
""Enam... Lima... empat....tiga...dua...satu."" Hitung Fatur secara mundur waktu bom yang akan meledak.
Dan.....
Dor....
Dor....
Dor...
Dor...
Tidak ada ledakan bom Di ruangan penyekapan Gilang maupun yang ada di pangkuan Bintang. Sebab Dirgan berhasil menjinakkan bom di detik detik terakhir dengan memotong kabel yang sudah di prediksikan. sementara bom yang ada di dalam penyekapan Gilang memang sudah di rusak sebelum aktif oleh Dirgan seraya mengintip sebelum bertindak di beberapa menit yang lalu.
Namun walaupun bom di jinakkan, terdengar empat kali pekikan tembakan yang keluar dari peluru Fatur, Aksa dan Alex Secara berirama.
""Dirgan.....Aksa...."" Pekik menggema semua orang kecuali Bintang yang langsung terasa Kelu berucap saat Dirgan yang jatuh pas di pelukannya dengan bersimbah darah segar keluar tepat di bagian dada Dirgan.
Ya..... Fatur Aksa dan Dirgan tertembak secara bergantian.
Saat Fatur melepaskan pelatuk di kedua sisi kanan kiri yang tertuju ke arah Bintang dan Meca, Aksa dengan cepat berlari ke hadapan Meca yang tak jauh jarak darinya dari pada jaraknya ke Bintang, Aksa menghadang peluru yang sudah terlepas dari senjata Fatur yang akan mengenai dada Meca dan seketika dada Aksa yang terkena tembakan.
Aksa berlari menolong Meca seraya menembak tangan papanya yang tertuju ke Bintang dan peluru itu meleset akibat olengnya tangan Fatur.
Bintang selamat dari peluru Fatur, Namun di sisi lain, ada Alex yang sudah siap melepaskan pelatuknya ke arah Bintang, Dirgan yang tidak bisa mencegah aksi Alex yang jauh dari posisinya, Hanya bisa mendorong kursi yang di duduki Bintang dan secara bersamaan pendorongan kursi Dirgan terkena timah panas tepat di dadanya pula. dan detik berikutnya, Aksa yang sudah tertembak melepaskan peluru berkali kali untuk menghukum Alex yang sudah berani ingin melukai Bintang. Alex langsung tak bernyawa di tempat.
__ADS_1
""Dir... Dirgaaaaahayu."" Bintang baru sadar dari keterkejutannya saat Dirgan menyimak air matanya yang jatuh tanpa suara. ""Tidaaaak."" Histeris Bintang.
""Pria bodoh, kenapa kamu mengorbankan diri hanya demi diriku."" Ucap Bintang terselip isakan pilu.
""Aku mencintai mu, Bintang."" Tidak ada suara yang keluar terdengar saat Dirgan menyatakan cintanya untuk yang pertama kalinya di atas kesadarannya. Hanya gerakan bibir yang terlihat dari Bintang. ""Aku sangat mencintaimu, nyawaku pun akan aku korban kan demi kebahagiaan mu, berbahagia lah bersama calon anak mu dan Aksa tanpa diriku."" Dirgan merasa inilah akhir hidupnya. berucap pun hanya bisa dalam hati.
"" pria bodoh, kamu harus selamat jika tidak aku akan marah besar, aku akan menghajar diri ku sendiri, tetap bertahan, ku mohon."" Mohon Isak Bintang dan terdengar pilu secara bersama ada ancaman di tutur katanya tertuju merutuki diri sendiri.
Fina, Gion dan Kemal serta Nata berhambur dan dengan cepat Gion menarik anaknya masuk kepangkuannya menggantikan Bintang.
Fina merasakan sesak di dadanya melihat buah hatinya terluka, menangis pilu sesunggukan tidak tertahan olehnya. Gion tanpa suara mengangkat tubuh anaknya di bantu oleh Kemal untuk segera di larikan kerumah sakit.
Aksa....Di beberapa menit yang lalu, bersamaan dengan jatuhnya Dirgan ke pelukan Bintang. Pria malang itu terjatuh pas di pelukan mamanya Bintang, Meca. Vero Titan berlari ke arah Aksa dan Fatur yang hanya terluka kecil di bagian tangan langsung berhambur ke arah Aksa yang sudah terjatuh di lantai berdebu.
""Aksa, bertahan lah nak."" Pilu Meca yang terselamatkan dari maut, dan terselip penyesalan tersendiri. Gara gara menolong dirinya,Aksa sampai terluka parah.
""Tidak Aksa."" Meca tidak mengerti kekacauan apa yang di maksud oleh Aksa. wanita itu terisak pilu. Sama..... merutuki dirinya paling dalam, tidak menyangka gara gara tragedi masa lalunya sampai berimbas ke orang sekitarnya yang sudah di anggap keluarga.
""Ak-aksa.."" Sesal Fatur bergetar menarik tubuh Aksa ke pangkuannya dari pangkuan Meca.
Aksa tersenyum manis ke papanya. Meca Titan dan Vero saling terkesiap. sangat sangat terkejut, Fatur yang tadinya seperti orang gila dengan kejahatannya terisak di hadapan Aksa yang terluka.
Seketika Mereka mengerti keadaan, kalau Aksa adalah anak dari Fatur dan Garlin. dan semakin pula isakan pilu yang terdengar di suara Meca, Ternyata yang menolong nyawanya adalah anak yang hampir di adopsi olehnya dulu namun tertahan saat mendapat penolakan dari Fatur selaku papa dari bayi.
""Pa..., Aku mohon ! lupakan dendam mu dan berdamai lah dengan keadaan, Mereka tidak salah aku sudah mengetahui semuanya, aku sangat menyayangimu dan aku juga mendambakan pelukan hangat papa sedari kecil."" Aksa berucap jelas perlahan, mengeluarkan uneg uneg permintaan sepele namun sangat berharga bagi Aksa yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang tulus dari papanya.
__ADS_1
Apa kabar dengan Fatur....? yang tidak pernah adanya memeluk sayang anaknya, yang tidak pernah menyempatkan memberi senyum hangat dan senyum manis untuk anaknya, jangan kan peluk sayang nan hangat.... menanyakan kabar saja Fatur tidak pernah, hanya obsesi dendam selama bertahun-tahun yang menguasainya dan sekarang apa yang ia terima, penyesalan yang tak bertepi....anak penurut dan anak yang begitu menyayanginya tumbang dari tangan kejahatannya sendiri.
""Aksa.... maafin papa, papa menyesal dan papa janji akan bertobat asalkan kamu harus menemani papa di akhir hidup papa, aku mohon... jangan tinggalkan papa, jangan pergi... bertahan lah, papa tidak akan memelukmu sekarang tapi nanti di saat kamu sudah sembuh, dan itu harus...papa pun akan pergi jika kamu meninggalkan papa dengan luka penyesalan ini, papa memang jahat, bodoh dan pengecut hanya karena dendam papa mengabaikan mu serta lupa arti dari kata orang tua... maafkan papa....aku menyayangi mu, Nak..""
Sesal Fatur begitu dalam, air matanya tumpah membasahi wajah Aksa yang sedang mengerjap kan matanya untuk bertahan ingin melihat ke arah Bintang seraya mendengar kan kepiluan seorang Gunfatur Gilman.
Aksa tersenyum manis ke arah Bintang yang sedang menopang tubuh lemah Dirgan, Aksa pun merasa bersalah saat melihat wajah Bintang, Wajah yang menangisi Dirgan tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya yang ingin sekali melihat tatapan mata Bintang yang mungkin untuk yang terakhir kalinya.
""Maaf kan aku Bintang."" Lirih Aksa menyesal. Bintang yang tak mendengar namun seketika langsung mendongak ke arah Aksa. Dan Aksa menangkap tatapan pilu Bintang yang entah kepiluan itu jatuh ke Dirgan atau kepiluan ke dirinya, Aksa tak masalah dengan itu, ia hanya tersenyum manis di sela sakit yang di rasakan.
""Aku mengikhlaskan mu bersama dengan Dirgan, dia yang lebih tepat untuk masa depan mu."" Tulus Aksa dalam hati. detik selanjutnya ia pun sudah tak sadarkan diri dan dengan cepat Vero mengambil tindakan untuk melakukan pertolongan pertama.
*****
Bersambung apa End aja....?
Huwaaaa....
di part ini... author menghalu menangisi Aksa dan Dirgan. Sampai pelanggan di toko ku berjualan bertanya. ""Kenapa mba ? apa Mba kelilipan ?""
Author hanya mengangguk mengiyakan malu, masa author harus menjelaskan, kalau author nangis gara gara menghalu, kan tidak lucu...
Cih.. author malah curhat.š¤šš¤Æš¤„š¤¬
Aaaah... tinggal kan jejak di part penuh air mata author...!
__ADS_1
Vote...like...dan bunga" yang banyak...