Aksa."" Pinta Bintang terdengar memohon.
Aksa tak menggubrisnya.
""Lihat aku."" Aksa memaksa wajah Bintang untuk menghadap ke wajahnya, tangan kekar itu pun menahan dagu Bintang agar mau menatapnya.
__ADS_1
""issh.."" Bintang bukannya menepis malah menatap tajam mata Aksa seakan-akan dirinya tidak takut.
""Kenapa kamu memalingkan wajah mu, hah? apa aku kurang tampan di mata mu ? Giliran Dirgan saja, kamu begitu betah di posisi dekat seperti ini.""
Bintang menggeram kesal, Cemburu memang tanda sayang kata orang, tapi.... Bintang tidak suka dengan sifat Aksa yang sekarang tukang paksa dan menggunakan cara licik hanya demi hubungan mereka kembali lagi seperti awal mereka pacaran. andai saja.... sifat Aksa masih sama seperti Aksa yang remaja saat itu, mungkin Bintang akan luluh sedikit demi sedikit, ia bingung dengan Aksa yang sekarang, yang kadang manis dan kadang tiba tiba menjadi seperti monster kesurupan seperti sekarang yang tersirat di raut wajahnya.
"" Posisi Aku dan Dirgan itu tidak benar, Dirgan hanya menahanku agar tidak terperosok dari atas motor."" Jujur Bintang memberi penjelasan.
"" Lepas Aksa, pipi serta dagu ku sakit."" Lanjutnya, meringis.
Aksa tak bergeming walau pun Bintang terdengar meringis. ia begitu seram saat ini, matanya memancarkan cahaya kemarahan. ia tidak suka melihat kekasihnya bermesraan seperti foto yang di dapatkan dari Alex, walaupun lelaki itu Dirgan sekalipun. Miliknya adalah miliknya tidak ada yang boleh menyentuhnya apalagi merebutnya dari tangannya.
""Aww..."" Ringis Bintang, Aksa semakin kuat mencengkram dagu Bintang sampai Bintang mendongak ke atas menatap wajah Aksa dari duduknya.
Aksa tanpa aba aba langsung melahap bibir mungil Bintang begitu rakus, Bintang terkesiap spontan tangannya terkepal kuat yang di tahan oleh Aksa, ia tidak suka Aksa yang selalu menciumnya, sebenarnya di anggap apa dirinya oleh Aksa, apa begitu rendahnya kah dirinya di mata Aksa? sehingga sedikit dikit di hukum dengan ciuman yang sebenarnya ia benci melakukan itu karena hatinya pernah di buat sakit oleh Aksa.
Bintang menggunakan kekuatan kakinya untuk memutar kursi kerjanya yang memiliki roda. berhasil, pangutan Aksa terlepas akibat ketidak seimbangan tumpuhan tangan kekar Aksa.
""Menjauh."" pekik Bintang. Kekuatan kakinya lagi lagi bekerja untuk memundurkan kursi berodanya ke arah belakang supaya menjauh dari jangkauan Aksa.
""Bin, Awas."" pekik Aksa, ia ingin menahan kursi Bintang, Namun telat, gadis itu sudah terbentur keras di dinding tembok akibat dorongan kursi beroda terlalu kuat.
""Shiit."" Umpat Bintang memegangi kepala bagian belakang yang terasa sakit.
Aksa mendekat dan berjongkok di depan Bintang yang masih terduduk di kursi.
""Ka---"" Ucap Aksa terpotong.
""Jangan bertanya? dan pergi lah."" Malas Bintang yang sudah tidak mau beradu cocot.
""Tidak mau, ini kantor ku, terserah aku mau di sini atau di ruangan lainnya."" Santai Aksa.
""menjengkelkan."" kesal Bintang. "" Aku yang akan pergi."" Bintang beranjak kasar dari duduknya, melangkah ke samping agar tidak menabrak Aksa yang masih berjongkok.
__ADS_1
""Aku ingin kita menikah."" Tekan Aksa dengan Seringainya.