BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 71


__ADS_3

Bintang sudah sampai di depan showroom motor milik Dirgan, Heran dengan beberapa orang yang sedang berkumpul di depannya.


Tak ingin penasaran ia pun menoel noel punggung salah satu orang yang sedang berbisik bisik.


Spontan orang yang di toel punggungnya berbalik dan menatap Bintang dengan alis terangkat.


""Mas ! ada apa ? kenapa pada berkumpul begini?"" Tanya Bintang kepo.


""Di dalam, di dalam ada ke gaduhan Nona, bos kami sedang mengatasinya."" sahutnya.


""Kegaduhan? Maksud kamu, bos mu adalah tuan Dirgan, Bukan?"


Orang itu menggeleng. ""Bukan, namanya tuan Malik."" Ucapnya.


""tch, sama saja, Nama bos kamu itu Dirgantara Malik."" Cibik Bintang.


Orang itu cengengesan. "" Mungkin, saya pegawai baru nona, jadi saya tidak tahu nama lengkap atasan saya."" Belanya.


Bintang tak mengindahkan lagi karyawan Dirgan, ia pun berjalan membelah segerombolan pegawai Dirgan yang menutupi pintu masuk. penasaran apa yang terjadi di tempat usaha baru sahabatnya.


Bagh..bugh..bagh..bugh..


Bintang terkesiap, ia menghentikan langkahnya saat mendapati Dirgan sedang beradu kekuatan dengan seorang gadis yang terlihat tomboy dalam berpenampilan, namun wajahnya begitu manis.


""ini itu gedung yang aku incar duluan, kenapa malah kamu yang menempatinya."" Marah gadis itu di selah aksi adu kekuatannya.


""tch, aku sudah membelinya, jangan mengada-ada, aku punya buktinya."" terang Dirgan.


""Tidak di kota lama, di kota ini pun kamu masih mencari ribut dengan ku.!"" Geram Dirgan masih menepis serangan dari gadis tersebut.


""Karena kamu sudah menyakiti adik ku, dan sekarang kamu malah merebut gedung incaran ku."" kesal sang gadis.


""Adikmu saja tidak apa apa, bahkan kami sudah berteman Kenapa kamu yang ribet,sih ? aku bahkan sudah mendapat Bogeman dari mu waktu itu, dan aku ikhlas karena aku salah, tapi tidak dengan hal ini, kamu sudah membuat kegaduhan di tempat ku, jadi..."" Dirgan membalikkan keadaan yang tadinya terdesak dan hampir mendapat Bogeman di wajahnya, dengan cepat Dirgan memiting tangan gadis itu kebelakang.


""Kamu kalah dan pergi lah jangan sampai aku mematahkan tanganmu"" seringai Dirgan berbisik di belakang telinga gadis tersebut.


Bintang tersenyum seakan terhibur dengan aksi Dirgan dan Gadis manis itu, Bintang bukannya menengahi perkelahian, ia malah duduk santai di atas salah satu moge baru yang terpajang mengkilap kinclong seraya menonton.


""prook... prook..prook.."" Antusias Bintang bertepuk tangan.


Dirgan dan gadis itu menoleh ke arah tepuk tangan yang terdengar nyaring seakan meledek aksinya.

__ADS_1


""Bintang."" Ucap Dirgan.


""Cewek itu----- ?""


""iya, Bintang ! yang menumpang di taksi mu, pas insiden malam itu."" potong Dirgan. ia pun melepaskan pitingannya dan menghampiri Bintang yang sedang duduk santai di atas pajangan Mogenya.


""Bin, kamu ngapain di sini ?"" Tanya Dirgan.


Bintang tidak menjawab, ia malah memiringkan kepalanya ingin menatap wajah gadis yang tertutup oleh tubuh tinggi Dirgan.


""Woy, aku di sini."" ucap Dirgan menunjuk dirinya sendiri.


""Aku lihat."" Cuek Bintang, ia masih sibuk menatap gadis itu yang sedang merapihkan penampilannya yang berantakan.


""tch, menyebalkan."" Gerutu Dirgan yang merasa di cuekin seraya menyingkir ke samping agar sahabatnya itu puas apa yang ingin dia lihat.


""pandang saja terus."" Sindir Dirgan.


Bintang tak menggubris Dirgan.


""Rere.!"" Bintang menebak nebak, apa kah benar gadis itu anaknya Nina.


""Rere ?"" gumam Dirgan yang merasa tidak asing dengan nama itu.


""kenapa Bintang tahu nama ku ? bukannya di masa SMA kami tidak saling mengenal, bahkan dia tahu nama khusus ku."" Gadis yang bernama Rere itu bermonolog sendiri di dalam hatinya.


""yaak.. Bukan Rere ternyata."" Bintang cemberut kecewa, ia merasa Gadis itu bukan anaknya Nina, sebab tidak ada sahutan dari sang pemilik nama.


""Kamu siapa ? kenapa tahu nama ku yang jarang orang memanggil ku seperti itu.?"" selidik Rere.


Bintang mengembangkan senyum cerianya mendengar itu, ia pun melangkah panjang ke hadapan Rere, Dirgan yang mendengar itu, sudah mangap mangap termangu, ternyata selama ini yang selalu mencari masalah dengannya adalah teman masa kecilnya sendiri yang sebelas dua belas galaknya seperti Bintang.


""Jaauza Al Miller."" lagak Bintang menjulurkan tangannya seakan berkenalan dengan orang asing.


""Jaauza ? Jaauza anaknya Tante Meca."" kaget Rere. Bintang manggut-manggut manis.


""Astaga ! Kenapa aku tidak mengenali mu, padahal kita satu SMA waktu itu."" Cerewet Rere seraya memeluk rindu tubuh Bintang. begitu pun sebaliknya.


""eum, kamu terlalu cuek tidak pernah main kerumah, dan aku tidak tahu kalau kita satu gedung."" Bintang melepaskan pelukannya.


Sementara Dirgan yang melihat ke dua gadis galak itu berpelukan, diam diam melangkah mundur, ingin kabur sebelum mendapat hadiah pedas dari salah satu dari mereka atau bahkan keduanya.

__ADS_1


""Dirgan."" Bintang menyeringai, jari jarinya memberi isyarat agar Dirgan mendekat.


""Nah,kan, sinyal berbahaya."" batin Dirgan. ia pun terpaksa mendekat.


""Apa dia Dirgan yang botak dulu."" Tanya Rere yang sama sekali tidak mengenali wajah Dirgan sekarang. Bintang mengangguk sebagai sahutannya.


""Astaga, ternyata si botak dari kecil sampai dewasa pun masih senang mencari ribut dengan ku."" Sindir Rere seraya memicing tajam ke Dirgan.


""Hah? aku."" Dirgan menunjuk kasar mukanya sendiri. ""tidak salah,? kamu yang selalu mencari gara gara dengan ku.!"" ketus Dirgan. telunjuknya sekarang menunjuk kasar ke wajah Rere.


""Mulai deh."" lirih Bintang.


""Apa.?"" nyalang Rere.


""Tidak."" Dirgan mengalah, sebagai pria ia sadar diri lebih baik mengalah dari pada panjang lebar urusannya.


""Jadi, apa penyebab kalian adu jotos tadi."" Selidik Bintang Ingi menengahi permasalahan ke dua sahabatnya.


""noh, Dirgan, gedung incaran ku di tikung, seenak jidat main beli beli aja tempat ini, padahal aku dari dulu ngejar tempat strategis ini untuk jadi tempat usahaku."" kesal Rere seraya berkacak pinggang ke Dirgan.


""Yaaak, Cerewet. ada istilah 'Siapa cepat dia dapat.' "" Ledek Dirgan.


Rere memanyungkan bibir sensualnya. ""Jangan seperti itu, aku yang duluan, anak tuyul."" Umpat Rere terang terangan.


""Aku tidak botak lagi, jadi jangan panggil aku anak tuyul, apa kamu buta ? coba buka mata sipit mu, pandang ketampanan ku."" Dirgan membanggakan dirinya seraya bergaya Cool di hadapan Rere dengan gaya mengacak acak rambutnya sendiri.


""Tch, tampan sih tampan, tapi aku senang manggil kamu dengan botak saja."" ledek Rere.


""Ok, aku botak, kamu si ingus. tukang ingusan waktu kecil, bahkan ingusnya sampai netes netes ke bibir dan dengan joroknya kamu malah menjilatnya, lalu berkata ' ah, enak, rasanya asin asin gurih mantap.' "" Dirgan membuka aib Rere.


""Ais...bakalan lama kalau seperti ini."" pusing Bintang yang hanya melongo dengan bola mata selalu berpindah pindah menatap Rere dan Dirgan secara bergantian.


""Dirgan,i iih.."" Geram Rere menjambak rambut Dirgan.


""Aduh...aduh..aduh.."" Dirgan menahan tangan Rere agar rambutnya tidak tercabut. ""Rere.. Lepas tidak."" sebal Dirgan.


""Tidak mau,."" ketus Rere.


""Stooop...stooop..."" Bintang yang jengah atas percekcokan antara kedua sahabat kecilnya, berteriak nyaring di telinga Rere dan Dirgan secara bergantian.


""Apa di sini tempat adu percekcokan ? bukan tempat untuk membeli motor.?""

__ADS_1


suara berat seorang pria menghentikan aksi Bintang, Rere dan Dirgan. Rere dan Dirgan menoleh cepat, sementara Bintang mematung tanpa ingin menoleh ke asal suara.


""Suara itu...?"" Gumam Bintang.


__ADS_2