
""Aah..ap..?"" ucap Bintang terpotong.
Deg...
Bintang sangat terkejut, melihat orang yang begitu di kenalnya lewat begitu saja di hadapannya tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya, jantungnya tiba tiba memompa darah lebih cepat mengalir naik ke saraf kepalanya.
""Aa..AKSA.."" Bintang menjatuhkan smartphonenya, berucap tanpa sadar dengan suara nyaring terdengar oleh beberapa karyawan termasuk Wiwid dan June yang berada di sampingnya, Wiwid makin merutuki kelakuan Bintang, hilang sudah karyawan cerdasnya begitu saja tanpa ada pembelaan darinya.
Semua karyawan menatap tanya ke cerobohan Bintang.
""Kenapa ? kenapa kamu muncul di hadapan ku, ini cuma mimpi kan.?"" tanyanya membatin ke dirinya sendiri.
Bintang mencubit lengan June begitu keras, berpikir kalau June berteriak kesakitan berarti dirinya tidak bermimpi.
""Aawwh..""
June menjerit dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menoleh menatap horor ke Bintang, tapi yang di tatap hanya datar tak berdosa.
""Aduh...ya ampun, June.., Anda ikut ikutan ingin di pecat, Keuangan dan marketing akan hancur balau jika kalian di pecat."" Batin Wiwid pusing Frustasi.
CEO AL Crop yang bernama lengkap Aksara Lionel Gilman, berhenti dari langkahnya yang ingin berbelok ke lift khusus CEO. Belum menoleh pun, Aksa sudah tahu siapa pemilik suara itu.
""Bintang."" Gumamnya mematung, semenit kemudian langsung menoleh menatap Bintang dengan mata berbinar bercampur aduk antara senang, sedih, dan ada kemarahan di dalam mata manik elangnya.
""Bintang, kamu ternyata di kota ini, setelah beberapa bulan kepulangan ku dari Berlin, aku mencari mu kemana mana di kota lama."" Batin Aksa.
Bintang terdiam, ia tersadar dari keterkesiap-nya. Alon alon, Bintang mundur ke belakang tubuh June, seraya membuang mukanya dengan tangan terkepal kuat, rasanya, ingin sekali ia menonjok muka dingin Aksa yang pernah meninggalkannya tanpa ada klarifikasi apa pun. Namun, Bintang sadar diri, ini bukan saatnya melakukan hal konyol yang bisa membuat dirinya malu sendiri.
""Pak Wiwid, tolong bubarkan."" Titah Aksa masih menatap Bintang dengan tatapan nano nano.
""Satu lagi pak Wiwid, anda juga pergilah, aku bisa pergi ke ruangan ku sendiri."" Lanjutnya tidak ingin di ganggu secara tiba-tiba.
Wiwid mengangguk paham, lalu memberi isyarat kepada bawahannya untuk segera kembali ke pekerjaannya masing-masing.
""Nona Jaauza."" Panggil Wiwid menyadarkan Bintang dari situasi keterkejutannya terhadap Aksa.
""i i iya pak."" sahut Bintang terbata.
""tolong keruangan ku, sekarang. ada kabar buruk untuk Anda."" pinta Wiwid berat hati berniat ingin memberikan surat pemecatan.
__ADS_1
""Baik, pak, saya akan menyusul setelah habis dari toilet."" Sahut Bintang, ia berusaha bersikap biasa biasa saja di hadapan Aksa padahal sakit hatinya tersirat kembali lagi atas penghianatan Aksa kepadanya di kala itu.
Bintang pun pergi meninggalkan Aksa yang masih mematung menatapnya, tanpa ada basa basi yang keluar dari mulut serta gerakan ingin menghormati atasannya seperti teman karyawan lainnya yang melempar sapaan pamit untuk Aksa. Bintang malah muak melihat kehadiran Aksa saat ini.
""Bintang, ingin sekali aku memeluk mu saat ini, Tapi, aku tidak bisa, aku sekarang dalam situasi bingung !"" Batin aksa menatap nanar punggung Bintang yang menjauh darinya.
Aksa menahan dirinya atas kebimbangannya. Hati dan logikanya beraduh jika mengingat pengakuan papanya mengenai kronologis hidupnya.
""Tuan Aksa, saya pamit undur diri."" Sopan Wiwid seraya membungkuk hormat.
""Pak Wiwid tunggu."" Aksa menghentikan langkah Wiwid yang akan pergi dari hadapannya.
""iya..Tuan !"" sahutnya.
"" Karyawan yang tadi jangan di pecat, Apa posisinya.?""
Wiwid bernafas lega, ia tidak jadi kehilangan karyawan cerdasnya.
""Maksud Tuan, Nona Jaauza.?"" tanya Wiwid meyakinkan dirinya.
""Jaauza ?"" ulang Aksa.
""iya, namanya Jaauza Tuan."" Wiwid mengangkuk mengiyakan.
Aksa membaca ulang tulisan kecil yang tertulis di sapu tangan tersebut, ia baru sadar makna sapu tangan itu, jika Jaauza berarti Bintang dan Bintang berarti Jaauza.
"" iya, karyawan itu, posisinya apa.?"" selidiknya.
""Maneger marketing, Tuan. Nona Jaauza termasuk karyawan yang skiilnya cerdas, inovasinya juga sangat unik tapi selalu menggoli target pemasaran."" Wiwid membanggakan Bintang ke CEOnya, berniat meyakinkan kalau Bintang tidak pantas untuk di pecat begitu saja.
Sangat sayang kalau karyawan berkualitas di depak begitu saja, pikir Wiwid.
""Jadikan dia sebagai sekretaris ku, dan posisi sekretaris dulu pindahkan kemanapun yang menurut pak Wiwid tepat."" Telak Aksa. lalu melangkah masuk ke lift yang sedari tadi di tahan oleh Asisten pribadinya agar tidak tertutup.
""Astaga, kenapa begini ? Nona Jaauza skiilnya menjadi pemimpin marketing, bukan sekretaris. aah.. harus mulai dari nol lagi mencari pengganti Nona Jaauza, Apa Tuan muda suka dengan Nona Jaauza, tadi aja dari kejauhan ingin memecat, dari dekat terhipnotis dengan kecantikan nona Jaauza."" Wiwid, pria berkacamata dengan umur matang terpaut jauh dari Aksa, menggerutu meninggalkan lobby memijat pelipisnya yang merasa pusing dengan keinginan CEOnya.
****
Tok...tok..tok...
__ADS_1
Bintang mengetuk ruangan wakil direktur, membuka pintu setelah mendapat sahutan dari dalam.
"" Duduklah, Nona Jaauza."" tangan Wiwid memberi isyarat untuk menyuruh Bintang duduk di kursi di depan meja kebesarannya.
Bintang menurut duduk.
""Jadi, kabar buruk apa yang pak Wiwid ingin sampaikan."" Bintang tanpa basa-basi langsung ke intinya.
""Kabar buruknya tidak jadi, justru Anda mendapat kabar baik.""
Bintang mengangkat satu alisnya meminta penjelasan maksud kabar buruk menjadi kabar baik.
""Apa itu pak.?"" Tanya Bintang penasaran.
""Anda akan di pindahkan ke posisi sekretaris CEO, dan itu permintaan langsung dari pemimpin kita.""
Praaak...
""Hidung babi...hidung babi..hidung babi."" Lata Wiwid.
Bintang tanpa sadar menggeprak meja Wiwid dengan begitu keras, sehingga Wiwid terperanjat kaget dengan mulut licin mengeluarkan ke lataannya.
""itu sih kabar buruk pak, kalau bisa tolong tolak saja, skiil saya di bidang marketing bukan sekretaris yang kerjanya harus melayani orang seperti CEO dingin itu."" Tolak Bintang, ia pun melupakan ke Formalitasnya ke Wiwid.
""Tolong mengerti Nona, saya hanya mendapat titah dari atasan, dan tadinya atasan kita ingin memecat anda karena ketidak sopanan anda yang sedang tertangkap memainkan smartphone."" Wiwid tanpa mengerti menambah kekesalan Bintang.
"" kalau begitu saya akan keluar saja, sini saya minta bolpoin dan kertasnya, saya ingin menulis surat pengunduran diri di depan pak Wiwid langsung dan berikan surat itu ke pria dingin yang menyebalkan."" Geram Bintang tidak tanggung-tanggung menantang Aksa.
Wiwid mulai curiga dengan perilaku Bintang, ia menatap Bintang penuh selidik. Jadi sekretaris CEO lebih enak dari pada Maneger marketing, kenapa wanita cerdas itu menolaknya.?
""Kayanya ada bau bau masalah pribadi antara Nona Jaauza dan Tuan Aksa."" Batin Wiwid berasumsi.
""Pak Wiwid, Minta kertas dan Bolpoin biar saya bisa bebas dari perusahaan ini."" Bintang membuyarkan lamunan Wiwid.
""Jangan Nona, anda akan kena denda pinalti kalau mundur dari perusahaan ini sebelum anda lepas kontrak."" Wiwid membuat alasan agar tidak kehilangan karyawan cerdasnya.
""Tch.. perusahaan miskin, aku tidak menemukan pasal itu waktu membaca surat kontrak tersebut."" Bintang semakin geram namun kegeramannya tertuju ke Aksa.
""Tapi tidak apa-apa, aku akan bayar, berapa pinaltinya.?"" Lanjutnya tidak ingin berlama lama berurusan dengan perusahaan yang di bangun oleh Aksa.
__ADS_1
""Dua ratus Lima puluh juta."" Tantang Wiwid menyeringai, Wiwid merasa, Bintang tidak akan mampu membayar denda sebanyak itu dan mau tidak mau Bintang menurut menjadi sekretaris Aksa.
Praaaaak...