BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 60


__ADS_3

Aksa yang mendengar nama Bintang yang keluar dari mulut latah Wiwid, langsung mengikuti arah pandang Wiwid ke belakang.


""Bintang."" Senangnya.


Namun senangnya langsung tertelan sesaat setelah mengerlyatkan matanya ke isi meja Bintang.


""Dirgan ? dan....? pria yang menjemput Bintang.?"" Monolognya.


Aksa tidak mengenali Nata.


rasa senangnya berubah menjadi rasa panas terbakar cemburu saat Nata tanpa sengaja menyentuh tangan Bintang yang akan mengambil tissue secara bersamaan, dan dengan perhatian Bintang, Gadis itu malah membantu Nata membersihkan Jas yang terkena cipratan air karena ulah dari kecerobohannya.


Merasa panas cemburu karena Gadis yang di cintainya begitu mesra dengan pria lain, Aksa pun menyuruh Wiwid untuk menyusul Bintang supaya duduk bersamanya dengan alasan pekerjaan.


""Cepat."" Titahnya ke Wiwid.


""I i iya pak."" Gugup Wiwid spontan berdiri cepat.


""Ya Tuhan, Aku merasa terhimpit lagi, antara Bos CEO dan Nona Jaauza yang mempunyai sosok galak tersembunyi."" Doa frustasi Wiwid, sebab dirinya lagi lagi harus memaksa Bintang.


""Nona Jaauza."" Sopan Wiwid berucap pelan di belakang kursi Bintang.


Bintang dan Dirgan serta Nata menoleh Serempak dengan tatapan tanya.


""iya , pak, ada yang bisa saya bantu.?"" sahut Bintang.


""iya Nona, sangat !"" Sahutnya. lalu Wiwid menyampaikan pesan Aksa dengan suara kecil seperti berbisik.


Pesan sudah tersampaikan, Bintang pun menoleh ke belakang tertuju ke meja Aksa yang lagi tersenyum kepadanya.


""Yaaak...Aku kira hanya pak Wiwid yang mewakili perusahaan di gala dinner ini."" Gumamnya.


Wajah Bintang langsung terteduh cahayanya, ia tidak menyangka jika bertemu Aksa dan harus makan malam bersama.


""Ayo Nona."" Harap Wiwid.


""pak Wiwid duluan saja."" Sahut Bintang


""Tap...""


""Tenang saja, ok."" Potong Bintang, ia tahu kalau Aksa pasti mengancam pak wakil yang malang itu.


""Baiklah, saya permisi."" Sopan Wiwid ke Bintang dan Nata serta Dirgan.


""Ada apa Bin.?"" Tanya Dirgan.


""Iya, ada apa? padahal aku belum menjahilimu tapi sudah terteduh tuh cahaya."" Timpal Nata.


""Ada bos bengek disini.!"" celetuk Bintang malas.


Nata tidak paham, ia hanya menyerinyit bingung. Sementara Dirgan, ia langsung paham maksud Bintang, dengan cepat Dirgan mengerlyatkan mata tajamnya untuk mencari sosok tersangka

__ADS_1


""Aksa? ah..sial.!"" umpatnya.


""Hey.. ! sekarang Dirgan menimpali wajah terteduh Bintang."" Sindir Nata yang melihat perubahan wajah Dirgan.


""Kenapa sih?""penasaran Nata.


""Aksa juga ada, dan Aksa sekarang yang menjadi bos Bintang."" terang Dirgan.


Nata menoleh cepat ke Bintang yang sedang mengangguk membetulkan.


""wah...pawang hati sudah muncul ternyata.!"" Celetuk Nata ke Bintang.


""pala peang."" umpat Bintang memukul lengan Nata.


""Ya sudah, aku ke meja Aksa dulu, aku yakin kalau perintahnya tidak di laksanakan maka dia akan menjadi monster di tempat Om kemal."" Ucap Bintang.


Bintang tidak mau, kalau acara Omnya berantakan hanya karena ulahnya yang tidak menuruti Aksa.


""Bin.."" Cegat Dirgan saat Bintang sudah berdiri.


""Eum.."" Sahut Bintang.


""Apa perlu aku temanin."" tawarnya.


""Tidak usah, aku bisa."" Bintang tersenyum manis ke Dirgan lalu kembali melanjutkan niatnya untuk menghampiri Aksa.


""Senyuman mu, membuat ku tenggelam."" Ucap Dirgan keceplosan di depan Nata.


Dirgan tersadar akan pengakuannya, ia merutuki diri sendiri.


""Dirgan ?"" Selidik Nata, alisnya terangkat meminta penjelasan dengan ucapan Dirgan.


""Apa ? aku jijik di pandang seperti itu, jangan bilang aku akan di bawa ke ranjang 'One Night' mu."" Dirgan mengalihkan pertanyaan Nata.


""iiih...najis juga tuh mulut, Aku masih normal, Burung ku masih suka di kurung di sangkar burung wan......""


Tiiiilll...


""Mulut mu yang najis."" Potong Dirgan menyentil bibir mesum Nata.


""tch, Naksir Bintang ya."" Goda Nata.


""Diam, tidak seperti itu."" elak Dirgan merasa gugup dan gelagapan seperti cacing tergigit semut.


""Hahaha.. aku tahu"" Nata semakin jadi meledeknya.


""kalau tahu maka diam saja, awas jan....""


""jangan menganjam, aku tidak akan ikut campur urusan pribadi mu, tapi... kalau memang suka jangan di pendam, nanti akan di tikung oleh Aksa lagi, nyaho, nangis kejer tuh hati ."" Ledek Nata


Saran Nata berhasil membuat hati Dirgan terketuk, ada benarnya juga perkataan Nata, harusnya ia memperjuangkan ke inginan hatinya, harusnya ia bisa menyatakan niat hatinya, masa bodo dengan penolakan Bintang. toh, setidaknya ia bukan pengecut lagi yang hanya sakit, sakit, dalam diamnya, pikir Dirgan.

__ADS_1


""Tapi... sahabat ? apa kabarnya nanti ?"" batin Dirgan jadi dilema.


Dirgan kembali down, keberaniannya kembali menjerit menciut kalau memikirkan penolakan Bintang. kedepannya, persahabatannya pun akan ikut canggung dan lebih parahnya akan bisa hancur, pikirnya.


""Aku tidak berani Nat."" rengeknya.


""tch..dasar."" Nata geleng geleng pusing sendiri dengan sikap pengecut Dirgan.


""andai Bintang bukan saudaraku, uda kuhempas kan semua laki laki yang akan mendekatinya, termasuk sahabat bodoh seperti mu."" jengah Nata ke Dirgan.


Sementara Dirgan kembali ke mode cemburunya saat Bintang sudah mulai duduk di meja Aksa.


Di meja Aksa, Bintang hanya memberi wajah datarnya saja, duduk pun tidak ada kata permisi, Entah memang dasarnya pantatnya yang tak sabaran ingin duduk atau memang mulut Bintang yang sedang terkunci mengucapkan salam hormat ke para atasannya.


""Anda seorang yang berani di depan atasan, Nona Jaauza."" Batin Wiwid. lagi lagi ia terkesan dengan pendirian Bintang yang tidak gampang di tindas, walaupun seorang CEO seperti Aksa.


""Ada apa.?"" Serang Bintang bertanya dengan nada ketus ke Aksa.


Mata kucing milik Bintang dan mata elang Aksa saling beradu dengan tatapan tajamnya.


""Kenapa menghadiri gala dinner ini dengan bergabung di perusahaan lain, apa anda mau menikung perusahaan saya.!"" Ucap Formal Aksa. ia berniat menahan Bintang di mejanya dengan menggunakan alasan pekerjaan.


""Yaaak.."" Geram Bintang tertahan, ia masih punya malu di tempat Omnya, kalau tidak ia akan mengoceh panjang lebar ke Aksa.


Sementara Aksa merasa menang tidak mendapat sahutan cacian dari gadis galak di depannya.


""Sebagai sekretaris, anda seharusnya mengikuti Bos anda kemanapun, tidak dengan pergi bersama perusahaan lain."" Aksa semakin menjadi menyindir Bintang.


""Si kampret, nguci kesabaran ku."" Batin Bintang semakin geram. ia meluapkan kegeramannya dengan cara menginjak kaki Aksa dengan sepatu hak runcingnya.


""Aww."" latah Wiwid menjerit kesakitan sehingga mata orang memandang aneh ke meja Aksa.


""Maaf pak, kaki ku di gigit sepatu orang."" Celetuk Wiwid masih meringis.


""adauuw.. salah sasaran."" batin Bintang seraya tersenyum tanpa dosa ke arah Wiwid.


Aksa yang mendengar alasan Wiwid, seketika mengerti maksudnya, dengan cepat kakinya di tarik agar Bintang tidak bisa menjangkau kakinya.


""Jangan membuat ku malu pak Wiwid."" dingin Aksa.


""Maaf pak."" Sesal Wiwid yang aslinya bukan kesalahannya.


Cup...


Bintang yang cuek dengan Aksa tiba tiba mendapat ciuman pipi dari orang yang baru datang berdiri di belakang Bintang.


""Damn.."" Umpat Aksa yang melihat ada orang yang terang terangan mencium mesra gadisnya di depan mukanya.


""Apa yang...."" Bintang menoleh dengan cepat bersiap siap merongrong keras namun tertahan saat melihat siapa orang itu.


Bersambung.....

__ADS_1


Vote....Vote...Vote...😘


__ADS_2