
Di luar pintu pak Wiwid, Bintang tersungging tipis seraya menatap nama yang tertulis di pintu tersebut, Wiwid Gunawan Daniar.
""Ok, aku akan menolong anda pak Wiwid untuk sekali ini saja, walaupun anda sedang menipu ku, setidaknya anda tidak matre saat aku mengimingi cek sebesar itu, untung anda tidak mengambil cek tersebut, kalau itu terjadi, pekerjaan, kaca mata serta wajah matang mu akan masuk kerumah sakit papa ku untuk melakukan operasi plastik, dan pastinya tiga ratus juta tidak cukup untuk melakukan operasi tersebut.""
Bintang menyadari kalau pak Wiwid hanya berakting untuk menahannya, dengan otak cerdasnya ia pun mengikuti alur akting tersebut untuk menguji sifat kematrean Wiwid, andai saja Wiwid mengambil cek tersebut maka Bintang dengan senang hati memberi pelajaran ke atasannya itu. Tapi ternyata Wiwid tidak seperti itu dan itu yang membuat Bintang untuk mau menolong Wiwid untuk kali ini saja.
""Jaauza."" sapa June berpapasan dengan Bintang yang baru keluar lift dengan berkas keuangan di tangan.
""Hai, June."" sahut Bintang menahan lift agar tidak tertutup. ""Mau kemana.""
""Biasalah, setor ke pak Wiwid."" June mengangkat berkas yang di pegangnya. ""Jihan sekretaris CEO berada di ruangan Anda, kenapa ya?"" Tanya June bingung.
""tch, si Aksa benar benar kupret, maunya apa sih ? ngajak perang kah?"" Bintang mengepalkan tangannya seraya membatin.
"" Saya bertukar posisi."" Sahut Bintang.
""Kok bisa, yaak..kita tidak satu lantai lagi dong."" June tidak rela kalau Bintang yang cantik ceria ramah serta lembut yang di nilainya dari sifat Bintang, akan bertukar posisi dengan Jihan yang terkenal mempunyai sikap ketus dan jutek, padahal Bintang juga mempunyai sifat tersebut bahkan Bintang nambah para kalau sudah di usik Namun June tidak pernah tahu sisi buruk Bintang.
Bintang mengedipkan bahunya tidak tahu.
""Tanya saja ke pak CEO yang dingin itu."" sahutnya lalu meninggalkan June masuk kedalam lift untuk mengantarkan dirinya ke lantai ruangan Aksa berada.
"" Nanya ke pak Aksara ? ogah deh, dari pada di intimidasi lebih baik tidak kepo."" June ogah-ogahan untuk tidak berurusan langsung oleh Aksa.
****
Di ruangan Aksa, ia menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya yang beroda seraya menatap pemandangan keluar yang terlihat dari dinding kaca besar.
__ADS_1
""Kenapa seperti ini ? Hati dan pikiran ku sedang mempermainkan ku."" Bingungnya yang harus menuruti perintah Fatur atau harus menuruti cintanya ke Bintang yang tidak pernah pudar walaupun ia sedang berada di Berlin.
""Aku sengaja mempercepat kelulusan ku demi ingin cepat cepat bertemu dengan mu, Bintang, Tapi takdir kita sedang menertawai ku."" Gumamnya.
Aksa sudah tahu kronologis hidupnya dari Fatur, dan dengan berat hati ia sudah mengetahui siapa yang menyebabkan hidup Bundanya menderita, itu adalah Keluarga Bintang, orang yang selalu mengisi hatinya.
""Apa kah kita harus bermusuhan, atau...!"" Pikiran Aksa saat ini sedang kacau setelah bertemu Bintang kembali. Hatinya ingin memiliki tapi pikirannya ingin membalas dendam ke keluarga Bintang.
Memori satu tahun lalu pas kepulangan dari Berlin pun terngiang kembali.
Flashback on.
Aksa yang baru sampai mendarat dari Berlin, ia langsung pergi kerumah Bintang berniat untuk melepas rindu serta ingin menjelaskan semuanya atas kepergiannya.
Namun takdir berkata lain, bukannya bertemu dengan Bintang malah mendapat kabar dari Vero dan Meca kalau anaknya itu sudah tidak tinggal lagi bersama semenjak Bintang berkuliah, Aksa pun menanyakan keberadaan Bintang, kemana Bintang bernaung saat ini, tapi Meca dan Vero sepakat untuk tidak memberi tahukan, orang tua itu berpikir, jika Aksa kembali datang ke hidung Bintang saat itu, anaknya akan terganggu di akhir sidang kelulusannya.
Saat ingin meninggalkan pekarangan Bintang, dari rumah tengah ,keluarlah Biru, yang tanpa ada aba aba langsung menghajar Aksa sampai wajah tampan itu babak belur seketika.
Biru memaki Aksa seraya masih menghajar Aksa tanpa ada perlawanan dari orang yang di hajarnya.
Aksa seketika menahan diri untuk melawan, saat kata kata Biru menampar hatinya, ia menerima luka lebam itu dengan ikhlas, pikirnya, Bintang pasti terluka karena dirinya, kalau ia menjadi Biru, ia pun akan menghajar orang yang sudah melukai keluarganya, bahkan luka lebam yang di dapatkannya saat ini belum setara oleh luka Bintang yang di sebabkan olehnya.
Setelah mendapat serangan bertubi-tubi dari Biru, Aksa pun pergi dan tujuannya berarah ke papanya yang ingin menagih janji Papanya itu tentang kronologis hidupnya, Bagaimana wajah Bundanya ? siapa nama Bundanya ? penderitaan apa yang dimaksud oleh papanya tentang Bundanya sampai ia terlahir tanpa tahu wajah beliau, tanpa tahu rasa kasih sayang seorang bunda.? dan siapa orang penyebab penderitaan Bundanya dan otomatis penderitaannya juga.
Aksa sudah berada di kantor Papanya, lebih tepat di ruangan kebesaran Fatur yang hanya di kenal nama oleh Aksa sebagai Damian Lionel bukan Gunfatur Gilman.
""Aku sudah menuruti kemauan papa, sekarang giliran aku yang menagih janji."" Ucap datar Aksa tanpa basa-basi dengan wajah masih lebam babak belur.
__ADS_1
Fatur menyeringai tipis, melihat ke antusiasan anaknya.
""Tch, obati dulu lukamu, sepertinya sebelum kesini, anak papa yang penurut ini habis latihan aduh samsak."" Sindir Fatur. padahal ia sudah tahu dari mata matanya kalau anaknya sudah di hajar oleh Biru tanpa ada perlawanan darinya.
""Cinta membuatmu lemah Aksa, tapi cinta pada bunda mu pun akan membuat mu marah dan kamu akan membalas kan dendam ku ke keluarga Meca."" Batin Fatur ingin membuat cerita palsu demi kepribadiannya sendiri tanpa memperdulikan hati anaknya.
Fatur memberikan beberapa lembar foto Garlin ke Aksa.
Aksa menyambut foto tersebut dengan alis menaut.
""Ini potret siapa?"" penasaran Aksa seraya meneliti dalam dalam wajah cantik namun terlihat menyedihkan.
""Siapa lagi, wanita itu adalah Bunda mu.""
Fatur dengan liciknya sengaja memperlihatkan foto Garlin yang di balik jeruji besi dengan pakaian lusu khusus tahanan di timpal perut Garlin terlihat buncit, hamil.
Aksa menahan sesak di dadanya yang tiba-tiba memburu, matanya panas tertahan namun sudah terlihat merah tertangkap oleh Fatur.
""Bunda."" Aksa mengusap wajah Garlin lewat foto itu, hatinya merasa sedih, ia baru pertama kali melihat wajah Bundanya.
Fatur diam diam menyeringai, menikmati sosok lemah Aksa namun ada kemarahan di balik mata yang sudah memerah, Fatur berpikir, baru foto yang Aksa lihat sudah ada reaksi marah di mata anaknya, bagaimana kalau sudah mendengar cerita kebohongan darinya, pasti Aksa akan murka dan itu lah yang ia tunggu tunggu.
""Siapa nama Bunda ku ? dan Siapa penyebab Bunda ku tersiksa ? apa yang sudah Bunda ku perbuat sampai sampai Bunda di penjara padahal ada aku di perutnya."" Cerca Aksa sudah tidak sabar ingin mengetahui semuanya.
""Anak pintar, pertanyaan serta kemarahan di matamu ini yang sudah papa tunggu tunggu selama ini."" Gumam Fatur yang sudah tidak sabar juga menceritakan kebohongan.
Bersambung....
__ADS_1
Tinggal kan Jejak....
Like, komen, Favorit, bunga bunga, atau Voteπ