
Dua bulan berlalu....
Kadang kala yang sudah di rencanakan dengan baik dan sudah lengkap dalam melakukan hal yang kita inginkan dan kita ingin raih bisa saja MELENCENG atau bisa saja ada GANGGUAN yang datang menerpa.
Seperti Bintang, Gadis itu sudah berencana ingin menyusul Dirgan di luar negeri dari dua bulan yang lalu dan selalu tertunda karena begitu banyaknya cobaan silih berganti yang datang tiba-tiba yang masuk menerpa keluarga Bintang, dari sakit parah Opanya atau Angga beberapa Minggu di rumah sakit dan berujung kematian... Sehingga membuat Omanya yakni Airin ikut ikutan sakit akibat shok yang di tinggal pergi oleh sang suami tercinta. Syukur kini Airin sudah sembuh dan sekarang tidak tinggal di Kampung lagi melainkan di rumah besar Al Miller, padahal Airin begitu kekeuh ingin tinggal di kampung yang beralasan tidak mau meninggalkan kenangan indah peninggalan Angga, Tapi keras kepala Airin berhasil di patahkan oleh Menantunya yakni Meca yang membujuknya hingga Airin pun mau mengalah dan di urus oleh Meca dan Bintang secara langsung dan penuh perhatian.
Bintang duduk di pekarangan seraya memandang rumah Dirgan yang hanya di huni oleh ART yang mengurus kebersihan rumah mewah itu.
Hampa..... tidak ada keceriaan dua bulan terakhir ini yang ia rasakan, dari awal Tragedi itu, ditinggalkan Dirgan berobat, Sampai di tinggal pergi selamanya oleh Opa tercinta di susul sakit Omanya namun kali ini Bintang bersyukur Omanya sudah sembuh.
Keluarga Dirgan sendiri dari awal pergi sampai saat ini tidak ada kabar yang masuk ke Keluarga Bintang atau pun keluarga Vane yang Notabene-nya adik dari Gion. Mereka bagaikan
Keluarga yang hanyut tertelan oleh sungai seine milik Prancis yang sekarang di huni oleh keluarga Malik yang hilang kabar begitu saja.
Bintang hanya mendengar kabar dari relasi papanya jika operasi pencangkokan jantung Dirgan berhasil dan pasien sudah sembuh sedia kala. Tapi.... kenapa Dirgan tidak memberi kabar kepadanya ? apakah Dirgan melupakannya atau di sana Dirgan sudah bahagia tanpa dirinya ? Entahlah... Bintang tidak tahu alasannya yang ia inginkan hanya ingin bertemu dengan Dirgan yang setiap hari selalu menghantui hatinya.
""Ternyata kepergian mu sangat berpengaruh terhadap hati ku, Dirgan. Aku salah menilai kasih sayang ku terhadap mu, ternyata kasih sayang itu adalah untuk cinta bukan untuk sahabat."" Lirihnya sedih.
Dugh...Dugh...Dugh...
Gelindingan bola basket menyentuh kakinya yang duduk di kursi panjang pekarangan menyadarkan kesedihannya.
Bola itu milik Gilang yang di tandai inisial M yang entah M itu Mumun monyetnya atau itu inisial marganya yakni Miller, Entah lah Bintang pun tidak tahu, yang ia tahu adik nakalnya itu susah di tebak.
""Kak !"" panggil Gilang dari lapangan basket bersama dengan monyetnya yang sedang asyik mencari kutu di bawah sinar matahari seraya duduk di sebelah tiang ring.
Bintang menoleh dengan wajah datarnya.
""Lemparkan bola ku ke sini, kak!"" Pinta Gilang ambigu dengan tangan mengudara kedepan siap menangkap.
Bintang melirik bola yang berada di dekat kakinya. Sudut bibirnya terangkat tajam, sekarang yang jadi penghibur hatinya hanya adik nakalnya.
""Kak ? ayo cepat !"" Pinta Gilang lagi seraya mengusap peluh yang menetes di lehernya menggunakan punggung tangannya.
__ADS_1
Bintang berdiri setelah bola sudah di tangan, Di apitnya bola itu ke pinggang sebelah kanan Seraya berjalan menghampiri adiknya.
""Jiahhhhhh."" Tanpa aba aba Bintang menyerang adiknya menggunakan tangan kirinya yang bebas tanpa membawa beban bola basket.
Gilang terperanjat namun kereflekannya sangat jeli membaca gerakan lawan, semenjak kejadian adiknya di tahan oleh Fatur, Gilang yang tadinya cuek dengan bela diri yang hanya menghabiskan waktu luangnya bersama Mumun kini sering berlatih dengan sendirinya tanpa di suruh, Gilang hanya sering berucap jika seorang laki laki harus kuat dan harus bisa menjaga orang orang tersayangnya.
Bagh...bugh...Dugh.. aaahh...
Bintang tersenyum devil di sela sela perkelahiannya, Ternyata Gilang dengan cepat bisa menguasai bela diri tanpa ada yang melatihnya. Bintang hanya sering melihat Gilang berlatih dengan beberapa samsak yang belakangan ini di gantungkan di taman belakang dekat rumah kayu Mumun.
Bugh...Dugh...Dugh..Dugh...
""Hahaha...rasain.""Geli Bintang. Dengan jahilnya, Gilang yang terjatuh duduk akibat ulahnya, malah di tambah kan berulang ulang kali memukul kepala adiknya menggunakan bola basket yang sedari tadi di apitnya tanpa di lepas seraya melatih kemampuan adiknya.
""Kaka...Uda dong."" Gilang masih di pukuli oleh Bintang pakai bola Namun Bintang sengaja memberi tekanan sedikit.
""Cih...lemah ! katanya mau melindungi orang tersayang ? mana ? baru segini kemampuannya."" Ledek Bintang dengan jahil menyodorkan bola basket ke bibir Gilang yang sedang cemberut akut akibat masih kala kuat darinya.
""aaaah..Uda dong..!"" pintanya lagi ""Mumuuuuun."" Kesal Gilang meminta bantuan kepada monyetnya yang sudah ahli mendengar titah darinya.
Mumun menghentikan aktivitas mencari kutu nya, menoleh ke sang empu suara yang memanggilnya. rupanya Suara Gilang sudah di On kan di otak dan di telinga Mumun.
""buat apa memanggil Mumun ? dia tidak akan membantu mu.!"" Bintang masih menjahili adiknya dengan bola basket yang kotor berdebu sedari tadi di sodorkan agresif ke area wajah Gilang yang bermuka muka incaran wanita jika sudah dewasa kelak nanti, Ciplakan Vero bercampur aduk dengan wajah mamanya namun masih di dominasi oleh Vero punya.
Mumun sudah berada di belakang Bintang yang berjongkok menjaili majikannya.
""Mumun....? Cium kak Bintang tepat di bibirnya.!"" Titah Gilang di plototi oleh Bintang dan di angguki oleh Mumun layaknya orang yang siap patuh melaksanakan perintah.
Bintang berhenti dari kejahilannya, menoleh ke Mumun yang juga menatapnya dengan bibir sudah di monyong monyongin sudah siap ingin mencium dirinya.
""Ais...Mumun..!"" Tunjuk Bintang ke Mumun. Mumun makin mendekat. Gilang sudah terbahak.
""Mumun...hus..hus..."" Bintang memainkan kedua tangannya, mengusir Mumun agar jangan maju yang ia sedang mundur mundur menghindari Mumun.
__ADS_1
""Cepat cium Mumun.!"" Kini Gilang yang menjahili kakanya.
Bintang masih mundur mundur hampir mentok di pagar dengan bermacam macam tumbuhan yang sengaja di rawat oleh tukang kebun rumahnya.
""Mumun berhenti tidak.?"" Mumun tidak menggubris Ucapan Bintang yang terdengar mengancam.
""Jangan berhenti Mumun, Cium kak Bintang sampai kehabisan nafas."" Gilang menahan sakit perut akibat terbahak melihat kepanikan kakanya yang takut di sosor oleh Mumun.
""Gilaaang.!!!"" Pekik Bintang berharap adik nakalnya itu memberi titah ke Mumun agar berhenti mengikutinya.
""Tidak mau."" Santai Gilang. anak nakal itu malah duduk santai ingin menonton aksi panas monyetnya.
Buhg..
Bintang terpojok di pagar rumah, ekor matanya menangkap gunting rumput yang berada pas di sebelahnya berdiri. Sementara Mumun semakin monyong monyong najis bibirnya yang semakin mendekat ke kakinya.
Shap... Bintang berjongkok dan berdiri cepat setelah gunting rumput di tangan.
""Berani mencium ku, akan ku sunat atau ku botaki dirimu Mumun."" Bintang mengacung acungkan gunting rumput di hadapan Mumun tapi anehnya Monyet itu masih monyong monyong Santai seakan segera minta ciuman dari Bintang.
Gilang sudah gelagapan takut dengan ancaman kakanya yang jika terpojok kakanya itu tidak pernah main main dalam mengancam.
""Jangan kak.."" Cegat Gilang langsung zig zag berdiri.
""Mumun lari..."" Frustasi Gilang memberi titah.
Cekres Cekres..
Gilang sudah telat memberikan titah ke Mumun, Bintang sudah terlanjur menggunting beberapa bulu bulu Mumun yang terlihat mengkilap akibat di saloni terus oleh Gilang khusus Pelayan salonnya adalah sang majikan.
""Huawaaa.... Mamaaaa....Mumun botak maaaa ! Mumun jadi pitak sebelah maaaaa ! Mumun sayaaaaang...nasib mu akan di tinggalkan oleh mimin..! Mimin akan mencari pasangan hidup yang tidak pitak seperti mu.""
Bintang tersenyum devil meningkalkan adiknya yang lagi nangis kejer mendukai rambut rambut geli Mumun yang di pangkas macho olehnya.
__ADS_1
Bersambung...