BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 22


__ADS_3

Mata siswa siswi khususnya kelas 12, menatap bingung ke Aksa yang berdiri di barisan upacara Bendera ritual setiap hari Senin. Entah ada angin apa sehingga seorang anak pemilik sekolahan yang terkenal dingin itu mau mengikuti acara khusus hari Senin, biasanya boro boro ikutan, menampakkan batang hidungnya di kelas saja syukur syukuran. ini, Aksa, rela panas panasan di bawah sinar matahari.


Baju yang biasanya amburadul selalu membuka kancing seragamnya sehingga memperlihatkan baju kaos brandalnya, kini berubah menjadi rapih, sepatu yang biasanya berwarna terang kini berubah menjadi berwarna gelap hitam yang berbalut indah menopang kaki jenjang kekarnya. Namun tetap ada satu yang berantakan, rambutnya. tapi ciri khas rambut berantakannya itu yang membuatnya terlihat berbeda, Tampan.


Aksa hanya cuek, mendapat tatapan aneh dari teman temannya, Bahkan Bintang yang berdiri di sampingnya saja menatapnya penuh ke anehan dan kebingungan.


""Bin..apa aku terlalu tampan ya, sehingga kalian selalu mencuri pandang ke arah ku.?"" tanya Aksa, yang sebenarnya hanya tatapan dari Bintang saja yang ia perduli kan.


""Eum.. sangat tampan dan berbeda."" jujur Bintang. ""Aku suka."" lanjutnya memuji.


Aksa tersenyum manis, sikap dingin dan juga wajah datarnya hilang seketika jika bersama Bintang, pujian Bintang langsung mengena tepat di hati sepinya.


Matahari pagi sangat tinggi membuat Bintang mengeluarkan peluh yang membasahi pelipisnya, tangannya sesekali mengelus pelan dahinya untuk menghapus peluhnya.


Aksa melihat itu, tubuh tingginya sengaja ia balikkan menghadap ke arah Bintang, sedikit mendekat untuk menghadang sinar matahari yang akan menerpa wajah Bintang secara langsung.


""Aksa, apa yang kamu lakukan? benderanya ada di depan, bukan di depan muka ku."" Bisik Bintang, ia tidak tahu maksud Aksa yang ingin menjaga kulit wajahnya dari sinar matahari langsung.


""Aku tidak bermaksud menghina apa yang ada di depan, Tapi aku hanya menjagamu dari sinar matahari langsung."" Ucapnya, membuat Bintang langsung menatapnya dalam.


nyess... Tatapan itu bertemu seketika, darah mereka mengalir hebat, saat hati merasakan seperti ada setrum yang mengejutkan, hangat. jantung pun ikut bergerumuh berdetak kuat deg..dug..deg..dug..!


Bintang memutus tatapannya, membuang nafasnya pelan dengan menghadap lurus lurus ke depan. entah kenapa ia merasa gugup dan berbeda, saat mata elang Aksa menatapnya dalam.


Menunggu acara selesai, Aksa masih menghadap ke Bintang, membuat gadis yang ada di depannya, merasa gugup salting karena di tatap dalam terus.


""Aku duluan.."" ucap Bintang saat acara khusus telah usai. ia tidak menunggu sahutan Aksa, menghilang sekecap ia pikirkan saat ini. Aksa tersenyum senang saat melihat tingkah Bintang yang salting di buatnya.


""Gadis galak yang lucu."" lirih Aksa tersenyum.


""Ada apa ini.?"" Gumam Bingung Bintang memegang dadanya yang masih berdetak kencang, seraya berjalan menuju kelas.


"" ini, ambillah..!"" Sebotol minuman mineral tiba tiba di sedorkan ke depan Bintang membuat Gadis itu kaget dan spontan mengeluarkan kecerobohannya serta ke sigapannya dalam bela diri.

__ADS_1


""Opss..Aksa ! sorry..Aku tidak sengaja."" Malu Bintang, saat ia menepis kuat botol itu hingga membasahi baju serta wajah Aksa.


Bintang langsung mengeluarkan sapu tangan pink softnya untuk menghapus Air yang ada di wajah tampan datar Aksa. Bintang sangat serius membersihkan air tersebut sampai ia tidak menyadari mata siswi menatap iri serta ada yang menatap penuh dengan rasa kagum karena hanya Bintang saja yang bisa membuat Aksa luluh seperti itu.


Di ujung lorong, yang tidak jauh dari tempat Aksa dan Bintang berdiri, ada seorang Gadis dan seorang pria yang bermuka indo Jerman sedang mengepalkan kuat tangannya, tidak suka dengan sikap manis yang mereka saksikan.


""Aah..anak baru, kamu mengibarkan bendera perang."" Kesal Gissel yang tidak bisa dekat dengan Aksa.


""Damn.."" Umpat Justien. ""Aku akan membalasmu, Bintang."" Gumam Justien yang tidak terima aksi gila Bintang yang pas di roof top gedung.


""Apa kah aku sudah tergantikan.?"" sedih Morgan yang ikut menyaksikan aksi manis Bintang ke Aksa.


Aksa menangkap tangan lembut Bintang. ""Terima kasih, aku akan membersihkannya sendiri."" Ucapnya tersenyum seraya menarik lembut sapu tangan Bintang yang ada digenggaman gadis itu.


""eum, maaf sekali lagi, A aku duluan ke kelas.!"" Gugup Bintang berlari kecil meninggalkan Aksa yang masih setia berdiri dengan senyum manis tidak pudar pudar.


Aksa meneliti sapu tangan Bintang, membalik balikkan. "" Jaauza, Gambar Bintang."" Bacanya yang tertulis di sapu tangan itu.


Aksa menyelipkan sapu tangan soft milik Bintang ke dalam saku celananya berniat untuk menyimpannya untuk menjadikan kenangan jika ia benar-benar pergi ke luar negeri.


""Cieee..eheem..kayanya ada benih Love love ni.."" Suara Dirgan terdengar dari belakang Aksa menggoda pria dingin datar itu.


Aksa hanya menoleh sekilas, cuek. tidak mengindahkan godaan Dirgan, berjalan pelan menyusuri koridor kelas menuju ke kelasnya.


Dirgan mensejajarkan langkah Aksa, melirik ke wajah Aksa yang sedikit tersipu.


"" Aku harap sih ! jika kamu berhasil mendapatkannya, jangan pernah menyakitinya, Bintang adalah permata satu satunya di hidup keluarga besar kami, jadi kami selalu menomer satukannya."" Serius Dirgan memperingati Aksa. sebagai sahabat yang sudah di anggap keluarga olehnya, ia ingin yang terbaik untuk Bintang, sahabat sejatinya.


Aksa menghentikan jalannya menatap punggung Dirgan yang semakin jauh di depannya. ""Apa aku bisa.?"" Tanyanya ke hatinya. sedetik kemudian ia tersenyum yakin karena hatinya menginginkan Bintang.


"" jika tidak bisa jangan pernah mendekatinya, dan jangan pernah menyakitinya, sebelum terlambat lebih baik mundur dari sekarang, karena jika itu terjadi kami akan mengejarmu sampai ke ujung dunia."" telak pria berwajah brownies, Biru. seraya menepuk pundak Aksa dari belakang. ""permisi."" pamit Biru tersenyum ramah tersirat di wajah browniesnya.


Anak dari Titan itu, mempunyai sifat tenang tapi mematikan jika di usik, dan tanpa sepengetahuan Bintang dan Dirgan, ia pernah menghajar Morgan sampai babak belur, saat mendengar aksi Morgan yang terang terangan menyakiti hati Kaka sepupunya.

__ADS_1


""Kau sungguh beruntung Bintang, Banyak orang di sekeliling mu menjaga dan menyayangi mu, keluarga yang utuh serta sahabat sahabat yang baik. aku iri akan hal itu."" Gumamnya melangkah ke arah meja yang sudah ada Bintang yang setia menunduk membaca panduan manejemen.


Bintang melirik dengan ekor matanya ke arah Aksa yang sedang memperhatikan buku yang di bacanya.


""Apa kamu tertarik dengan buku Bisnis ku.?"" tanya Bintang. Aksa mengangguk.


""eum..kayanya menarik, apa kamu suka dengan bau bau bisnis?"" sahut Aksa yang sering melihat Bintang membaca isi buku tebal itu.


"" Eum aku suka..""


Aksa manggut pelan. "" Pasti cita cita mu ingin mempunyai perusahaan besar."" kepo Aksa.


""Tidak juga.."" sahut Bintang. membuat Aksa mengangkat alisnya satu, bingung. jika tidak ingin mempunyai perusahaan kenapa harus belajar tentang manejemen dengan tekun.


Bintang tersenyum tipis melihat wajah datar Aksa berubah berekspresi bingung.


"" punya perusahaan sendiri itu ribet, pusing, dan pastinya menyita waktu ku nanti, aku kan perempuan, aku pasti harus membagi waktu untuk keluarga ku nanti, paling aku hanya berniat bekerja sebagai pekerja kantoran biasa saja, lagian buat apa punya perusahaan jika suatu saat aku punya suami, nanti biar orang itu yang akan bekerja untuk ku."" terang Bintang panjang lebar seraya hatinya merasa geli sendiri atas pikiran panjang tentang masa depannya.


Aksa sebagai laki laki tersentak dengan pemikiran dewasa Bintang, Benar kata Bintang, jika laki laki harus bertanggung jawab kelak atas kehidupan pasangannya dengan baik, Bukan hanya materi saja namun harus bertanggung jawab atas yang lainnya, yang bisa membuat keluarga itu hangat tidak seperti papanya yang hanya bisa memberikan pasilitas mewah tanpa ada rasa hangat keluarga di dalamnya.


Kehadiran Bintang di hidupnya, bisa membuatnya sedikit demi sedikit merubah hidup dingin, sepi serta hal buruk lainnya.


""Apa kamu mau mengajari ku tentang Bisnis ?"" pinta Aksa memohon harap.


Bintang menoleh dengan dahi mengkirut halus. ""kenapa harus bisnis? apa Cita cita mu, itu? "" tanya Bintang dapat anggukan mantap dari Aksa.


""Eum..baiklah, tapi aku akan dapat imbalannya kan..?"" Goda Bintang meledek Aksa.


""Yaak..ada..! jika aku punya perusahaan, kamu akan menikmatinya juga."" sahutnya datar namun penuh maksud.


""eum..baiklah..aku tunggu itu."" polos Bintang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2