BINTANG (Journey Of Love)

BINTANG (Journey Of Love)
BINTANG 96


__ADS_3

""Apa kah kita harus menurut manis ?"" Tanya Rere.


Nata dan Biru tersenyum setan.


""Rere sayang."" Nata mulai merayu. "" kamu kan anak gadis nih.....""


""Terus...?"" potong Rere dengan nada ketus, ia sudah mencium cium hal aneh dari sikap Nata dan Biru.


""Jadi....kamu di rumah jagain orang orang."" Ujar Biru tersenyum manis, wajah manisnya bertambah manis.


""Aku ti----"" penolakan Rere terpotong saat Vane berdehem keras.


""Biru dan Nata pergilah, Biar anak tomboy ini yang tinggal di rumah."" kata Vane. Rere bermuka asem tertuju ke Biru dan Nata yang sedang tersenyum menyebalkan baginya.


""Thanks Ma..."" Ucap Biru mengedipkan satu matanya untuk menggoda Vane.


Nata dan Biru pun bergegas berlari keluar meninggalkan Rere yang sedang memerengut dengan bibir mengerucut akut.


""Ngomong ngomong si Dirgan kampret kemana ? sahabat ke susahan dia malah asyik menghilang."" Kesal Biru yang memegang kendali kemudi.


Mereka sudah berada di atas mobil bersama dan siap meninggalkan pekarangan.


""Mungkin dia lagi nangis kejer akan di tinggal menikah oleh Bintang."" Celetuk Nata.


Biru mengerutkan dahinya Bingung dengan celetukan Nata.


""Mak....?""


Ctaaak...


Ctaaak...


Pertanyaan penasaran Biru terhenti saat dari kabin belakang ada tangan kurang ajar yang tiba-tiba main jitak jitak kepalanya begitu saja di kepala belakangnya, Nata pun sama terkena jitakan oleh tangan tanpa dosa.


Kedua sepupuan itu pun menoleh kebelakang, bahkan Biru yang membawa kemudi mobil terperanjat kaget saat melihat sosok Dirgan yang sedang tiduran di kabin belakang.


""Dirgan..?"" Pekik Nata dan Biru bersama.


""Cih, Lebay."" Cibik Dirgan ""siapa yang lagi nangis kejer, hah?"" Ketusnya.


Nata yang berucap tak memperdulikan keketusan Dirgan, Nata hanya heran, kenapa Dirgan bisa ada di atas mobil ? apakah Dirgan Jin yang bisa menghilang.

__ADS_1


""Dir, kok kamu di sini ? kapan naiknya ?"" Biru pun ikut terheran heran.


""Jangan banyak tanya, cepat lajukan mobilmu dengan benar, aku sudah tidak sabar Ingin menyelamatkan Bintang."" Ucarnya malas menjelaskan yang tahu tahunya ia sudah di atas mobil Biru yang tidak terkunci sebelumnya.


Dirgan yang tadinya menuruni anak tangga rumahnya tidak sengaja mendengar percakapan orang tuanya yang sedang bersiap siap pergi dengan kunci mobil di tangan Gion, ia mendengar jika Bintang dalam masalah, dengan berlari menuruni anak tangga ia pun bertanya dan meminta ikut bersama, Namun Fina tidak mengizinkan sama persis ke Nata dan Biru yang hanya di suruh menjaga rumah.


Dirgan dengan bohong mengangguk patuh saja, dan setelah kepergian orang tuanya. Dirgan memprediksi jika mungkin Biru akan pergi menggunakan mobilnya untuk diam diam menyelamatkan Bintang, dengan santai ia pun tiduran di kabin belakang seraya menunggu Biru datang.


Sebenarnya Dirgan bisa saja mengendarai mogenya sendiri tapi....ia tidak tahu di mana tempat Bintang di sekap dan mau tidak mau ia harus menunggu Biru.


******


Di Gudang terbengkalai, Rombongan Vero sudah sampai dan bergegas masuk tanpa pikir panjang lagi, mereka terlihat bodoh dengan ke cemasan untuk Bintang dan Gilang, Entah apa yang di inginkan oleh Fatur dari mereka semua. mereka pun tidak perduli keinginan Fatur, yang terpikir hanya satu yaitu menyelamatkan Bintang dan Gilang segera.


Tap....Tap....Tap.


Suara langkah berirama terdengar menyeruak di gudang tua, Fatur menyeringai licik mendengar nada langkah itu dan segera menyuruh anak buahnya untuk bersiap siap.


Kreeeek...


Vero yang berada di paling depan segera membuka pintu yang sudah berdebu, tangannya tanpa sadar di tepukkan untuk sekedar membuang debu yang menempel di kulit bersihnya.


Bintang mendengar tepukkan itu, rasanya...ia ingin berteriak untuk menyuruh Keluarganya agar jangan masuk dan pergi saja, Namun...apalah daya, ia tidak bisa bersuara sebab sekarang mulutnya pun ikut dibungkam pakai kain ulah Alex.


""Hust.. diamlah Gadis cantik, keluarga mu sudah sampai, sebentar lagi kita akan menyaksikan pertunjukan yang menarik."" Bisik Fatur ke Bintang.


Bintang menggeleng berniat berucap agar Keluarganya jangan sampai di sakiti.


""Fatur......"" Teriak Vero menggema di tempat sepi nan jauh dari keramaian kota.


""Keluarlah..!"" Timpal Meca ikut berteriak.


Tidak ada sahutan, hanya ada suara tikus di balik minim cahaya di gudang itu.


""Apa kalian yakin ? jika orang jahat itu bersembunyi di sini ?"" Ragu Fina.


""Kami yakin, tempat ini adalah di mana aku dulu menyiksanya."" Ucap Vero.


""Eum, benar..!"" Timpal Titan membenarkan.


""Hust...Diamlah."" Telinga kelinci Kemal mendengar pergerakan kecil di balik kegelapan.

__ADS_1


Semua pada waspada, Meca yang tidak mempunyai keahlian bela diri sengaja di tarik oleh Vero agar segera mendekat ke sampingnya.


""Fatur.... keluarlah, kami sudah di sini.."" Pekik geram Meca. ia sudah tidak sabar ingin melihat keadaan anak anaknya.


""Pengecut."" Fina sengaja memancing.


Tak...Tak...Tak...


Dan benar saja, Lampu yang sengaja di matikan seketika menyalah dan menampakkan dua puluh anak buah Fatur yang mengelilingi di setiap sudut ruangan yang lumayan luas itu. Namun anehnya, Aksa tidak terlihat di antara orang orang itu.


Braaak...


Fatur dan Alex sengaja menendang tumpukan kardus kosong yang menutupi mereka dari penglihatan keluarga Bintang, dan..... terekspos, Bintang tertangkap dari mata keluarganya dengan keadaan tidak berdaya terikat persis seperti gambar yang di kirim oleh Fatur ke Meca.


Rahang Vero, Titan, Gion, dan Kemal seketika mengeras. rasanya ingin sekali ia menghajar Fatur sekarang juga, namun... Bintang pasti di ambang masalah jika mereka melakukan aksi gegabah.


""Bom..?"" Pekik Fina yang tidak sempat melihat gambar dari smartphone Meca.


""Hai...hai....hai... Nyonya Malik"" Santai Fatur mengibaskan tangannya. ""aku disini ! aku bukanlah pengecut dari dulu sampai sekarang, pembuktian ku terucap di pengadilan, jika aku pasti akan balas dendam ke kalian terutama kamu, ahli hukum."" Tunjuk jauh Fatur ke Meca.


""Bin.."" Tanpa sadar Meca berjalan mendekat ke arah Bintang. Bintang menggeleng untuk jangan maju, air matanya pun seketika mengalir.


""Ayo mendekat."" Lirih Fatur menyeringai.


""Meca, tunggu..."" Tarik Fina di tangan Meca untuk mencegah.


""Fin, Bintang Fin."" Pilu Meca. ""aku ingin ke sana ?"" Lanjutnya. tapi Fina semakin erat memegang tangan Meca.


""iya aku tahu, tapi sabarlah...apa kamu lihat gelengan kepala Bintang. Aku pikir itu tanda untuk jangan mendekat, dan fatur pun tidak ada cegatan, berarti pasti ada sesuatu di sekeliling Fatur."" Bisik Fina menyimpulkan. Sementara Meca tidak bisa berpikir jernih sekarang, intinya apa pun yang akan di lakukannya agar anak anaknya selamat dari ancaman Fatur.


""Fatur, lepaskan anak ku ! dan Gilang ? mana dia .?"" Vero menyadari jika anak nakalnya tidak terlihat. Meca gelagapan, ia baru sadar jika anak bungsunya tidak terlihat di ruangan itu.


Fatur hanya menyeringai tidak niat untuk menjawab Vero. Mata tajamnya sibuk tertuju ke Gion yang terlihat mencurigakan.


""Gion..?"" Kesal Fatur.


""ya...aku ! apa kamu ingin berkenalan lagi dengan jeruji besi ku, hah ?"" Tantang Gion.


""Sial.." Umpat Fatur. ""Buang senjata mu, dan Kalian, siapapun di antara kalian yang membawa Senjata, maka lemparkan ke arah anak buah ku, atau.... Bintang akan mati."" Ancam Fatur dengan sebilah pisau yang tertuju ke leher Bintang.


Bersambung.....

__ADS_1


Vote....Vote....Vote...


__ADS_2