BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 36


__ADS_3

Sepergian Dirgan masuk ke dalam rumahnya, Kini Aksa mengajak Bintang main basket bersama, dengan santai Bintang menerima ajakan kekasihnya dan melupakan kebingungannya terhadap sikap aneh Dirgan, Gadis itu benar benar dangkal otaknya tidak engeh perubahan sahabatnya kalau ada Aksa di sekitar mereka, Tapi itu memang bukan salah Bintang seutuhnya, karena ia hanya seorang gadis biasa yang tidak tahu isi hati dan pikiran manusia.


""Aku mencintai mu, Bintang."" Bisik Aksa di belakang telinga Bintang.


Seketika Bintang langsung bergidik tegang di sekujur tubuhnya saat suara seksi Aksa mendengung di gendang telinganya, Bola basket yang akan di lemparkannya ke ring jadi salah sasaran karena tidak fokus.


Aksa tersenyum manis, ternyata ucapan manisnya sangat terpengaruh di pergerakan Bintang. dengan cepat Aksa mengambil alih bola basket tersebut yang menggelinding tidak jauh dari kakinya lalu melemparkannya masuk ke dalam ring.


""yes..masuk.."" senang Aksa menyikut lembut tubuh Bintang, sehingga gadis itu terbuyar dari ke tegangannya. entah kenapa gadis itu selalu melayang jika di gombali oleh kekasihnya sendiri, mungkin ia benar benar jatuh hati kali ini.


""Yaaak..kamu curang, Aksa. tadi kamu menipuku dengan perkataan gombal mu."" Bintang mendelik seram.


""Hahaha.. tidak sayang, itu memang kenyataannya, Aku sungguh sungguh mencintaimu sepenuh hatiku, tidak ada yang boleh merebut mu dariku."" telaknya bersungguh-sungguh.


""Benarkah,? kalau aku yang pergi karena kesalahan mu, apa yang akan kamu lakukan?."" Bintang balik bertanya serius.


"" Aku tidak akan membuat kesalahan sehingga membuat mu pergi, aku akan menjaga mu sekuat tenaga ku, dan jika suatu saat nanti aku berbuat salah maka kamu harus memaafkan aku, tapi kalau kamu tidak mau, maka aku akan memaksamu."" Aksa menerawang jauh, jika bisa jangan sampai ia mengecewakan gadisnya itu, hari ini dan hari seterusnya hanya akan ada Bintang yang mengisi hatinya tidak boleh ada yang lain karena ia tidak akan mengijinkannya.


""Yaaak..itu namanya egois pria dingin, aku bisa memaafkan orang yang menyakiti ku Tapi tergantung kesalahannya."" Bintang berkacak pinggang.


""Kalau aku mencium mu? apa aku di maafkan."" Aksa mengingat kejadian di kala ia memberi nafas buatan untuk Bintang.


""Tidak..!"" ketus Bintang.


""Tapi aku sudah mencium tepat di bibir mungil mu."" Jujur Aksa, seraya menatap lekat perubahan wajah cantik Bintang, mau tidak mau ia harus mengatakan itu, Aksa tidak mau jika Bintang mengetahuinya lewat Dirgan, takut salah paham.


Gaya Bintang yang tadinya berkacak pinggang kini di tambah raut wajah yang masam, dengan alis terangkat meminta penjelasan dengan pengakuan Aksa yang tidak pernah dirasakannya, kalau ia pernah di cium oleh orang yang ada di depannya, kapan dan dimana?


"" Kamu selain pintar menggombal ternyata pintar berbohong juga.""


Sebelum menjawab, Aksa menarik tangan Bintang untuk duduk di bangku besi panjang pekarangan.


""Maaf kan aku, tapi itu benar ! apa Dirgan belum memberi tahu mu?""


Pikir Aksa, jika Dirgan benar benar suka sama Bintang, harusnya Dirgan mempunyai kesempatan untuk merusak hubungan mereka dengan memberi tahu masalah dirinya pernah mencium gadisnya dengan terpaksa.


Bintang menggeleng dengan wajah terlihat bingung.


""Tidak, Dirgan tidak pernah memberi tahu ku.""


Aksa melirik balkon kosong Dirgan yang terlihat dari pekarangan, ia jadi menyesal sudah mempunyai pikiran buruk terhadap sahabat kekasihnya.

__ADS_1


""Aku mencium mu pas waktu di gunung, lebih tepatnya aku memberi mu nafas buatan."" akuhnya ragu ragu.


Ah.. seharusnya dirinya tidak membahas itu, toh Dirgan saja tidak mempunyai mulut ember, kalau seperti ini sudah talang tanggung untuk menelan pengakuannya sendiri, siap siap saja dapat amukan dari gadis galak yang ada di sampingnya, di amuk tidak apa apa yang penting jangan sampai di jadikan mantan, pinta Aksa berdoa membatin.


""pfufufufu.."" Raut wajah Bintang yang masam kini berubah menjadi raut wajah yang geli menahan tawanya agar tidak pecah.


Aksa mengkirut aneh, kenapa Bintang malah ingin tertawa? bukannya marah karena ia sudah mengambil ciuman tanpa minta ijin dulu.


""Kamu tidak marah, Culun?""


""Hahahaha.. kenapa harus marah, itu bukan ciuman Aksa bodoh, tapi itu pertolongan."" Bintang menarik hidung Manjung Aksa dengan sangat kuat.


Aksa bernafas lega, ternyata Bintang tidak menganggap jika waktu itu ciuman dan hanya menganggap itu hanya pertolongan pertama yang siapa saja boleh melakukannya jika hal terdesak seperti kejadian kemarin kemarin. Namun di sisi lain walau pun Bintang tidak menganggapnya serius ia malah menganggap jika itu adalah ciuman pertamanya yang manis, yang sudah di kasih ke orang yang tepat, yaitu kekasih hatinya saat ini dan sampai kapanpun, Bintang adalah miliknya, telak Aksa.


Ya... Bintang tidak mengakui itu adalah ciuman, karena itu di lakukan Aksa sebagai tanda pertolongan pertama untuknya, ia berpikir ciuman itu adalah di mana di lakukan orang yang sedang sadar satu sama lain.


""Bin, kamu belum menjawab ku.?""


""Apa?"" Bintang mengkirut.


""Aku mencintai mu. kamu ?""


""Aku tahu pria dingin, aku pun sama.!"" Sahutnya tersenyum manis. ""jadi... kamu harus berjanji untuk tidak akan pergi meninggalkan ku.""


""Yubikiri.."" Bintang membalas seraya tersenyum sabit.


""Aku berharap ini bukan sekedar janji Aksa, Aku benar benar nyaman di dekat mu."" Batin Bintang setelah melepas jarinya yang terkait di jari Aksa.


Aksa tiba tiba menerawang, mata elangnya menatap kosong rumah Bintang yang ada beberapa meter di depan, ia baru ingat jika sepulangnya dari study touring, ia belum sempat berbicara ke papanya tentang penolakannya kuliah di luar negeri. Tiba tiba ia mendengus kesal sendiri karena sikap papanya yang tidak pernah pulang ke rumah.


""Bin, aku pergi dulu ya, ada urusan yang harus aku selesaikan."" Pamit Aksa.


"" Apa sangat penting ? kita belum belajar lho. ingat, besok sudah mulai ujian.!""


""Eum..aku akan belajar setelah urusan ku selesai.""


Aksa berdiri dari duduknya mengacak lembut rambut Bintang tanda sayang darinya. Belajar memang penting, tapi kali ini ia harus melewatkannya dulu demi hubungannya bersama Bintang, ia tidak sabar menemui orang tuanya di kantor. dan Aksa sangat berharap kalau papanya ada di tempat sore hari ini.


Aksa sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu, Bintang sudah berada di balkonnya dengan buku pelajaran di tangan, ia tiba-tiba mendengus karena suara teriakan Biru yang mengganggunya di kamar sebelah.


""Si brownies kenapa sih, meraung tidak biasanya.!"" monolognya penasaran seraya berlompat ria ke balkon Biru, Bintang jadi porno sendiri karena sepupunya itu tidak pernah meraung-raung tidak jelas seperti sekarang.

__ADS_1


Bintang menguping terang terangan aksi Vane dan Biru, menyenderkan punggungnya di pintu balkon yang terbuka lebar seraya tersenyum geli melihat Biru yang di paksa meminum sesuatu oleh tantenya, Vane.


""Ma.. jangan ma..."" Biru membekap mulutnya sendiri saat Vane akan memberikan segelas jamu khusus pencuci perut.


""Ayo sayang, di minum, katanya kamu sudah lima hari tidak BAB, ini obatnya."" Vane dengan Agresif nya menyodorkan jamu ke mulut Biru yang masih ke bekap.


""Ma.. tidak ma, itu rasanya pasti tidak enak, Baunya saja...Hoeek..!"" ucap Biru dengan suara tidak jelas karena mulutnya masih di bekap sendiri.


Bintang berjalan masuk mendekat ke arah kasur Biru.


""Butuh bantuan Tante.""


""eum.. sangat, Cantik. lihat lah sepupumu, Tante hanya mau memberikan jus mengkudu ini tapi Biru menolaknya."" Vane pura pura cemberut, supaya Bintang dan Biru memelas.


Bintang mengambil alih gelas yang berisi Jus itu. mencium aroma jus tersebut.


""Hoeek.. pantesan Biru menolaknya, baunya aja kaya Pesing Pesing aneh."" Batin Bintang menyeringai. ia harus membuat Biru meminum jamu bau itu.


Biru yang melihat seringai itu langsung menutup mukanya dengan bantal.


""Biru.. minum.."" pintah Bintang, suaranya terdengar memaksa, bukan membujuk.


Biru menggeleng cepat. ""Aku tidak mau.""


""Kenapa, ini enak lho.""


""kalau begitu, kamu saja yang meminumnya.""


""Setelah ini, kita akan jalan jalan.""


""Tidak.."" tolak Biru.


""Main basket bersama."" Bujuk Bintang lagi tapi yang di bujuk masih menggeleng dengan muka tertutup bantal.


Bujukan demi bujukan Bintang lontarkan, tapi tetap saja Biru masih keras kepala sampai Vane angkat tangan seraya duduk di sofa pojokan.


""Kita akan makan seafood malam ini."" Bujuk Bintang untuk yang terakhir, ia sudah mau menyerah.


Biru langsung membuka penutup mukanya, menarik jus mengkudu yang di tangan Bintang yang baunya jijik abis, lalu meneguknya dengan hidung di pencet kuat.


Aaaah.. ternyata harga tolak Biru hanya sepiring seafood saja. Vane dan Bintang hanya menggeleng geleng kepala di buatnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2