
Bintang yang sudah di parkiran kantor tiba tiba mendumel sendiri, perihal handphone yang sempat di keluarkan dari tas tertinggal di atas meja sekretaris. dengan malas ia harus kembali keruangannya sebab handphonenya butuh di operasi kan.
Bintang pun kembali kehaluan di mana lift berada yang akan mengantarkan ia ke ruangannya.
""Pagi, Nona Jaauza."" Sapa June yang satu lift dengannya.
Bintang tersenyum ramah. ""Pagi."" sahutnya.
""Apa Anda tidak ikut meeting dengan pak Aksa."" penasaran June.
""Tidak, aku dapat tugas di luar kantor."" bohongnya. ""Tapi smartphone ku ketinggalan jadi harus naik turun lift."" Timpalnya
""O.."" June hanya sekedar bulat menyahutinya namun di akhiri dengan senyum ramah.
Ting...Pintu lift terbuka, June keluar duluan di lantai di mana ruang meeting berada. lift pun kembali tertutup untuk melanjutkan tugasnya mengantarkan Bintang ke lantai selanjutnya.
""kenapa hidup ku seperti ini, harusnya aku yang memporak porandakan hidup Aksa, bukan sebaliknya."" Frustasi Bintang.
Ting...
Lift kembali berbunyi tanda tugasnya sudah selesai mengantarkan Bintang. gadis itu pun keluar dan melangkah panjang menuju ruangannya.
Ceklek...
Seketika Bintang terkesiap saat mendapati asisten Aksa, Alex berada di ruangannya sedang gelagapan atas kedatangannya.
""Pak Alex.?"" Selidik Bintang sampai alis terangkat satu. ""Apa yang anda lakukan di ruangan ku ? apa ada hal penting atau anda sedang mencari kutu di tembok.?"" Songong Bintang, Gadis itu mendapati Alex sedang meraba-raba tembok di belakang meja kebesarannya.
""Damn."" umpat Alex dalam hati, ia hampir ketahuan habis dari ruangan rahasia Fatur.
""Ah..i.itu..Mm saya lagi ngusir cicak, iya, itu."" Gugup Alex terbata bata.
""Aneh, anda sangat aneh tuan Alex, masih pagi sudah melantur seperti ketahuan maling."" Bintang tertawa renyah, namun entah kenapa hatinya tidak suka dengan orang yang masih berdiri di dalam ruangannya.
Alex mendumel dalam hati, ia tersinggung atas ceplas-ceplos Bintang yang di lontarkan.
""Maaf, saya permisi."" Datar Alex dan segera pergi dari hadapan Bintang.
Bintang hanya mengangguk.
""Di mana amplop coklat itu berada ? sial , kenapa harus hilang segala sih, jangan sampai di temukan oleh Tuan muda atau Nona Jaauza."" Frustasi Alex dalam hati.
""Bos serta asisten sama sama aneh."" Cibik lirih Bintang, ia kembali duduk di kursi sekretaris, meraih handphonenya dan sesegera mengoperasikannya.
__ADS_1
Saat daun telinga sedang asyik mendengarkan orang yang lagi berbicara di seberang telpon, Bintang melirik ke arah bawah kakinya, dan seketika melihat amplop coklat yang sebelumnya terjatuh ke bawah mejanya. ia pun menunduk dan meraih amplop tersebut.
Sambungan sudah terputus. Bintang kembali memperhatikan amplop panjang yang entah apa isinya.
""Amplop, kamu isinya apa? duit kah? berlian ? atau Dino saurus."" celetuknya seraya membuka perlahan penyangga amplop coklat yang misterius pemiliknya.
Bintang menyerinyit aneh, saat membaca secarik laporan medis seseorang di tempat perkantoran, jika di area rumah sakit itu hal wajar, tapi....ini perkantoran, Siapa pemilik laporan tersebut yang bernamakan Garlin.
""Wow.."" Bintang terheran saat meneliti dalam dalam laporan medis tersebut yang menyatakan orang itu positif pemakai obat terlarang.
""Gila.., pemakai."" Gumamnya.
Seketika matanya membelalak lagi, saat mendapatkan tanggal yang tertera di dalamnya. serta mendapati nama penanggung jawab tes urine tersebut.
""Opa? kenapa hasil penelitian urine ini terhempas jauh ke kota ini, ini kan nama opa ku, rumah sakitnya juga milik Opa yang ada di kota kelahiran ku, dan tanggalnya, aku belum lahir."" Heran Bintang.
Bintang mengetuk ngetukkan telunjuknya di atas meja, berpikir.
""ini milik siapa? Garlin, siapa ? di dalam kantor.? tanggal sudah lampau? penanggung jawab Anggalio Al Miller? "" Bintang berpikir keras, mencoba menyambung sambungkan teka teki laporan medis yang tiba tiba ada di dalam kantor.
Namun lima menit kemudian...""Auh..ah..bukan urusan ku ! urusan ku saja sangat memekikkan otak, dan itu karena mu pria pemaksa."" Dumelnya merasa gondok sendiri jika sudah kembali memikirkan permintaan Aksa yang tiba-tiba ingin menikah, sedangkan hatinya saja masih buta untuk Aksa.
Bintang yang lagi pusing sendiri serta belum tahu menahu arti dari laporan tersebut, Hanya mengabaikan surat itu dan malah memasukkan ke dalam laci meja kerjanya.
******
Merasa capek serta bosan yang hanya beraktivitas molor, gadis itu segera membersihkan tubuhnya setelah mendapat ide yang pastinya ide yang akan merepotkan Dirgan, sahabat serta tetangganya di unit sebelah.
Bip...bip...bip..
Gadis berpendidikan namun kadang kadang nyebelin nan tidak tahu etika itu, main tekan tekan tombol unit milik Dirgan tanpa mau mengetuk pintu.
Ceklek...
Pintu terbuka lebar, Dirgan yang lagi telanjang dada di ruang tamu seketika ngeberit kabur masuk ke kamar setelah menangkap sosok tubuh Bintang yang berdiri di dekat pintu.
""Hahahaha.."" Bintang bukannya malu malah tertawa geli. "" Dirgaaaaahayu..kamu sudah seperti gadis perawan menyembunyikan dadanya."" Geli Bintang.
""Yaak.. Gadis nakal, awas saja."" Dirgan mencibik seraya berlari masuk ke kamarnya.
Bintang hanya menggeleng geli dan mendudukkan pantat sintalnya di sofa yang sebelumnya di duduki Dirgan dengan laptop masih On di atas meja ruang tamu.
Bintang meneliti wallpaper laptop Dirgan, di situ ada....
__ADS_1
"" Jaauza kecil."" Senyum Bintang mengembang tanpa sadar, Dirgan masih menyimpan foto dirinya yang lagi tersenyum Ompong.
""Gadis nyebelin."" Dirgan yang sudah memakai baju datang datang menarik lembut rambut Bintang dari belakang lalu dengan cepat berloncat duduk menyilang di atas sofa panjang di sebelah Bintang.
""Yaaak, bisa tidak duduknya itu jangan pecicilan."" protes Bintang yang dapat guncangan sofa empuk akibat ulah Dirgan.
""Kamu juga, bisa tidak masuk ke unit orang mengetuk terlebih dulu."" Protes Dirgan tak mau kalah.
""Tidak bisa."" cengir Bintang.
""mmm."" malas Dirgan. ""Ada apa ? tumben kesini, biasanya juga aku yang nyamperin baru ketemu, padahalkan tetangga."" Lanjutnya.
Seketika Bintang merubah raut wajah cerianya menjadi raut sendu jika mengingat permintaan Aksa, ia berpikir akan curhat dan meminta penerangan lewat Dirgan.
""Kenapa mukamu jadi jelek begitu ?"" tanya Dirgan yang menyadari perubahan raut wajah sahabatnya.
""Dir...""
Bintang yang akan curhat masalahnya, seketika terpotong oleh suara bel dari luar unit.
""Sebentar, ada tamu.! "" Dirgan beranjak cepat menuju pintu.
"" Tamu ? siapa ?"" lirih Bintang.
Penasarannya terobati, saat melihat sosok sepupunya berjalan mendekat ke arahnya.
""Wah, aku bertamu di waktu tidak pas ternyata."" Nata menyenggol lengan Dirgan yang berdiri di sampingnya.
""Apa sih."" Dirgan berpura-pura bodoh.
Bintang mendongak menatap Nata dan Dirgan bergantian.
""ngapain kesini ?"" Tanya Bintang ke Nata, nadanya pun terdengar ketus.
""Jaauza sayang, Aku kesini karena sudah janjian sama Dirgan, kita ada acara."" Jelas Nata tersenyum simpul.
Bintang menatap Dirgan yang memberinya anggukan.
""janjian ? acara ? kenapa aku tidak di ajak ? aku ikut. ?"" Antusias Bintang.
""Tidak boleh."" Kompak Nata dan Dirgan.
""Kenapa ? emangnya mau kemana ?"" cemberut Bintang.
__ADS_1
""Mall, Cafe."" Bohong kompak Nata dan Dirgan, Namun berucap tidak sama membuat Bintang merasa aneh dan Bingung serta penasaran.
""Cih, bohong kok tidak kompak."" Bintang menyeringai ""Jangan harap kalian bisa pergi dari sini kalau tidak ada yang jujur."" Sisih galaknya seorang Bintang sudah di sematkan di wajah cantiknya.