BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 58


__ADS_3

""Aksa ?"" Ulang Dirgan sangat terkejut.


Bintang mengangguk seraya menjawab. ""iya.."" Tekannya.


""kok Bisa ? apa kamu senang bertemu Aksa lagi ? apa kamu menyukainya ? apa kalian balikan ? "" Tanya Dirgan dengan sekali tarikan nafas.


Bintang melongo tak berkedip menatap Dirgan, ia menangkap sorot kekecewaan di mata sahabatnya.


""Bin.."" Panggil Dirgan minta sahutan seraya membuang mukanya ke layar TV, ia menyadari kalau Bintang sedang menatapnya dalam dalam.


""Dirgaaaaahayu, kamu kenapa terlihat kecewa?"" selidik Bintang. ""Apa kamu Cemburu.? kalau aku bersama Aksa lagi ? tapi kenapa ?""


""Aah shit..! tumben ni gadis pekah.!"" Batinnya tak ingin menatap Bintang.


""Aku tidak cemburu."" Bohong Dirgan ""aku hanya tidak habis pikir kenapa Aksa tiba tiba datang setelah pergi meninggalkan mu.!""


Dirgan kembali menatap Bintang setelah menormalkan mata kekecewaannya.


""Apa kamu masih mencintainya.?"" selidik Dirgan. ia berharap Bintang menjawabnya tidak.


Bintang mengedipkan bahunya."" Entah lah ?"" Bingungnya dengan hatinya yang merasa ada sedikit getaran sewaktu Aksa memeluknya sekilas.


Nyess... Dirgan kembali menelan pil pahit, ia menangkap sorot mata Bintang masih ada harapan untuk Aksa, dan Dirinya.... harus menerima kenyataan pahit itu lagi.


""Ayo kita makan."" Dirgan yang tak mau ketahuan patah hati lagi, sengaja merubah topik.


""Ayo..taraktir yang banyak ya."" Senang Bintang langsung bergegas pergi mengganti pakaiannya, ia berniat akan makan banyak malam ini tanpa takut berat badannya akan bertambah.


Dirgan tersenyum kecut, menatap punggung Bintang dengan sendu.


""Nasib ku hanya sahabat saja sampai kapanpun."" pasrahnya memegangi dadanya yang merasa sesak.


Hanya beberapa menit, Dirgan menunggu Bintang berubah pakaian rumahnya menjadi pakaian modis andalannya. Kini mereka sudah berada di dalam lift untuk mengantarkan mereka ke bawah.


""Kita makan di mana Bin ? terus naik apa, aku belum ada kendaraan di sini?"" tanya Dirgan yang sudah tahu kalau mobil Bintang pun di tinggal di gedung tempatnya bekerja.


""Jangan risau, aku punya sopir yang siap datang walaupun dia sedang bergulat di ranjang."" Bintang teringat dengan Nata yang selalu datang jika dirinya sedang butuh tumpangan.


""Maksud mu, Nata?"" tanya Dirgan.


Bintang mengangguk mantap.


""Ayo telpon dia, suruh jemput, kita akan makan bersama."" Bintang menggebu-gebu, ia merindukan saat-saat berkumpul bersama, hanya kurang Biru saja.


""Baiklah."" patuh Dirgan segera mendail kontak Nata.

__ADS_1


Ting...


Lift pun sudah melakukan tugasnya mengantarkan Bintang dan Dirgan ke lantai bawah, dengan tangan melingkar manja di lengan Dirgan, Bintang berjalan layaknya menggandeng kekasihnya.


""Coba ini gandengan layaknya sepasang kekasih, mungkin aku adalah pria yang paling bahagia."" Batin Dirgan berangan angan seraya tersenyum manis ke tangan Bintang yang tidak mempunyai mata.


""Oya, Dir ! Kamu disini lama atau tidak? kamu kesini khusus Bertemu aku kan?"" Tanya Bintang. Mereka sekarang sudah berdiri di Lobby menunggu kedatangan Nata.


""Tch, Ge er, ngapain aku harus mengistimewakan pacar orang."" Sindirnya, ia menarik manja hidung Bintang.


""yaak, aku bukan pacar siapa siapa, Dirgan. Aku itu Gadis bebas yang bisa menggandeng mu seperti ini."" protesnya.


""Hanya menggandeng? tidak mau lebih ?"" Goda Dirgan penuh maksud.


""Lebih ? maksud mu.?"" Bintang menautkan kedua alisnya.


""Cium, mungkin."" Pintanya berharap seraya memegang pipinya.


""Hahaha..aku kira apa ! Sini aku cium tuh pipi yang ada jerawatnya."" Seringai Bintang.


Dirgan yang mendengarnya langsung memasang wajah sebelahnya yang terdapat jerawat rindu, menjenong sebiji jagung.


Bintang menyeringai setan, dengan cepat ia mencubit kecil jerawat tersebut sampai mengeluarkan isinya.


""Aww.."" Ringis Dirgan kesakitan. ""Bintang."" Cemberutnya ingin memegang pipinya yang berdarah.


Dirgan mematung membalas genggaman tangan Bintang dengan jantung bergerumuh kencang, Bintang selalu berhasil membuatnya menderita jantung sekaligus membuatnya gagal hati.


""Dir."" Ucap Bintang.


""Eum.."" sahutnya.


""Tangan."" Ucap Bintang melirik tangannya yang masih di genggam oleh Dirgan.


""Ah..maaf."" Dirgan gelagapan melepas tangan Bintang.


""Hey..pipi mu merona."" Goda Bintang. Gadis itu selalu tidak peka.


""Mana ada, pipi ku merah karena sakit bodoh."" elaknya.


""Masa ?aku kira merona gara gara aku."" celetuk Bintang. Namun itulah kenyataannya.


""Selalu saja Ge er."" Elak Dirgan lagi. "" Tapi kalau sebenarnya gimana.?"" Lanjutnya penasaran dengan mata penuh harap.


""mm..Mulai deh, menggoda. kamu itu banyak cewek bohay tidak mungkin suka dengan ku.!"" tepis Bintang.

__ADS_1


"" Bodoh, itu hanya topeng."" Batin Dirgan.


""Aku akan membuang kebiasaan itu, Gimana ? "" Tawar Dirgan.


""Bagus itu, buanglah dan cari gadis yang bersungguh sungguh mencintaimu."" petua Bintang.


""Dasar.."" Dirgan tidak sadar mengeluarkan kegeramannya, ia menoyor jidat Bintang agar terbuka otaknya kalau sebenarnya ia hanya menginginkan dirinya, Bintang.


""Dirgan."" Kesal Bintang membalas toyoran Dirgan dan berhasil membuat beberapa mata memandang aneh ke arah mereka.


"" woy.."" teriak Nata dari dalam mobil yang baru sampai. ""kalian mau toyor toyoran terus apa mau naik, aku hitung sampai tiga kalau tidak naik aku pergi lagi.""


Nata datang datang sudah kesal sendiri gara gara di ganggu oleh suara Dirgan yang menelponnya tiba tiba, dan mau tidak mau menjemput Dirgan dan Bintang padahal dirinya sedang fokus membidik mangsanya yang akan di bawah ke ranjang 'One Night' nya.


Mendengar hitungan Nata, Dirgan dan Bintang ngebirit berebutan pintu belakang untuk naik ke mobil.


""Tch.. menyebalkan."" Dengus Nata menatap horor Bintang dan Dirgan yang sedang cengengesan kepadanya.


""Nata, wajahmu seakan kehilangan sinarnya."" Goda Bintang yang duduk di kabin belakang bersama Dirgan.


""pikir aja sendiri, aku seperti sopir kalian, salah satunya pindah kedepan."" pintanya karena dirinya merasa sopir yang sedang mengantar majikannya yang sedang berpacaran.


""Hahaha, sorry bro, kamunya membuat kami panik dan alhasil aku dan Bintang naik sedapatnya pintu."" santai Dirgan mengalah turun dan akan pindah kedepan.


Nata yang melihat Dirgan sudah turun, ia menyeringai dan sengaja melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan.


""Nata, ngajak ribut kamu, ayo berhenti."" kejar Dirgan cepat.


""Hahahaha.."" Gelak tawa Bintang dan Nata di dalam mobil seraya Nata menginjak remnya.


praaaak...


Dirgan membuka pintu depan mobil dan menutupnya secara kasar membuat Nata dan Bintang semakin tergelak tawa melihat kejengkelan Dirgan.


""Sekarang yang hilang cahaya Tampannya adalah Dirgan."" Goda Bintang.


""iya..hahaha..satu sama."" timpal Nata, menoleh ke belakang dengan seringai tertuju ke Bintang.


""Nata, jangan coba coba, mengerjaiku."" Tebak Bintang sudah memberi peringatan.


""Ayo lah, jalankan mobil jelek mu, kasihan sudah ada yang kelaparan, gara gara boke."" jengah Dirgan.


""Siapa yang lagi Boke."" Nata sudah menginjak pedalnya.


""Aku..! aku lagi miskin, jadi malam ini kalian akan aku kuras."" Senang Bintang mendapat kesempatan untuk mengerjai Nata dan Dirgan.

__ADS_1


""Dengan senang hati."" Kompak Nata dan Dirgan bersamaan.


__ADS_2