BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 27


__ADS_3

Hari yang di nantikan Bintang telah tiba, yang kini akan pergi study touring bersama teman temannya, kecuali Biru. soalnya study ini hanya untuk kelas 12 saja, Justien dan geng cabe rawit Gissel pun terlihat dan mereka sekarang sudah berada di atas Bus pariwisata yang akan mengantar mereka menuju desa yang di sebut Bintang, tempat tinggal Oma opanya.


Hati yang ceria terbenak di hati Aksa saat ini, saat menoleh ke samping duduknya ada seorang gadis yang tertidur pulas menyandar di pundaknya. Dirgan dan Morgan yang melihat itu terbenak rasa curiga atas ke dekatan Aksa dan Bintang.


"" Bintang dan Aksa..Apa mer---!"" Batin Morgan sedih, ia menepis pikiran jeleknya.


Gissel pun memanas dengan tingkah sok romantis Aksa dan Bintang selama dalam perjalanan. dengan Bencinya ke Bintang, ia menyeringai jahat dan pindah ke bangku Justien yang berada paling belakang. panjang lebar Gissel menjelaskan seringai jahatnya ke Justien, cowok berwajah indo Jerman itu pun menyeringai tajam seraya berdeal ria menyambut kerja sama mereka.


""Pembalasan di mulai."" seringai Justien menatap lurus lurus ke bangku duduknya, Aksa dan Bintang.


Lima jam perjalanan, Bus pariwisata yang sebanyak tiga itu, sudah berjejer terparkir di depan Villa khusus yang sudah di sewa pihak sekolahan selama dua hari itu.


Semua siswa siswi pada berhamburan keluar dengan saling berebutan pintu.


""Hoeeeekk.. Hoeeeekk.."" Dirgan yang tidak kuat dalam perjalanan memuntahkan semua isi perutnya.


""Oh..Astaga."" sahabatku sedang hamil muda, ledek Bintang. tangannya membantu memijit tengkuk Dirgan.


""Biar aku yang memijitnya."" Aksa dengan malasnya mau tidak mau menggantikan tangan Bintang untuk memijat tengkuk Dirgan, ia tidak suka jika gadisnya menyentuh pria lain selain dirinya.


""Dirgan, hamilnya sudah berapa bulan.?"" Timpal Tiko dengan ciri khas bataknya.


""Hoeeeekk.."" Dirgan yang sudah tidak mual lagi, dengan sengaja ingin mengeluarkan muntahan bohongnya ke arah Tiko. seketika Tiko lari berhambur kepelukan temannya, Morgan.


""iiihhh...jijik, Kamu main peluk peluk aja, jika aku gay pun, tidak mungkin aku mencari pasangan seperti kamu, kribo."" Morgan mendorong Tiko untuk menjauh darinya.


""iiihh.."" Tiko bergidik geli, dengan ucapan temannya.


""Ayo berkumpul."" Suara pak Togar yang memakai toa menyuruh murid-muridnya untuk berbaris dan menjelaskan semua acara demi acara serta aturan demi aturan cara mendaki gunung dan apa saja yang harus di bawah.


Semua murid mengerti paham, dan berhambur untuk beristirahat sebelum mendakinya di mulai setelah selesai makan siang.


""Wah.. ternyata desa Oma keren juga, ya.."" Gumam Bintang yang berjalan jalan di sekitar tempat penginapan.

__ADS_1


"" Kamu suka, Bin---!"" Aksa menjeda ucapannya. ""Gimana kalau aku manggil kamu sweetie saja."" pinta Aksa namun Bintang menggeleng.


Bintang merasa aneh jika Aksa yang memanggilnya seperti itu, walaupun Morgan sudah menjadi mantannya tapi panggilan itu melekat khusus untuk Morgan.


""kenapa?"" cemberut Aksa.


"" Yang lain dong."" sahut Bintang seraya geli melihat Aksa cemberut seperti itu. ""kamu tidak pantas cemberut Aksa, kamu itu pantasnya bermuka datar."" Lanjutnya menggoda.


""tch.. menyebalkan."" rengek Aksa lalu menarik tangan Bintang untuk mengajak duduk di Bangku putih panjang.


Aksa tidak henti-hentinya meneliti wajah Bintang yang duduk di sampingnya, matanya sudah menyandu sendiri, hatinya seakan penuh bunga bunga cinta yang harum semerbak tumbuh di dalam sana, mungkin ini cinta pertamanya jadi seperti itu, pikiranya.


Bintang yang di tatap seperti itu jadi tersipu sendiri, ia memalingkan wajahnya lurus lurus menatap kosong apa yang ada di depan sana.


""Aku akan memanggil mu, Culun saja. Gimana.? itu kayanya panggilan unik deh.."" ucap Aksa.


""Astaga..kamu ini..! Apa aku seburuk itu yah.."" sahut Bintang. sekarang giliran Bintang yang cemberut.


""Yaaak.."" Bintang semakin mengerucutkan bibirnya, membuat Aksa semakin gemas.


""Apa mau bibir mu aku cium, Culun..!"" ucap Aksa semakin menggoda Bintang.


""Yaaak..aku hajar jika itu terjadi."" kesal Bintang.


""kenapa..? kan wajar aku mencium mu, kamu kan pacarku.""


""Bughh.."" Bintang memukul lengan Aksa dengan kuat sampai Aksa mendesah sakit. ""Dengar ya, pria datar. Ciuman aku itu masih tersegel suci, walaupun mantan ku buaaaaayak, tapi tidak ada yang berhasil mendapatkannya, karena aku tidak mengijinkannya, termasuk kamu."" Terang Bintang bersungguh-sungguh.


Aksa terperanga mendengar perkataan Bintang, antara percaya atau tidak, Apa iya, seorang gadis yang mempunyai mantan silih berganti sampai saat ini, First Kissnya belum ada yang mengambilnya, unik sekali. pikirnya.


""Aku tidak percaya."" ucap Aksa.


""tch.. terserah anda tuan datar, aku tidak menyuruh mu untuk percaya padaku, aku hanya menyuruh mu untuk jangan coba-coba untuk mencium ku, atau kamu akan menjadi mantan seperti si Morgan."" ucap Bintang bersungguh-sungguh.

__ADS_1


""Sadis sekali..."" protes Aksa lalu tiduran di paha Bintang, di atas kursi panjang itu. ""Kenapa kamu segitu menjaga bibir kamu ?"" Penasaran Aksa.


"" Karena aku akan memberikannya untuk suami ku kelak nanti."" sahut Bintang berangan angan.


""Benarkah, maka aku akan menjadi suami mu di hari indah itu."" Timpal Aksa berangan indah.


""Eum... jodoh tidak ada yang tahu, kedepannya.""


""Aku bersungguh sungguh Culun, setelah aku kerja, aku akan datang melamar mu."" serius Aksa.


""yaak.. Buktikanlah.. tapi sebelum waktu itu datang, jangan pernah pergi meninggalkan ku, menghianatiku, apalagi terang terangan menyakiti ku. atau hari itu tidak akan pernah terjadi."" peringat Bintang.


Aksa langsung tersentak, meninggalkan ? ia mengingat keinginan papanya yang akan mengirimnya ke luar negeri setelah lulus, dan hari itu tidak lama lagi, hanya satu bulan lebih lagi waktu itu tiba, ia jadi bingung sendiri, menurut atau menolak ke inginan papanya. tapi jika menolak, ia tidak bisa tahu kronologis hidupnya sama sekali, Namun jika ia menerima, maka cintanya yang akan menjadi taruhannya, dan ia tidak mau ke hilangan Bintang. Gadis yang pertama menyentuh hatinya, serta memberi warna indah di hatinya.


Bintang terdiam menatap wajah tampan Aksa yang tiduran di pahanya, di tatapnya dalam dalam wajah itu, hatinya ada rasa ingin memiliki tanpa ingin kehilangan lagi seperti yang dulu dulu. sekarang hatinya sudah di isi nama Aksa di dalamnya seperti layaknya Morgan waktu itu.


Aksa menarik kepalanya dari paha Bintang, ia ingin berbicara serius kali ini tentang kepergiannya kelak mencari ilmu di negeri orang. dan semoga saja Gadisnya itu mau mengerti dan mau menunggunya kembali.


""Bin..lulus nanti, lanjut di mana? maksud ku di luar negeri apa masih di kota kita.?"" ucap Aksa memulai pembicaraan seriusnya.


Bintang tersenyum simpul. ""Ngapain di luar negeri, di negeri kita saja banyak universitas unggul, di luar dan di dalam sama saja bagi ku, yang penting niat kita bersungguh-sungguh ingin belajar."" jelas Bintang.


Aksa nampak berpikir, benar juga kata Bintang, jika kita bersungguh-sungguh pasti hasil tidak akan pernah mengecewa kan, tidak secara langsung ia mendapat solusi dari gadisnya itu, ia akan berbicara ke papanya untuk melanjutkan kuliahnya di universitas di dalam negerinya saja, dan semoga papanya mengerti keinginan nya dan jika seperti itu, ia tidak usah kehilangan cintanya.


""Terimakasih, Culun.. kamu telah membantu ku."" senang Aksa menarik hidung mancung Bintang.


""eits..yaak.. kamu membuat hidung ku merah, pria datar."" cemberut Bintang.


""Apa Bibirmu perlu di cium, aku bilang jangan cemberut seperti itu, kamu tidak secara langsung meminta ku untuk mencium mu."" Ucap Aksa dan bergegas berdiri meninggalkan Bintang sebelum di pukul lebih keras lagi


""Yaaak.. menyebalkan."" dengus Bintang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2