
Seperti yang di minta Aksa, Bintang mau mengajari ilmu manajemen yang ia sudah kuasai lewat pelatihan dari Om Om kecenya, Titan dan Kemal. walaupun ia belum terlalu ahli, namun ia sudah menguasai poin poin penting tentang pelajaran itu.
Bintang sekarang terlihat di rumah Aksa yang mewah tapi sepi. berjalan pelan mengekor Aksa, entah ruangan mana yang akan di tujuh oleh Aksa namun sekarang mereka di lantai dua.
Gadis itu merasa ada yang aneh dan bingung, sedari tadi berjalan masuk, tidak ada satu orang pun keluarga Aksa yang terlihat menyapa mereka. hanya ada beberapa pelayan yang menyapa ramah kepadanya. sangat berbeda sekali di suasana rumahnya yang rame, ini yang kedua kalinya berkunjung namun masih sama, Sepi.
Mata kucingnya, sibuk mengerlyatkan ke arah dinding, berharap ada foto keluarga yang menempel di sana, tapi tidak ada satu pun yang menarik, hanya gambar aneh dan kepala binatang seram yang berjejer rapih. ingin bertanya pun tentang keluarga temannya itu, Namun tidak berani dan tidak mau lancang untuk mengetahui apa yang tidak harus di ketahuinya.
' Dilarang masuk sebelum mengetuk.
Bintang membaca tulisan itu di pintu yang berwarna putih, dengan jailnya ia mengetok kuat kepala Aksa di depannya yang sedang membuka pintu.
""Aww..."" ringis Aksa kesakitan. "" yaak.."" protesnya saat Bintang tanpa dosa malah menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.
""Kenapa kau mengetok kepala ku,? benar benar galak.!"" cibik Aksa masih di depan pintu.
""Apa ? kenapa kamu protes ? salahkan saja tulisan pintu itu, aku hanya mengikuti nya ?"" Bintang menahan diri untuk tidak tertawa melihat cemberut Aksa.
Aksa menoleh ke pintu kamarnya sekilas. "" yaak..harusnya kamu mengetok pintu, bukan kepala ku."" cibiknya masih tidak terima.
Bintang maju satu langkah mendekat, menangkup sebelah pipi Aksa dengan satu tangannya, memaksa menepis muka Aksa untuk menoleh ke pintu, agar membaca seksama peringatan di pintu tersebut.
""Baca lah dengan seksama."" Geli Bintang.
"" Apanya? itu tulisannya benar, Dilarang masuk sebelum mengetuk."" ketus Aksa membaca.
""Yaak..bodoh, seharusnya kamu menulis, Di larang masuk sebelum mengetuk PINTU."" Bintang menekan akhir kalimatnya dengan sangat ketus.
"" Yaak..kamu memang benar, aku lupa menulis, pintunya. tapi kan tidak usah mengetuk kepala ku juga, KALI...!"" ketus Aksa.
"" Yaak..nyolot, jadi maunya apa sekarang ?"" tantang Bintang sudah siap dengan kuda kuda pertahanannya.
""Tidak.."" Aksa mendekat selangkah, memincingkan matanya ke arah bahu Bintang. "" Bin..di bahu mu ada apanya ? seperti ulat bulu."" Bohong Aksa.
__ADS_1
"" Ulat Bulu."" Mata Bintang langsung merem kaget mendengar ulat bulu yang menjijikkan menempel di tubuhnya, ia spontan bergidik jijik seraya berjingkrak jingkrak heboh tanpa menoleh terlebih dahulu.
""aah...Aksaaaa... tolooonginn..
aaaaaaaarggh...Aksa..Aksa..iiihhhh.. tolongin.."" Pekik Bintang masih merem berjikrak heboh. Tangannya ingin membuang mahluk kecil itu, tapi hanya sekedar melayang tidak berani menepis di bagian bahunya, jijik. jika tangannya harus bersentuhan langsung, bisa bisa ia akan merasakan gatal gatal.
""Aksa...Aksa.."" pekiknya ingin meminta bantuan cepat.
""pfufufufu.."" Aksa menahan tawanya agar tidak terdengar oleh Bintang yang sedang meram berjingkrak heboh. ia lebih mendekat lagi ke arah Bintang, berpura-pura menepis ulat bulu yang tak pernah ada.
""Sudah..! bukalah matamu."" geli Aksa.
Bintang berhenti berjingkrak, membuka matanya, menoleh pelan ke arah bahunya dengan wajah merah geli jijik.
""Haaa..rumah mu mewah tapi jorok sekali, sudah seperti hutan belantara ada ulatnya."" Bintang membuang nafas kasarnya, dengan masih bergidik jijik menatap bahunya.
""Eum..Ni ulatnya, apa kamu mau menyentuhnya? ."" Aksa melayangkan kepalannya di depan Bintang. Berbohong, jika benar ada ulat bulu di dalam kepalannya.
""iiiihhh..Aksa..jorok..jorok..jorok.. buang nggak..?"" kesal Bintang menepuk kasar lengan Aksa berkali kali. ""Buang..! atau aku balik saja."" Ancamnya seraya mengerucut kan bibir mungilnya.
""Aaaaa..Aksa..Bughh..Bughh... Bughh.." Merasa di kerjai, Bintang menimpuk kepala Aksa dengan Buku yang sedari tadi di bawanya.
Aksa berhenti tertawa, menangkap tangan Bintang, agar gadis itu tidak memukulnya lagi. "" Maaf.."" ucapnya pelan pas di hadapan wajah Bintang seraya menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis itu sehingga tatapan mata mereka bertemu lagi.
Tidak ingin lama lama saling beradu tatapan, Bintang langsung membuang muka ke samping dengan wajah yang terlihat tersipu malu.
""Eum..ayo kita mulai belajarnya."" ucap Bintang seraya mencoba mengatur detak jantungnya yang selalu berdetak kencang jika tiap kali Aksa menatap matanya dengan intens.
""iya..Ayo masuk."" ucap Aksa mempersilahkan Bintang untuk masuk ke kamarnya.
""Apa ini kamar mu.?"" tanya Bintang. Aksa manggut sebagai jawaban.
""Tidak, kenapa harus di kamar?"" takut Bintang. ia tidak mau berlebihan sampai harus belajar saja di dalam kamar. walaupun mantannya banyak, tapi ia bisa menjaga dirinya sampai saat ini.
__ADS_1
Aksa menyerinyit mengerti dengan keraguan Bintang. ""Kenapa ? tenang saja? aku bukan cowok kurang ajar seperti orang orang yang telah kamu patahkan tangannya."" terang Aksa mengingatkan Bintang dengan kelakuan kurang ajar Justien di roof top, kala itu.
Bintang menatap Aksa dengan tatapan selidik. ""Apa kamu tahu tentang itu.?"" tanya hati hati Bintang.
""Iya..tahu, aku bahkan merekamnya, dan itu, punya kamu kan.? punya si culun setan tompel Ompooong.!"" sahut Aksa, seraya menunjuk masuk ke arah nakasnya yang terdapat kaca mata bulat tebal punya, Bintang.
Bintang mengikuti arah telunjuk Aksa seraya memiringkan kepalanya untuk bisa melihat apa yang di maksud oleh pria itu.
""kok Bisa..? kenapa ada di kamu.? dan..Ah..apa tadi, yang kamu Bilang ? merekam.?"" Bingung Bintang, setahu ia cuma ada Dirgan dan orang orang jijik itu yang ada, Aksa tidak terlihat di kala itu.
Aksa mengangguk pelan."" iya.!""
""Tch.. penggemar, ternyata."" Celetuk Bintang dan di iya kan oleh Aksa dengan membatin. ""Ayo ah.. Belajar, lupakan masalah di roof top."" Cuek Bintang. seraya melangkah masuk melewati Aksa yang berdiri di ambang pintu.
Satu jam lebih belajar, terlihat beberapa buku berserakan di meja belajar Aksa, Bintang terlihat serius menjelaskan pelajaran itu, Entah Aksa mendengarnya atau tidak, ia pun tidak tahu. karena ia beberapa kali memergoki Aksa sedang meneliti wajahnya dari pada meneliti buku yang harus di pelajarinya.
""Ayo di ulang."" Ucap Bintang, menyuruh Aksa untuk mengulang apa yang baru saja ia jelaskan tentang pelajaran itu.
Aksa gelagapan."" ulang ? apanya?""
""Tentang pelajaran ini ? apa lagi?""
""Oh..kirain, ulang untuk menatap wajah mu."" lirih Aksa Sangat pelan seraya tersenyum manis.
Aksa sudah mengulang semuanya dengan tepat dan benar, tidak lebih ataupun kurang, pria itu benar benar teliti dan pas, membuat Bintang melongo, ternyata pria yang ada di hadapannya sangat cepat menangkap pelajaran jika bersungguh sungguh untuk belajar.
""Aksa..apa aku boleh bertanya.?"" ucap Bintang.
""eum bertanya lah? tidak ada yang melarang.?"" sahut Aksa tanpa menoleh, pria itu lagi sibuk membereskan buku-bukunya.
"" Kenapa baru hari ini, kamu ingin bersungguh sungguh untuk belajar?"" penasaran Bintang. ""Dan orang tua mu ? kemana ?"" seledik Bintang.
"Deg.."
__ADS_1
Bersambung..