BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 109


__ADS_3

Merasa gemas dengan tingkah keterkejutan Dirgan, Bintang pun bersuara dengan berkata...


""Dirgaaaaahayu.....! aku datang ingin membalas dendam..."" Bintang bersuara seperti layaknya hantu di buat sehoror mungkin dengan wajah di majukan kehadapan Wajah Dirgan yang sedang terlihat tegang dengan keterkejutannya.


Dirgan tak berkedip, ia tersadar saat Bintang menciumi kedua matanya bergantian, ciuman itu begitu nampak ! itu bukan halusinasi , tapi itu sepertinya nyata, Bintang yang ada di hadapannya nyata.


""Bintang.?"" panggilnya dengan suara bergetar.


Bintang mengangguk manis seraya tersenyum tipis, ia belum selesai menggoda Dirgan dengan itu ia akan menghukum sahabat rasa cintanya itu dengan cara yang lembut bukan menghukum sebagai Bintang yang galak.


""Hai apa kabar ?"" Bintang menaik turunkan alisnya. ingin bertele tele ke Dirgan. padahal rasanya ia ingin memeluk penolong nyawanya itu sekarang juga.


""Ba-baik.!"" Dirgan masih dalam mode terkejut, percaya tidak percaya dengan adanya Bintang di hadapannya.


Dirgan memperhatikan tubuh Bintang dengan teliti, dari ujung kaki, berhenti di bagian perut, perut yang rata seperti tidak lagi hamil.. atau wajar saja perut Bintang masih rata sebab sahabatnya itu masih di trimester pertama, Pikirnya. Matanya memperhatikan jari manis sahabatnya yang mencari cincin pernikahan di situ. Tidak ada cincin kawin yang melingkar di sana ! yang ada hanya cincin pemberiannya semenjak mereka remaja, yakni cincin yang sering di bilang Bintang sebagai jimat berbatu delima merah. ada sedikit kelegahan di situ, tapi.....ia harus memastikan dengan bertanya... pikirnya.


""Bintang, kamu ngapain di sini.?"" Jangan Bilang, Bintang lagi bulan madu di tempat tinggalnya sekarang. Dirgan memikirkan ke situ. Dirgan harap harap cemas mendengar jawaban Bintang.


""Aku....."" Bintang menunjuk diri sendiri, rasanya.... Tangannya sudah gatal ingin menimpuk Kepala Dirgan.


Dirgan mengangguk. ""iya...kamu ? ngapain !""


""Aku mau menjemput suamiku."" Godanya. Suami yang di maksud Bintang adalah suami kecilnya yang sudah mencapnya sebagai istri kecil oleh Dirgan kecil.


Tuh kan....ngenes lagi hati Dirgan..ingin rasanya nangis bombai di hadapan Bintang, tapi ia tidak mau memperlihatkan sakit hatinya.


Dirgan tersenyum getir. ""Aksa ada di sini ?"" Mata Dirgan sengaja mengerlyat berpura pura mencari sosok Aksa, Padahal niatnya ingin membuang tatapan matanya yang sudah berkaca kaca perih.

__ADS_1


""Dir.."" Panggil Bintang. Dirgan ragu untuk menoleh dengan mata yang merah ingin menangis. "" apa kamu tidak ingin memberikan ucapan selamat gitu..!"" Bintang masih jahil saja, sudah tahu Dirgan lagi menahan rasa hancur atas perkataan SUAMI, ia masih belum puas mengerjai Dirgan. Dirgan harus di hukum, Pikirnya menggoda.


""Selamat, Selamat atas pernikahan kalian.!"" ucap Dirgan dengan suara bergetar di kuat kuatkan dalam bertutur. di dalam sana hatinya hancur berkeping keping, ia sengaja menghindari Bintang bersama pernikahannya dengan Aksa, eeeh..malah nongol orangnya dengan membawakan oleh-oleh rasa sakit.


""Bukan itu, tapi yang lainnya..""


""Apa ?"" Bingung Dirgan.


""Ish...Mentang mentang matanya tercuci oleh wajah wajah bohay bule, ulang tahunku di lupakan."" Bintang memasang wajah ngambek, padahal rasanya ingin tertawa dengan wajah Dirgan yang tertekuk lesuh, ia sadar jika Dirgan lagi menangis darah di dalam hatinya.


""Maaf...!"" Dirgan menarik Bintang dalam pelukannya, itu yang ia tunggu tunggu, memeluk Bintang walaupun mungkin hanya rasa sahabat tapi ia harus rela dan harus berdamai dengan rasa sakit itu.


""Selamat ulang tahun, Jaauza. maaf aku telat mengucapkannya, dan maaf pula aku tidak sempat datang di pernikahan kalian karena aku-------!"" ucapan Dirgan terpotong dalam pelukannya ke Bintang, ia tidak mungkin memberi tahukan alasannya, jika ia sakit hati melihat kebahagiaan pernikahan Bintang.


""Karena aku mencintaimu.!"" Sambung Bintang dengan ucapan Dirgan.


""Ngaur..."" kelitnya dengan berbalik membelakangi Bintang, Tatapannya sekarang lagi memandang kosong ke menara Eiffel yang sedang berkedip kedip indah seakan lampu itu tersenyum meledeknya.


Bintang sudah tidak kuat bermain main, dan melihat kesedihan Dirgan yang begitu dalam akibat dirinya yang tidak peka terhadap perhatian yang di maksudnya sebagai rasa sahabat saja.


Gadis itu memeluk Dirgan dari belakang yang membelakanginya. tangannya melingkar di leher Dirgan yang masih duduk menghadap ke menara Eiffel, dagunya sengaja di topang kan di bahu Dirgan.


Dirgan menegang dalam rasa sakitnya, rasanya semakin sakit jika Bintang bergelayut manja di tubuhnya yang sekarang sah menjadi milik orang lain. ia tidak mau Aksa melihatnya sampai menimbulkan keretakan di dalam rumah tangga sahabatnya. walaupun ia suka di peluk Bintang tapi ia menolaknya secara terpaksa.


""Lepas Bin, Nanti Aksa melihatnya.!"" Lembut Dirgan namun hanya suara saja yang memberontak, tapi tubuhnya tidak ada pergerakan menolak.


""Aku merindukan mu, pria bodoh... Makanya aku memeluk mu, apa kamu tidak merindukan ku, hah ? ish...jahat sekali.!"" Bintang kembali berpura pura cemberut. dengan tangan yang memeluk leher Dirgan dari belakang ingin menarik untuk melepaskan tapi Dirgan dengan cepat menahan tangannya untuk kembali memeluknya dengan sama posisi seperti tadi.

__ADS_1


""Aku juga merindukan mu, sangat...tiada hari tanpa memikirkan kalian di sana ! bahkan rindu ku melebihi rindunya Dilan ke Milea."" Canda Dirgan, padahal itu adanya di dalam hatinya.


""kalau begitu, baliklah bersamaku...di sini bukan tempat kalian, kalian begitu tega meninggalkan kami dengan sengaja mematikan komunikasi secara sepihak."" Bintang melepaskan pelukannya dan berpindah tempat ke hadapan Dirgan.


""Maaf dengan itu, kami tidak bermaksud tega, dan aku Tidak bisa kembali... karena.. karena itu...hemm..aku..aku betah di sini.!"" Kelit Dirgan terbata bata.


""Cih, beta..Beta apanya? bilang aja kalau aku tidak bisa balik karena aku akan cemburu dan sakit melihat mu menikah dengan orang lain."" Ledek Bintang dalam hati.


Bintang menyeringai ""Bagaimana kalau kamu mendengar pengakuan ku ! apa kah kamu masih betah di negara orang, ya.... walaupun tempatnya begitu bagus di sini apa lagi melihat itu."" Tunjuk Bintang ke menara Eiffel. ""itu sangat indah di malam hari."" Senyum manisnya terlukis yang membuat hati Dirgan terenyuh menderita sebab senyum itu bukan miliknya. pikir Dirgan.


Dirgan masih datar tak memperdulikan tangan Bintang yang menunjuk menara. ekspresi wajahnya memang datar, tapi jujur...ia senang melihat Bintang lagi yang dua bulan lebih lamanya tidak bertemu, rasanya ia ingin menghujami ciuman hangat di semua area wajah Bintang saat ini, tapi ia sadar diri kalau itu tidak pantas, serta ia tidak berhak.


Bintang istri orang lain.... Bintang istri orang lain.... Bintang istri orang lain...Dirgan menghapal itu dalam hatinya seperti mantra untuk mengingatkan dirinya agar tidak melewati batas.


""Pengakuan apa yang bisa membuat diri ku untuk tidak betah disini.?"" Tanya Dirgan tak bersemangat.


Bintang mendekat ke arah telinga Dirgan...


""Aku juga mencintai mu..."" Bisik Bintang tepat di telinga Dirgan.


Deg....


Bersambung....


Jangan lupa, jejak anda....satu bab satu like sangat membuat semangat membara author untuk menulis dan berkarya, ya.... walaupun karya author biasa biasa saja sih..!


Like...komen pedas juga boleh, manis apa lagi. lemparkan Bunga bunga dan Vote serta RATE BINTANG 5.😘

__ADS_1


__ADS_2