
""Hos..hos..hos"" Nafas Bintang masih memburu dan keringat dingin masih terasa di tubuhnya, dengan cepat ia memeluk Airin lalu sesunggukan di dekapan tubuh yang sudah keriput itu.
""Oma..hiks.."" Sedihnya masih mengingat tempat seram baginya yang gelap gulita itu.
""tenanglah sayang."" Airin menenangkan cucunya dengan tangan mengelus naik turun punggung Bintang sementara yang lain hanya berdiri menyaksikannya.
""gelap Oma, sangat gelap, aku takut."" isaknya lagi.
""Bin.."" pangil Aksa dan Dirgan bersamaan.
Bintang langsung berhenti menangis, mendengar suara itu, ia menyapu air matanya dengan cepat, sedari tadi gadis itu tidak menyadari jika ada orang lain di situ, ia jadi malu sudah mengeluarkan sisi lemahnya di depan Aksa, jika Dirgan, sahabatnya itu sudah tahu sifat luar dalammya jadi ia tidak masalah dengan adanya Dirgan, orang setiap ada masalah ia lari ke pelukan sahabatnya itu, begitu pun Dirgan sebaliknya.
""Kalian ada di sini ?"" paraunya menatap Dirgan dan Aksa bergantian
""Eum..."" angguk Aksa, sementara Dirgan hanya tersenyum manis.
""Kalian istirahat lah semuanya, ini sudah larut sekali."" ucap Angga yang dari tadi hanya diam menonton drama cucunya.
""Ayo, ikut Oma."" ucap Airin menyuruh Aksa dan Dirgan untuk mengekor, berniat mengantar kan teman cucunya ke kamar tamu.
""Opa..di sini saja."" Bisik Bintang seraya menggenggam tangan tua itu, ia masih takut jika tidurnya di tinggal sendiri, Biasanya jika sedang manja Vero lah yang selalu di repotkannya.
""Tapi, Oma? Bintang siapa yang jaga.?"" ucap Dirgan yang sudah tahu ke inginan Bintang yang tidak mau di tinggal.
""Bagaimana jika kami saja yang menjaganya, Oma dan Opa istirahat lah, kalian nampak sudah lelah."" Timpal Aksa.
Airin menatap wajah lelah suaminya yang duduk di atas kasur di samping cucunya, Benar juga kata anak remaja itu, mereka sudah tua tenaganya sudah tidak normal lagi. lagian cucunya sudah membaik jadi tidak perlu di awasi dengan medis lagi. pikirnya.
""Oma, Opa jangan mau, kalian tidur bersama Bintang saja di sini, Aku ingin tidur seraya memeluk kalian seperti guling, kalau dua cowok itu tidur di sini mana bisa di jadiin guling, enak mereka berdua."" Batin Bintang seraya menatap Airin dalam dalam.
""Ya sudah, Oma Opa yang akan istirahat, kalian di sini saja, tapi ingat.. jangan macam macam."" Airin menekan ucapan terakhirnya.
""Yaak.."" Batin Bintang, Omanya tidak mengerti keinginan hatinya yang ingin tidur bareng seperti anak kecil.
__ADS_1
""Tenang saja Oma, Aku tidak akan macam macam, tidak tahu jika cucu nakal Oma."" Goda Dirgan.
""Apa sih..?"" Cemberut Bintang lalu menarik selimutnya.
Airin dan Angga sudah keluar dari kamar itu, menyisakan ke dua remaja yang akan menjaga cucunya. sementara Bintang sudah memunggungi Aksa dan Dirgan yang masih setia berdiri di sebelah ranjang.
""Bin.."" panggil Aksa.
Dirgan menghela nafas, ia tahu sahabatnya lagi ngambek.
""Mau pilih siapa yang akan kamu jadi kan guling, Aku atau Aksa."" Goda Dirgan tersenyum geli.
Aksa langsung menoleh ke arah Dirgan dengan tatapan tajamnya, Tapi yang di tatap hanya mengedipkan mata santainya lalu menarik selimut Bintang, ia tahu sahabatnya itu hanya berpura pura tidur.
""Bangun gadis nakal.!"" paksa Dirgan.
""Aaahh.. kalian nyebelin, kenapa harus tidur di sini sih?"" Bintang mendelik tajam ke arah dua remaja itu. "" Aku itu ingin tidur bersama Oma Opa, Bukan kalian, terus kalian mau tidur di mana coba? di lantai? kan tidak mungkin?""
""Duduk dulu ! tidur di lantai tidak apa apa bagiku, tidak tahu dengan Aksa, Aku penasaran ingin bertanya banyak hal, kenapa kamu bisa terpisah dengan rombongan?."" Dirgan menarik tangan Bintang untuk duduk, lalu ia duduk di kasur di samping kaki Bintang yang selonjoran.
""Aah, itu ya.! aku juga tidak tahu, seingat ku ada orang yang bekap mulutku dan gelap seketika, aku tidak ingat apa-apa lagi."" jelasnya, tapi ia lebih penasaran tentang halusinasi yang di alaminya, pikirnya, itu seperti nyata.
Aksa nampak berpikir siapa yang tega melakukan itu semuanya ke Bintang, Dirgan pun sama, sementara Bintang, ia sudah menebak siapa yang sudah membekap mulutnya, hanya Justien yang nekad seperti itu. Tapi urusan itu di kesampingkan dulu, kapan pun bisa ia membalas mantannya itu.
Gadis itu, hanya memikirkan halusinasinya yang seakan nyata baginya.
""Dirgan, Aksa..siapa yang pintar menggambar sketsa wajah?."" tanyanya.
Aksa menggeleng, Dirgan mengkirut menatap Bintang dengan bingung.
""memangnya kenapa? apa kamu mau di lukis malam malam begini dengan mata yang sudah sembab."" Goda Dirgan.
""Aku serius Dirgaaaaahayu, Kamu bisa tidak.?""
__ADS_1
""Buat apa sih..?"" kepo Aksa.
""adalah.."" Bintang langsung menarik ujung baju Dirgan, agar sahabatnya itu mau menggambar untuknya.
""Boleh..tapi satu ke cupan pipi untuk ku dulu."" Dirgan ingin menggoda sepasang kekasih itu. tanpa takut dengan Aksa yang sudah menatapnya tajam yang kesekian kalinya.
""Dirgan.."" Serang Bintang mendelik tajam, ia tidak tahu jika Dirgan sudah mengetahui hubungannya dengan Aksa.
""Hahahaha.. santai saja, kalian pasangan serasi, sama sama seram.!"" Celetuk Dirgan lalu berdiri dari duduknya, ingin segera beristirahat.
""Yaaak.. Dirgan, kamu tahu."" tanyanya yang dapat anggukan oleh Dirgan. ""ayo gambar kan!"" lanjutnya memaksa Dirgan untuk mau menggambar wajah orang yang sudah masuk dalam halusinasinya.
""Besok saja, selamat malam, ingat! jangan macam macam."" Dirgan meniru gaya Airin, memberi peringatan ke Aksa dan Bintang lalu menarik bantal di sisi Bintang, berjalan pelan ke arah sofa.
""Dirgan, katanya mau tidur di lantai, Aku di mana?"" Bingung Aksa, tadinya ia kan berniat tidur di sofa, namun ia di duluin Dirgan, masa ia harus di lantai, mana bisa, hidup mewahnya selama ini tidak pernah membuatnya tidur di lantai.
Dirgan bodo amat dengan ke bingungan Aksa yang akan tidur di mana, ia langsung memejamkan matanya lelahnya.
""Bin..!"" rengek Aksa. ia berharap Bintang mau mengijinkannya untuk tidur bersamanya di ranjang, tapi Bintang ya Bintang, mana mau gadis itu mengijinkan cowok mana pun untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. walaupun Aksa tidak akan macam macam, tetap saja ia mencegah hal yang tidak di inginkannya.
""Selamat malam, pacar ku.!"" Bintang tersenyum meledek Aksa yang bingung akan tidur dimana lalu membaringkan tubuhnya dengan santai.
""Yaak..Bin..Aku?"" rengeknya lagi.
""Di lantai.!"" Bintang memberikan selimut serta guling ke Aksa.
""yang benar saja, Bin. aku belum pernah lho di lantai, aku di samping mu saja, ok, aku janji tidak akan macam macam."" pintanya seperti anak kecil yang merengek kehilangan mainan.
""No..."" tolak Bintang dengan mata terpejam.
""Yaaak.. kalian.. menyebalkan."" Cemberut Aksa. Mau tidak mau ia tidur di lantai dengan selimut tipis yang jadi penghalang dinginnya lantai malam.
Sementara Dirgan, sedari tadi belum tidur, ia sengaja menguping sahabatnya itu, ia ingin tahu, Bintang sekarang orangnya seperti apa dengan pacarnya, apa kah murahan atau masih Bintang yang selalu menjaga dirinya.
__ADS_1
""I like it, Best Friend."" Batin Dirgan memuji pendirian Bintang.
Bersambung..