
Detik berganti menit, menit pun berganti jam. Namun gelap belum tergantikan di malam yang panjang penuh duka pilu di dalam keluarga Bintang.
Semua orang sudah sampai di salah satu rumah sakit yang di kelola atas nama keluarga Al Miller. Bahkan Rere juga di sana kecuali Yola, Reina, dan Nina, mereka bertiga harus menjaga kesehatan Airin dan Angga yang sempat menurun kesehatannya akibat shok mendengar Bintang di sekap oleh Fatur, namun orang tua itu menolak untuk di bawah ke rumah sakit.
Saat ini, Bintang duduk frustasi di lantai depan ruang operasi ruangan Dirgan dan Aksa secara bersamaan, dengan kaki bertekuk untuk menjadi pelukannya, Kepalanya pun ikut di tenggelamkan di dalam dekapan lututnya. Tidak ada yang mendekat, karena Bintang menolak untuk ada yang mendekatinya, bahkan Orang tuanya pun menyerah dengan keras kepala Bintang yang menyalahkan diri sendiri.
""Cih, sahabat dan anak macam apa aku ini, tidak berguna..!"" Lirih rutuknya untuk diri sendiri.
Bintang memejamkan matanya sengaja mengingat kejadian detik detik tertembaknya Aksa dan Dirgan secara bergantian, sesak dan sakit langsung di rasakannya di saat bayangan itu terlintas. Hatinya menjerit marah merutuki lagi dan lagi untuk diri sendiri.
Pikirnya, Sebagai Anak ia tidak bisa menjadi perisai mamanya, Justru orang yang sempat di Bencinya beberapa jam yang lalu malah menjadi penolongnya. di sisi lain, Bintang juga merutuki dirinya tidak becus sebagai sahabat, dari dulu Dirgan selalu ada menolongnya sampai saat ini. dan Gara gara menolong dirinya, sahabat tersayangnya itu dalam rangka bertarung nasib baik atau buruk.
""Kalian harus selamat, aku mohon... bertarung lah, lawan rasa sakit kalian, demi aku demi semuanya dan demi menahan amarahku setelah ini. oh, tuhan...beri mereka kehidupan lagi, aku rela menggantikan posisi mereka, Mereka sudah sangat berjasa dalam hidup ku dan hidup orang tua ku."" Pilu lirih isak Bintang di bawah pelukan lututnya.
Ceklek....
Pintu ruangan operasi terbuka, keluar dari sana sepasang kaki suster yang terlihat di mata Bintang yang terduduk di lantai bahkan telinga semua sudah bersiaga Ingin mendengar berita apa yang akan di sampaikan oleh sang suster.
""Maaf, dengan keluarga tuan Aksara."" Ucap sang suster.
Fatur yang berdiri seorang diri di pojokan terkesiap dan berlari menghampiri suster. Fatur hanya bisa berdoa kalau suster tidak berbicara yang tidak ingin di dengar olehnya tentang kondisi Aksa.
""Iya, sus. saya papanya."" Ucap Fatur dengan cepat.
""Anak bapak sedang membutuhkan darah, tapi darahnya sangat langkah, hanya beberapa orang yang punya golongan darah seperti itu."" tutur sang Suster dengan cepat.
Bintang seketika mengingat masa masa baru mengenal Aksa, di waktu itu Aksa bercucuran darah di tangannya saat mencengkeram mata pisau Mario di kala akan di tancapkan ke dirinya dan Aksa dengan cepat menahan pisau tersebut.
Aku akan mengobati luka ku dulu, darah ku sangat langkah, jika aku kenapa kenapa apa kamu mau bertanggung jawab.
""Ternyata benar."" Gumam Bintang.
__ADS_1
Bintang dan Meca beranjak ke hadapan Fatur dan suster tersebut.
""Ambil darah aku sus.!"" Kompak Meca dan Bintang.
Fatur menatap ke-duanya dengan tatapan sendu penuh dengan rasa penyesalan dan mungkin tatapan rasa terima kasih mungkin.
""Apa kalian Bergolongan AB Negatif.?""
Bintang dan Meca menggeleng.
""Ayo sus, ambil darah saya ! Golongan darah saya dan anak saya memang langkah."" Fatur akhirnya bisa bicara setelah mendapat sela kekhwatiran Bintang dan Meca.
Fatur dan suster beranjak cepat, Fina terlihat kosong saat ini, tidak ada suara tidak air mata yang tumpah, matanya hanya memandang kosong ke lampu operasi yang masih menyala, dan itu membuat Gion menjadi cemas dengan keadaan istri dan anaknya. baru kali ini Gion melihat Fina terpuruk dalam semasa hidup bersama.
""Berjuang lah, Boy...! buat Mama mu, buat kita semua.!"" Gumam Gion dalam hati.
Sementara Biru dan Vero di ruangan lain sedang menangani anak nakalnya yang masih pingsan akibat kandungan obat bius Yang ternyata sangat berefek di tubuh Gilang yang mempunyai alergi tersendiri.
""Bagaimana, Om.!"" Ucap Biru. Setelah Vero menyuntikkan penawaran obat alergi untuk Gilang yang khusus di buatnya sendiri di Lab.
Biru menggeleng dengan maksud untuk jangan berterima kasih sebab itu memang tugas bersama untuk saling menjaga sesama keluarga.
""Jangan sungkan Om, Gilang adik aku juga yang harus di utamakan, kalau begitu Biru akan pergi ke area ruangan operasi.""
Vero mengangguk. ""Ayo, kita ke sana bersama,biar suster yang menjaga Gilang.""
Di depan ruangan operasi, Bintang masih saja menyendiri, Nata dan Rere baru maju selangkah ke hadapannya langsung di beri tatapan tajam. dan Akhirnya sahabatnya itu mengalah.
""Ma.."" Ucap Vero ke Meca. Meca langsung berhambur ke dekapan suaminya berharap ada kenyamanan.
""Gilang gimana ?"" Ucap Meca setelah melepas pelukannya, Namun sama saja..belum ada ketenangan hati yang ia dapatkan
__ADS_1
""Masih pingsan, tapi tidak masalah, detak jantungnya sudah normal dan akan membaik setelah obat anti virus itu bereaksi.""
""Aku akan ke sana sebentar."" ujar Meca berlalu, dan Vane serta kemal yang mendengar itu seketika mengikuti langkah Meca, sama... berniat untuk melihat keadaan Gilang.
Biru menatap Nata dan Rere yang sedang memberinya kode. Kode Rere dan Nata agar Biru mau menenangkan Bintang yang terlihat hancur saat ini.
Biru mengangguk paham. Dengan cepat ia ikutan duduk di lantai di hadapan Bintang, dan Bintang pun mendongak dengan tatapan tajam memerah di maniknya.
Namun bukan Biru jika tatapan menakutkan itu bisa menciut, Biru malah menoyor kepala Bintang dan detik kemudian ia segera memeluk Kaka sepupunya itu.
""Bagus Boy.."" Gumam Titan dalam hati, ia jadi ingat masa masa mudanya bersama Meca yang selalu saling sport baik suka maupun duka.
""Sa..."" Bintang terisak pilu terseduh seduh di dalam dekapan Biru yang tadinya meronta agar Sepupu yang bernama lengkap Sagara Biru Sunjaya itu menjauh darinya, Niat Bintang, ia tidak mau kekesalan dan kemarahannya untuk diri sendiri berimbas ke orang tersayangnya.
""Iya....Ni aku, Sagara mu...adik mu..pukulah untuk melampiaskan hati hancur mu."" Biru dengan sayang mengelus lembut punggung Bintang naik turun untuk sekedar memberi ketenangan sesaat, Jujur...Biru juga merasa takut kehilangan Dirgan yang sudah seperti kakanya sendiri. Dirgan lah di antara mereka bertiga di masa kecil selalu mengalah dengan sikap Manja Biru ke orang dekat dan sikap galak Bintang.
Ceklek....
Ruangan kembali terbuka, dan Sekarang dokter yang keluar di sana.
""Dokter Samuel ?"" Vero dan yang lainnya dengan cepat beranjak ke hadapan Dokter Samuel.
""Dari kedua pasien sudah di keluarkan timah panas tersebut Tapi di Antara mereka......."" Dokter Samuel menjeda untuk mengambil nafas panjang. Semua masih menunggu wajah lesu Dokter Samuel berekspresi mengeluarkan suara.
""Diantara mereka...satu yang terluka Serius, timah itu merusak dinding selaput jantungnya."" Jelas Dokter Samuel.
""Siapa...?"" Pekik mereka bersama kecuali Bintang yang langsung terperosok lemas ke lantai.
Bersambung...
Vote...Vote...Vote...
__ADS_1
Promosi karya teman Author, jika berkenan...kepoin Guys...!