
""Skatmat.."" Ujar Biru yang sedang bermain catur bersama Dirgan di rumah Bintang.
""benarkah?"" Gilang yang asyik menonton permainan catur, sangat antusias jika ada yang kalah dalam permainan itu, antara Biru dan Dirgan. ia sangat senang jika melihat kakanya, Bintang. menghukum Biru ataupun Dirgan dengan cara memoleskan riasan di wajah mereka. dan dengan nakalnya, Gilang malah memotret Dirgan yang sedang di lipstikin oleh Bintang pas di bibir pria remaja itu.
""Anak nakal, jangan di potret."" Dirgan mendengus kesal saat Gilang terbahak dan malah mencepret mukanya yang sudah di polesi bedak dan lipstik.
"" Cantik tahu kak, makanya Gilang fotoin, dan aku akan menaruh foto kak Dirgan di kandangnya mumun, monyet gilang yang entah cewek apa cowok, kalau Mumun naksir berarti monyet Gilang tuh cowok."" Goda Gilang seraya memegangi perutnya yang sakit terkikik terus.
""Yaak..Gue gibeng lu, anak kecil."" Dirgan menaruh Bogemannya di udara, Namun tertahan saat mendapat tatapan mematikan dari kakanya Gilang, Bintang.
""Hahaha..benar kata Gilang, lihat lah dirimu, seperti pria gemulai...!"" Goda Bintang tergelak, seraya memberikan kaca kecil supaya Dirgan bisa melihat wajah gemulainya.
""Cih..Banci dong..!"" Cibik Dirgan mengerucutkan bibirnya yang sudah di lapisih lipstik merah neon. membuat orang yang ada di sekitarnya tergelak tidak berhenti.
""Eum.. kurang lebih seperti itu, hihihi.."" Bintang terbahak bahak, di timpali dengan bahaknya Biru dan Gilang dengan sangat keras sampai ruang keluarga penuh dengan suara tawa, membuat Dirgan semakin mengerucutkan bibir seksinya.
""Kalau kak Dirgan cantik, berarti kak Biru adalah kartun Sinchan yang lucu, yang mempunyai alis tebal itu." sekarang Gilang anak nakal itu, mengkritik Biru yang memakai pensil alis, yang aslinya sudah mempunyai alis yang tebal dan hitam pekat sehingga membuat wajah Biru terlihat Lucu aneh.
""yaak..anak nakal."" Seru Biru menyelusupkan kepala Gilang di keteknya.
""iih..jorok..ketek kak Biru bau bangkai."" Celetuk Gilang sebal.
""Ah.. sudah dong mainnya, enak si Bintang sama Gilang aja, mereka seenak hatinya menertawai kita."" Ucap Dirgan. dan di angguki oleh Biru.
"" yaaak..jangan dong."" lerai Bintang. ""Aku beliin Baso deh di luar.. tapi kalian tetap melanjutkan permainannya, ok.""
""waaah..kalau makan mah..Ok aja.."" Girang Dirgan mengelus perutnya yang benar sudah keroncongan.
""hhmmm..di sogok makanan aja semangat lu, preet.."" ledek Biru. Dirgan melengos asam menimpuk Biru pakai kulit kacang, sedangkan Bintang sudah tak terlihat.
****
""Bang baso nya empat mangkok, yang satu nya pedas jangan pakai toge, satunya lagi jangan pake mie, saosnya sedikit aja...bla..bla..bla.."" Bintang memesan baso dengan mulut cerewetnya tidak berhenti ngomong, padahal ia baru datang membuat pelanggan yang mengantri menggeleng geleng merutuki Bintang. dan membuat pedagang itu pusing dengan pesanannya yang berbelit Belit.
""Meow.."" Bintang menundukkan kepalanya, mengerutkan dahinya saat ada kucing yang mirip Bambang menyerudukkan kepalanya di kaki jenjang Bintang.
"" Kamu Bambang bukan sih? "" tanyanya berjongkok seraya mengelus kucing itu dengan sayang.
""Bam..""
Sepasang kaki berhenti di depan tubuh jongkok Bintang, memanggil nama kucing itu dengan nafas tersengal.
__ADS_1
""Aksa..? kok ada di sini ?"" tanya Bintang mendongak.
""eum..A-aku lagi nyari angin bersama Bambang.!"" ucapnya Gugup, tidak menyangka ia akan bertemu orang yang sudah membuatnya nyaman.
""wah.. berarti kamu benar Bambang ya, ih..kamu gemukan ya, Bam..!"" Bintang menggendong tubuh kucing itu seraya beradu plotot plototan mata bersama Bambang.
""Lucu."" Ucap Spontan Aksa.
""Apa? tadi kamu ngomong sesuatu ?"" tanya Bintang yang samar samar mendengar Aksa bergumam.
""Kamu ? ngapain ?"" tanya Aksa gugup mengelak.
"" aku lagi bel---- ah..itu !"" Bintang menunjuk Bakso yang di bawakan oleh penjual baso.
""Thanks.. Abang ganteng."" Goda Bintang ke tukang baso sehingga Abang itu tersipu malu sudah di katain ganteng.
""Apa kamu mau ?"" tawar Bintang mengangkat jinjingan di tangannya.
Aksa menggeleng. ""Tidak.""
""ooh..ya sudah, aku duluan ya, pria dingin, Bambang,"" pamit Bintang mencium kucing itu di gendongannya Aksa.Membuat Aksa tersenyum nyaman saat menghirup aroma harum rambut Bintang.
menghentikan langkah Bintang yang ingin menghampiri taksi.
""Naik odong odong."" Ceplak Bintang terkikik sejenak melihat wajah datar Aksa. ""Naik..taksi maksud ku? kenapa ?""
Aksa tiba tiba menarik tangan Bintang untuk menghampiri mobilnya, berniat ingin mengantar Bintang.
""Aksa.. Lepas..Apa yang kamu lakukan."" kaget Bintang ingin menarik tangannya namun Aksa memegangnya dengan sangat kuat.
""Mengantar mu? apa lagi ?""
""Yaaak..tangan ku sakit dodol.""
****
""Sampai.."" ucap Bintang yang sudah berada di depan rumahnya. "" pria dingin ? mau mampir tidak ?"" tanyanya membuat Aksa merasakan gugup terus.
""Apa boleh."" ragu Aksa.
""eum turun lah, aku kenalkan adik nakalku ?"" Bintang turun dari mobil Aksa berjalan dengan Aksa yang mengekor di belakangnya.
__ADS_1
""Baso..datang.."" teriak Bintang membuat Dirgan dan Biru menoleh cepat dengan wajah lebih parah menornya dari awal.
Aksa melongo melihat dua orang yang di kenalnya dengan wajah tidak berbentuk laki laki tulen, ia merasa geli ingin tertawa namun di tahannya dengan ekspresi datarnya.
""Yaak.."" seru Biru dan Dirgan malu dengan kehadiran Aksa. mereka langsung kabur masuk ke kamar mandi dengan cara berebutan.
""Hahahaha.."" gelak Gilang dan Bintang.
""Wah..pacar baru nih.."" ceplos Gilang menatap selidik ke Aksa.
""pletaak.. anak kecil sok tahu."" Bintang menjitak kepala adiknya.
""Duduk Aksa.."" Ucap Bintang tersenyum manis. "" dia adik ku, Gilang."" lanjutnya memperkenalkan adik nakalnya.
""Hai kak Aksa..itu apa ?"" Gilang menunjuk jinjingan yang di pegang Aksa.
""oh..ini Pizza, mau ?"" tawar Aksa.
""Mau banget kak, ah.. tahu aja bawanya pizza, ini kan ke sukaan Kak Bintang, cowok idaman ternyata.!"" Celetuk Gilang menarik kotak itu dengan mata berkedip lucu menggoda kakanya dan Aksa.
""Ya..ampun anak kecil ini, tidak tahu malu, Kaka potong Burung mu tahu rasa lho."" ancam Bintang, membuat Gilang langsung kabur dengan berteriak mengadu memanggil mamanya.
Aksa tersenyum tipis. ""adik mu lucu..Dirgan dan Biru, kok ada di rumahmu."" Aksa menaikkan satu alisnya minta penjelasan. ia penasaran hubungan Bintang dengan Dirgan, entah di sekolahan maupun di rumah selalu ada Dirgan di dekat Bintang.
"" mereka sahabat ku, rumahnya aja sebelahan, tinggal lompat balkon nyampe deh ke kamar mereka."" terang Bintang. Aksa manggut paham dan legah.
""Siapa Bin.?"" Suara Meca terdengar mengintimidasi dari belakang sofa yang di duduki Aksa. spontan Aksa menoleh ke belakang dan tersenyum kikuk.
""Teman Ma, namanya Aksa."" Ucap Bintang.
""Malam Tante."" sapa Aksa dengan gugup. dan hanya di balas senyuman tipis dari Meca.
Meca menatap selidik wajah Aksa, ia mendudukkan bokongnya di sofa tepat berhadapan dengan duduknya Aksa. memincingkan matanya dengan otak berpikir, ia seakan tidak asing melihat wajah Aksa.
Sedangkan Aksa yang di tatap begitu merasa gugup dan salting, ia bingung harus berekspresi apa, sebelumnya ia tidak pernah sama sekali bertamu di rumah orang.
""Anak ini kan, anak yang pernah aku lihat berantem di jalan dan aku juga pernah melihat dia merokok di sembarang tempat."" Batin Meca tak suka dengan sifat Aksa yang berandal. Namun wajahnya Aksa, samar samar mengingatkan ia dengan seseorang.
""Ma..? kenapa ? apa mama kenal Aksa?"" tanya Bintang, ia merasa aneh dengan tatapan selidik mamanya ke Aksa.
""Ah..tidak..mama tidak mengenalnya, ya sudah mama mau ke dapur di sini tercium asap rokok yang tidak enak di hirup oleh tubuh."" Sindir Meca membuat Aksa tersentak, Aksa ingin sekali pergi dari tempat Bintang dengan cepat saat melihat tatapan tidak suka dari Meca. Namun di sisi lain Aksa merasa irih dengan hidup Bintang yang mempunyai adik lucu nakal, dan orang tua yang terlihat menghawatirkan anaknya jika bergaul dengan orang yang salah seperti dirinya mungkin.
__ADS_1