BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 83


__ADS_3

Dirgan dan Nata saling melempar pandang, mereka pun mengangguk bersama untuk menjelaskan ke Bintang akan kemana tujuannya.


""Kami ada acara party di club."" Jelas Nata. ""Kamu tidak boleh ikut."" Lerainya.


""Iya, betul, anak baik di rumah saja."" Timpal Dirgan.


Di otak Nata, jika Bintang ikut maka wanita mangsanya yang akan di bidik pasti menjauh karena adanya Bintang yang mengawasinya, Sementara di otak Dirgan, Jika Bintang ikut ia takut, takut kalau Bintang ikut minum alkohol dan berakhir membuat susah.


Bintang berdiri dari duduknya, menyeringai menatap Dirgan dan Nata bergantian.


""Aku akan ikut dan tunggu aku, aku bersiap siap dulu.."" telak Bintang.


Persetan dengan persetujuan dari dua pria tampan yang berdiri dari hadapannya, Bintang langsung memutuskan sendiri untuk ikut. Sementara dua pria itu hanya mengangguk pasrah seperti tulang lehernya sedang menderita stroke tidak bisa di tegakkan lagi.


""Hah, malam ini serasa akan di kawal oleh Bodyguard cantik tapi mematikan."" Frustasi Nata yang tidak bisa berkutik untuk mencari wanita 'One Night'nya jika ada Bintang yang mengawasinya.


""Hahahaha...aku slow aja."" Ledek Dirgan, ia hanya perlu menjaga Bintang dari minuman beralkohol serta dari mata liar para laki laki yang ikut hadir di party tersebut.


******


Suara dentuman musik DJ menuntun para pengunjung party untuk meliuk liukkan tubuh masing masing di club yang khusus di boking oleh pemilik pesta. Lampu khas Club berwarna warni pun berkedip bergantian menerangi lantai disco menambah suasana semakin menarik.


Kini Bintang dan kedua pria di sampingnya yakni Nata dan Dirgan sudah sampai di dalam Club.


Nata dan Dirgan mengerlyatkan matanya untuk mencari sosok pemilik party. Namun Bintang, Gadis itu sudah main duduk saja di salah satu table yang di depannya bertender.


""Nat."" Dirgan memberi kode jika pemilik party ada di salah satu kerumunan orang-orang yang sedang menikmati Wine-nya.


""Aku akan kesana, kamu temenin Bintang jangan sampai dia menyentuh minuman alkohol."" Cemas Nata yang tidak mau saudaranya menyentuh minuman yang bisa membuat orang ketagihan.


""eum, baiklah, cepat ! kita gantian mengucapkan selamat ke pemilik party."" sahut Dirgan. Nata mengangguk.


""Bin."" tepuk lembut Dirgan di bahu Bintang yang sedang meneliti sekeliling Club.


Bintang mendongak. ""eum."" sahut Bintang.

__ADS_1


""Jangan pesan minuman beralkohol."" Tekan Dirgan.


""Telat."" Cengir Bintang yang sudah ke buru mesen Red Wine di bartender pria yang berdiri di sisi table.


""ini buat aku saja."" Dirgan langsung menarik gelas berisi wine yang di sodorkan oleh bertender ke hadapan Bintang.


""Mas, suguhkan minuman non-alkohol saja untuk sahabat ku."" pinta Dirgan ke bertender.


Bertender laki laki itu mengangguk.


""Yaak.."" cibik Bintang ingin merebut red wine nya yang sedang di sesep oleh Dirgan.


Dirgan menangkap tangan Bintang seraya tangan satunya masih menyesep Wine-nya.


""Nyebelin."" Dengus Bintang.


""Hahaha...kamu minum air putih saja, tidak boleh minum alkohol nanti merepotkan."" Ledek Dirgan.


""air putih di rumah juga ada."" Cemberut Bintang. ""Boleh ya, satu gelas saja tidak mungkin mabuk kan."" rengek Bintang menggoyang goyangkan lengan Dirgan, puppy eyes pun di mainkan.


""Tidak asyik, aku ingin membuang otak eror ku, kata orang jika minum alkohol maka akan hilang semua beban di pikiran."" Bintang masih merengek.


""Tid---!""


""Kenapa tidak boleh.""


Penolakan Dirgan terpotong, saat ada suara yang menyahut seraya menyodorkan red wine ke arah Bintang.


""Ambillah."" Ucap Aksa menyodorkan gelas berisi wine ke Bintang.


Aksa yang sudah duluan berada di club seketika terkejut saat melihat sosok Bintang bersama Dirgan dan Nata, ia tidak langsung menghampiri kekasihnya melainkan memperhatikan Bintang yang lagi merengek ke Dirgan. Merasa panas cemburu, ia pun spontan menghampiri Bintang.


""Ayo ambil."" Seru Aksa kembali.


"" Tidak mau."" Tolak Bintang. Dirgan bernafas lega.

__ADS_1


Bintang berucap tidak menoleh ke Aksa, Gadis itu malah berdiri dari duduknya.


""Dir, aku mau ke toilet."" kelit Bintang yang ingin menghindari Aksa.


""Aku antar."" Dirgan dan Aksa berucap bersama.


""Cih, kalian kenapa ? aku bukan bayi yang akan di culik begitu saja."" Dengus Bintang.


ia pun beranjak dari tempatnya berdiri, meninggalkan Aksa dan Dirgan.


""Kenapa kalian ada di sini?."" Dingin Aksa bertanya ke Dirgan.


Dirgan tersenyum miring, menarik gelas dan kembali menyesap Wine-nya.


"" Apalagi kalau bukan bersenang senang, aku lihat kalian pacaran tapi Bintang terlihat acuh tak acuh."" Ledek Dirgan. ""Apa hubungan kalian bahagia."" selidik Dirgan.


Aksa mendelik tajam, ia pun memikirkan ledekan Dirgan, emang benar Bintang tidak bahagia bersamanya, Bintang hanya menerimanya sebab ancaman. Tapi.....ia bodo amat dengan itu, yang penting dirinya memiliki Bintang sekaligus ingin memberi pelajaran ke keluarga Bintang, Egois kah Dirinya ? Tentu sangat egois. Aksa ingin memaksakan kehendaknya bersama Bintang namun di sisi lain ia ingin memberi pelajaran ke orang tua kekasihnya, apa yang pantas di dapatkan untuk Aksa jika masih pengen melanjutkan niat buruknya, tentu saja Bintang akan murka kalau gadis itu mengetahuinya, anak mana yang menerima jika keluarga yang di agungkannya di usik atau di sakiti. Namun Aksa tidak memikirkan efek kedepannya, ia terlalu buta dengan sugesti kebohongan Fatur.


""Tentu saja bahagia justru kami akan melangsungkan pernikahan satu minggu dari sekarang."" Aksa menyeringai saat menyelesaikan tuturannya. ia yakin mendengar itu, Dirgan pasti sakit, bahkan sakitnya seakan di tusuk belatih runcing yang menusuk ulu hatinya.


Praaaaang....


Dirgan yang sedang menenggak wine seketika otot ototnya melemas, gelas cantik yang di pegangnya pun terjatuh ke lantai dan berhasil mengundang para mata pengunjung Club.


""Tidak mungkin , kenapa Bintang tidak menceritakan berita sebesar itu, apa kah aku tidak penting baginya sehingga tidak ada pemberitahuan."" lirih Dirgan sesak.


Hati Dirgan terluka nalar tanpa adanya darah di dalam sana. sakit sungguh sangat sakit yang ia rasakan, mungkin ini jalan kisah cintanya yang tak pernah nyata, mengenaskan. Dan mungkin ini pula jalan jika ia harus merelakan Bintang bersama orang lain. dan dirinya...tentu saja akan kumat lagi mencari mangsa bohay untuk melampiaskan sakit hatinya.


""Akhirnya aku terluka lagi."" Lirih Dirgan meledek diri sendiri.


""Apakah Bintang sudah memberi tahu mu?"" Aksa masih tidak puas mengolok olok rasa sakit Dirgan yang hanya diam tak berekspresi namun di hati Dirgan sangat hancur saat ini.


""Tapi wajar sih, Aku dan Bintang baru memutuskan kesepakatan itu tadi pagi."" Timpal Aksa.


""Selamat buat kalian dan semoga hidup kalian bahagia."" Hati yang sakit masih bisa di sematkan Dirgan untuk mendoakan kesuksesan hidup Bintang dan Aksa dalam berumah tangga.

__ADS_1


__ADS_2