
""Apa yang kamu lakukan di tempat ku."" Sinis Dirgan ke orang itu yang tidak lain adalah Aksa.
Aksa tersenyum meledek ke Dirgan.
""Apa kah begini cara menyambut calon konsumen.?"" Sindir Aksa. "" aku kesini mau lihat lihat yang enak di pandang."" Aksa menyeringai mendekat ke arah Bintang yang masih membelakanginya.
""Dan yang enak di pandang itu... ini."" lanjut Aksa langsung merangkul pinggang Bintang dengan agresif.
""Aksa."" Kompak Dirgan dan Bintang membentak.
Bintang mencoba melepas rangkulan Aksa, namun terhenti, ia pasrah menurut setelah Aksa berbisik menyebut foto.
Sementara Rere tidak mengerti apa apa, hanya memperhatikan orang yang terlihat tegang, apa lagi raut wajah Dirgan terlihat ada kecemburuan yang tertangkap di mata sipit Rere.
""Semuanya kembali bekerja."" Sentak Dirgan. melepaskan kekesalannya ke orang orang yang masih menonton sedari tadi.
""Aksa, kalau kamu kesini hanya untuk mengganggu Bintang, maka tolong dengan hormat, pergilah.""
Dirgan terang terangan memperlihatkan kecemburuannya, ia langsung menarik tangan Bintang dari rangkulan pinggang Aksa. Tanpa sadar dan tanpa tahu ia menggenggam kuat tangan Bintang yang terluka.
""Di---"" Bintang ingin protes namun Aksa sudah menarik lengannya, Bintang seakan tali yang di tarik sana tarik sini.
""Kamu melukai tangan Bintang, Dirgan."" ketus Aksa, ia langsung meniup niup tangan Bintang. Gadis itu hanya menurut paksa.
Dirgan menyerinyit menatap nanar luka Bintang yang perban medisnya kembali bernoda merah.
""Maaf, aku tidak tahu."" ucap Dirgan
Bintang menggeleng seraya melempar senyumnya. ""Tidak, Dirgan. tangan ku tidak sakit."" kilahnya. ""dasar Aksa-nya saja yang terlalu lebay."" Bintang memberi plototan ke Aksa. Namun pria itu hanya mengedipkan mata genitnya.
""Aku kesini karena kekasihku berada di sini."" sahut Aksa dari kepenasaran Dirgan.
Deg...
Tuturan Aksa membuat hati Dirgan kembali terbanting hancur berkeping keping. mata elangnya menatap Bintang yang hanya pasrah diam saja di perlakukan lembut oleh Aksa.
""Bin."" panggil Dirgan meminta penjelasan.
Bintang menoleh, mengangguk kan kepalanya untuk membenarkan ucapan Aksa, ia seakan tahu pertanyaan Dirgan. Bintang tidak paham akan kecemburuan Dirgan, ia hanya mengira kalau Dirgan kesal hanya karena ingin menjaganya dari Aksa.
Lagi lagi Dirgan kembali terluka dalam diamnya, dan selalu kalah oleh Aksa, baru dua hari kemarin mereka saling menantang untuk mendapatkan Bintang, tapi sekarang ia sudah kalah dan bodohnya dia dua hari itu tidak di pergunakan baik untuk mengungkapkan hatinya ke Bintang.
""Kamu mengikuti ku, hah? kenapa kamu tahu aku ada di sini.?"" Bintang akhirnya mengeluarkan pertanyaan itu, ia tidak menyangka bahwa Aksa sampai segitunya mengawasi dirinya, ia tidak suka, kalau Aksa bertingkah terlalu over protective kepadanya.
__ADS_1
""Aku tidak mengikuti mu, sayang. Aku sedang meeting di Resto sebelah dan tanpa sengaja aku melihat mobil kamu terparkir rapih di depan."" Jujur Aksa.
""Ayo kita pergi."" Ajak Aksa.
Aksa tanpa perduli dengan Dirgan dan Rere, langsung main tarik Bintang agar mengikuti langkahnya. dan anehnya, gadis galak itu langsung menurut patuh tanpa protes.
""Tunggu dulu."" Bintang berhenti melangkah yang hampir keluar dari pintu, menoleh ke Dirgan dan Rere yang sedang termangu menatap ke arahnya.
""Dirgan, Rere, aku pamit ya, kalian yang akur dan kamu Rere, kapan kapan kamu mainlah ke Apartemen aku dan Dirgan, kami satu Apartemen. Alamatnya tanya saja sama Dirgan atau Tante Nina.""
Setelah berucap pamit, Aksa kembali menariknya, dan tanpa berontak pun Bintang selalu menurut.
""Dirgan."" Rere menepuk pundak Dirgan dengan lembut.
Dirgan terkesiap dan langsung menoleh tangan Rere yang masih di pundaknya. ia pun menoleh ke wajah Rere dengan alis terangkat.
""Apa."" ucap lesu Dirgan.
Rere tersenyum. "" sabarlah, kalau jodoh tidak akan lari kemana.""
Dirgan menepis lembut tangan Rere dari pundaknya. "" apa maksudmu.?""
""tch, jangan berkelit botak, aku tahu tatapan kecemburuan mu terlalu kentara.""
Dirgan menarik tangan Rere ke sofa untuk duduk bersama. walaupun sering beradu cocot sejak kecil, Dirgan juga menganggap Rere sebagai teman kecil yang baik, begitu pun sebaliknya.
Rere terkikik, entah kenapa ia malah geli dengan tingkah manis Dirgan, Bukannya beberapa menit yang lalu mereka beradu jotos serta beradu cocot, begitu lah mereka, cepat terbawah emosi dan cepat pulah berbaikan kembali.
""Kenapa kamu malah terkikik, jawab aku."" Cemberut Dirgan.
""Hihihi, raut wajah mu sangat jelek Dirgan.""
""Yaak, dasar ingus, kamu malah menertawakan diri ku yang sedang terluka hati."" Dirgan menoyor pelan dahi Rere.
""aku akan menjawab, tapi ngomong ngomong kamu kangen tidak dengan ku, kangen tidak berantem sama aku, ternyata dunia benar selebar daun kelor, kita dari dulu satu sekolah tapi tidak saling mengenal dan akhirnya sekarang kita bertemu karena tempat ini."" Cerewet Rere.
Dirgan merentangkan kedua tangannya agar Rere memeluknya, ia sebenarnya juga rindu dengan teman kecilnya itu.
Melihat kode Dirgan, Rere merasa ragu namun rasa rindunya mengalahkan keraguannya. ia pun menerima pelukan hangat Dirgan.
""Yaa, aku rindu dengan mu, cewek ingus. Tapi kalau berantem aku tidak merindukannya karena beberapa tahun kemarin kamu sudah menghajarku dengan alasan adikmu, dan tadi juga begitu, kita sudah adu jotos plus kamu sudah menjambak ku."" Dirgan melepaskan pelukannya.
""Eum, maaf !""
__ADS_1
Ceplas ceplos pun terjadi antara mereka, sesakali Dirgan menceritakan hubungannya dengan Bintang dan di sambut solusi oleh Rere, begitu pun dengan Rere, Gadis itu menceritakan hidupnya yang membosankan menurutnya, adanya Rere yang menampung curhatannya membuat Dirgan ada kelegahan di hatinya, Ternyata seorang Rere sangat nyambung di ajak berbicara seperti Bintang yang serba bisa memberikan solusi.
.***
Di lain tempat lebih tepatnya di apartemen Bintang. Gadis itu terlihat cemberut kepada orang yang sedang membalut lukanya yang duduk di hadapannya, Aksa.
""Kenapa harus maksa ikut kesini sih.?"" kesal Bintang.
""Tidak boleh ? apa hanya Dirgan doang yang boleh tinggal di sini, aku pun mau."" protesnya.
Aksa salah paham mendengar perkataan Bintang yang menyuruh Rere untuk main ke unitnya, ' Kami satu Apartemen.' pria tukang paksa itu pun malah ikut ikutan Ingin tinggal di gedung apartemen Bintang.
Bugh...
Mendengar ucapan kesalah pahaman Aksa, Bintang langsung memukul kepala Aksa dengan sedikit kuat.
""sakit.?"" Aksa spontan mengelus kepalanya yang sedikit pening di buat Bintang.
""Biarin, Kalau punya otak tuh di gunakan untuk berpikir, Kata siapa Dirgan tinggal di sini."" Ketus Bintang.
""Kamu, tadi berucap ke mm..""
""Rere."" Potong Bintang.
""Yaak,itu. 'kami satu apartemen.' tuh apa maksudnya?""
""iih, dasar omes, telmi, satu apartemen tuh maksudnya satu gedung, tetanggaan. kecuali aku berucap kami satu unit, nah.., itu baru tinggal bersama."" malas Bintang menjelaskan panjang lebar. Aksa cengengesan tanpa dosa.
Perban medis pun sudah tergantikan dengan rapih, kini Bintang menatap horor ke Aksa.
"" apa ? kenapa menatapku seakan aku setan."" pria itu bukannya takut malah membuang pandangan matanya ke seisi unit apartemen Bintang seraya berdiri berkacak pinggang meneliti satu persatu isinya.
""Hust..pergi sana."" usir Bintang.
""yaak, gadis nyebelin, bos seraya kekasihnya bertamu malah di usir."" Aksa dengan sengaja membanting bokongnya ke sofa dan tanpa aba aba ia langsung merebahkan tubuhnya dan berbantalkan paha Bintang.
""Yaaak."" kaget Bintang, gadis itu mendorong kuat kepada Aksa agar menjauh, tapi tidak bisa, tangan yang terluka membuat tenaganya berkurang.
""Sepuluh menit saja, aku merindukan tidur di paha mu."" Pinta Aksa dan langsung memejamkan matanya.
Bintang ingin protes lagi, namun seketika bayangan masa indah itu kembali merasuki memorinya, memang benar Aksa pernah tiduran dengan berbantalkan paha nya di waktu mereka study touring.
Bersambung...
__ADS_1