
Hari demi hari berlalu, Setelah kepulangan dari study touringnya, Aksa dan Bintang semakin dekat dan saling mencintai satu sama lainnya, membuat Dirgan semakin sakit dalam diamnya, dan semakin pula menjadi Playboy cap bohaynya untuk bertopeng, Morgan pun sama, selalu sakit jika melihat Bintang jalan berdua dengan Aksa.
Tidak ada hari yang terlewat tanpa bertemu, bukan hanya di sekolahan, Namun di rumah Bintang pun sama. Aksa berusaha mendekat kan diri ke keluarga Bintang, Baik dengan Meca maupun Vero.
Walaupun sering dapat tatapan misterius dari Meca, Aksa tidak masalah. Justru ia malah tertantang untuk mendapatkan restu dari orang tuanya Bintang. dan salah satu itu pula yang membuat Aksa semakin tidak mau jauh dari Bintang karena Bintang mempunyai keluarga yang harmonis, hangat dan lengkap. Aksa banyak mendapat kan kehangatan keluarga dari keluarga Bintang.
Meca dan Vero tidak mau main seenaknya mengatur atur urusan pribadi anaknya, mereka bukan tipe orang tua yang apa apa harus tunduk oleh orang tua jika masalah jodoh. Mereka membebaskan Bintang untuk memilih pacar asalkan orang itu baik dan intinya Bintang harus bisa jaga diri serta harus tahu sampai dimana batas kewajaran dalam asmara yang masih di bilang dini itu.
Di mata orang tua Bintang, Aksa memang anak yang baik, anak itu merubah kehidupan dinginnya, merokok dan selalu berantem di luaran sana sudah tidak berlaku lagi, Dan Meca tahu itu karena Meca selalu menyuruh suruhannya untuk mengikuti Aksa, apa saja yang di lakukan di luar jika tidak bersama anaknya, Bintang.
Namun Meca selalu kalah jika menyangkut mengorek keluarga Aksa. walaupun sudah bertanya langsung ke Aksa, seperti siapa nama orang tuanya, kerja apa dan lagi sibuk apa.
Aksa memang menjawab, Namun seadanya yang ia tahu, memang kenyataannya kronologis hidupnya masih tertutup rapat, Aksa hanya mengetahui nama ayahnya saja, yang kenyataannya bukan nama Asli sang papa yang di sebutkan, tapi nyatanya Aksa pun tidak tahu jika papanya menyamarkan nama aslinya.
Menurut informasi yang di dapat kan dari Aksa, Meca langsung mengorek lebih dalam lagi, siapa orang tuanya Aksa, Tapi hanya kekecewaan yang di dapatkan oleh mamanya Bintang itu, Memang betul, nama yang di sebut Aksa sebagai pemilik perusahaan yang lumayan maju di eranya sekarang. tapi pahitnya, Meca ingin bikin janji tapi selalu di tolak halus dari pihak pekerja papanya Aksa.
Seperti hari ini, Mama Bintang itu baru keluar dari lobby kantor orang tua Aksa, Namun jika di lihat dari wajah cantik yang sudah berumur itu, pastinya hanya membawa kantong kosong kerompong yang di bawahnya pulang.
""tch.. sombong sekali orang tua Aksa, dan kenapa pula aku masih penasaran seperti apa muka sombong itu? menyebalkan."" Meca mendengus kesal memukul stir mobilnya dengan kuat, memandang gedung perkantoran orang tua Aksa dari dalam mobil meticnya.
Di dalam kantor, lebih tepatnya di ruangan khusus CEO, Seorang pria paruh baya tersenyum misterius seraya duduk di bangku kebesarannya di temani asisten pribadi yang baru saja melaporkan kedatangan Meca ke kantornya.
""Belum saatnya kita bertemu, Ketua hakim yang terhormat."" Gumamnya dengan nada mengejek.
""Tunggu beberapa tahun lagi setelah anak ku lebih dewasa dari sekarang, keluarga Miller. padahal aku sudah tidak tahan melihat kalian menderita, apa pun caranya aku akan membalas kalian."" lirihnya dengan mata penuh kebencian.
__ADS_1
****
Lagu romantis yang menyala di radio mobil Aksa menemani perjalanannya yang ingin berkunjung ke rumah Bintang.
Mobil Aksa sengaja di pinggir kan saat melihat sosok nenek tua yang bawaannya banyak, ingin menyeberang namun hanya maju mundur tidak berani melangkah menyebrang.
Aksa turun dari mobil sportsnya, menghampiri nenek tua yang memakai kain rapih yang di lilitkan di pinggangnya.
""Nen---"" Belum juga Aksa menyelesaikan ucapan niat baiknya, Nenek itu sudah mengangkat tinggi tinggi kain lilitannya, berjalan cepat menjauh dari Aksa, takut. Takut karena penampilan Aksa seperti preman pasar yang jeans panjangnya bolong di bagian lutut.
""Nenek, tunggu."" panggil Aksa seraya membawa satu kantong keresek yang di jatuh kan oleh nenek tersebut.
Mobil matic putih berhenti tiba-tiba saat melihat Aksa melangkah panjang dan cepat mengejar Nenek tua.
""Itu Aksa, kan? mau apa dia mengejar nenek tua, apa mau merampok, hah? yang benar saja.?"" Meca menutup mulutnya sendiri melihat aksi Aksa, Namun ia mengurungkan niatnya untuk turun dulu, ia penasaran apa yang akan di lakukan pacar dari anaknya itu.
""Nek..tung---."" panggilan Aksa terhenti saat nenek itu menoleh ke belakang, melempari Aksa dengan buah jeruk yang baru di keluarkan dari keresek yang di pegangnya.
""Pergi tidak, jangan ganggu nenek, nenek sudah tua, jangan di godain, masih banyak gadis muda yang berkeliaran."" Nenek itu memukul mukul kepala Aksa dengan tenaga tangan tuanya.
Mulut Aksa melongo lebar, ternyata niat baiknya untuk menolong malah di salah artikan oleh nenek tua itu.
""Aww..nek.. jangan di pukuli."" Memelas Aksa, tapi tangan kekarnya tidak ingin mencengkeram tangan keriput yang sudah melayang terus di kepalanya, Takut. takut jika tangan tua itu keropos tiba-tiba.
""Tidak, rasakan, makanya jangan ganjen, muka tampan tapi kelakuannya tidak terpuji."" Serang nenek itu.
__ADS_1
""Apa sih..nek. Aku hanya ingin membantu nenek untuk menyebrang, tapi kenapa nenek malah kabur dan memukuli ku."" terang Aksa.
Seketika nenek itu berhenti memukul Aksa.
""Benarkah,? nenek kirain kamu orang jahat.!"" Sahut nenek itu dengan mata meneliti penampilan Aksa yang terkesan berantakan namun stay coolnya tetap oke.
""Tidak, nenek..aku anak baik kok ! cuma kurang beruntung saja.!"" Curhat Aksa yang tidak mungkin di mengerti oleh nenek tersebut.
Aksa memungut jeruk jeruk yang berantakan tersebut, memasukkan kedalam keresek semula. membantu nenek itu menyebrang dengan hati hati seraya tangan kekarnya membawakan semua barang barang nenek itu, tidak sampai di situ, Aksa juga menghentikan taksi untuk menyuruh mengantarkan nenek kerumahnya dengan ongkos sudah di bayar penuh olehnya.
""Oo..walah.. aku salah sangka."" Gumam Meca yang menyaksikan semuanya walau tidak mendengar percakapan Aksa dan nenek tua itu, ia sudah menyimpulkan jika Aksa tidak jahat yang sempat melintas di pikirannya.
Meca langsung melajukan mobilnya kembali ke kantor kebesarannya, saat melihat mobil Aksa sudah pergi melintas dan ia yakin anak remaja itu akan menghampiri Bintang di rumahnya.
Sesampainya di pekarangan Bintang, Aksa sudah di suguhkan pemandangan yang membuatnya cemburu. Gadinya itu sedang belajar bela diri bersama Dirgan.
""Prook prook..prook.."" Tepuk tangan Aksa menghentikan aksi Dirgan yang memiting lembut Bintang di dalam dekapannya.
Sontak Bintang tersenyum manis ke Aksa yang baru di lihat keberadaan kekasihnya itu.
""Host..Aku semakin lemah, Dirgahayu."" Ucap Bintang setelah menjauh dari tubuh sahabatnya.
""Kebanyakan pacaran sih.!"" Sindir Dirgan tanpa senyum lalu pergi menuju ke rumah deretan ke tiga.
""Tuh..anak kenapa.?"" Bingung Bintang. ""Huuuuu..kamu juga sama, Dirgan.!"" lanjutnya meneriaki sahabatnya yang sudah di atas teras rumah.
__ADS_1
""Cemburu.."" sahut gumam Aksa yang tahu betul sikap diam Dirgan.
Bersambung...