BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 75


__ADS_3

""Tuan, silahkan lewat sini.""


Alex, asisten bermuka dua itu, setelah kepergian Aksa dan Bintang dari area parkiran, kini sedang terlihat menggiring tuannya, yakni Gunfatur Gilman ke ruangan khusus yang berada di perusahaan Aksa.


Mereka sudah sampai ke ruangan yang tertuju, lebih tepatnya di ruangan sekretaris Aksa, Bintang.


No..... tujuan aslinya bukan di ruangan yang sering di tempati Bintang untuk diam bekerja melainkan di balik tembok pas di belakang kursi kebesaran Bintang terdapat ruangan rahasia yang Aksa dan seluruh pegawai lainnya tidak mengetahuinya, kecuali Alex dan tentunya Fatur yang mendekor ruangan khusus itu, walaupun sang empu perusahaan adalah Aksa tapi yang merancang pembangunan adalah Fatur sendiri di bantu oleh sang arsitek.


""Tuan Fatur, apa kah sudah tepat menaruh bukti asli ini di sini."" ragu Alex seraya menaruh bukti kebenaran kejahatan tuanya.


Bukti kebenaran kasus dirinya dan Garlin yang di dapat secara licik di beberapa tempat sudah di amankan di ruangan tersebut, kecuali bukti yang di pegang oleh sang ahli hukum, Meca. Fatur tidak berani mengusik bukti akurat yang di pegang oleh Meca, takut, Takut kalau Meca mengetahui pergerakan dan rencananya.


""kenapa kamu ragu, ini tempat yang paling aman, Aksa tidak akan tahu tempat ini."" Yakin Fatur.


""Kalau nona Bintang, bagaimana ? saya takut nona itu mengetahui ruangan ini."" kata Alex.


""Jangan khawatir, gadis itu tidak akan tahu, dia tidak sepintar Meca dan Vero, buktinya saja, mau maunya dia menjadi sekretaris padahal kekuasaan keluarganya begitu di pandang."" Fatur meremehkan anak dari musuhnya, Bintang. berucap pun seraya membidik menggunakan pisau pisau kecil ke arah foto Meca, namun sasarannya selalu meleset mengenai foto Gilang.


""Kenapa anak kecil ini yang selalu kena sasaran ku."" kesal Fatur ingin membidik foto Meca namun selalu meleset.


Alex hanya berdiri tegak menyaksikan kekesalan tuannya yang begitu berambisi ingin membalas dendam sampai anak pun di korban kan untuk menjadi pionnya.


Namun ada keraguan di pikiran Alex terhadap keyakinan Aksa kepada orangtuanya, Tuan mudanya itu sampai sekarang belum bertindak padahal ia sudah memberi bukti bukti palsu yang memberatkan keluarga Bintang kepada Aksa, namun Aksa masih mengabaikan bukti palsu tersebut.


Apa Aksa punya rencana sendiri untuk menjalankan rencananya ? atau memang Aksa tidak mau membalas dendam karena cintanya ke Bintang yang menahannya.? Entah lah, Alex hanya seorang pesuruh yang harus patuh menerima gonggongan dari majikannya.


""Kalian harus bertekuk lutut di hadapan ku, Meca, Vero, dan itu akan sebentar lagi kalau buah hati mu masuk kedalam genggaman ku."" Ambisi Fatur begitu menggebu-gebu, kini sasaran bidik kan pisaunya meleset ke foto Bintang sehingga yang terkena runcingnya pisau tersebut kedua anaknya Meca, Bintang dan Gilang.


""Buah hati mu ada dua ? Gilang Al Miller serta Jaauza Al Miller, menarik ?"" Seringai Fatur pun terlihat saat otak liciknya memberikan ide yang pastinya sangat ekstrim dan jahat bagi sang empu foto yang terkena bidikan pisau.


""Tuan maaf sebelumnya, kalau bisa kita jangan meremeh kan nona Bintang, Asumsi saya dia adalah gadis kuat dan pintar."" Alex tiba tiba mengingat saat terkena bogeman Bintang di bagian perut saat dirinya tidak sengaja mengejutkannya.


""Wanita tetap lah wanita, lemah. tapi kalau kamu penasaran kita akan beri pelatihan buat gadis yang hidupnya sebentar lagi akan menyedihkan."" Fatur kembali berimajinasi ekstrim.


""Baik, tuan. secepatnya saya akan uji."" Senang Alex mendapat kesempatan.

__ADS_1


Fatur kembali berpikir keras seraya memperhatikan bukti bukti kejahatannya terhadap Meca. setelah mendengar peringatan Alex tentang Bintang, ia mulai ragu untuk menaruh bukti sebenarnya di tempat itu.


""Lex, kita bawa saja bukti yang asli ke tempat lain,."" Titah Fatur berubah pikiran, ia tidak mau mengambil resiko kalau Aksa maupun Bintang mengetahui ruangan rahasia tersebut.


""Siap tuan."" patuh Alex mempeking bukti palsu dan bukti asli untuk segera di pisahkan. Alex pun mengekor Fatur keluar terburu buru tanpa memperhatikan barang bawaannya yang sedikit berantakan.


******


Mobil Aksa sudah terparkir rapih di depan Cafe milik Meca. Bintang, Gadis ceria itu langsung berhambur turun dari mobil tanpa menunggu Aksa yang masih sibuk membuka seat belt-nya.


""Bin, tungguin ?"" panggil Aksa dari dalam mobil.


""Ayo buruan."" Sahut Bintang berteriak.


Seat belt baru saja terlepas, Aksa sudah di tahan lagi oleh suara nada dering yang masuk dari selulernya. Aksa pun memberi kode tangan ke Bintang agar masuk duluan saja sebab yang nelpon adalah papanya.


""Beeehh...tadi di suruh nunggu, sekarang di usir."" Gerutu Bintang seraya pergi meninggalkan Aksa menuju pintu masuk Cafe.


Bintang menyunggingkan senyum manisnya setelah mendapati sahabat serta sepupunya sudah berkumpul di meja bundar.


Semua mata di meja itu menatap Bintang dengan alis bertaut, smirk tipis pun terukir di bibir mereka masing masing.


""Dengar tidak, tadi perasaan ada suara Bintang tapi kok orangnya tidak ada."" Jail Dirgan seraya mengintip ke kolom meja mencari pemilik suara tersebut.


Rere, dan Biru serta Nata sudah terkikik geli melihat ke Jaiman Dirgan, Sementara Bintang yang merasa di ledek sudah mengeluarkan nafas hidung kempas kempis Bantengnya siap menyeruduk kepala Dirgan yang pas di depannya.


""Dir, aku di sini."" Bintang menoel bahu Dirgan masih menahan sabar.


""tuh, kan, bahkan terdengar nyata, setan kali yah."" Jail Dirgan menepis tangan Bintang yang masih meneol noel bahunya.


""hihihi...iya..aku adalah setan...apa kah ini yang namanya Dirgahayu, aku lapar ingin memakan mu."" Bintang yang merasa di jaimin, ikutan jaim dengan suara di buat buat seram.


""Hahahaha..."" Tawa Rere, Biru, Nata, dan Dirgan, kompakan.


""Yaaa.. kalian."" Dengus Bintang, namun terukir senyum manisnya.

__ADS_1


""Ayo duduk."" ucap Biru. Bintang menggeleng.


""Kenapa ?"" Heran Nata.


""Satu, dua , tiga, Empat."" Bintang menghitung kursi yang sudah terisi semua.


Dirgan mengerti sindiran Bintang yang tidak ada lagi kursi kosong untuknya, ia pun berdiri dan langsung menarik Bintang agar duduk di kursinya, dengan cepat Dirgan menarik kursi di meja lain untuk ia duduki sendiri.


""Hanya Dirgan yang pengertian."" puji Bintang, sedetik kemudian gadis itu main sedot jus milik Dirgan yang masih tersisa setengah.


""yaaak.., memuji sesaat, minuman ku tandas tersedot."" Sindir Dirgan.


Bintang tersungging manis tanpa dosa.


""Yaelah, Dir, pesan aja lagi., hitung hitung kamu sudah di cium oleh Bintang melalui sedotan, kamu kan Ci---!""


Bugh...


Ceplas ceplos Nata terhenti saat kaki Dirgan sengaja menendang tulang betisnya. Dirgan sudah mewanti-wanti mulut licin antara Rere atau Nata pasti akan keceplosan tentang rasanya ke Bintang.


mendengar ucapan Nata yang terputus, Bintang melirik sekilas wajah Dirgan yang berubah aneh lalu kembali sibuk dengan makanan di depannya.


Sekarang mata pada tertuju ke Nata yang masih meringis, sementara Dirgan memasang muka datarnya.


""Nat, sekarang kamu yang aneh, apa ada setan yang nemplokin ?"" Songong Rere.


""Bukan, Nata palingan lagi kebelet pipis.!"" polos Brownies, Biru.


""Itu bukan meringis biasa, tapi lagi meringis kepingin."" Timpal Bintang asal asalan. seraya menyomot makanan Dirgan yang hampir masuk ke mulut pria itu.


""Kepingin apa Bin.?"" Biru dan Rere yang tidak tahu kelakuan asli Nata merasa bingung, bertanya pun sangat kompak.


""Kepingin di hajar."" Celetuk Dirgan seraya melotot ke arah Nata yang juga melototinya.


Bersambung...

__ADS_1


Vote...Vote...Vote..


__ADS_2