BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 32


__ADS_3

Bintang sudah mendapatkan penanganan serius dari team medis seadanya dari pedesaan tersebut. Dirgan yang sudah tahu asal usul keluarga besar Bintang dengan cepat menghubungi Angga dan Airin di pedesaan yang sama seperti sekarang berada.


Dengan penuh kebingungan, Angga dan Airin menghampiri tempat yang di maksud oleh Dirgan malam hari begini, Terlalu banyak pertanyaan Airin dan Angga yang tertahan. Kenapa bisa cucunya berada di desanya tanpa di ketahui sebelumnya. dan kenapa Dirgan suaranya terdengar panik dan terburu buru sekali.


Dengan menempuh jalan aspal yang sudah rusak, Angga dan Airin sudah sampai di puskesmas yang Dirgan maksud. Orang tua itu main menerobos masuk ke ruangan dimana Bintang berada tanpa perduli ada banyak pasang mata yang menatap tanya di luar ruangan termasuk Dirgan dan Aksa yang di suruh menunggu di luar.


""Oma Opa?"" panggil Dirgan, Tapi yang di panggil langsung menutup pintu ruangan itu.


""Oma opa?"" ulang Aksa yang berdiri di samping Dirgan. Dirgan mengangguk.


""Mereka Oma Opa, Bintang."" jelasnya.


Pintu ruangan terbuka, Airin keluar dengan wajah susah di tebak, dan langsung menatap Dirgan lalu menyuruhnya masuk.


""Aku ikut."" pinta Aksa lalu mendului Dirgan membuka pintu yang sudah tertutup itu.


Di dalam ruangan Bintang, Dirgan menatap sedih ke arah sahabatnya, benar benar terulang lagi ke jadian masa kecil dulu, Sama seperti waktu itu, Bintang bernafas di bantu dengan alat pernapasan medis dengan injeksi di tangan lembutnya.


""Bintang..!"" sedih Aksa. ia ingin mendekat namun tidak enak dengan orang tua yang berdiri di samping sisi tempat berbaring Bintang.


""Dirgan, jelaskan? apa yang terjadi ? dan kenapa cucu Oma bisa sakit."" Ucap Airin,ia belum tahu sepenuhnya jika Bintang sakit karena fobianya kambuh lagi.


Dengan hati hati Dirgan menjelaskan semuanya secara garis besar, namun ia juga tidak tahu apa penyebab Bintang bisa terpisah dari rombongan karena ia beda team dengan sahabatnya itu.


Angga memijit pelipisnya yang sudah keriput, menatap istrinya dengan tatapan penuh maksud.


Airin mengangguk lalu keluar dari ruangan tersebut, orang tua itu bermaksud untuk mengurus pemindahan perawatan Bintang ke rumahnya saja yang sebenarnya lebih memadai dari pada puskesmas kecil itu, sebagai pensiunan Dokter, mereka menyanggupi semua kesalamatan cucunya dan sebenarnya mereka berniat membangun kan Bintang malam ini juga bagaimana pun caranya.

__ADS_1


Dengan segala urusan kepemindahan Airin selesai kan, kini Bintang sudah berada di rumah yang terlihat besar dari rumah orang orang warga lainnya.


Aksa dan Dirgan ikut bersama mereka, dan itu tidak masalah bagi Oma Opa nya Bintang.


""Airin, apa kamu yakin kita akan mengobati tuan putri kita dengan cara ini?."" ragu Angga. Seraya tangannya meracik obat herbal seapik mungkin.


""Aku yakin..cucu nakal mu ini akan bangun dari tidurnya, walaupun harus mimpi buruk dulu, meskipun begitu tapi aku yakin Bintang akan bisa melawan halusinasi dari efek samping obat tradisional ini.


""Jika gagal gimana.?"" Sahut Angga.


""maka bersiaplah mendapat ocehan dari anak serta menantu mu, Vero akan membawa orang medis nya ke desa ini dan jika bisa, mungkin rumah sakitnya juga akan di bopongnya buat mengobati anaknya."" Canda Airin, entah apa yang di pikirkan oleh orang tua itu, bukannya tadi mereka panik dengan keadaan cucunya, tapi ini kelihatannya seolah Bintang hanya tidur yang tidak perlu di khawatirkan.


Airin dan Angga berniat menyadarkan Bintang dengan bantuan ramuan tradisional yang efeknya sudah terbukti, bukannya mereka tidak mempercayai medis yang membesarkan nama mereka sebelumnya, Namun mereka ingin mencoba apa yang mereka dengar dari warga setempat dan ingin membuktikan langsung kepada cucunya, tapi juga masih dalam pengawasan medisnya. jadi mereka akan melakukan pengobatan dua tahap sekaligus, tradisional dan medis modern.


Angga terlihat menyuntikkan sebuah ramuan yang sudah di raciknya ke dalam selang injeksi Bintang. Aksa dan Dirgan baru masuk di ruangan itu, Airin menoleh dan menyuruh kedua remaja itu untuk duduk di sofa yang terdapat di kamar tersebut.


""Diamlah, apa kamu meragukan mereka, asal kamu tahu, mereka itu pensiun Dokter hebat di kota kita.!" sahut bisik Dirgan seraya menatap Airin yang berdiri di sebelah tempat tidur Bintang, takut jika para orang tua itu mendengar Aksa yang telah meragukannya.


Airin menoleh ke belakang, di mana Aksa dan Dirgan duduk, sebenarnya telinga tua itu masih tajam mendengar bisik bisik orang yang sedang membicarakannya.


""Tunggu reaksi obat yang sudah kalian amati di atas gunung itu, apakah bekerja dengan baik di tubuh Bintang atau tidak."" Jelas Airin santai lalu duduk di tengah tengah anak remaja itu.


Setelah menunggu selama satu jam lebih, reaksi yang di maksud Airin sudah nampak terlihat. Bintang mengeluarkan keringat dingin di bagian dahinya. Kaya nya anak itu sedang bermimpi buruk, persis dugaan Airin, kalau Efek samping obat itu akan berhalusinasi.


Di dalam halusinasinya, Bintang. Di sebuah tempat yang gelap gulita, tubuh Bintang terduduk lemas ketakutan karena tidak ada cahaya apa pun, Bintang menangadakan mendongak, saat mata kucingnya menangkap sosok silau putih yang terang semakin mendekat ke arahnya, ia sedikit bernafas lega karena ia mendapat pencahayaan yang masuk ke netranya.


Bintang berdiri dari duduknya, menghampiri cahaya silau yang di pancarkan dari aura perempuan yang seumuran dengan Mamanya. Namun ia tidak tahu siapa pemilik wajah cantik itu.

__ADS_1


Dengan hati hati, Bintang semakin mendekat ke arah silau terang itu.


""Diam di situ, jangan sampai melewati garis itu."" cegah wanita cantik itu.


Spontan Bintang berhenti lalu menunduk menatap garis merah antara tempat gelap dan tempat terang di mana perempuan itu berdiri.


""kenapa? aku takut di tempat gelap, aku ingin berdiri di samping mu yang terang benderang."" sahut Bintang takut.


""Tidak sayang, tempat mu bukan di sini, tempat ini khusus buat orang orang yang bersalah seperti aku."" ucap paru baya itu, tatapan matanya memancarkan kesedihan ke arah netra Bintang.


Bintang mengkerut, alisnya seakan menyatu, Bingung dengan ucapan orang yang berada di tempat terang itu.


""Pergilah dari sini, banyak orang orang yang menunggu mu dengan sayang di sana, termasuk anak Tante."" ucapnya


""Anak Tante? siapa ? ""Bingung Bintang.


Wanita paruh baya itu tersenyum hangat. ""anak Tante teman dekat kamu, tolong jaga dia dan jangan pernah tinggalkan anak Tante apa pun yang terjadi, supaya dia tidak salah jalan, dan bila suatu saat anak itu salah jalan maka tuntunlah dia ke jalan yang benar.""


Bintang semakin mengkerut sangat Bingung, ia sama sekali tidak mengerti ucapan orang yang ada di depannya itu, Anak orang itu siapa? salah jalan apa?.


""sampai kan maaf ku juga kepada orang tua mu, Jaauza. terutama mama mu."" lanjutnya. lalu lama kelamaan silau itu meredup berangsur angsur menghilang.


""Tante.. tunggu..anak Tante siapa.?"" teriak Bintang melayangkan tangannya ke depan.


""Tante...tunggu...!!!"" ulangnya di dunia nyatanya, Bintang membelalakan matanya di atas kasur tempat ia berbaring dengan keringat dingin penuh bercucuran mengabsen setiap inci kulitnya, ditambah nafas yang memburu seakan habis berlari maraton.


""Bintang..!"" orang orang yang berada di kamar itu menghampiri Bintang dengan wajah panik masing-masing.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2