
"" Kenapa kamu memberikan cek itu ke pak Wiwid."" penasaran Aksa saat pak Wiwid sudah pergi meninggalkan mereka.
""Apa masih perlu aku jelaskan, atau kamu tidak ikhlas kehilangan uang itu."" kesal Bintang berapi api. Aksa menggeleng.
Bintang melangkah berdiri tepat di depan tubuh Aksa.
""Uang itu bukannya sudah menjadi milikku, sebagai tanda penghinaan darimu, Aksara Lionel Gilman."" Tekan Bintang dengan geram menunjuk wajah Aksa secara kasar.
Giliran Aksa yang terdiam mendengar kan Bintang dengan mata tajammya menatap nyalang telunjuk Bintang. ia sebenarnya tidak menerima tangan kurang ajar Bintang menunjuknya dengan kasar.
""apa kamu bilang ? aku adalah wanita matre ? Aku adalah wanita yang tidak suci ?"" Bintang menjeda, membuang nafas sesaknya. Sungguh, sekarang ia merasa terpukul dengan penghinaan Aksa kepadanya.
""Aku, Jaauza Al Miller merasa berterima kasih atas penghinaan yang anda berikan, dan iya.. kalau Aku memang wanita murahan, apa ada masalah buat anda ? Aku hidup dan mati pun anda tidak berhak untuk menyentuhku walau seujung kuku pun, apalagi mencium ku seperti tadi, karena kita hanya orang asing sekarang, jadi anda tidak berhak menghina dan ikut campur dengan kehidupan ku yang sudah tidak suci ini."" Bintang menekan semua perkataannya agar Aksa mencernanya dengan baik.
Bintang yang sudah sangat marah malah mengakui penghinaan Aksa yang tidak benar adanya.
Bintang berpikir, Suci atau tidak suci lagi dirinya, Aksa sama sekali tidak berhak mempertanyakan itu kepadanya, karena hubungan mereka sudah berakhir sejak lama.
""Kata siapa kita orang asing.?"" Ceplos Aksa, masih saja mengagap Bintang adalah kekasihnya. "" Kita belum putus ! tidak ada kata-kata itu yang keluar dari dulu sampai sekarang."" Lanjutnya tidak tahu malu.
Bintang tersenyum remeh mendengar penuturan Aksa dengan geram tangan entengnya kembali menampar Aksa.
Tamparan Bintang berhasil membuat seorang Aksa kembali mengeras rahangnya, gigi gigi pun saling beradu menahan geramnya.
"" tch, putus ? jangan kaya anak Abg Aksa, aku pikir kamu pasti mengerti dan kamu pasti tahu, kalau pasangan kekasih itu seharusnya tidak melanggar yubikiri nya dan tidak pergi meninggalkan kekasihnya begitu saja di bawah gelap malam serta di bawah derasnya hujan, di timpal terkena bahaya di kala itu, kemana kamu di waktu itu, hah ? kenapa kamu tidak datang dan kenapa kamu malah pergi begitu saja meninggalkan ku bersama kekasih barumu, kamu sudah membunuh perasaan ku di saat itu juga dan walaupun tidak ada kata putus tapi itu semua sudah mewakili jika kita sudah tidak punya hubungan lagi. hubungan kita hanya sebagai atasan dan bawahan di saat ini, jadi ku peringatkan jangan mempertanyakan lagi kesucian ku."" Oceh Bintang panjang lebar, lalu berbalik berniat meninggalkan ruangan Aksa tanpa Ingin menunggu pembelaan Aksa.
""Tunggu."" Aksa menarik lengan Bintang dan kembali menyudutkan tubuh Bintang ke sisi tembok. ""Apa kamu hanya mengoceh tanpa Ingin tahu alasan dariku.""
__ADS_1
Bintang menggeleng cepat, ""aku tidak mau tahu apa pun alasan kamu, yang jelas tolong jaga sikap anda pak Aksa, dan lepaskan tangan anda dari kulit ku yang menjijikkan ini."" Sindir Bintang.
""Tidak, jangan egois."" Aksa semakin mengunci pergerakan Bintang. ""aku sudah mendengar kan semua ocehan mu, dan sekarang giliran aku yang akan menjelaskan uneg uneg ku.""
Aksa berniat menjelaskan kesalah pahaman di kala waktu ia meninggalkan Bintang di malam itu.
""Baiklah, tapi Lepas kan aku dulu, aku benci di sentuh oleh orang yang sok suci seperti anda, aku sangat membenci mu."" Bintang menatap nyalang wajah Aksa yang begitu dekat di depan wajahnya.
""Lepas."" Sentak Bintang. Aksa masih menguncinya.
""Mau mu apa hah ? apa kamu tidak jijik bersentuhan dengan wanita murahan seperti ku."" Sindir Bintang. lagi lagi mengakui dirinya sebagai wanita murahan.
Aksa semakin marah kalau Bintang menyebut dirinya sebagai wanita murahan dan menjijikkan padahal ia sendiri yang membuat Bintang terhina dengan tuduhannya.
Dengan geramnya serta panas di kuping, ia malah mengunci bibir Bintang dengan bibirnya lagi. Aksa semakin bodoh dengan pikiran kalutnya yang lagi tidak bisa berpikir jernih, semakin ia menyentuh Bintang maka semakin marah dan benci Bintang kepadanya.
""Aku membenci mu, sangat membenci mu."" Teriak Bintang.
""Kamu yang membuat diriku gila, Bintang, jadi jangan salah kan aku."" Bela nya malah membuat Bintang menjadi tersangka.
""Dengar kan, penjelasan ku."" pinta Aksa.
Bintang semakin menggeleng dengan isakan semakin besar.
""Lepas, lepas, lepas, aargg..aku benci di sentuh oleh mu."" Ronta Bintang.
""tidak."" Keras kepala Aksa.
__ADS_1
Aksa mengoceh menjelaskan alasannya kenapa ia bisa pergi begitu saja ke Berlin dengan tiba-tiba tanpa ada konfirmasi dahulu, tapi Bintang malah menulikan telinganya dengan tangis semakin menjadi seraya meronta ronta ingin di lepas. ia sama sekali tidak mendengar Aksa berucap apa, bahkan tatapan matanya sudah terlihat kosong dengan air mata terus saja menetes.
""Apa kamu dengar, apa kamu sudah paham."" Ucap Aksa.
Bintang tidak menjawab, Gadis itu malah meracau tidak jelas, tubuhnya pun sudah lemas tak bertenaga lagi, Tamparan penghinaan Aksa sungguh sangat membuatnya down.
""Bin.."" Guncang Aksa di pundak Bintang.
""Lepaskan aku."" racau Bintang melirih, padahal Aksa sudah melepaskan kunciannya.
""Bin, hey Bin.."" Aksa mendadak panik saat tubuh lemas itu akan jatuh ke lantai dengan cepat Aksa menarik Bintang ke dalam pelukannya.
""lepaskan aku."" racaunya di dalam dekapan Aksa dengan mata sudah terpejam.
Aksa tidak menyadari kalau Bintang sudah memejamkan matanya, Namun saat isakan Bintang terhenti ia baru sadar kalau Bintang pingsan dalam dekapannya.
Dengan paniknya, ia langsung menggendong Bintang ke dalam kamar pribadinya yang khusus di buatnya di dalam office tersebut.
""Bin, bangun Bin.!"" Aksa menepuk nepuk lembut pipi Bintang setelah merebahkan tubuh gadis itu ke kasur pribadinya.
Merasa tidak ada respon untuk bangun, Aksa langsung menelpon dokter pribadinya. tak lupa ia juga menelpon seseorang untuk membawakan satu set pakaian wanita untuk Bintang kenakan karena baju oxford berwarna putih itu sudah kotor berbentuk noda kopi.
Hening, Aksa menunggu dokter pribadinya seraya menatap dalam dalam wajah Bintang yang terpejam cantik.
""Kenapa seperti ini ? aku mencintaimu tapi aku juga membenci Keluarga mu Bintang. Sungguh, takdir dan nasib sangat kejam untuk ku, tuhan belum cukup membuat hidup ku menderita dari masih dalam perut Bunda ku hingga sampai saat ini, Tuhan selalu memberi ku takdir kejam, aku sudah kehilangan Bunda ku apa kah aku juga harus kehilanganmu ? aku tidak mau, dan maafkan aku, setelah kamu bangun dari pingsan mu, aku harus melakukan sesuatu agar kamu tidak pergi dari sisi ku, walaupun tindakan ku salah tapi ini lah jalan terbaik agar kamu tidak pergi.""
Hati dan pikiran Aksa Sangat egois, ingin membalas dendam ke keluarga Bintang, tapi ia ingin juga memiliki gadis yang di anggapnya anak dari penyebab hidup orang tuanya menderita.
__ADS_1