BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BONUS CHAP


__ADS_3

""Dirgan.!""


""Dirgan.!""


""Dirgan.!""


""Dirgan.!""


Dirgan mendengar suara yang sangat kecil masuk ke indera memanggil namanya, rasa rasanya ada yang aneh, ia seakan berada di tempat yang jauh nan terpencil. Bergerak pun rasanya berat seakan tubuh itu di himpit oleh bangunan berat.


""Dir...Dirgan...Dirgaaaan."" Guncang Fina di tubuh anaknya.


Dirgan terkesiap, membuka matanya dengan wajah berair, Keringat dingin dan sisa air mata yang mengenang.


""Kamu kenapa.?""


Orang tua dan kedua mertuanya mengelilingi tempatnya berbaring dengan tatapan mata cemas dan aneh.


""Ma.!"" Lirihnya bingung. bukannya tadi ia berada di ruangan Bintang sedang menangis pilu. kenapa ia sekarang rebahan di atas brankar seperti orang sakit?


""Ayo bangun, kamu kenapa nangis nangis tapi mata terpejam ? bikin cemas saja.!"" Oceh Fina.


""Kenapa aku ada di sini ? aku kan tadi di---"" Dirgan sekarang seperti orang linglung, apa tadi cuma mimpi ? ah...semoga saja, melihat wajah wajah orang tuanya tidak ada kesedihan, hanya ada tatapan aneh untuknya.


""tadi kamu pingsan di ruangan Bintang bersalin dan berakhir berteriak nangis nangis tidak jelas."" Jelas Meca yang ikut cemas.


""Ayo buruan bangun, tadi ibu dokter memanggil mu.!"" Timpal Vero


Gion yang merasa aneh, langsung menaruh punggung tangannya di dahi anaknya. ""Tidak panas.!"" ujarnya.


Dirgan menepis lembut tangan papanya, mendengar dirinya di cari dokter, ia bangun dan beranjak cepat. ia akan memastikan keadaan Bintang terlebih dahulu. Mudah mudahan tadi cuma mimpi buruk.


Saat Dirgan hampir membuka knop pintu ruangan Bintang, dari belakang ada orang yang memanggilnya.


""Pak Dirgan.!"" Cegah sang Dokter.


Dirgan berbalik. ""iya Dok. bagaimana dengan istri saya ?"" Tanya Dirgan takut takut.


""Itu dia pak, istri bapak mengalami pendarahan hebat ja-----""


""Stooop.!!!"" Tubuh Dirgan melemas merosot ke lantai. Penjelasan dokter sama seperti beberapa menit yang lalu. Pendarahan ? ia tidak ingin mendengar lagi penjelasan sang dokter jika istrinya sudah meninggal sama seperti yang ia rasakan di mimpi, persis sekali !


""Kenapa pak ? Apa bapak masih pusing.?."" Sang Dokter ingin membantu Dirgan untuk berdiri tapi pria itu menolak, ia tidak sanggup mendengar berita buruk itu lagi.

__ADS_1


""Dirgan.!""


""Aku bilang, stop ya stop.!"" Bentak Dirgan ke sang Dokter.


""Tapi itu bukan saya yang memanggil, pak! istri anda yang telah memanggil anda di dalam.!"" Jelas sang Dokter.


Dirgan mendongak dari duduknya. ""Istri ?"" Tanyanya.


""Iya, istri anda !""


Dirgan dengan cepat beranjak membuka pintu. Bintang yang sedari tadi menoleh ke arah pintu langsung menyambut suaminya dengan senyuman manis di bibir pucat itu.


""Bintang, baby ?"" Suara Dirgan bergelombang. Istrinya masih hidup, ia masih bisa melihat senyum manis itu, wajah cantik itu dan suara itu. Tadi cuma mimpi !


"Ada apa ? kenapa masih berdiri di situ.""


Dirgan langsung berhambur cepat menyambut senang suara dan uluran tangan Bintang. mencium seluruh wajah itu tak tertinggal.


""Aku mencintaimu, aku mencintaimu sangaaaaaaat."" Tekan Dirgan dan terus menciumi istrinya.


Bintang terkekeh geli. ""Kamu kenapa honey, kaya akan di tinggal ma--!""


Tak mau ada Ucapan buruk dari bibir istrinya, Dirgan langsung membungkam bibir itu dengan bibirnya penuh dengan kelembutan.


""eum....anak siapa dulu, Bintang.!"" Bangganya.


...******...


Hari hari pun cepat berlalu, Bintang sudah pulang bersama dengan bayi Dibinya dari hari kemarin. Mereka pulang ke rumah besar Al Miller, para orang tua tidak mengijinkan untuk tinggal terpisah dulu, sebab pasti, pikirnya repot menjadi mama muda.


Dan disini lah Mereka, Nyonya Al Miller dan Nyonya Malik sedang berkumpul memperebutkan bayi DiBi yang akan di jemur di pagi hari. Fina dan Meca paling heboh sendiri sendiri.


""Sana gih Ca ! Biar gue yang mangku si Dibi."" Pinta Fina di depan teras rumah dengan matahari pagi yang menerpa kulit si bayi.


""Apa sih Lo, datang datang main pinta pinta saja, Dibi lebih suka di pangku dan di sentuh oleh tangan gue, Tangan Lo kasar suka ninju samsak nanti kulit di Dibi ku akan kesikat."" Cibik asal asalan Meca.


Mulut Fina manyun manyun dengan mata melotot horor ke arah telapak tangannya. Benarkah tangannya seperti sikat, kasar ? Fina menautkan kedua telapak tangannya.


""Halus ah !"" Ucapnya.


Meca tersenyum geli mendengar ucapan Fina dan kadang kadang mencuri cium pipi gembul cucunya.


""Eeeh...tangan Gue halus dodol, dan Lo jangan cium cium cucu gue sesuka Lo, bibir Lo penuh dengan lipstik, nanti berbahaya ke kulit mulus Dibi."" Fina membalas ledekan Meca.

__ADS_1


Meca menyapu kedua bibirnya menggunakan lidahnya yang basah. "Lipstik gue lipstik mahal, bersegel aman, emang lipstik Lo yang murahan.!""


Mereka sudah tua tapi masih kelakuan anak kecil yang tidak mau saling mengalah.


""Dirgaaaaaan.!"" Pekik Fina ingin minta pembelaan anaknya. Fina akan menyuruh Dirgan untuk mengambil Dibi di pangkuan Meca.


Dirgan berlari kaget ke arah teras yang sedang menemani Bintang memompa ASI.


Bintang pun ikut keluar menghentikan aktivitasnya. ia takut ada apa apa, apalagi anaknya berada di luar.


""Ada sih ma ? berisik amat. !"" Heran Dirgan.


""Beo Lo bikin Dibi terbangun tahu nggak."" ketus Meca.


""Benarkah."" Fina malah senang meneliti wajah bayi lucu itu. ""Aku mau menggendongnya, Dir ! Bilangin ke Mertua mu tuh.!"" Akting Fina memasang wajah memelas sedih.


Dirgan menatap wajah mertuanya, yang di balas tatapan mematikan dari Meca membuat Dirgan menciut tak berani meminta.


""Gantian saja ya ma.! Nanti kalau Mama Meca capek pasti di kasih ke Mama.!"" Ucap Dirgan hati hati ke Fina.


Fina mengerucut manyun bahkan sangat manyun. terdiam.


""Gantian Ma.!"" Bintang yang sedari tadi mencerna wajah wajah peperangan alot antara mama mamanya, ikut bersuara menengahi. Fina semberinga. Meca yang cemberut.


""Tidak mau ah..Mama masih ingin menggendong Dibi, Sabar beo.!"" Ketus Meca tak mau mengalah.


""Aah, Ca.!"" Rengek Fina. ""Bin, Dir.! kalian masuk kamar gih !"" Titah Fina membuat Dirgan dan Bintang menyerinyit bingung.


""Ngapain.?"" Kompak Bintang dan Dirgan.


""Bikin Dibi satu lagi biar kami tidak rebutan, kan kasihan mama jarang bahkan bisa di hitung menggendong Dibi dan itu ulah mama yang itu tuh."" Tunjuk Fina dengan dagunya ke arah Meca yang menyeringai menang.


Dirgan menahan senyum geli, ayo ayo saja baginya. tapi saat melirik tatapan galak Bintang, ia jadi membuang senyumnya, Bintang kan di saat persalinan berkata ' Sabar sabar, enak di kamunya. yang enak bikinnya tapi tidak pernah merasakan sakitnya.' kata Bintang dia tidak mau punya anak lagi kecuali Dibi.


""Tidak ma, hehehe sakit."" Bintang terkekeh garing meningkalkan teras. biarkan saja Dirgan yang menengahi mama mama keras kepala itu.kaburnya.


""Hahaha..Lucu kan Dibi. Cucu Oma, Hanya cucu Oma kan ya ?"" Meca semakin meledek Fina dengan ucapan tak berfilternya.


""Huuuuu... Nyebelin."" Seru Fina galak. Meca masih tersenyum geli.


""Gioooooon....ayo kita bikin Cucu sendiri eh anak. tangan ini kesepian tanpa adanya pelukan bayi.""


Dirgan menjambak rambut sendiri, pusing ! ia sangat susah menengahi kelakuan wanita wanita luar biasa yang ada di hadapannya, melebihi anak kecil Nyebelinnya, keras kepalanya, tapi jika di dalam masa masa sulit, mama mamanya itu seakan power Mama mama yang siap bersatu melawan masalah.

__ADS_1


__ADS_2